
Mari kita lihat lagi.
Veronica berdiri kembali dan menatap Kak Carl dengan wajah memerah.
*Berdehem*
"Ehem, kurasa aku harus pulang sekarang, Kerajaan Belstreyd sedang membutuhkanku," kata Veronica.
"Sebelum kau pulang, bisakan kau tutup matamu sebentar?" tanya Kak Carl tersenyum jahil.
Apa yang akan kau lakukan pada Veronica?
"Baiklah," jawab Veronica singkat dan menutup matanya.
Berlahan lahan, Kakak mendekatkan wajahnya hingga hampir mengenai bibirnya.
Sekilas, yang kulihat sekarang adalah kecupan kecil dari Kak Carl untuk Veronica.
Astaga, inikah kenyataan yang kulihat?! Berani sekali Kak Carl mengecup bibir Veronica meskipun itu hanya sekilas!
Mataku sakit setelah melihatnya, Kak!
"Kakak, pemandanganmu semakin buruk. Padahal Veronica baru berusia 14 tahun dan kau sudah berusia 19 tahun," lirihku terkejut mengetahui kebenarannya.
"Hehe, Carl lebih dewasa daripada William. Aku suka melihat sisi dewasanya meskipun umurku juga 19 tahun," jawab Serlia yang senang melihat pertunjukkan tadi.
Bisanya hanya mengejek, tapi tidak memiliki pasangan sama sekali. Payah!
Oh, aku baru ingat kalau aku juga belum punya pasangan, percuma saja aku mengejeknya.
Veronica membuka matanya karena merasa pemandangannya sudah selesai.
*Membuka mata*
"Kenapa aku merasa kalau bibirku sedang bersentuhan dengan sesuatu?" tanya Veronica bingung.
"Maaf, aku tidak melihat apa apa," jawab Kak Carl memandang ke arah lain.
"Terus, apa yang kau lakukan padaku?" tanya Veronica bertambah bingung.
"Aku hanya memberikan hadiah kecil untukmu. Nanti kau lihat saja setelah pulang ke Istana," jawab Kak Carl dengan wajah sedikit memerah.
Eh? Sejak kapan Kakak memberikannya Bunga Mawar biru? Terlebih lagi, Bunganya di jadikan sebagai jepitan rambut.
Apakah ini hanya kebetulan atau aku yang salah melihat? Membingungkan.
______________________________________________
Di Istana Kerajaan Srylpharuna ….
Eliza POV
Rencanaku sukses, akhirnya Catherine bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Ibuku!
Untung saja ada Michelle yang bisa menyihir, kalau tidak maka identitasku akan ketahuan!
"Terima kasih, Michelle, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi jika kau tidak ada," kataku tersenyum miring.
"Haha, kau bisa mengandalkanku jika ada masalah apapun," jawab Michelle tersenyum miring juga.
Daripada membicarakan tentang Catherine bodoh itu, aku hanya bisa berharap kalau dia sudah mati dan menjadi abu.
Semoga kau tenang di sana, wahai Putri kecil yang gila dan bodoh!
Sekarang, aku harus makan dulu, jangan terlalu banyak berpikir tentangnya.
_______________________________________________
Di danau angsa ….
Saphira/Catherine POV
Hah, akhirnya Kak Carl dan Veronica pergi juga dari tempat ini. Tadinya, Veronica ingin pulang sendirian dengan jalan kaki, tapi Kak Carl melarangnya dan memutuskan untuk mengantarnya pulang.
Yah, tetap saja mereka berdua jalan kaki, kepalaku jadi berputar karena melihat kejadian tadi.
Yang kupikir pikir dari tadi sampai sekarang adalah, siapa kedua penyusup yang berani datang itu?
Seingatku, mereka berdua adalah perempuan. Yang menyihirku tadi, suaranya terdengar seperti Michelle dan suara langkah kaki saat berjalan tadi terdengar seperti suara sepatu milik Eliza.
Suara sepatu yang terdengar jelas, gaya berlari yang terlihat terburu buru. Di tambah lagi dengan tangannya yang memakai cincin pertunangan Samson.
Aku tahu semuanya, yang jelas dia mirip seperti Eliza dan Michelle. Apakah mereka berdua sengaja menutupi identitas agar bisa masuk ke Istana secara diam diam?
Tidak, Pengawal sudah menjaga sangat ketat dan berwaspada. Bagaimana mungkin seorang penyusup bisa masuk begitu saja?
Nanti kucari informasinya bersama Serlia, pasti akan terungkap.
Huh, lelah juga setelah berpikir panjang begini, aku harus menikmati hujan salju bersama Eliza dulu, baru pergi dari sini demi mencari kebenaran.
Tak lama kemudian ….
Hujan salju mulai turun. Setetes demi setetes, ini terlihat seperti hujan. Aku suka tempat ini, meskipun dingin tapi airnya masih terasa sangat hangat.
Angsa angsa mulai berenang menikmati saljunya dan membentuk sayapnya layaknya burung merak.
Sangat indah, aku menyukainya.
"Lihatlah, Serlia, hujan salju telah turun," kataku merasakan turunnya salju.
"Hujan salju ya? Entah kenapa aku tidak merasa senang setelah melihatnya? Seperti kenangan buruk yang pernah kualami," jawab Serlia sedikit sedih.
Apa yang sedang Serlia pikirkan? Aku tidak tahu kenapa kau sebut iti kenangan buruk.
"Dulu, tepat pada musim dingin, Ibuku di bunuh oleh Arlia saat ia ingin menyeberangi sungai Hersia untuk membawaku pulang setelah aku selesai bermain bersama burung gagak"
"Tepat juga hari turun salju, aku kembali melihat Ibuku yang sudah tergeletak di tumpukan salju itu"
"Saat itulah aku kehilangan kendali dan berubah menjadi diriku seperti di perang beberapa hari yang lalu"
"Bisa di bilang, karena Arlia aku mengeluarkan sihir terlarangku"
"Di mana salju turun, di mana kenangan burukku kembali menghantui ingatanku," kata Serlia mengulurkan tangannya untuk merasakan salju dan meremasnya.
Aku tahu sesakit itu penderitaanmu, hatiku tidak bisa menahan rasa sakitku.
Sama seperti di kehidupanku yanng sebelumnya, Mamaku meninggal karena penyakit overdosis, tepat juga di saat musim dingin di mana salju sedang turun.
Papa menangis histeris, dan memutuskan untuk membesarkanku setulus hati tanpa harus menikah lagi.
Tetapi, takdir berkata lain. Papa menikah dengan wanita jala*g yang di sebut Mama Tiriku dan memiliki anak perempuan yang di sebut juga Adik Tiriku.
Rasanya sakit kehilangan keluargaku yang bahagia dulu, untunglah Papa tidak membenciku.
Cukup Mama dan Adik Tiriku yang membenciku hingga mereka berdua menghabiskan tabunganku.
Itulah ceritaku setelah merasakan musim dingin ini. Meskipun sakit, aku berusaha untuk menyukai hujan salju selama bertahun tahun hingga akhirnya aku menyukainya sekarang.
Jadi, rasa sedihku bisa kulupakan hanya dengan memandang salju ini. Dingin bagaikan kutub utara, beku bagaikan es yang ada di kulkas.
Sama seperti hati dengan luka yang terpendam begitu lama, kita adalah orang yang sama, Serlia.
Rasa sakit yang kita rasakan sangatlah dalam, tapi mencoba bangkit untuk menjadi kuat.
Tes~
Tanpa sadar, kukeluarkan air mataku setetes demi setetes karena membayangkan betapa sakitnya masa laluku.
Di tambah lagi dengan kehidupan baruku, Ayah dan Ibuku terbunuh di tangan Eliza demi mengambil takhta dan kekuasaan milik Kerajaan Arshleyer.
"Kau tidak perlu merasa sedih, Serlia. Kau tahu, aku juga kehilangan kedua orang tuaku setelah aku melihat api"
"Kenapa rasa sakit kita begitu sama? Kehilangan orang terdekat kita hanya karena di bunuh oleh musuh bebuyutan kita?"
"Nyawa di bayar nyawa, ingin sekali kubunuh si jala*g Eliza itu agar rasa sakitku hilang ….," jawabku meneteskan air mataku.
Tenanglah, Saphira, untuk apa kau sedih? Yang berlalu biarlah berlalu, cukup jalani hidup barumu.
"Aku mengerti maksudmu, Cath. Sayangnya, aku tidak bisa menangis lagi setelah melihat kematian Ibuku dengan mataku sendiri," kata Serlia masih merasa sedih.
.
.
.
[Bersambung]