
Kutatap wajahnya dan terkejut mengetahuinya kalau itu benar benar Samson yang sedang menungguku.
Bagaimana ini? Apakah dia akan marah padaku karena aku menabraknya? Eh? Kudengar, dia juga suka apel sepertiku.
Apakah ini hanya kebetulan?
"Ehm, maaf karena telah menabrakmu," kataku memalingkan wajahku ke arah kiri.
"Ada apa denganmu? Biasanya, kau tidak segugup ini," tanya Samson heran.
Hah? Sejak kapan kau mengenal diriku? Ini seperti seorang mata mata saja! Apa selama ini kau terus mengawasiku?
Menyebalkan!
"Untuk apa kau memanggilku?" tanyaku penasaran.
Kualihkan saja pembicaraannya, lagi malas menjawab!
"Aku hanya mau mengajakmu minum teh di sini," jawab Samson menggaruk kepalanya dengan jari telunjuknya.
Teh ya? Soal itu, aku lebih suka minum teh Mawar.
Baiklah, mau tidak mau, aku harus menerima kesempatan ini.
"Aku terima," kataku singkat.
Kumasuk ke dalam pintu semak hijau itu yang di ikuti oleh Samson dan Serlia.
Setelah sampai, alangkah terkejutnya aku melihat pemandangan cantik yang penuh dengan kupu kupu.
Bunga bermekaran, pohon pohon tumbuh dengan baik.
Di tambah lagi dengan meja dan kursi yang dekat air mancur.
Benar benar pemandangan yang indah!
Yah, tampaknya Serlia juga kagum dengan tempat cantik ini.
"Tempat yang sangat indah, aku akan duduk di kursi panjang ini untuk bersantai sebentar," kata Serlia pergi menuju pohon besar yang berada di dekat bangunan tua.
Kira kira, bangunan apa itu? Aku tidak pernah melihatnya. Hah? Serlia sudah tidur? Biarkan saja, yang penting dia tidak mengganggu perbincangan kami berdua.
Kududuk di kursi putih bersama Samson dan minum teh Mawar yang sudah di siapkannya.
*Meminum*
Lumayan, rasa manis yang pas dan menyegarkan pikiranku. Aku merasakan ketenangan yang luar biasa ….
"Apakah rasanya manis?" tanya Samson sambil memegang cangkir tehnya.
"Manis bagaikan ketenangan," jawabku singkat.
Daripada menciptakan suasana hening, lebih baik kuajak dia berbincang saja.
"Samson, berapa umurmu sekarang?" tanyaku penasaran.
"18 tahun, aku lulusan dari Magician Sripilian Academy," jawabnya biasa saja.
Sepertinya nama itu terdengar familiar di telingaku.
Dan apa yang dia bilang tadi? 18 tahun?! Kenapa Eliza bisa menyukai orang yang umurnya berbeda jauh dengannya.
Eh? Aku baru ingat kalau Veronica yang berumur 14 tahun menyukai Kak Carl yang berusia 19 tahun.
Sungguh, bagaimana aku bisa lupa? Mungkin, ini adalah faktor dari kemarahanku saat itu.
Sudahlah, tidak perlu di pikirkan! Yang penting, nikmati saja teh Mawar yang segar ini.
"Kalau begitu, apakah kau menyukai Eliza?" tanyaku semakin penasaran.
Dengan tenang, Samson meletakkan cangkirnya di atas meja dan menatapku dengan serius.
"Soal Eliza, aku tidak pernah menyukainya. Di awali dari pertunangan kami berdua yang di rencanakan oleh William, aku merasakan sebuah rantai yang menahanku"
"Aku merasa terjebak dari sisi kegelapan William yang menjodohkan diriku dengan Eliza"
"Tapi, semuanya berakhir ketika aku bertemu seseorang yang seharusnya menjadi Adik Iparku"
"Wajahnya begitu bersinar, hatinya yang keras tanpa di tutupi, dan sangat nekat dalam segala hal"
"Begitulah yang kurasakan, aku pantas mencari jodohku sendiri tanpa harus melewati pertunangan konyol ini," jawab Samson menjelaskan semuanya padaku.
Jadi, pertunangan yang kau alami itu semuanya kau anggap sampah? Entah kenapa setelah aku mendengar semuanya, hatiku merasakan kelegaan.
"Baguslah jika itu adalah pilihanmu. Aku suka pada orang yang memutuskan pendapatnya tanpa harus melewati suatu bahaya," kataku tanpa sadar tersenyum.
Melihat senyumanku, wajah Samson berubah blushing karena sedikit terpesona.
Terpesona? Tidak mungkin, pikiranku terlalu jauh!
Aku harus memasang wajah biasaku karena senyumanku terasa mengerikan.
"Maaf, aku terbawa perasaan saja," kataku biasa saja.
"Kenapa kau berhenti tersenyum? Padahal, senyumanmu itu seperti cahaya bintang," jawab Samson sedikit mengerutkan alisnya.
Karena itulah aku tidak pernah menyukai senyumanku sendiri!
Sedikit pertanyaan lagi yang ingin kutanyakan padanya, siapa tahu itu menyangkut di otakku.
"Samson, siapa perempuan yang kau sukai?" tanyaku penasaran.
*Menghela nafas*
"Memiliki sifat kasar dan berani itu adalah utama, tapi kecantikannya yang menyilaukan itulah yang membuatku jatuh cinta padanya," jawab Samson melirikku.
Hmm, kira kira siapa itu? Aku semakin penasaran dengan isi otaknya.
Tiba tiba ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel masuk telah berbunyi. Tempat ini sudah berubah menjadi hutan dan rawa rawa hijau.
Serlia terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat perubahan tempatnya yang menjijikkan.
Bagiku, tempat ini juga bagus.
"Astaga, pemandangan indah ini membuatku bangun! Sebaiknya kita kembali ke kelas saja," kata Serlia menggaruk leher belakangnya.
"Huh, tempat ini berubah karena bel masuk kelas telah berbunyi," jawabku serius.
Tanpa pikir panjang lagi, kami bertiga keluar dari dunia ajaib itu.
Aneh, entah kenapa aku merasa kalau leherku sedikit dingin.
Ah! Apa yang kupikirkan?! Lebih baik fokus saja pada perjalanan.
Sesampainya di kelas, kubuka pintunya dan wajahku di lempari sampah secara tiba tiba.
Sialan! Suasana hatiku mulai buruk!
"Siapa yang menyuruh kalian melemparku dengan sampah sampah sialan ini?!" tanyaku kesal.
Mendengar pembicaraanku, muncullah Eliza dengan gaun merahnya itu.
"Aku, memangnya kenapa?" tanya Eliza tersenyum miring.
Sudah kuduga, kau adalah dalangnya. Setiap bertemu dengan dirimu dan melihat wajah Bunga Bangkaimu, masalah selalu saja muncul dan sasarannya adalah aku.
"Oh, apakah itu karena ejekan tadi pagi?" tanyaku masih dengan rambut yang penuh sampah.
"Bukan, itu karena kau mendekati Samson!" jawabnya menggosok wajahku dengan kasar.
Hei! Hentikan hal memalukan ini!
Kusingkirkan tangannya dari wajahku dan menarik rambutnya.
Kau pikir aku lemah? Hmph, tidam semudah itu untuk mengatakannya!
"Jangan lupa, aku masih memiliki air panas untuk menyiram wajah cantikmu itu!" kataku kasar.
"Serlia, berikan aku air panas," lanjutku mengulurkan tanganku.
Sambil menyerahkannya, Serlia tampak senang melihat perdebatanku dengan Eliza.
"Mungkin kali ini akan lebih menarik daripada serangga," kata Serlia tersenyum licik.
Kuterima air panas yang di letakkam di dalam wadah dan menumpahkannya ke wajah Eliza.
Byur!
Aaaaarrrrrgggghhhhh!!!
"Panas sekali! Sakit!!! Tolong hentikan aksi mengerikanmu, Cath!" teriak Eliza memegang wajahnya.
"Oh, kau ingin kutambahkan lagi?" tanyaku sengaja.
Tanpa pikir panjang, kutumpahkan lagi airnya ke seluruh badannya sehingga kulitnya terbakar dan menyebabkan luka.
Byur!
Aaaaarrrrrrgggghhhhh!!!!
"Sudah kubilang hentikan! Jangan menyiramku lagi!!!" teriak Eliza semakin keras.
Siapa suruh kau menumpahkan sampah di wajahku? Aku yakin, pasti Michelle yang akan menolongmu.
Secara resmi, persaingan kita berdua bukan hanya di lingkungan biasa, tapi juga di sekolah!
"Maaf, aku tidak dengar. Agar aku tidak menyirammu lagi, maka pergilah dari kelasku!" perintahku kasar.
Dengan cepat, Eliza pergi dari kelasku sambil memegang wajahnya yang terluka itu.
Huh! Bau sekali! Aku harus pergi ke kamar mandi dulu.
"Serlia, bisakah kau ikut aku ke kamar mandi sebentar?" tanyaku meminta tolong.
"Dengan senang hati," jawab Serlia kelihatan bersemangat.
.
.
.
[Bersambung]