
Beberapa jam kemudian ….
Akhirnya pesta pertunangan berakhir juga, semua sudah pergi dari Istana Srylpharuna.
Sayang sekali, hanya aku dan Serlia yang belum pergi dari Istana, karena masih ada sisa 1 pertunjukkan penutup untuk malam ini.
Eh? Eliza dan Samuel sudah pergi? Tidak, aku harus menyelinap masuk tanpa sepengetahuan Raja.
"Serlia, ayo kita cari Eliza dan Samuel," bisikku pelan.
Serlia hanya mengangguk dan mengikuti instruksiku.
Di lorong yang luas dan gelap ….
Kulihat Eliza yang tiba tiba saja pusing dan tidak bisa mengendalikan langkah kakinya yang sudah hampir tumbang.
Astaga, seperti itukah rasanya saat mabuk? Situasinya sangat berbeda dengan Veronica saat mabuk.
Veronica masih di tolong oleh Kak Carl dan bibirnya di cium hingga sadar. Sedangkan Eliza? Aku beluk tahu pasti seberapa liar Samuel ketika dekat dengan Eliza.
Pikiranku! Tolong jangan pikirkan yang tidak tidak.
Puk~
Dari belakang, Serlia menepuk bahuku karena takut aku berpikir sesuatu yang aneh.
"Pasti kau memikirkan sesuatu yang merusak pikiranmu, bukan?" tanya Serlia menatapku.
"Ah! Jangan banyak bicara!" jawabku kesal.
"Baik, aku tidak akan berbicara," kata Serlia memutar bola matanya dengan malas.
Sudahlah, berdebat denganmu adalah hal yang paling tidak kuinginkan!
Lanjut pada topik ceritanya, kepala Eliza sudah benar benar pusing hingga tubuhnya tidak bisa di kendalikan.
Sungguh? Sebesar inikah efek racunnya?!
Kau terlalu kejam, Serlia.
Coba saja penulis novel itu menambahkanmu di dalam novel yang kubaca, kau pasti akan jadi tokoh favoritku selain Catherine.
Hmm, apa mungkin novel ini masih banyak menyimpan banyak misteri ya? Akan kuungkap dengan sendirinya tanpa harus memerlukan bantuan.
Bruk!
Ouch!
Eliza menabrak Samuel secara tidak sadar. Kira kira, apa yang dia lihat?
*Menatap ke atas*
"Samson? Apa itu kau?" tanya Eliza.
Jadi, semua sihir yang di buat oleh Serlia bukanlah kebohongan?! Bagaimana cara dia membuatnya?!
Ini bahkan lebih dari kadar alkohol yang tinggi, aku sangat kagum padamu.
"Samson? Siapa itu? Aku tidak mengenalnya," jawab Samuel kebingungan.
Hah? Samuel tidak mabuk? Dia terlihat biasa saja saat berjalan dan menjawab pertanyaan konyol Eliza.
Apa efek racun sebesar ini tidak berpengaruh padanya? Yah, yang bisa kulihat nanti pasti pertunjukkan buruk.
"Jangan berbohong padaku, namamu Samson bukan?" tanya Eliza sekali lagi.
Tanpa sadar, Eliza menyerahkan ciuman pertamanya pada Samuel sehingga membuatku tidak dapat menahan mata rabunku.
Ah! Selalu saja mataku yang melihat adegan ini berkali kali! Untunglah aku belum pernah melakukannya.
*Melepaskan ciuman*
Ah~
Dasar, aku tidak tahan melihat yang terlalu vulgar begini. Mataku bertambah rabun, aku butuh kacamata.
"Ternyata itu benar benar kau, Samson. Jadilah milikku dan tinggalkan Catherine secepatnya," kata Eliza masih dalam keadaan mabuk.
Samuel tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Eliza, namun ia malah menggendongnya dan membisikkanya suatu kata.
"Maaf, kau mungkin salah orang," bisik Samuel di telinga Eliza.
Tanpa berkata apa apa, Samuel membawa Eliza masuk ke dalam kamar dan melakukan hal yang tidak seharusnya kulihat.
Ceklek~
Mereka sudah masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan rapat.
Aku tidak bisa mendengar suara apapun dari luar, mungkin pendengaranku sedikit terganggu.
_____________________________________________
Keesokan harinya ….
Hoam~
Semalam aku dan Serlia pulang jam 12:00 hingga di marahi oleh Kak Carl. Beruntung Serlia tidak di marahi, sedangkan aku di hukum untuk tidur bersamanya dalam 3 hari.
Akhir akhir ini, entah kenapa suasana antara aku dan Kak William masih canggung layaknya aku bersama orang lain.
Yah, kejadian semalam saat aku pulang kemarin ….
•Flashback•
Jam 12:00 ….
Aku dan Serlia sudah pulang ke Istana tanpa salam dari para Pelayan maupun Prajurit.
Baru saja aku mau masuk ke dalam, pintu Istana sudah di buka oleh 2 Prajurit andalan Kak Carl.
Glek~
Jangan jangan ….
Terlihat Kak Carl yang berdiri di depan pintu sendirian.
Gawat, apakah aku akan di marahi?
"Catty, kau ke mana saja tadi? Pergi minta izin saja tidak," kata Kak Carl menatapku dengan tajam.
Kakak, bola mata merahmu membuatku semakin ketakutan, tolong jangan menatapku seperti itu.
"Kami sedang menghadiri pesta pertunangan Eliza dan Samuel, makanya agak lama," jawab Serlia santai.
Sorotan mata Kak Carl sudah agak membaik dan menyuruh Serlia untuk pergi.
"Kalau begitu, kau boleh pergi," kata Kak Carl menyuruh Serlia pergi.
Serlia hanya menurutinya dan pergi meninggalkanku.
Eh? Bagaimana denganku? Apakah aku sungguh di marahi? Kakak, aku benar benar minta maaf atas kesalahanku~
*Menatap*
"Kau akan kuhukum," kata Kak Carl menatapku.
Di hukum? Bukan artinya aku akan di telantarkan kan? Kalau sudah marah, hanya Kak Carl saja yang terkenal mengerikan.
Itulah sebabnya aku tidak bisa melawannya. Mau bagaimanapun melawannya, aku pasti di hukum dengan berbagai cara.
Ketika aku berusia 9 tahun tepat aku ketahuan bermain pedang dan tidak sengaja mengotori gaunku, aku tidak di izinkan memanah selama 1 tahun.
Kedua, ketika aku berusia 10 tahun, aku ketahuan bermain sihir langka milikku dan di hukum berdiri di atas atap Istana dari jam 13:00 sampai jam 18:00.
Dan yang ketiga, aku di hukum lagi? Sungguh, tolong hindari hukuman Kakak kejam seperti Kak Carl.
"Kakak, hukuman apa yang akan kau berikan?" tanyaku bingung.
"Ehm, karena ini adalah hukumanmu yang ketiga kalinya kulakukan, aku akan memberikanmu yang sedikit mudah"
"Malam ini, kau tidur bersamaku hingga 3 hari. Aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak menyelinap keluar dari kamarku"
"Apa kau mengerti?" jawab Kak Carl panjang lebar.
Astaga, sekarang hukumannya adalah aku di tahan agar tidak keluar secara diam diam.
Terlebih lagi, aku tidur bersama Kakak di ranjang yang sama. Tenanglah, statusku adalah Adik perempuannya, jadi wajar saja aku tidur bersama Kak Carl.
Sebelumnya aku juga pernah tidur bersamanya.
•Flashback off•
Dan aku hanya menerima hukumannya. Yang ada di sampingku sekarang adalah Kak Carl yang belum bangun.
Apa sebaiknya kubangunkan saja? Baiklah, cukup panggil dia bangun dan beres kan?
Akan kulakukan~
"Kakak, ayo bangunlah," kataku memanggilnya.
"Tidak mau, Kakak harus tidur sebentar lagi," jawabnya masih tertidur.
Membangunkan Kakak ternyata sangat sulit ya. Apa sebaiknya aku katakan saja kalau Veronica mencarinya?
Tidak, nanti situasinya akan bertambah buruk. Kulakukan ini saja agar bangunnya lebih cepat.
Cup~
Kukecup kening Kak Carl sekilas dan mengucapkan kata yang harus di katakan saat bangun pagi.
"Selamat pagi, Kak Carl," kataku tersenyum.
Tak lama kemudian, Kak Carl membuka matanya dan menatapku dengan senyuman.
"Selamat pagi juga, Adikku," katanya tersenyum.
.
.
.
[Bersambung]