
Tatapan Ayah yang tadinya kesal tiba tiba berubah menjadi datar setelah mendengar perkataan Eliza.
Bukan hanya Ayah saja, Ibu dan Kak Carl juga menatap Eliza dengan tatapan yang datar.
"Karena, aku tidak pernah menganggapmu sebagai anakku," jawab Ayah datar.
Astaga, tolong jangan lagi. Aku sungguh tidak tahan dengan tatapan datar dari Sang Ayah.
Haih, sabar, Saphira …. mulailah berakting ….
"Ayah, Ibu, Kak Carl, sudahlah …. jangan bertengkar seperti itu lagi. Aku tidak suka jika di keluarga kita ada pertengkaran ….," kataku sambil menarik jubah Ayah.
Ih, kesal sekali aku dengan kalimat aktingku! Apakah ini efek dari hati si pemilik tubuh yang menyatu dengan jiwa orang lain?!
Tidak apa apa, yang penting mereka tidak boleh tahu sifat asliku.
Mereka yang melihatku pun menjadi tidak tega dan kembali memasang wajah biasa saja.
"Maaf jika Ayah terlihat menyeramkan tadi," jawab Ayah sambil memelukku.
Eliza hanya berdiri di dekat meja makan sambil melihatku yang di peluk oleh Ayah.
Ayolah, terus saja melihat. Bisa ketinggalan cerita saat kau tidak melihatnya, cabe merah Eliza.
Hihihi, ternyata seru juga membuat kepala Eliza menjadi panas hingga hampir meledak.
Sekarang, Drama Queen akan membuat pertunjukkan untukmu, cabe merah!
"A …. Ayah, bisakah nanti aku berangkat sekolah bersama Kak Carl lagi? Kurasa, Kak Eliza tampak terburu buru ingin pergi duluan," kataku berusaha membuat Eliza memanas.
Semakin melihatnya, semakin kesal Eliza dan ia langsung pergi dari Istana tanpa pamit pada Ayah, Ibu, dan Kak Carl.
Baik, rencana A berhasil!
Tinggal satu rencana lagi! Aku harus membuat hadiah untuk Eliza di sekolah nanti.
"Hmph! Tunggulah hadiah yang akan kuberikan untukmu, Eliza," gumamku tersenyum licik.
Hah, karena sebuah keributan besar yang di buat oleh Eliza, aku jadi tidak sempat untuk sarapan.
"Baiklah, ayo kita sarapan bersama," kataku mengajak Ayah, Ibu, dan Kak Carl untuk sarapan bersama.
Mereka bertiga mengangguk tersenyum dan duduk sarapan bersamaku.
Setelah selesai, aku dan Kak Carl berangkat bersama seperti kemarin.
Di perjalanan menuju sekolah, suasana tetap hening tanpa sepatah katapun yang akan kami berdua bicarakan.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara kaki kuda yang terus berlari hingga kami telah sampai di sekolah dengan cepat dan tepat waktu.
Kak Carl sudah pergi ke kelas lebih dulu. Hanya aku yang tertinggal di koridor saja.
Tidak ada apapun yang kulupakan, Aku sudah membawa seekor kadal yang sangat di takuti oleh Eliza, yaitu kadal jamur merah.
Dirimu saja merah, kenapa kau takut dengan Makhluk imut yang berwarna merah ini? Sayang sekali jika kau takut sekali dengan kadal, padahal itu adalah hewan yang paling lucu.
"Tinggal kutaruh saja di kepalanya nanti, maka dia akan menjerit," lirihku sambil tersenyum licik.
Aku hanya mengikuti alur cerita dari novel untuk membalaskan dendam Eliza, tapi ada sedikit yang kuubah karena aku masih terlalu muda untuk mati 2×.
Tiba tiba, dari belakang ada yang mendorongku hingga aku jatuh terpeleset.
Di tambah lagi dengan siraman air yang membuatku basah kuyup.
Siapa lagi kalau bukan Eliza dan Anna yang menghampiriku dengan sengaja.
"Ups, maaf, tanganku licin," kata Anna mengatakannya dengan santai.
"Rasakan air panas dari Anna! Bagaimana? Sakit bukan?" tanya Eliza padaku sambil mengibaskan rambutnya yang ia anggap indah.
Ciuh! Rambut indah macam apa ini jika sikap dari dirimu sendiri itu tidak anggun? Ingin sekali aku meludahi rambut merahmu!
Cukup akting seperti biasa.
"A …. apa salahku, Kak?" tanyaku berpura pura polos.
"Tentu saja ini semua adalah salahmu karena berani mendekati Carl!" jawab Anna marah besar padaku.
Lagi lagi tentang Kak Carl, rasanya kepalaku mau pecah mendengar amarahmu.
"Sungguh, aku tidak tahu apa apa," kataku masih berakting.
Argh!
Sebenarnya tidak sakit, hanya saja aku harus semakin pintar dalam berakting agar emosi mereka dapat terpancing.
"Maafkan aku …., Kak Anna …. aku sungguh bersalah ….," kataku dengan mata berkaca kaca.
Tanpa kusadari sama sekali, kadal jamur merah milikku pergi berlari menghampiri tubuh Eliza tanpa ia sadari sama sekali.
Untung saja, kadal yang kuambil ini sangat menyukai warna merah, jadi sangat cocok jika itu akan menjadi hantu bagi Eliza.
Anna yang daritadi melihatku langsung melepaskan tangannya dari rambutku.
Sial, rambutku kotor lagi karena tanganmu, Anna!
"Ingat kata kataku, jangan mendekati Carl walaupun hanya sejari kuku saja, mengerti?!" tanya Anna padaku dengan nada bicara yang kasar.
Aku mengangguk berpura pura menurutinya.
Akhirnya, Eliza dan Anna pergi juga dari hadapanku!
Rencana terakhir, berhasil!
Sementara itu ….
Eliza dan Anna yang terlihat santai masuk ke dalam kelas membuat banyak orang yang menatap mereka berdua.
"Kenapa kalian menatapku? Apakah ini karena aku cantik?" kata Anna menunjukkan sifat narsistiknya.
"Ada apa dengan kalian semua? Kenapa tatapan kalian begitu aneh?" tanya Eliza bingung.
Semua orang seketika menjadi terdiam karena pertanyaan dari Eliza.
Mungkin, Eliza benar benar tidak sadar dengan barang yang menempel di bahunya itu.
"E …. E …. E …. Eliza? Makhluk aneh apa yang menempel di bahumu?" tanya salah satu murid perempuan pada Eliza.
Makhluk? Memang ada seekor Makhluk aneh yang baru aku letakkan.
"Makhluk? Makhluk apa yang menempel padaku?" tanya Eliza sekali lagi.
Karena tidak percaya pada orang orang yang bertanya padanya, Eliza langsung menoleh ke samping dan berteriak seperti melihat hantu.
Aaaaaaarrrrrggggghhhhhhh!!!!
"Ka …. ka …. ka …. ka …. kadal jamur merah?! Tolong singkirkan aku dari Makhluk menjijikkan itu!!!" teriak Eliza hingga terdengar olehku dari kelas 1-♪.
Lihat, kan? Ternyata kau bukanlah orang yang berani dengan seekor hewan kecil, melainkan pengecut terbesar di sekolah!
"Rencana yang sangat fantastis," lirihku dengan senang.
Kembali pada Eliza, ia masih sangat syok ketakutan karena kejadian tadi.
Wajahnya benar benar pucat seperti berdandan menggunakan bedak tebal membuat Anna merinding melihatnya.
"Eliza …., wajahmu terlalu menyeramkan ….," kata Anna gemetaran melihat wajah Eliza.
Mengetahui ketakutan yang di alami oleh Eliza, semua murid mulai melemparkan kertas ke arah Eliza.
"Dasar lemah! Ternyata Sang Putri Kerajaan begitu lemah, ya!"
"Kau tidak pantas untuk sekolah di sini!"
"Pergi dari sini!"
Semua perkataan murid itu membuat hati Eliza sakit seperti teriris pisau.
Tapi, keadaan mulai berubah sejak kedatangan Alice, Erfly, dan Veronica yang menolong Eliza sebelum terlambat.
"Apa kau tidak apa apa, Eliza?" tanya Alice sambil merangkul Eliza.
"Ini semua karena kadal jamur merah yang membuatku ketakutan seperti ini," jawab Eliza dengan suara pelan.
"Astaga, wajahmu pucat sekali, Eliza! Sebaiknya kita pergi ke ruang Penyihir dulu untuk merawatmu," kata Erfly khawatir pada Eliza.
Eliza hanya mengangguk. Mereka berempat langsung membawa Eliza ke ruang Penyihir untuk menyembuhkan sakit Eliza.
.
.
.
[Bersambung]