
Hah~
Aku tidak tahu apa maksudmu, yang jelas aku tidak tahu harus berkata apa.
Jika saja Eliza datang ke sini lalu tidak sengaja melihat kedatangan Samson, maka urusanku dengannya tidak akan pernah selesai.
Aku berharap kalau Eliza tidak datang ke sini. Samuel, aku benar benar meminta bantuanmu!
Katakanlah ketulusanmu pada Eliza meskipun kau terpuruk soal cintamu. Ayolah, aku hanya tidak ingin Eliza mengincarku karena mendekati Samson.
"Hei, Catherine? Ada apa denganmu? Aku bilang kalau aku merindukan wajah manismu," kata Samson menyadarkanku.
Eh? Aku melamun ya? Maaf, aku tidak fokus karena terlalu banyak berpikir.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Kau sangat cantik dan terlihat menawan hari ini," jawab Samson tersenyum menatap wajahku.
Cantik? Jarang sekali ada orang yang memanggilku dengan kata seperti itu. Bukankah gadis tercantik di Negeri ini adalah Veronica? Bahkan Kak Carl bisa terpesona dengan kecantikannya.
Tapi, kenapa kata cantik terasa asing bagiku? Aneh ….
"Terima kasih atas pujiannya," jawabku tersenyum paksa.
Yah, aku tidak tahu apa yang di maksud oleh Samson. Apakah dia mengajakku bercanda?
"Ehm, bolehkah aku memberitahumu sesuatu?" tanya Samson berterus terang.
Apa yang akan ia beritahu padaku? Sudahlah, ketahui saja asal usulnya.
"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku serius.
*Menggigit bibir*
"Aku sedang menyukai seorang perempuan"
"Dia adalah orang yang berani, cantik, dan selalu bersinar di mataku saat aku melihatnya"
"Mata hijau Emerald dan rambut pirang Golden Blonde miliknya membuatku semakin tidak sabar ingin memilikinya"
"Kau tahu, orangnya tidak kenal takut dengan bahaya dan bertindak senekat mungkin ketika ada masalah," jawab Samson tersenyum sambil membayangkan sesuatu.
Siapa itu? Aku bahkan tidak mengenalinya sama sekali. Bertindak nekat ketika ada masalah? Kebetulan dia mirip sepertiku.
"Oh, jadi begitu ya? Perjuangkanlah cintamu dan berusahalah membuatnya jatuh cinta padamu," kataku menatapnya dengan sedikit senyuman.
"Mungkin akan sangat lama kalau berjuang. Kau tahu, cinta sejati tidaklah mudah untuk di dapatkan," jawab Samson memandang ke atas.
"Benar, terkadang cinta itu indah dan suram. Cinta bisa juga di sebut kebahagiaan, tapi sisi buruknya adalah cinta bisa membawa luka"
"Terkecuali Kakak keduaku yang sedang berusaha mengejar cintanya, yaitu Veronica"
"Kak Carl sangat memcintainya, tapi ia belum mengungkapkannya karena takut di tolak oleh Veronica, begitu juga sebaliknya"
"Jadi, mau bagaimanapun dia berjuang, cinta sejati pasti akan datang dengan sendirinya," kataku panjang lebar.
Hah~
Aku benar benar tidak menyangka kalau Samson tidak menyukai Eliza.
Kira kira, siapa yang di sukainya? Kenapa ia memberitahuku? Menebaknya saja sudah sulit, apalagi membayangkannya.
Sudahlah, cepat atau lambat aku akan mengetahuinya.
"Kau benar, aku harus berjuang untuk berusaha mendapatkannya," jawab Samson tegas.
Huh, akhirnya lega juga, tidak terasa pembicaraan kami berdua terdengar panjang.
Terus, apa yang di bicarakan oleh Samson membuatku berpikir keras daritadi.
____________________________________________
Di taman Mawar salju ….
Veronica POV
Sekarang, aku sedang menikmati alam dingin di taman ini bersama Carl, satu satunya orang yang kusukai pertama kalinya.
Ehm, suasana terasa canggung, kami duduk satu kursi di taman.
Aku masih belum terbiasa dengan suasana seperti ini, apa yang harus aku lakukan?
Jadi teringat dengan pertemuan pertama antara kami berdua.
Dulu, aku hampir saja mati tenggelam karena ada yang mendorongku jatuh ke danau sekolah.
Orang itu tak lain adalah Anna, seorang pelac*r yang seenaknya menuduhku mengambil kekasihnya.
Kuakui dia lebih cantik daripada aku, tapi sifatnya tidak semenawan Alice yang baik hati.
Lalu, ada seorang laki laki yang menyelamatkanku dan memberiku nafas buatan.
Bibirnya terasa hangat, baru pertama kali aku bersentuhan bibir dengan seorang laki laki.
Ia membawaku ke atas hingga mencapai daratan. Setelah sampai, kulihat orang yang menyelamatkanku adalah Carl, Kakak kelasku.
Benar benar tidak menyangka, jantungku berdegup kencang setelah mengingatnya.
Carl, orang pertama yang membuatku mengenal cinta untuk pertama kalinya.
Astaga, apa yang sedang kupikirkan?!
Mungkin kenangan ini akan tertanam di pikiranku selamanya ….
"Veronica? Apa kau pikirkan sesuatu?" tanya Carl menatapku seraya mengerutkan alisnya.
Ah! Aku baru sadar kalau aku sedang melamun. Seharusnya aku ingat kalau masih ada Carl di sini.
"Tidak ada apa apa, aku hanya berpikir kalau Bunga Mawar salju sangatlah indah," jawabku.
Kujawab saja apa adanya yang penting aku tidak mengatakan isi dari pikiranku padanya.
"Baiklah kalau begitu, aku mau tidur sebentar," katanya memejamkan mata dan bersandar di bahuku.
Puk~
Ehem, aku baru tahu kalau Carl bisa bersikap seperti anak anak. Usia kami berbeda jauh, tapi sudah pernah melakukan ciuman pertama.
Umurnya 19 tahun, sedangkan aku berumur 14 tahun, sangat jauh perbedaannya, ini bahkan lebih jauh daripada jarak Istanaku dan Istananya.
Sudahlah, hapus pikiran konyolmu, Veronica.
Hmm, kalau di lihat baik baik, Carl sangat tampan, bahkan sampai jadi laki laki idaman para perempuan di sekolah.
Untunglah ini libur sekolah dan juga musim dingin, jadi aku bisa meminta izin pada Ayah dan Ibu untuk keluar Istana.
Yah, meskipun sulit, aku hampir saja di tahan karena terlalu sering keluar. Kapan aku bisa mengatakan perasaanku pada Carl?
Situasi semakin buruk setelah aku tahu kalau Anna juga menyukainya. Tidak, takkan kubiarkan siapapun yang mengambil Carl dariku!
____________________________________________
Di Istana Arshleyer ….
Saphira/Catherine POV
Huh! Samson menyebalkan! Kapan dia akan pergi dari perpustakaan dan meninggalkan Istana ini?!
Yang kutakutkan adakah kepulangan Kak Carl yang nantinya dapat mengundang keributan.
Sudahlah, yang penting duduk diam di sini dan minum teh bersamanya.
*Meminum teh*
Untung di sini menyediakan meja dan kursi khusus untuk minun teh, jadi aku tidak perlu repot lagi.
"Daritadi kau hanya mengganggu waktu bersenang senangku! Cepat pergi sebelum kuusir! Menyebalkan sekali!" gumamku mengerutkan alisku sambil minum secangkir teh.
Tapi, mata birunya yang terus memandangku sangatlah indah bagaikan batu Aquamarine.
Jadi tidak ingin berhenti untuk menatapnya terus, dia sangat berbeda dengan kedua Kakakku.
Perhatian Kakak padaku masih sangat baik dan menyentuh, sedangkan Samson? Waktu aku terluka, dia menjagaku hingga pagi tanpa meninggalkan Istana.
Yah, aku benar benar menghargainya, bukan artinya aku menyukainya!
"Ada apa menatapku?" tanyaku heran.
Bagaimana tidak heran? Daritadi ia tidak mengubah tatapannya sama sekali. Matanya hanya fokus pada diriku yang sedang minum teh ini.
"Tidak apa apa, aku hanya merasa kalau kau sangat mirip dengan cahaya bulan," jawabnya tersenyum menatapku.
Lagi lagi, kata kata membosankan darinya yang kudengar.
Sabar, kendalikan emosimu selagi memiliki waktu, Saphira ….
Lihatlah, dia hanya orang biasa yang ada di depanku meskipun dia adalah seorang Pangeran Kerajaan Arlensix.
"Benar benar menyebalkan!" kataku sedikit kasar.
.
.
.
[Bersambung]