The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 101



"Berjanjilah pada diri kalian sendiri dan jangan pernah mengingkarinya, mengerti?" tanya Ratu Lynlia.


"Kami mengerti, Yang Mulia," jawab aku dan Carl bersamaan.


Sudah kuputuskan, aku tidak mau mengingkari janjiku walaupun hanya sekali saja.


Catherine memang anggota keluarga dari bangsa Thrynira, satu satunya anggota terakhir yang masih hidup.


Aku percaya bahwa semuanya akan aman jika Catherine menjalani hidupnya dengan baik.


Jujur, aku juga berkeinginan menghabisi Eliza, maka itulah aku akan membantu Catherine.


"Sudah waktunya aku pergi, tubuh ini kembali menjadi tubuh Catherine yang semula"


"Maaf jika aku tidak bisa berbicara dengan kalian lebih lama"


"Semoga kalian mengerti," kata Ratu Lynlia yang berlahan lahan hilang dari tubuh Catherine.


Cahaya mulai memudar, semuanya kembali seperti semula.


Meskipun Ratu Lynlia tidak berada di tubuh Catherine, namun entah kenapa Catherine pingsan kembali dan tidak sadarkan diri lagi.


*Pingsan*


"Catherine!" kataku memanggilnya.


...


Di alam bawah sadar ….


Saphira/Catherine POV


Ugh, bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah tadi aku sedang makan malam bersama keluargaku?


Ini pasti hanya mimpiku, tapi aku sama sekali tidak bisa bangun.


"Apakah di sini ada orang?" tanyaku.


Yang terdengar hanyalah pantulan suaraku, benar benar menyebalkan.


"Catherine, kau mencariku?" tanya seseorang yang memanggilku.


Eliza?! Kenapa kau bisa ada di sini?! Setiap mimpi burukku hanya di selimuti dengan bayanganmu!


"Memangnya kenapa, Eliza? Aku tidak memanggilmu," jawabku tegas.


"Benarkah? Padahal aku hanya ingin bilang kalau aku akan membunuhmu hanya dengan satu tusukan," kata Eliza memegang sebuah pisau kecil.


Tunggu, membunuhku?! Tidak, aku tidak boleh mati begitu saja! Aku masih ingin hidup dan tidak ingin mati untuk kedua kalinya!


"Selamat tinggal, Catherine," kata Eliza ingin menusukkan pisaunya ke arah leherku.


Dan ….


Sring!


Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhh!!!!


Hah~


Hah~


Hah~


Kubangun dari tidurku secara tiba tiba karena terkejut akan kejadian mimpi itu.


Jangan, jangan membunuhku!


"Catherine, kau sudah sadar? Aku khawatir sekali padamu," kata Serlia menggenggam telapak tanganku.


Kenapa kedua Kakakku juga ada di kamarku? Memangnya apa yang sedang terjadi?


"Maaf, memangnya apa yang terjadi padaku?" tanyaku bingung.


"Kepalamu pusing dan kau tidak bangun selama 30 menit," jawab Kak William menatapku dengan penuh kekhawatiran.


Benarkah? Apakah aku tidur selama itu? Sudahlah, aku ingin tidur lagi karena ini sudah malam.


"Baiklah, jangan menggangguku lagi, sudah saatnya aku tidur," kataku kesal dan tidur lagi.


.


.


.


Keesokan harinya ….


Hoam~


Aku baru bangun dari tidurku yang nyenyak. Rasanya aku mengantuk sekali hingga tidak ingin bergerak.


"Huh, apakah aku akan menjalani hari hari yang buruk lagi hari ini?" tanyaku pada diriku sendiri.


Kukeluar dari kamarku sambil menggosok mata kiriku.


Tanpa kusadari ….


"Catty, apakah kau mau ikut berjalan jalan ke kota bersama aku dan William nanti?" tanya Kak Carl yang tiba tiba menghampiriku.


Jalan jalan? Ke kota? Kurasa tidak buruk.


"Baiklah, aku akan ikut, tapi jangan lupa membawa Serlia untuk ikut denganku juga," jawabku senang.


Yah, daripada menunggu lama, sebaiknya aku mandi dulu.


...


Setelah selesai mandi dan sarapan bersama ….


Akhirnya kami semua sudah berada di kereta kuda dengan cepat.


Untunglah aku tidak lupa memakai syal dan gaun tebal berwarna ungu untuk menutupi penampilanku yang terlihat mencolok.


Yah, itu juga berguna untuk menutupi tubuh dinginku.


Hu~, udaranya terlalu dingin hingga menusuk ke tulang, aku benci musim dingin.


"Catherine, ada apa denganmu?" tanya Kak William menatapku dengan penuh kebingungan.


"Tidak apa apa, aku hanya sedikit kedinginan," jawabku menahan rasa dingin yang menusuk tubuhku.


Karena melihatku yang tidak tahan terhadap udara dingin, Kak Carl langsung memelukku agar tubuhku tidak kedinginan lagi.


Kebetulan sekali, aku duduk bersebelahan dengan Kak Carl dan Serlia duduk bersebelahan dengan Kak William, tepat di depanku.


"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" tanya Kak Carl sambil memelukku.


Pelukan yang hangat, sudah lama aku tidak merasakan kehangatan dari Kak Carl.


"Sudah, Kak," jawabku tersenyum.


"Baguslah, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita sampai," kata Kak Carl masih memelukku.


Huh, aku pikir Kakak akan melepaskanku setelah memelukku, ternyata tidak sama sekali.


Ngomong ngomong, untuk apa kita pergi ke kota? Apakah ada seseorang yang ingin Kak William temui?


Lupakan saja, sebaiknya aku diam dan tidak berbicara.


Tak lama kemudian ….


Trak!


*Suara kuda*


"Yang Mulia, kita sudah sampai," kata Prajurit yang mengendarai kereta kudanya.


"Baiklah, terima kasih telah mengantar kami ke kota," jawab Kak William.


Tanpa basa basi, kami semua turun dari kereta kuda dan jalan jalan mengelilingi kota bersama kedua Kakakku dan Serlia.


Kugenggam tangan Serlia karena takut ia tiba tiba menghilang dariku.


*Genggam*


"Cath, ada apa denganmu? Kenapa kau menggenggam tanganku?" tanya Serlia kaget.


"Aku hanya tidak mau kau menghilang dariku, mengerti?" jawabku menatap Serlia.


Karena perkataanku terdengar menjengkelkan di telinganya, ia hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


Hah~


"Tanpa di genggam olehmu, aku tidak akan pergi," katanya jengkel.


"Yah, aku tahu itu," jawabku tetap menggenggam tangannya.


Melihat tingkahku, Kak William dan Kak Carl terkekeh dari belakang karena melihat tingkahku yang sedikit menyebalkan di mata Serlia.


Kotanya indah dan besar sekali, hanya ada sedikit salju di lantai. Aku jadi heran dengan kota besar ini, tempatnya sangat bersih dan tidak di banjiri salju.


Apakah ada seseorang yang membersihkannya?


Terlebih lagi, lantai yang kuinjak ini terasa sangat licin bagaikan menginjak sebuah es.


Sudahlah, lupakan soal itu, yang penting carilah tempat bagus yang kuinginkan.


Eh? Ada rumah makan? Tidak, aku baru ingat kalau aku harus menjaga nafsu makan.


Tunggu, sejak kapan ada toko buku di sebelah rumah makan? Aku jadi penasaran dengan apa yang ada di dalam sana.


Apakah mereka ada menjual buku buku menarik? Kalau begitu, aku harus mengajak Serlia untuk membelinya.


"Serlia, bisakah kau ikut aku ke toko buku? Aku memiliki beberapa koin emas untuk membeli buku buku baru," kataku mengajak Serlia.


"Toko buku? Sejak kapan kau suka membaca buku? Seingatku, kau adalah orang yang tidak menyukai buku sama sekali," jawab Serlia menatap ke arah toko buku.


Sialan kau, padahal banyak buku buku yang mau kubeli di sana, siapa tahu ada buku dongeng atau semacamnya.


"Terserah kau saja, yang penting adalah ikut aku sebentar untuk membeli buku baru," kataku menarik paksa tangan Serlia dan menuju ke arah toko buku.


"Catherine, tung ….," kata Serlia yang tidak sempat bicara.


Sudahlah, nikmatilah angin gratis yang kuberikan untukmu dan jangan pernah melawan keinginanku.


Sesampainya di toko buku ….


Ceklek~


Kubuka pintu masuknya berlahan lahan dan masuk ke dalam.


Indah sekali, aku baru tahu kalau toko buku sebesar ini.


Yah, kuakui kalau perpustakaan di sekolah adalah tempat yang paling besar.


"Selamat datang, Nona. Apakah ada yang bisa kubantu?" tanya seorang pemilik toko buku tersebut.


Nona? Benar juga, aku tidak terlalu mencolok dengan syal dan pakaian tebal yang kukenakan.


Sekarang, tinggal gunakan nama samaranku saja jika ia bertanya.


.


.


.


[Bersambung]