
Carl Alfa De Arshleyer:
Keesokan harinya ….
Aku sedang sarapan bersama keluarga di ruang makan. Apa alasan Michelle mencariku kemarin? Apakah karena mata Eliza yang tidak bisa melihat?
Ah, aku bingung dengan mereka berdua, seperti lupa kondisi saja.
"Ada apa denganmu, Cath?" tanya Serlia menatapku bingung.
"Aku masih berpikir tentang masalah kemarin. Apakah sebaiknya kita ke sana dan menyerang mereka berdua?" jawabku sedikit tidak bersemangat.
"Entahlah, kalau kau ingin pergi maka aku akan ikut," kata Serlia biasa saja.
Huft~
Membosankan, apa lebih baik aku pergi ke sana dan menyerangnya?
Sulit sekali jika sudah berpikir, aku menyerah.
___________________________________________
Di Istana Grovield ….
Alice POV
Aku ada di dalam kamarku dan sedang meminum ….
Gulp~
Gulp~
Gulp~
Hah~
Pemulihan darah selesai, aku hampir saja mati karena tidak dapat minum darah lagi.
Sebagai gadis bangsa Lilithia, aku membutuhkan darah yang banyak untuk memulihkan darahku.
"Ternyata sangat tidak mudah ketika aku sudah sakit. Semua orang di Istana akan repot dan mencarikan darah untukku," kataku bersandar di dinding kasur.
Hah, menjadi saingan Iblis hitam memang tidak baik, rasanya ingin berdamai.
Aku tidak jauh berbeda dengan Serlia. Sesama bangsa Iblis, aku dan Serlia memiliki kepribadian yang berbeda.
Kami berdua sudah saling kenal sejak aku berumur 6 tahun dan dia berumur 11 tahun tepat pertama kali bertemu di Istana Courtines.
Karena aku kenal lama dengannya, aku dapat mengetahui perbedaan sifat kami.
Serlia memiliki sifat sopan di depan orang tuanya, tapi tidak pada orang yang muda darinya.
Dia akan bertindak tidak sopan jika sudah tidak di dekat orang tuanya.
Kalau aku? Tentu saja tidak sepertinya. Istana ini penuh dengan tata krama, sesuatu hal yang harus di latih sejak kecil.
Aku adalah satu satunya Putri yang sudah terlatih karena tidak pernah di izinkan keluar.
Lagipula, aku tidak terbiasa dengan lingkungan luar, jadi tidak apa apa jika mereka melarangku.
Jujur, aku sama sekali tidak dapat merasakan cinta maupun kasih sayang dari siapapun, bahkan jatuh cinta pun aku tidak bisa.
Huft~
Melelahkan, lebih baik aku tidur saja.
___________________________________________
Di Istana Arshleyer ….
Saphira/Catherine POV
Tepat di halaman belakang Istana, aku sedang menikmati udara segar sambil minum teh Mawar sendirian.
Tidak apa apa jika tidak ada yang menemaniku, yang penting aku dapat bersenang senang di sini.
Salju salju yang indah mulai turun, untunglah halaman belakang sangat sering di bersihkan.
Aku jadi tenang sekarang ….
"Memang dingin, tapi cuaca ini membuatku tenang kembali," lirihku memandang hujan salju yang sedang turun.
Aneh, entah kenapa kolam Bunga Mawar tetap panas ketika musim dingin tiba. Sama seperti danau angsa yang selalu panas meskipun keadaan musim sangatlah dingin.
Ngomong ngomong, bagaimana dengan kabar Samson hari ini? Apakah dia benar benar sibuk?
Huh, padahal bermain dengannya adalah hal yang paling kusukai.
Sudahlah, dia pasti sedang sibuk. Lebih baik tetap nikmati santai di sini.
"Seumur hidupku, aku tidak pernah sesantai ini," kataku sambil mengangkat secangkir teh dan meminumnya.
Tiba tiba ….
"Catherine, kau sedang apa?" tanya seseorang di belakangku yang bernama Eliza.
Tunggu, sejak kapan Eliza datang ke sini? Dan, kau datang bersama siapa?
"Oh, bisakah kau membawaku ke tempat dudukmu sebentar?" tanya Eliza sedikit tersenyum.
Lagi lagi, kau selalu saja pintar berakting.
Kuantarkan dia ke tempat dudukku dan duduk kembali ke tempat asalku.
Yah, arah duduk kami berdua sangatlah berlawanan, hanya bisa saling bertatapan.
Bagaimana dia bisa datang ke Istana? Bukankah dia buta? Jangan bilang kalau dia bersama Michelle.
"Atas dasar apa kau datang ke Istanaku?" tanyaku tegas.
"Ayolah, tidak perlu marah marah. Aku hanya ingin minta maaf atas perbuatanmu," jawab Eliza tersenyum.
Minta maaf katamu? Tidak, aku tidak terima dengan semua sandiwaramu.
"Ada rencana apa lagi dia? Ah! Tenanglah, kau tidak boleh bertindak kasar dulu, Saphira. Lanjutkan aktingmu," gumamku dalam hati sambil menghela nafas.
"Ada kabar baik apa kau datang meminta maaf?" tanyaku berpura pura sedih.
"Tolonglah, aku sudah menyerah. Aku tidak mau menyakitimu lagi," jawab Eliza tanpa sadar menangis.
Air mata buaya! Kau hanya bisa berakting seperti ini karena balas dendam, bukan? Aku baru ingat kalau antagonis selalu berakhir sial.
"Benarkah? Kau tidak perlu meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu dari awal," kataku menenangkannya.
"Setidaknya dia akan tenang sekarang. Aku muak melihat air matamu," gumamku dalam hati dengan wajah kesal.
"Kau sungguh memaafkanku? Kalau begitu, bisakah kita mulai dari awal?" tanya Eliza dengan wajah gembira.
Merepotkan!
Aku hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang dia mau.
Ayolah, ikuti saja permainannya, jangan sampai kau terjatuh di dalam jurangnya sendiri, Saphira.
"Baiklah, aku terima," jawabku tersenyum.
Huh, aku tidak suka tersenyum di depanmu, dasar buaya darat!
"Kalau begitu, bisakah kau antarkan aku ke tempat Michelle?" tanya Eliza lembut.
Kau memang merepotkan! Lagi lagi, aku hanya bisa pasrah.
Hah~
"Baiklah, ayo kita pergi," jawabku mengantarnya ke dalam Istana.
Terlihat ada Michelle dan Serlia yang berdiri di depan pintu halaman belakang Istana.
Mereka pasti sedang menunggu kami berdua.
"Apakah kita berdua sudah sampai ke tempat Michelle?" tanya Eliza bingung.
"Sudah, Michelle, antarlah Eliza pulang ke Istananya," kataku menyerahkan Eliza pada Michelle.
"Dengan senang hati," jawab Michelle singkat dan mengantar Eliza pergi.
Mereka sudah mulai menjauh, saatnya membuka topeng asliku.
"Serlia, kurasa Eliza dan Michelle memang merencanakan sesuatu untuk mengganggu kita berdua," kataku menatap Serlia.
"Benar, aku juga berpikiran sama sepertimu. Tadi, Michelle meminta maaf padaku dan memintaku untuk memulainya dari awal"
"Aku rasa, mereka berdua merencanakan sesuatu mengenai kita berdua," jawab Serlia memikirkan hal yang sama denganku.
"Eliza juga datang meminta maaf denganku hingga ia menangis. Karena tidak ingin dia curiga, aku ikuti saja permainannya," kataku memandang ke arah lain.
"Yah, terus ikuti permainannya, aku suka melihatmu berani begini," jawab Serlia menatapku dengan bangga.
Bukan balas dendam jika tidak mengikuti permainannya hingga selesai. Aku akan berusaha dengan cara apapun sampai Eliza benar benar menyerah.
Jangan lupa, Eliza sudah kehilangan keperawanannya, jadi aku dapat memanfaatkan keadaan agar rencanaku tetap berjalan lancar.
Mempermalukannya adalah yang terbaik.
"Serlia, simpanlah rahasia terbesar Eliza dan jangan membongkarnya dulu. Kita gunakan rahasianya sebagai senjata kita," kataku tersenyum miring.
"Ternyata kau licik juga ya, Cath. Aku pasti akan menyimpannya dan tidak kubongkar," jawab Serlia juga tersenyum miring.
"Haha, kita sudah punya senjata rahasia, jadi jangan khawatir tentang rencana kita berdua," kataku menatap Serlia.
"Baiklah, aku setuju dengan perkataanmu," jawab Serlia tersenyum.
Ingin meminta maaf padaku? Tidak semudah itu. Nyawa harus di bayar dengan nyawa, karena kau telah membunuh Ayah dan Ibuku. Terlebih lagi, itu adalah salahmu sendiri karena telah membuatku bereinkarnasi ke tubuh orang yang kau bunuh, yaitu Catherine.
Permainan akan segera di mulai, Eliza ….
.
.
.
[Bersambung]