
"Memangnya kenapa, Tuan Putri?" tanya Sarah bingung.
"Ehm, tidak ada, aku hanya ingin tahu saja," jawabku sedikit ragu.
"Baik, waktu mandi sudah selesai. Silahkan Tuan Putri pergi berganti pakaian," kata Sarah memberikanku handuk dan piyama.
Yah, akhirnya aku menjadi sedikit tenang, tenang sekali ….
Beberapa menit kemudian ….
Aku sudah selesai memakai pakaianku dan sekarang aku sedang berbaring di kasurku.
Di kasur, aku masih saja memikirkan masalah tentang racun di tubuh Eliza.
Seharusnya, racun itu tidak boleh sembuh sebelum sekolah di mulai. Bagaimana ini? Cara apa lagi yang harus kulakukan?
Oh, aku baru ingat kalau aku pernah belajar sihir penyamaran, yaitu Srygirs Erolia.
Dengan menggunakannya, aku pasti bisa masuk ke kamar Eliza secara diam diam dan meletakkan sebuah serangga kecil masuk ke dalam luka Eliza.
Rencana ini memang bagus, tapi serangga apa yang akan kuletakkan?
Hmm? Kalau soal jenis serangga, Eliza takut pada semua jenis.
Ha~, aku punya ide!
Saatnya beraksi, Saphira.
Tengah malam jam 12:00 ….
Semua orang di Istana sudah tidur. Untung saja aku berhasil menyelinap masuk ke kamar Eliza secara diam diam, kalau tidak maka tamatlah riwayatku ….
Sekarang, aku sudah terlihat jauh berbeda.
Dengan rambut panjang berwarna hitam dan mata berwarna biru membuatku tampak seperti orang lain.
"Penyamaran ini hanya bertahan hingga 2 jam, jadi rencanaku tidak boleh gagal!" lirihku menatap Eliza yang sedang tertidur.
Pelan pelan …., jangan sampai Eliza bangun karenaku.
Kuletakkan serangga itu ke dalam lukanya dan kulihat secara teliti.
Berlahan lahan, serangga yang kuletakkan mulai masuk ke dalam luka tubuh Eliza sehingga menyebabkan Eliza terbangun dan menjerit.
*Membuka mata*
Aaaaarrrrgggghhh!!!!
Gawat, jangan sampai ketahuan!
Karena sudah selesai, aku lari dari kamar Eliza lewat jendelanya.
Tampaknya, Eliza benar benar kesakitan kali ini.
Rencana selesai!
Saatnya aku kembali ke kamar dan tidur.
Keesokan harinya ….
Masih di hari libur, aku pergi ke kamar Eliza untuk menjenguknya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Kak Eliza, bisakah aku masuk ke dalam?" tanyaku dari luar sambil mengetuk pintu kamarnya.
____________________________________________________
Tidak ada jawaban? Kalau begitu, coba kupanggil sekali lagi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Kak Eliza, bisakah aku masuk ke dalam sekarang?" tanyaku sekali lagi.
Tetap saja tidak ada jawaban darinya. Biasanya, pagi pagi begini Eliza sudah bangun.
Jangan jangan ….
Hah?! Bagaimana kalau Eliza sudah mati?! Tidak boleh, aku harus mendobrak pintunya!
Brak!
Brak!
Brak!
Ayolah pintu, cepatlah terbuka!
Brak!
Ceklek~
Akhirnya terbuka! Sebaiknya kulihat di dalam dulu.
Sekarang, aku sudah berada di dalam kamar Eliza. Yang kulihat adalah wajah pucat dari Eliza yang tidak sadarkan diri.
"Kak Eliza, bangunlah," kataku menepuk pipi Eliza.
Bodoh, aku masih saja berakting di depannya saat ia tidak sadarkan diri! Sungguh bodoh!
Cepat bangunlah, Eliza! Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum aku puas menyiksamu!
Astaga, kenapa ia tidak bangun? Apakah sebaiknya kupanggil Pelayan pribadinya?
Seingatku, nama Pelayan pribadi Eliza adalah Celia.
"Celia! Celia! Tolong ke sini sebentar!" teriakku dari kamar Eliza.
"Iya, ada apa Tuan Putri memanggil saya?" tanya Celia menundukkan kepalanya padaku.
"Tolong panggil Raja, Ratu, dan kedua Kakakku! Kak Eliza tidak sadarkan diri daritadi!" jawabku panik.
Parah sekali aktingku ini …., bisa bisanya aku panik di saat saat seperti ini!
"Apa?! Tuan Putri Eliza tidak sadarkan diri daritadi?! Baik, aku akan segera memanggil Yang Mulia," kata Celia dengan sangat panik dan langsung keluar dari kamar.
Tinggal tunggu mereka datang saja!
Tak lama kemudian ….
"Eliza! Ada apa denganmu?!" teriak Ibu dengan khawatir.
"Catherine, ada apa dengan Eliza?" tanya Kak William mengerutkan alisnya.
Mode akting di aktifkan!
"Kak Eliza tidak sadarkan diri sama sekali …. hiks …., tolong periksa dia," jawabku menangis.
Tenang, Saphira, ini kan cuma akting.
"Tabib! Cepat periksa Eliza!" teriak Ayah memanggil tabib.
Ayah, suara teriakanmu keras sekali! Setiap aku mendengarnya, entah kenapa aku selalu ingin bersembunyi di belakang Kak Carl.
"Ayah, tolong jangan berteriak terlalu keras. Catty selalu saja bersembunyi di belakangku," kata Kak Carl memberitahu Ayah.
Kakak!
"Ehem, Ayah minta maaf karena sudah berteriak tadi," jawab Ayah.
Akhirnya, tabib Kerajaan datang juga.
"Salam, Yang Mulia Raja," kata tabib memberi salam pada Ayah.
"Tolong periksa anak ini," jawab Ayah biasa saja.
Tabib hanya mengangguk dan mulai memeriksa keadaan Eliza.
Semoga saja si iblis Eliza ini belum mati, kalau tidak maka dendamku sia sia saja!
"A …. apa?! Tuan Putri Eliza kemasukan serangga di bagian lukanya?!" kata tabib terkejut mengetahuinya.
Semuanya terkejut mendengar apa yang tabib katakan.
Memang mustahil kalau ada serangga dapat masuk ke dalam luka seseorang, tapi tidak pada Eliza.
Maafkan aku ya, Eliza. Aku tidak sengaja, hahahahaha.
"La …. lalu, bagaimana cara mengeluarkannya?" tanya Kak William dengan sangat panik.
Apa apaan ini?! Cara mengeluarkannya sangatlah mudah. Aku bisa mengeluarkannya, tapi tolong berusaha sendiri karena sekarang adalah rencana aktingku.
"Sangat sulit untuk mengeluarkannya, hanya orang yang memiliki sihir Hirrilis yang bisa mengeluarkannya," jawab tabib serius.
Hirrilis? aku punya sihir itu, tapi aku tidak mau menggunakannya.
Berpura pura bingung saja.
"Si …. sihir apa itu?" tanyaku berpura pura bingung.
Karena aku yang berpura pura tidak tahu, tabib pun menjelaskannya padaku.
"Sihir Hirrilis adalah sihir dengan 10.000 guna. Macam macam dari kegunaan sihir itu adalah …."
"Pertama, dapat mengangkat tubuh seseorang dengan ringan"
"Kedua, mengeluarkan benda kecil yang ada di dalam tubuh maupun luka"
"Ketiga, berbicara dengan roh dan sihir liar yang tidak terlihat sama sekali"
"Kermpat, membuat seseorang yang pingsan terbangun secara tiba tiba"
"Kelima, mampu membuat seseorang menjadi gila"
"Demikian, hanya itu yang dapat kukatakan. Bagaimana pendapat kalian?"
Penjelasan panjang lebar darimu dapat membuat kepalaku jadi pusing.
Selain aku, siapa yang memiliki sihir Hirrilis?
Ahh! Tidak perlu di pikirkan! Aku harus mencoba cara lain untuk membangunkan Eliza dari tidurnya itu!
"Hirrilis," ucapku mengulurkan tanganku pada tubuh Eliza.
Kemudian, cahaya kuning muncul di tanganku sehingga membuat semuanya terkejut.
Sial! Cahayanya silau sekali!
"Ca …. Catherine? Bagaimana kau bisa menggunakan sihir langka ini?" tanya Kak William terkejut melihatnya.
"Aku mendapatkannya sejak kelas 1. Sihir ini bukanlah sihir sembarangan, melainkan sihir yang di pakai khusus kemampuan kita sendiri," jawabku fokus mengobati Eliza.
Berlahan lahan, cahayanya mulai redup dan menghilang sehingga membuatku pingsan.
Eliza sudah bangun dengan keadaan normal, kecuali aku yang pingsan di gendong oleh Kak Carl.
"I …. ini …. sudah tidak sakit lagi? Apakah aku sudah sembuh?" tanya Eliza tidak percaya.
Selamat untukmu, Eliza, karena yang kau terima bukanlah kesembuhan, melainkan kesengsaraan hidup yang akan menghantui pikiranmu!
.
.
.
[Bersambung]