
"Jangan masuk ke dalam," kata Serlia menahan tanganku.
"Baiklah, aku mengerti," jawabku mengangguk.
Maaf, Erfly, kami harus pergi dulu. Lain kali, pertemuan kita berdua tidak akan seperti dulu lagi.
Kau yang selalu membullyku dan meminta uangku, membuatku tidak mau menolongmu.
"Ayo kita pergi," kataku mengajak Serlia pergi.
"Eh? Kita mau ke mana?" tanya Serlia bingung.
"Seperti biasa, kembali ke sekolah," jawabku biasa saja.
Ia hanya mengangguk tapi menunjukkan ekspresi kesal.
________________________________________________
3 hari kemudian ….
Kini sudah musim dingin di awal bulan Desember. Istana penuh dengan Pengawal yang sedang membersihkan halaman. Untunglah kami libur sekolah selama 2 bulan demi memperpanjang liburan kami.
Para Pelayan pun menyiapkan teh panas untuk di antarkan ke ruang pribadi Kak William.
Huh, udaranya dingin, tapi aku senang dengan keindahannya. Bunga salju berguguran di jendelaku, indah sekali.
Aku yang sedang memandang keluar jendela merasa nyaman menikmati cuaca hujan salju kali ini.
Hah~
"Memang dingin, tapi ini cukup untuk membakar 15 kayu api unggun," kataku sambil memandang keluar jendela.
Di belakang ….
*Suara pintu terbuka*
"Catty, saatnya mandi air panas," kata Kak Carl memanggilku dari belakang.
"Ah, baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi," jawabku sedikit gugup.
"Oh, jangan lupa kalau Samson mau bertemu denganmu hari ini," kata Kak Carl sedikit kesal untuk menyebut nama Samson.
Orang itu mau datang menemuiku?! Sial, aku lupa kalau aku mau jalan jalan keliling kota bersama Serlia. Dan kami tidak lupa untuk pergi ke Istana Courtines.
Kenapa memangnya? Tidak ada salahnya jika Serlia ingin menemui Raja dan Ratu Courtines, karena bagaimanapun merekalah yang membesarkannya.
"Mungkin aku tidak bisa karena ada hal penting yang harus kuselesaikan," jawabku menggaruk kepalaku.
"Baiklah, aku senang kau menolaknya. Kalau begitu, Kakak pergi dulu," kata Kak Carl.
"Hah? Kakak mau ke mana?" tanyaku bingung.
Kelihatannya Kakak sangat terburu buru. Kakak mau pergi ke mana?
"Ehm, ini sangat rahasia. Kakak harus pergi ke danau angsa dulu. Sampai jumpa," jawab Kak Carl menutup pintu kamarku dan pergi.
Pergi ke danau angsa? Danau yang tidak pernah membeku itu? Yah, pasti karena Veronica lagi.
Akhir akhir ini, entah kenapa aku sering melihat wajah Kak Carl yang tersenyum sendiri.
Benar benar Kakak laki laki yang sibuk menemani kekasihnya, Adikmu selalu kesepian tanpa candaanmu ini.
Jangan dramatis, yang penting sekarang mandi air panas dulu dan memanggil Serlia.
.
.
.
Beberapa menit kemudian ….
Aku sudah keluar dari kamar mandi dengan gaun putih yang kupakai.
Segar, aku suka pemandian air panas ….
Ngomong ngomong, Serlia ada di mana? Aku tidak bisa bersenang senang.
"Sebaiknya kucari saja orang itu," kataku.
Kukeluar dari kamarku dan pergi menuju ke arah ruang Penyihir.
Saat hampir sampai di ruang Penyihir tepat di atas tangga, baru saja selangkah demi selangkah kuberjalan hingga sampai ke tujuan.
Kutergelincir dan terjatuh dari tangga.
Bruk!
Sakit sekali ….! Siapa yang menaruh sesuatu di lantai?!
Terlalu licin hingga membuatku terjatuh di lantai!
Tak lama kemudian, Serlia keluar dari ruang Penyihir dan melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.
Sama sepertiku, Serlia tergelincir dan terjatuh dari tangga.
Bruk!
Argh!
"Sakit sekali ….! Catherine, apakah ini ulahmu?!" tanya Serlia kasar.
Ulahku kepalamu! Apa kau tidak lihat aku juga terjatuh dari ketinggian?! Tanggamu di penuhi dengan lendir!
"Coba lihat baik baik kalau aku juga terjatuh dari tangga sialanmu!" jawabku membalasnya dengan kasar.
"Terjatuh ya? Maaf kalau sudah berbicara kasar," kata Serlia tersenyum aneh.
"Tidak masalah," jawabku kesal.
Kubangun dari lantai menyakitkan ini dan membersihkan gaun putihku dengan cara menepuknya.
Puk!
Puk!
Ah! Sudahlah, lupakan soal gaunku. Sebelum pergi, yang harus aku lakukan terlebih dulu adalah mencari tahu siapa yang berbuat seperti itu ada kami berdua.
"Serlia, menurutku ada yang menyelinap masuk ke Istana ini. Kira kira siapa ya?" tanyaku bingung.
*Bangun*
"Hmm, padahal Istana ini sudah terjaga dan sangat waspada. Siapa yang berani masuk?" kata Serlia bertanya balik.
Membingungkan ….
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki terdengar dari belakang, sehingga membuatku dan Serlia terkejut.
"Siapa itu?! Cepat tunjukkan dirimu atau kubunuh kau!" teriakku panik.
Namun, suara langkah kakinya hilang dan yang muncul hanyalah keheningan ruangan.
"Ada penyusup?!" tanya Serlia sedikit panik.
"Benar, musuh masuk ke Istana kita secara tiba tiba. Ayo kita kejar!" jawabku yang hanya di balas dengan anggukan oleh Serlia.
Tanpa pikir panjang lagi, kami berdua pergi mengikuti ke mana arah musuh berada.
Tap!
Tap!
Tap!
Masih terdengar dari sini, suara langkah kaki itu belum jauh.
Cepat tunjukkan diri kalian!
Dengan cepat, kuhampiri suara langkah kaki itu dan melihat dua orang yang memakai jubah hitam untuk menutup wajahnya.
Siapa mereka?! Sialan, penyusup seperti mereka sulit untuk di lawan.
Kubuka penutup kepalanya dengan paksa, tapi kedua orang itu malah mendorongku dan menyihirku.
"Poison Greenly," ucap salah satu orang yang tinggi itu.
Bau sekali, aku mengenal sihir ini. Nama sihir ini adalah racun hijau mematikan, dan dapat membuat siapa saja yang menghirupnya akan kehilangan kesadaran.
Kusengaja mengambil anak panah yang kebetulan berada di depanku dan menusukkannya ke bagian dadaku yang terluka.
Crack.
Lukanya belum sembuh …., aku sudah mulai melukainya lagi ….
Tanpa sadar, darah merah segar keluar dari mulutku dan kusemburkan secara tiba tiba.
Pfft!
Uhuk!
Dari situlah aku kehilangan kesadaran dan tidak bisa merasakan apapun.
Berlahan kututup kedua mataku, melihat sekeliling yang sudah tampak menghitam.
Serlia POV
Catherine?! Apa yang terjadi denganmu?! Ini semua gara gara aku yang tidak bisa menjaganya sama sekali ….!
Yang membuatku aneh dan penasaran tadi adalah, siapa mereka berdua? Bagaimana mereka bisa masuk ke Istana yang penuh Pengawal ini?
Pasti ada hal yang di sembunyikan oleh mereka berdua.
Menyihir Catherine dan membuatnya kehilangan kesadaran, akan kubalas perbuatan licik kalian berdua.
Lalu, bagaimana dengan luka Catherine? Pendarahannya semakin banyak, aku harus segera membawanya ke kamar dan memberitahu William.
Kupapah Catherine yang kehilangan kesadaran dan membawanya ke kamarnya.
Aku harus berusaha!
Setelah sampai di kamarnya, kubaringkan dia di kasurnya dan pergi lagi untuk memberitahu William.
Gila, sesulit itukah situasinya?! Semoga saja William mau merawat Adiknya.
Akhirnya, aku sampai juga di ruang pribadi William setelah berlari dengan jarak yang jauh.
Tok!
Tok!
Tok!
Kuketuk pintu ruangnya dengan 3× suara ketukan dan hanya bisa menunggu jawaban darinya.
"Masuk," jawabnya singkat.
Lagi lagi, jawaban yang kuterima sangatlah singkat dan terdengar datar.
Kubuka pintunya dan dengan panik memberitahunya tentang kondisi Catherine.
"William, tolong selamatkan nyawa Catherine! Tadi dia di racuni oleh penyusup dan tidak sadarkan diri sampai sekarang!" kataku panik.
.
.
.
[Bersambung]