
"Tempat yang paling menyenangkan? Setahuku tempat yang paling menyenangkan adalah rumah Penyihir," jawab Serlia serius.
Rumah Penyihir? Kurasa tempat itu bahkan lebih buruk daripada yang kupikirkan sebelumnya.
Ya ampun, tempat macam apa ini?! Kenapa rasanya sangat aneh ketika tidak ada taman bermain?!
Hei, bagaimana kalau aku mengajak Eliza pergi ke alun alun kota? Tempat yang kusukai seharusnya di sukai olehnya juga.
"Tidak perlu pergi ke rumah Penyihir, pergi ke alun alun kota saja sudah cukup," kataku memiliki ide secar tiba tiba.
Dengan hati yang berat maupun terpaksa, mau tidak mau aku harus membantu Eliza berjalan nantinya.
Bersiap siaplah, Eliza, pertunjukkan akan segera di mulai antara kita berdua~
"Sudahlah, aku tidak perlu pergi ke tempat yang kau katakan tadi. Kuputuskan aku akan membawa Eliza pergi ke alun alun kota," kataku percaya diri.
"Alun alun kota? Untuk apa kau pergi ke tempat sampah itu?" tanya Serlia mengerutkan alisnya.
Tempat sampah katamu? Apa kau tidak bisa mengenal keindahan selain kehancuran?
Entah kenapa suasana hatiku menjadi tidak baik ketika mendengarmu mengatakan hal yang tidak kusukai.
Tenanglah, asalkan aku menjalankan rencanaku, maka semuanya beres.
Untunglah di tengah alun alun kota, ada air mancur yang berdiri di sana. Kuharap air itu tidak membeku, kalau benar maka aku akan kesulitan menjalankan rencana licikku.
Kau pikir aku bodoh? Karena jiwaku bukanlah Catherine, maka aku tidak sebodoh yang kau pikirkan.
"Jangan di bahas lagi, yang penting aku akan membawanya ke sana demi menjalankan rencana yang kususun," jawabku tetap tersenyum menatap Serlia.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita hampiri Eliza, aku tidak mau membuat William menunggumu," kata Serlia menarik tanganku dan hanya kubalas dengan anggukan.
___________________________________________
Di rumah makan ….
Veronica POV
Sekarang, aku sedang berada di rumah makan bersama Carl.
Padahal, aku tidak mengajaknya kencan hari ini, tapi aku tidak sengaja bertemu dengannya di luar tadi.
•Flashback•
Di kota Heigthfoon ….
Aku sedang berjalan jalan membawa keranjang kosong untuk membeli buah.
Buah yang kubeli hari ini adalah anggur, apel, dan sebagian yang lainnya adalah stroberi dan jeruk.
Huh, aku tidak tahu kenapa akhir akhir ini aku ingin keluar berjalan jalan. Di Istana, aku sering sekali di kekang oleh Ayah dan Ibuku karena suatu kehormatan Putri adalah tidak pergi ke mana mana.
Hasilnya, aku malah pergi dari Istana keluar lewat jendela. Memang berat bagiku untuk meninggalkan Istanaku, tapi mau bagaimana lagi kalau itu adalah keinginanku.
Dasar, kenapa aku harus menyandang statusku sebagai Tuan Putri jika tahu aku di larang seperti ini.
Sungguh menjengkelkan.
*Celingak celinguk*
Di sini sangat ramai, aku suka suasana kota yang indah dan ramai begini meskipun masih berada di situasi musim dingin.
Eh? Carl juga berada di sini bersama William? Bagaimana dengan Catherine dan Serlia?
Tunggu, dia menoleh ke arahku? Astaga, apa aku bisa melarikan diri sekarang?
"Veronica? Kebetulan sekali kau berada di sini," kata Carl menghampiriku dan meninggalkan William.
"Yah, kebetulan sekali. Ada hal apa yang membuatmu datang ke kota ini?" tanyaku menatap Carl yang wajahnya sedikit mendekati wajahku.
"Aku sedang ingin mengajak Catty berjalan jalan, tapi aku tidak tahu keberadaannya sekarang," jawab Carl berdiri menatap ke arah lain.
Begitukah? Aku pikir kau akan mengajakku jalan jalan.
"Sudahlah, apakah kau mau pergi ke rumah makan bersamaku?" tanya Carl mengulurkan tangannya padaku.
Tunggu, pergi ke rumah makan bersamamu? Apakah kau benar benar serius?
Sudahlah, kuturuti saja apa yang ia mau.
•Flashback off•
Begitulah yang terjadi sebelum aku berada di rumah makan bersamanya, sangat merepotkan jika aku bersamanya.
Aku takut kalau Carl melewati batasnya sebagai seorang laki laki.
"Hmm, ada apa denganmu?" tanya Carl sambil meminum minuman manisnya menggunakan sedotan.
"Eh? Tidak apa apa. Aku hanya berpikir kalau kita bertemu secara tiba tiba," jawabku tersadar dari lamunanku.
Melihatku yang tidak minum minumanku sama sekali daritadi, Carl menyodorkan sedotannya kepadaku untuk meminum minuman miliknya.
"Minumlah, aku tidak mau kau kehilangan selera makanmu," kata Carl memberikan sedotannya.
Bisa di bilang, aku suka dengan makanan/minuman manis.
*Melepaskan sedotan*
"Sudah, minumanmu bahkan sangat manis daripada sedotanmu," kataku mengelap bibirku dengan ibu jariku.
Hah, memangnya berapa lama aku harus bersamanya? Siapapun, tolong jemputlah aku.
Mungkin tidak akan mendengarnya.
Tidak, bibirku jadi sedikit lengket karena minum minuman manis punya Carl, sebaiknya kubersihkan dulu menggunakan sapu tanganku.
Baru saja ingin kuambil sapu tanganku, tiba tiba saja bibirku di cium oleh Carl secara tiba tiba.
Aku lupa kalau kami duduk bersebelahan, jadi sangat mudah jika ia menciumku.
Ah! Apa yang harus kulakukan? Apakah dia tidak memikirkan suasana rumah makan yang ramai ini?
*Melepaskan ciuman*
Bwah~
Deg~
"Bibirmu lengket, bukan? Terasa sangat manis ketika aku menciummu," kata Carl mengelap bibirnya.
*Menelan saliva*
Glek~
Aku jadi tidak bisa berkata kata sekarang.
"Apa kau tidak melihat sekeliling kalau suasana di sini sangatlah ramai?" tanyaku menatap Carl.
"Aku melihatnya dan aku sengaja melakukannya agar orang lain melihat hubungan kita berdua," jawab Carl tersenyum jahil.
Kau adalah laki laki yang pintar menggoda perempuan. Memang sulit ketika melawan kata katanya.
___________________________________________
Di luar kota Heigthfoon ….
Saphira/Catherine POV
Sekarang, aku sudah berada di alun alun kota bersama Eliza.
Untunglah Samuel dan Kak William mengizinkanku mengajak Eliza pergi ke alun alun.
Dan yang paling beruntung dan membuat hatiku senang adalah, air mancur di alun alun belum membeku sama sekali, tapi airnya sangat dingin~
Hal merepotkan yang pernah kulakukan adalah terpaksa membantunya jalan karena matanya masih buta dan sekarang ia duduk di kursi.
Kini, aku menikmati hujan salju yang indah di sekitar alun alun, memandang langit berawan yang sangat indah.
"Eliza, ayo kita bermain," kataku sengaja mengajaknya.
"Maaf, aku belum bisa berjalan dan melihat sekeliling," jawab Eliza polos.
Mulai lagi sandiwaramu, aku benar benar muak mendengarnya!
Tenanglah, Saphira, jangan lupa kalau kau sedang mengikuti rencanamu sendiri, yaitu membuat Eliza tercebur ke dalam kolam air mancur yang dingin ini.
"Maukah aku membantumu berdiri?" tanyaku menatap Eliza.
"Baiklah, lagipula aku ingin sekali bermain salju," jawab Eliza senang.
Kuhampiri Eliza yang tengah duduk di kursi dan memapahnya seakan kubantu ia berjalan.
Kumendekat ke arah air mancurnya dan berlahan lahan kulepaskan tangan Eliza yang merangkul leherku.
*Melepas*
Byur!
Sayangnya, entah kenapa akulah yang terjatuh ke dalam kolam air mancur itu dan tubuhku terasa dingin.
Grrr!
Aku jadi tidak bisa melakukan apa apa sekarang~
.
.
.
[Bersambung]
Selamat hari Ibu semuanya, doakan yang terbaik untuk Ibu kita semua ya💕