The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 72



Hasilnya, dia hanya menatapku daritadi. Bahkan aku sendiri tidak tahu harus bicara apa dengannya.


Sungguh, aku sedang kehilangan topik pembicaraan.


Oh, aku baru ingat tentang sihir ke-290 yang langka itu. Bagaimana aku bisa lupa ya? Padahal, aku ingin sekali melatih sihir ini selama bertahun tahun.


"Samson, apa kau tahu tentang sihir ke-290?" tanyaku penasaran.


"Sihir kehancuran? Aku tahu sekali," jawabnya sambil minum secangkir teh.


Bagus, aku bisa bertanya padanya lebih banyak!


"Aku ingin tahu seberapa kuat sihir yang kau miliki itu, bisakah kau menunjukkannya padaku?" tanyaku semakin penasaran hingga memohon padanya.


*Menghela nafas*


Tak~


Samson meletakkan cangkir tehnya di meja dengan berlahan dan menunjukkannya padaku.


"Kalau yang kau inginkan hanya itu, aku akan menunjukkannya," jawabnya mengulurkan tangan kanannya ke depan seraya menatapku.


Aku membalasnya dengan anggukan karena tidak mau banyak bicara.


Kulihat ia yang sedang fokus ke depan, dan memejamkan matanya berlahan, lalu ….


"Triliapus Groselillya," ucapnya.


Sebuah cahaya biru langit muncul di tangannya dan mengeluarkan sebuah warna yang sedikit transparan.


Bi …. biru transparan?! Apa aku tidak salah lihat?! Itu artinya, satu tahap lagi Samson akan mencapai pada kekuatan seharusnya!


Crack!


Papan kayu yang ada di depanku sudah rusak karenamu. Benar juga, kau lebih kuat daripada diriku.


"Lihatlah, ini adalah hasil latihanku selama 1 tahun," kata Samson menunjukkan papan kayu yang rusak itu kepadaku.


1 tahun?! Ternyata sangat lama jika mau menaikkan tingkat kehancurannya.


Kalau begitu, tidak ada salahnya jika aku belajar darinya sedikit.


"Aku punya 1 permintaan," kataku tegas.


"Katakanlah, apa permintaanmu?" jawabnya menatapku.


Tinggal katakan kuingin berguru denganmu saja beres, kan?


"Bisakah kau menjadi guruku? Aku rasa ini memang agak aneh, tapi kekuatan kehancuranku sangat membutuhkan tingkatan yang paling tinggi," jawabku memohon.


Yah, aku takut dia tidak menerimanya. Padahal, kami sudah berteman cukup lama.


"Hmm, aku terima. Mulai besok, kau akan latihan bersamaku di halaman belakang Istanamu di mulai dari jam 08:00," katanya menerima permintaanku.


Akhirnya jawaban yang kutunggu terdengar juga di telingaku! Baiklah, asalkan aku berhati hati, maka semuanya aman.


"Baik," jawabku singkat dengan wajah yang di hiasi senyuman tulus.


Selalu saja aku tidak sadar akan senyumanku, tapi apa boleh buat jika itu memang kepribadianku.


Catherine yang memiliki wajah cantik dan senyuman indah ini, sangatlah berbeda denganku ….


Eh?! Samson?! Untuk apa kau pergi ke jendela?! Apa kau cari mati?!


"Maaf, aku sudah harus pergi sekarang. Aku hanya tidak ingin kalau Ayahku marah padaku hanya karena tidak membantunya mengurus surat surat penting," kata Samson dari jendela.


Aku pikir kau sedang apa, rupanya mau pulang ke Istanamu. Sudahlah, aku lebih menantikan kepulanganmu daripada kedatanganmu.


"Baiklah, berhati hatilah saat pulang ke Istanamu," jawabku melambaikan tanganku.


"Ternyata gadis pemberani sepertimu juga bisa perhatian padaku juga. Aku akan mendengarmu," kata Samson masih tersenyum melihatku dan pergi melompat dari jendela.


Akhirnya aku aman juga, selama beberapa menit bersamanya sudah membuatku ingin memukul wajahnya.


Hah~


Besok, kami berdua bertemu lagi karena dia adalah guru latihanku, sedangkan aku adalah muridnya.


Cukup bersikap layaknya Putri dan jangan menjadi orang asing.


"Besok kan? Tidak masalah jika hanya sebentar. Lagipula, aku tidak berbuat apapun di Istana," kataku biasa saja.


.


.


.


Beberapa jam kemudian ….


Hari sudah mulai gelap. Aku, Serlia, dan kedua Kakakku sedang makan malam bersama.


Seperti biasanya, hanya Serlia yang memecahkan keheningan di antara kami semua.


Aku hanya fokus pada makananku, tidak mendengarkan pembicaraannya sama sekali.


"Carl, bagaimana hubunganmu dengan Veronica hari ini?" tanya Serlia melirik Kak Carl.


"Ehem, tadi, aku bersamanya di taman. Aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya di hari natal nanti," jawab Kak Carl.


Tak sengaja kusemburkan air yang kuminum ke arah Serlia.


Bagaimana tidak? Kak Carl ingin menyatakan perasaannya pada Veronica di hari natal nanti?!


Itu artinya, kau akan menyatakan perasaanmu di perayaan pesta kembang api?


Kenapa waktu terasa lama?! Padahal yang mau kulihat adalah persatuan Kakakku dan calon Kakak Iparku.


"Maaf, aku hanya tersedak. Percayalah, aku tidak mendengar apapun," kataku membersihkan wajah Serlia yang basah.


"Heh, bisanya menyemburkan air! Sebegitunya kah kau saat tidak ada kata yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Serlia kesal karena basah.


"Tidak seperti itu, gadis sialan!" jawabku tersenyum paksa dan mengelapnya secara kasar.


"Hei! Jangan membuat rambutku berantakan!" kata Serlia menyuruhku berhenti.


Tidak sampai kau berhenti bicara.


Hehe, aku jadi ketularan dengan sifat bodohmu, Serlia.


"Haha, lihatlah rambutmu yang belum kering ini, masih butuh pengeringan," kataku sengaja mengacak acak rambutnya.


"Berhenti!" jawabnya menyuruhku berhenti.


Kak William dan Kak Carl hanya diam saja melihatku mengganggunya. Hehe, sedikit membuatmu senang pasti akan lebih baik.


...


Beberapa saat kemudian ….


Aku sudah berada di kamar Kak Carl, karena kali ini adalah terakhir kalinya aku tidur bersamanya.


Huft~


Berbaring di kasur besarnya sangatlah nyaman, aku tidak rela jika meninggalkannya.


Bisa di bilang kalau kasurku adalah kasur terbesar dan ternyaman di sepanjang Istana. Rasanya aku ingin kembali lagi ke kamar asalku~


Ceklek~


Suara pintu kamar mandi Kak Carl yang sedang terbuka. Kulihat Kak Carl yang keluar dari kamar mandinya dengan pakaian tidurnya.


Hah~


Untunglah aku sudah mandi, kalau tidak maka kenyamanan tidurpun tidak ada sama sekali.


"Catty, kau belum tidur?" tanya Kak Carl mengelap rambutnya yang basah.


"Belum, aku sedikit dingin malam ini," jawabku memandang ke arah lain.


*Mendekat*


"Nanti kau bisa berbagi selimut denganku. Tidurlah, semoga mimpi indah," kata Kak Carl memberikanku selimut.


Kuterima selimut darinya dan memakainya.


Selimut ini sangat hangat, bagaikan cahaya matahari yang menyinariku.


Tidak seperti selimut milikku yang sangat tebal bagaikan bulu domba~


"Terima kasih, Kak," kataku tersenyum menutupi setengah wajahku menggunakan selimut.


"Sama sama, sudah saatnya kau tidur," jawab Kak Carl duduk di sampingku.


Baiklah, kupejamkan mataku dan tidur.


Cup~


"Selamat malam, Adikku," kata Kak Carl yang suaranya masih terdengar di telingaku.


Kecupan sebelum tidur dan ucapan selamat malam dari Kak Carl tetaplah di lakukannya dari dulu hingga sekarang.


Aku bahagia sekali memiliki tubuh Catherine dan membalaskan dendamnya dengan tulus.


Tidak apa apa, mungkin suatu hari nanti alur novelnya akan berubah. Semoga aku bisa bertahan di umurku yang ke-15 hingga selanjutnya ….


Percayalah, batas umurku di dunia novel hanyalah 15 tahun, jadi ucapan perpisahanku dengan novel ini sangatlah berat.


Kuharap, aku masih bisa melanjutkannya dengan umurku yang lebih dari 15 tahun, karena aku sadar kalau aku sudah mati di kehidupan sebelumnya ….


____________________________________________


Keesokan harinya ….


Aku sudah berada di halaman belakang Istana bersama Samson. Jujur, baru pertama kalinya aku belajar latihan bersamanya.


Terasa canggung dan menegangkan ….


.


.


.


[Bersambung]