The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 94



Keesokan harinya ….


Aku sudah sampai di Istana Srylpharuna tepat waktu.


Sayangnya, hari ini hanya aku sendiri yang datang ke sini tanpa harus membawa Serlia.


Kalau begitu, akan kutulis di buku harianku bahwa hari ini adalah hari terburuk sedunia..


Sudahlah, sebaiknya aku masuk dulu.


Baru selangkah kumaju, tiba tiba para Prajurit itu menahanku dengan menggunakan senjatanya.


"Berhenti! Siapa nama anda?" kata mereka bersamaan.


Merepotkan, Istana Srylpharuna ternyata benar benar ketat!


"Namaku adalah Catherine Alveria De Arshleyer, orang yang di panggil oleh Putri Eliza. Apakah aku boleh masuk?" jawabku sekalian bertanya.


Entah ada angin apa yang membuat para Prajurit yang menahanku tiba tiba ketakutan dan menjatuhkan senjatanya.


Trang!


"Kami minta maaf telah memarahi anda, Tuan Putri Arshleyer. Sekarang, anda boleh masuk ke Istana dan menemui Tuan Putri," kata Prajuritnya mengizinkanku untuk masuk.


Aneh, bagaimana mereka bisa ketakutan begitu? Aku baru tahu kalau Prajuritnya setakut itu.


Kumasuk ke dalam tanpa berpikir apa apa dan pergi menuju ke halaman belakang Istana Srylpharuna.


Setelah sampai di sana, kulihat pemandangan indah yang menghiasi halaman belakangnya.


Terlihat ada Eliza yang duduk di sana sendirian dengan matanya yang masih di tutupi kain.


Kuhampiri saja dia.


"Eliza, tempatmu sangat indah, ya," kataku tersenyum.


"Benar, aku sering duduk di sini untuk bersantai minum teh," jawabnya tersenyum.


Benar benar senyuman yang mematikan!


Kududuk di kursi yang berlawanan dengannya dan kami saling bertatapan.


Matanya sungguh buta hingga tak ingin ia buka? Aku baru tahu seorang Putri Srylpharuna sangat tidak suka menunjukkan matanya yang buta kepada orang lain.


Apakah Michelle yang memberikan perban ini padanya?


"Minumlah tehnya, aku yang membuatnya dengan susah payah," kata Eliza menyuruhku untuk minum teh.


"Baiklah," jawabku singkat.


Kupegang ganggang cangkirnya dan mengangkatnya karena ingin mencoba teh buatannya.


Tunggu, teh Melati? Kau tahu sekali kalau aku menyukai teh Melati. Tapi, ada yang tidak wajar dengan tehnya.


Bau menyengat yang tercium sangat tajam, bisa di bilang kalau ada racun yang tercampur di dalamnya.


Sebentar, jadi maksud Eliza mengundangku ke sini karena ingin mencelakaiku?!


Heh, benar dugaanku, kau memang tidak berubah! Untunglah aku belum meminumnya dan menyadarinya terlebih dulu.


Prang!


Kusengaja menjatuhkan cangkirnya karena tehnya berisikan racun.


"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkannya," kataku berpura pura tidak sengaja.


"Ehm, kau menjatuhkannya? Tidak apa apa, aku bisa mengambilkannya lagi untukmu," jawab Eliza tersenyum.


"Tidak perlu, biarkan aku mengambilnya sendiri," kataku mencegah Eliza.


Ia hanya mengangguk pelan menatapku. Kuambil tekonya dan membuka tutupnya.


Tak lupa kukeluarkan sebotol kecil yang berisikan racun pemberian Serlia kemarin.


Clup~


Kutuang racunnya ke dalam tanpa di ketahui olehnya.


"Sudah, terima kasih karena telah membuat teh yang enak ini," kataku meletakkan kembali tekonya.


"Sama sama, aku tidak tahu kalau tehku seenak yang kau rasakan," jawab Eliza tersenyum.


Sudahlah, tidak perlu tersenyum seperti itu, aku tidak suka melihat senyumanmu yang jelek bagaikan seekor lalat!


"Karena pestanya sudah selesai, aku pulang dulu ya. Aku takut nanti Kak Carl mencariku setelah ia menyelesaikan pekerjaannya," kataku pamit pada Eliza.


"Kau pergi ke sini tanpa meminta izin dengan Carl?" tanya Eliza memiringkan kepalanya.


"Kau benar, dia sama sekali tidak mengizinkanku keluar dari Istana," jawabku tersenyum aneh.


"Kalau begitu, pulanglah sebelum dia mencarimu," kata Eliza lembut.


"Sampai jumpa," jawabku singkat dan pergi.


Haha, kau tunggu saja kejutan besar yang kuberikan, Eliza!


.


.


.


Aku sudah berada di Istana Arshleyer. Sekarang, aku ada di kamarku sendiri dan sedang berbaring memeluk guling.


Hah~


Baru pergi beberapa jam saja sudah sangat melelahkan. Karena ini adalah musim dingin, maka aku tidak perlu khawatir akan kelelahanku sendiri.


Hari ini terasa membosankan, aku tidak tahu harus berbuat apa.


Sebaiknya aku pergi ke ruang Penyihir dam temui Serlia.


...


Setelah sampai di ruang Penyihir ….


Aku sudah berada di dalam dan sedang duduk di kasur bersama Serlia.


Hal ini menyangkut dengan permasalahan Eliza, jadi aku akan serius.


"Bagaimana rencanamu? Apakah berjalan dengan lancar?" tanya Serlia.


"Tentu saja, aku telah menuangkan racun itu ke dalam tehnya," jawabku menatap Serlia.


"Ngomong ngomong, apakah kau ada minum teh buatan Eliza?" tanya Serlia menatapku.


"Bagaimana mungkin aku meminumnya, di dalam teh itu terdapat bau racun yang sangat menyengat," jawabku mengerutkan alis.


Kalau tidak salah, nama racun yang di letakkan oleh Eliza adalah racun perusak organ tubuh.


Biasanya, orang yang tidak sengaja maupun sengaja meminum racun itu, tubuhnya akan lumpuh hanya dalam 1 detik dan tidak bisa di sembuhkan.


Untunglah aku sempat menjatuhkan cangkirnya ke tanah hingga minumannya juga ikut tumpah.


Heh, rencana licik Eliza sangat mudah untuk di ketahui oleh orang sepertiku!


"Baguslah kalau kau tidak meminumnya. Ngomong ngomong, racun apa yang ada di cangkir tehmu?" tanya Serlia memastikan dan ingin tahu.


"Nama racunnya adalah racun perusak organ tubuh, siapapun yang meminumnya akan mengalami kelumpuhan dalam 1 detik," jawabku serius.


"Apa katamu?! Melumpuhkan orang hanya dalam 1 detik?! Racun mengerikan macam apa itu?!" kata Serlia terkejut.


Serlia, kau terlalu banyak bertanya!


"Aku belum tahu jelas tentang racun itu, yang pasti racunnya sangat berbahaya," jawabku serius.


Aku lelah berbicara banyak denganmu, sebaiknya lanjut besok saja bicaranya.


.


.


.


Keesokan harinya ….


Hoam~


Aku bangun dari tidurku dan duduk di kasur.


Tiba tiba ….


Brak!


Astaga, siapa yang mendobrak pintu kamarku sekeras ini?! Tidak sopan sekali!


"Tuan Putri, maaf atas ketidaksopanan saya, tapi ada hal penting yang ingin saya katakan pada Tuan Putri," kata seseorang yang ternyata adalah Cazhi.


Hal penting? Tentang masalah apa?


"Cobalah untuk tenang dan jangan terlalu panik. Apa yang ingin kau katakan?" tanyaku mengerutkan alis.


"Saya mendapat kabar dari Raja Kerajaan Srylpharuna kalau dia sedang membutuhkan Tuan Putri bersama Yang Mulia Raja dan Pangeran untuk ke sana!" jawab Cazhi masih dalam keadaan panik.


"Memangnya kenapa dia memanggilku dan kedua Kakakku untuk datang ke sana?" tanyaku bingung.


"Kata Yang Mulia Raja Arsula, kulit para Pelayan di Istana Srylpharuna tiba tiba membusuk setelah minum teh buatan Putri Eliza," jawab Cazhi tetap panik.


Hah? Pelayan Istana terkena penyakit dari racun pemberian Serlia? Bukankah penyakitnya akan datang setelah 3 hari mendatang?


Serlia, apa yang sebenarnya kau berikan padaku? Apakah racunnya akan bekerja 3 hari kepada 1 orang saja?


Jangan bilang kalau Eliza memberikan semuanya pada Pelayan untuk mencicipi teh buatannya.


Akhirnya aku dan kedua Kakakku yang harus menjakankan tugas dari seorang Raja licik Srylpharuna!


Jangan lupakan Serlia untuk kubawa ke sana.


"Terima kasih telah memberitahuku, Cazhi," kataku biasa saja.


"Sama sama, Tuan Putri. Kalau begitu, saya permisi dulu," jawab Cazhi pergi dari kamarku dan menutup kembali pintunya.


Sepertinya, racun itu akan bekerja lebih lama jika aku memberikannya pada Eliza sendiri. Sudahlah, nanti saja kutanya Serlia.


.


.


.


[Bersambung]