The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 95



Sebaiknya aku pergi temui Kak William dan Kak Carl dulu!


...


Kini, aku berada di ruang kerja pribadi Kak William.


Setelah mendengar apa yang kuceritakan, Kak William tiba tiba saja marah dengan alasan tidak jelas.


Brak!


Suara gebrekkan meja terdengar di telingaku.


Glek~


Aku jadi tidak bisa berkata kata karenamu, Kak.


"Sejak kapan seorang Raja b*j*ng*n itu memanggil kita semua ke sana?" tanya Kak William sedikit emosi.


"Ehm, Kak, bisakah kau pelankan suaramu? Aku jadi ketakutan," jawabku mengendalikan ketakutanku.


"Maaf, Kakak terlalu emosi karena Raja Arsula secara tiba tiba," kata Kak William.


Sudahlah, ini adalah hal yang begitu penting! Apakah Kakak mau pergi atau tidak?!


"Aku juga merasa aneh dengan Raja Arsula. Kenapa dia meminta tolong pada kita?" tanya Kak Carl heran.


"Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya, yang pasti dia sedang membutuhkan kita," jawabku tegas.


"Apa kau yakin ingin pergi ke Istana Srylpharuna?" tanya Kak Carl mengerutkan alisnya.


"Tentu saja, kita harus tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya," jawabku.


Baiklah, aku harus memutuskan kalau kita akan pergi atau tidak. Sekarang, giliran Serlia yang harus ikut dengan kami bertiga.


Kukeluar dari ruang kerja Kak William dan pergi menuju ke ruang Penyihir.


Baru beberapa langkah kuberlari, tanpa sengaja kutabrak seorang gadis hingga ia terjatuh ke lantai bersamaku.


Bugh!


"Astaga, tolong lihat langkahmu saat berlari!" kata gadis itu marah.


"Ah! Bukankah kau yang seharusnya berhati hati?! Perhatikanlah langkahmu!" jawabku kesal.


*Menatap ke depan*


Tunggu, Serlia?! Kapan kau bangun begitu awal?! Bukankah kau adalah seorang Penyihir yang selalu bangun kesiangan?


"Serlia?! Kenapa kau begitu buru buru?!" tanyaku kasar.


"Catherine?! Untuk apa kau berlari menabrakku?! Tolong jangan menghalangi jalanku!" jawab Serlia berdiri kembali.


*Berdiri kembali*


"Kau mau ke mana di saat yang rumit begini?" tanyaku menahan tangannya.


"Di saat yang rumit? Memangnya apa yang sedang terjadi?" tanya Serlia bingung.


Sudah kuduga, kau pasti tidak mendengar berita.


"Kulit Pelayan Istana Srylpharuna mengalami kebusukan akibat meminum teh buatan Eliza," jawabku menjelaskannya pada Serlia.


"Kulit Pelayan Istana?! Mengalami kebusukan?! Pantas saja racun itu hanya bisa di berikan pada satu orang agar sesuai dengan efeknya," kata Serlia kaget setelah mendengarnya.


"Cepat jelaskan padaku, bagaimana caranya racunmu?" tanyaku penasaran.


"Sebenarnya, racun itu akan bekerja lebih lama ketika di berikan pada satu orang saja"


"Tetapi, kalau di berikan kepada semua orang, cara kerja dari racun itu tidaklah sesuai dengan apa yang kukatakan," jawab Serlia serius.


Jadi, racunmu akan bekerja tidak sesuai setelah memberikannya kepada banyak orang? Pantas saja prosesnya sangat cepat di bandingkan dengan yang kau katakan waktu itu.


"Cepatlah bersiap siap, kita sedang di panggil oleh Raja Arsula untuk ke Istananya!" kataku menyuruh Serlia untuk bersiap siap.


"Baiklah, seperti yang kau katakan," jawab Serlia terburu buru.


...


Beberapa menit kemudian ….


Kami semua sudah bersiap siap dan sudah berada di kereta kuda.


Rasanya sangat menjengkelkan ketika mendengar sebuah panggilan dari seorang Raja kejam, aku jadi pusing karenanya.


Semua berita itu sudah tersebar di mana mana tapi yang di panggil adalah Kerajaan Arshleyer.


Menyebalkan sekali, kenapa harus kami semua yang pergi ke Istanamu? Apa kau tidak tahu kalau aku sangat membenci Putri Kandungmu?


Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir! Fokus pada permasalahan dan selesaikan semuanya dengan benar.


"Catty, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Kak Carl menatapku dengan penuh kebingungan.


"Tidak, aku hanya berpikir tentang masalah tadi," jawabku tersenyum tipis.


"Aku mengerti, Kak," jawabku singkat.


Lelah sekali aku menunggu, perjalanan dari Arshleyer hingga ke Srylpharuna ternyata jauh juga, ya.


Tak lama kemudian ….


Trak!


*Suara kuda*


"Kita sudah sampai, Yang Mulia, silahkan turun," kata salah satu Prajurit yang membawa kami.


Tanpa pikir panjang lagi, kami semua turun dari kereta kuda dan masuk ke Istana Srylpharuna.


Banyak sekali para Pelayan yang terkena kebusukan kulit? Mengerikan sekali ….


"Kakak, lihatlah mereka semua, terlihat seperti Monster," kataku menarik pakaian Kak Carl.


"Aneh, semuanya terlihat sangat tidak baik," jawab Kak Carl memperhatikan sekelilng.


Yah, semuanya tidak terlihat baik, aku tidak tahan dengan bau amisnya.


Sesampainya kami di dalam Istana Srylpharuna, tanpa sengaja kulihat sebuah adegan yang tidam seharusnya di lihat.


Plak!


Argh.


Kulihat Raja Arsula yang menampar pipi Eliza hingga ia tersungkur ke lantai.


"Apa ini semua karena perbuatanmu?! Benar benar Putri yang tidak berguna!" bentak Raja Arsula dengan suara yang keras.


"Ayah, aku sama sekali tidak tahu apa apa! Kumohon maafkan aku!" jawab Eliza menangis.


"Maaf mungkin tidak akan cukup untuk membayar semua kesalahanmu!" kata Raja Arsula masih marah.


Tenanglah, aku tidak akan bisa masuk bersama Kakak Kakakku kalau situasinya sedang kacau begini.


"Ayah, jangan memarahi Eliza lagi. Dia sama sekali tidak tahu apa apa," jawab Helson menghentikan Raja.


"Cukup! Kalian semua memang tidak berguna!" teriak Raja semakin marah.


Sudahlah, sebaiknya aku masuk ke dalam saja untuk menghentikan hal konyol ini.


"Yang Mulia, bisakah anda tidak terbawa emosi? Aku ingin mengatakan sesuatu secara pribadi denganmu," kataku tegas.


"Cepat katakan, jangan buang buang waktu," jawab Raja dengan sorot mata yang tajam.


Huft~


Memang tidak mudah jika harus berhadapan denganmu, wahai Raja Arsula yang serakah dan haus akan kekuasaan.


"Aku mau memberitahu anda kalau teh itu berisikan racun buatan seseorang"


"Kami berencana untuk menyembuhkan penyakit ini dengan berbagai cara yang bisa kami lakukan"


"Apakah anda mau bekerja sama dengan kami?" kataku berusaha meyakinkan Raja.


"Hmm, kurasa itu adalah ide yang bagus, aku bisa menyetujuinya," jawab Raja sangat yakin dengan keputusanku.


Haha, ini tidak boleh gagal, aku harus dapat meyakinkan Raja dan memutarbalikkan faktanya.


Tanpa kusadari ….


"Benar apa yang di katakan oleh Adikku, kita bisa bekerja sama untuk menyembuhkan penyakitnya," kata Kak William yang tiba tiba muncul di belakangku.


"Tunggu, apakah kau adalah Raja William yang kupanggil?" tanya Raja Arsula menatap Kak William.


"Benar, aku adalah seorang Raja Kerajaan Arshleyer sekaligus Kakak pertama dari Pangeran Carl dan Putri Catherine," jawab Kak William tersenyum.


*Berjabat tangan*


"Senang bertemu denganmu, Yang Mulia Raja William," kata Raja Arsula menjabat tangan Kak William.


"Senang bertemu denganmu juga, Yang Mulia Raja Arsula," jawab Kak William melakukan hal yang sama.


Huh, pertemuan antara Raja dan Raja, aku jadi pusing dengan posisiku sebagai Putri pertama.


Entah kenapa aku merasa aneh dengan sikap Raja Arsula yang membuatku merasa kesal secara tiba tiba.


Apakah jabat tangannya menandakan kalau Raja Arsula merencanakan sesuatu?


Aku tidak suka berhadapan dengannya ….!


.


.


.


[Bersambung]