The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 41



Sambil menggigit bibirnya, Michelle marah karena merasa di rendahkan oleh Penyihir kelas atas, yaitu Serlia.


Marah? Tentu saja. Siapa yang tidak marah kalau musuhnya lebih kuat daripada dirinya?


Aku hanya bisa saksikan pertunjukkan bioskop ini dengan baik.


"Akan kubuktikan kalau aku yang lebih kuat daripada kau!" kata Michelle sudah emosi.


Oh, ayolah, ini hanya perbandingan, bukan pertandingan sungguhan! Michelle benar benar tidak bisa di andalkan.


"Creolospus Ressolious," ucap Michelle.


Sihir yang ia keluarkan berubah menjadi Bunga Tullie Flower. Hmm, kuakui kekuatanmu luar biasa, tapi otakmu tidak dapat berjalan dengan baik.


Buam!


A …. apa?! Bunganya bisa menembak?! Aku tidak percaya! Serlia, pokoknya kau harus menang dengan cara apapun.


"Lihat, Bunga ini di sebut dengan Tullie Flower. Mungkin, ledakan ini tidak bisa kau hindari," kata Michelle sambil menggulung sedikit rambutnya menggunakan jari.


Gawat! Bunga itu terus saja menembak ke arah Serlia. Eh? Kenapa dia tidak menghindari tembakan Bunga sialan itu?


Jangan jangan, kau sedang merencanakan sesuatu ….


"Tidak bisa katamu? Jangan senang dulu," jawab Serlia diam diam tersenyum licik.


"Lily Astraopeus," ucap Serlia.


Sihir itu …., Bunga Lily?! Sebuah perisai putih kuat yang menyerupai sebiji kelopak Bunga.


Tidak salah lagi, itu adalah Bunga Lily yang di gunakan oleh Serlia.


Tenang saja, aku tidak akan terkejut, karena semua sihir yang di miliki oleh mereka berdua sudah kumiliki secara alami di tubuhku.


Crack!


"Perisai Bunga Lily ini dapat menghindari serangan apapun dari musuh. Apakah kau bisa menggunakannya?" ledek Serlia sengaja.


"Cih!" jawab Michelle singkat.


Marah saja terus pada Serlia! Kau harus sadar kalau semua sihir dari Serlia adalah sihir terlangka.


Atau jangan jangan, kau tidak memilikinya? Astaga, entah kenapa aku semakin ingin membuatmu kalah.


"Victoria Gladius," ucap Michelle.


Aura hitam yang keluar dari sihir? Hah?! Serlia, itu bukanlah sihir biasa, tapi sihir yang di miliki oleh Alexander!


Tak kusangka kalau Alexander nekat memberikan sihir itu pada Michelle! Tapi, aku hanya ingin melihat kekalahan Michelle saja.


Sudahlah, yang penting Serlia harus selamat!


"Kali ini, kau tidak bisa lolos dariku, Serlia sialan!" kata Michelle dengan aura hitam yang menyeramkan.


Aura hitam menyeramkan? Bagiku tidak semenyeramkan punya Serlia.


Kuakui aura Serlia lebih menyeramkan hingga aku bergidik takut. Bukan hanya itu, aura dari Serlia hampir membuatku pingsan.


Padahal, itu hanyalah tatapan, tapi kenapa bisa seseram ini~


"Cara curang yang kau pakai itu tidak bisa menipu penglihatanku yang sempurna ini!" jawab Serlia ingin mengeluarkan sihirnya.


"Aurora Icyely," ucap Serlia.


Crack!


Seluruh ruang membeku dan bersinar terang.


Untung saja aku tidak membeku karena sihir gilamu itu!


"Maaf kalau aku menggunakan sihir ini. Sebagai Penyihir kelas atas, aku sama seperti Catherine yang memiliki semua sihir," kata Serlia menatap Michelle yang hampir membeku.


Hosh~


Hosh~


"Ka …. ka …. kau gi …. gi …. gila se …. se …. kali …., Ser …. lia ….," jawab Michelle yang sudah membeku jadi es.


Pertunjukkan selesai, saatnya kita pergi tinggalkan b*j*ng*n itu di ruang ini sendirian.


"Ayo kita pergi, aku tidak sanggup untuk mati membeku di sini," kataku menggigil karena kedinginan.


Bodoh! Bagaimana aku tidak dingin?! Suhu ini kira kira mencapai -1°C!


"Eh? Kau kedinginan? Baiklah, ayo kita pergi," jawab Serlia tersenyum aneh.


Coba daritadi saja perginya, aku sudah tidak tahan!


Hah~


Sekarang, aku sudah berada di kantin bersama Serlia.


Seperti yang kalian tahu, aku menyukai interior kantin sekolah ini.


Sungguh terlihat sangat indah, padahal itu cuma sekedar kantin yang penuh dengan meja dan kursi.


"Sekolah ini memiliki kantin yang indah, ya. Dengan hiasan emas dan dinding berwarna ungu ini, aku jadi tidak ingin tinggalkan kantin ini," kata Serlia kagum melihat ruangan kantinnya.


"Kau benar, pertama kali aku masuk sekolah saja, kantin ini adalah tempat yang kusukai daripada ruang kelas," jawabku melipat tanganku di atas daguku.


Tiba tiba saja ….


"Veronica, ayo duduk denganku," kata seseorang yang ada di belakangku.


Kak Carl?! Bagaimana kau bisa berada di kantin?! Terlebih lagi, kudengar kau mengajak Veronica untuk duduk di dekatmu.


"Serlia, lihatlah Kak Carl yang bersama Veronica di belakang," bisikku pada Serlia dengan posisu duduk bertatapan.


"Carl dan Veronica? Sepertinya kemesraan mereka berdua akan menjadi tontonan kita berdua," jawab Serlia membisikku juga.


Kami berdua menoleh ke belakang dan fokus melihat kemesraan Kak Carl dan Veronica.


Hem, ternyata mereka berdua sedang sangat serius, ya.


Sepertinya, pertahananku melihat Kak Carl dan Veronica akan sangat sulit. Memang benar, aku belum punya pasangan kekasih di dunia novel ini.


Tapi, mau bagaimana lagi kalau aku tidak bisa mendapatkan yang terbaik untuk diriku sendiri.


Sudahlah, tidak perlu kupikirkan sampai seperti ini! Fokus saja pada pengalaman masa muda Kak Carl yang sedang mengejar cinta pertamanya.


"Ehm, Carl, kenapa kau melamun?" tanya Veronica bingung.


"Ma …. maaf, pemandangan di luar jendela sedang sangat bagus, makanya aku mellihat keluar," jawab Kak Carl dengan wajahnya yang memerah.


*Suara burung gagak*


.


.


.


Kakak! Bisakah kau tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata kata yang aneh? Aku takut itu akan merusak mood Veronica!


"Haha, kau lucu sekali, Carl," kata Veronica tertawa.


Veronica tertawa? Tawanya seperti sedang berada di bawah sinar matahari. Yang kulihat sekarang bukanlah suasana canggung, melainkan suara candaan antara Kak Carl dan Veronica.


"Melihatnya tertawa membuatku lelah saja, Carl benar benar tidak dingin seperti biasanya," kata Serlia tersenyum melihat Kak Carl dan Veronica.


"Tentu saja, sampai sekarang, Kak Carl tetap saja mengejar cintanya, yaitu Veronica," jawabku tersenyum juga.


"Hei, apa kau tidak memiliki kekasih, Cath?" tanya Serlia sengaja mengejekku.


Baru saja kubilang kalau aku belum memiliki kekasih sama sekali! Hmm, kurasa akan sangat sulit jika aku sudah jatuh cinta pada seseorang.


Seperti di drama televisi yang kutonton di kehidupanku yang sebelumnya, banyak sekali gadis yang ingin mengejar cintanya, namun berakhir gagal karena laki laki yang ia impikan itu berselingkuh.


Astaga, cinta benar benar dapat membutakan mata dan hati seseorang, ya.


Jadi, itulah salah satunya alasan kenapa aku sulit untuk menerima cinta.


Dengan melihat Kak Carl yang sedang berjuang, aku tidak bisa melarangnya.


"Biarkan saja hingga ada seseorang yang tulus menyukaiku," kataku sambil menatap Kak Carl.


"Menunggu? Bukankah itu terlalu lama? Karena itu pilihanmu, maka aku tidak bisa melarangmu," jawab Serlia memutar bola matanya dengan malas.


"Terserah kau saja," kataku dengan nada yang agak ketus.


Ah! Saphira, mulai sekarang, kau sudah menjadi Catherine, jadi tolong fokus saja melihat kemesraan mereka berdua.


.


.


.


[Bersambung]


~Keterangan:


Tullie Flower adalah karangan Author ya.