
Sebaiknya aku memulai pembicaraan terlebih dulu.
"Latihannya di mulai dari mana dulu?" tanyaku menatap ke arah Samson.
"Pertama, cobalah kendalikan rangka tulang yang ada di sebelahmu," jawab Samson seraya menunjukkan tulang hewan yang berupa rangka.
Serius?! Kau sampai membawa tengkorak demi melatihku?! Bagaimana caranya? Apakah benar benar akan bekerja dengan baik?
Hah~
Tidak ada salahnya jika kucoba dulu ….
"Skeleton," ucapku.
Berlahan lahan, rangka hewan yang berantakan tiba tiba tersusun rapi seperti hewan pada mulanya.
Biar kutebak, rangka sebesar dan setinggi ini pasti bernama Giant Eagle.
Bentuknya terlihat seperti burung elang yang menunjukkan sayapnya sebagai arti dari kesetiaan.
Fungsi dari sihir Skeleton yang kupelajari dengan susah payah di sekolah ternyata memang berguna saat latihan.
Tidak sia sia kulatih sihir ini.
"Bagus dan menarik, Giant Eagle telah kau satukan secara sempurna," kata Samson melihat ke rangka elang itu dengan kagum.
Hehe, maaf, padahal aku hanya asal menggunakan sihirnya saja.
"Terima kasih atas penilaiannya," jawabku dengan hormat.
"Selanjutnya, buatlah sebuah Mawar salju hanya dengan kepingan es yang ada di bawah kakimu," kata Samson menunjuk ke bawah kakiku.
Membuat Mawar salju dengan sisa kepingan es? Aku tidak salah dengar, kan? Patah, ternyata peningkatan kekuatan sihir tidaklah mudah~
"Satu lagi, jangan menggunakan sihir jika ingin membuatnya. Demi melatih kecerdasan pikiranmu, kau harus menggunakan tanganmu sendiri meskipun itu dapat membekukanmu," lanjut Samson serius.
Apa?! Tanganku sendiri?! Tidak, terasa sulit jika kugunakan tanganku. Maaf, aku tidak tahan terhadap kedinginan ….
Tapi, demi kekuatan aku rela melakukannya ….!
"Baiklah, aku siap," jawabku tegas.
Kuambil sekeping demi sekeping dan mencoba menyatukannya. Di mulai dari tangkainya yang berbentuk es tanpa adanya duri.
Aku pernah melihat Mawar salju di kehidupanku yang sebelumnya. Sekarang, Mawar salju bahkan ada di dalam dunia novel.
Ouch!
Rasa beku ini sangat menusuk kulitku …., seperti aku yang membeku di antara es yang dingin.
Kusatukan kepingan es hingga menjadi sebuah kelopak Mawar salju.
Sedikit lagi selesai, tanganku sudah membeku karena memegang es ….
*Menyatukan satu kepingan*
"Selesai," kataku.
Tanganku …. sudah tidak mampu bertahan …., aku butuh api untuk menghangatkannya ….
"Baguslah, kau lulus latihan keduamu"
"Terakhir, berenanglah ke kolam air dingin yang di belakangmu. Dengan begitu, kekuatan pikiranmu dapat kau kuasai dengan baik"
"Bukan hanya itu, ketenangan dan kesabaran juga bisa kau kuasai nantinya," jelas Samson serius.
"Berenang ke kolam air dingin?! Kau serius?!" tanyaku sedikit kaget.
"Memangnya kenapa? Kau tidak tahan terhadap kedinginan?" jawab Samson bertanya balik.
Yah, aku memang tidak tahan terhadap dingin, tapi ini adalah latihan.
Mau tidak mau, aku terpaksa berbohong.
"Tidak, aku baik, sungguh baik," jawabku tersenyum paksa.
Samson hanya mengangguk senyum melihatku.
Sudahlah, aku lompat saja ke dalam kolam.
Kuberlari ke arah kolamnya dan menceburkan diri ke dalam.
Byur!
Gulp~
Kedalamannya 100 meter, sama seperti bulan lalu! Di dorong oleh Veronica hanya karena Eliza yang menyuruhnya, terus menunjukkan sebuah surat kontrak padanya.
"Kau harus menuruti apa yang kuperintahkan! Ingat, kontrak di antara kita berdua belum selesai!"
Sial! Aku masih ingat dengan kata katanya! Kira kira, apakah kontrak di antara Eliza dan Veronica benar benar sudah berakhir?
Pusing setelah memikirkannya. Apalagi kolam ini sangat dingin!
Aku harus mampu bertahan hingga 55 menit! Tidak peduli dingin atau tidak, yang penting berusahalah!
...
Beberapa jam kemudian ….
Sialan! Bodohnya aku yang tidak berenang ke dasar kolam! Dingin …. seperti di kutub utara ….
Aku tidak bisa keluar, kaki dan tanganku membeku ….
Byur!
Siapa itu? Apakah dia datang menolongku?
Hangat, pelukan yang kurasakan ini sangat kukenal ….
Byur!
Bwah!
"Bodoh! Kenapa kau membiarkan dirimu tenggelam dan tidak keluar?! Kau tahu, kolam itu memiliki kedinginan yang sangat menusuk kulit!" marah seseorang yang ternyata Samson.
Karena sudah terlalu dingin, kupejamkan mataku dan tidak sadarkan diri.
"Catherine! Catherine! Sial, kau terlalu bodoh! Kau akan kurawat dan kutemani hari ini!" kata Samson berteriak.
Masih terdengar di telingaku, kali ini, dia benar benar mengkhawatirkanku.
...
Di kamar ….
Kuterbangun dari tidurku dan melihat kalau aku sudah berada di kamar. Gaunku di ganti, rambutku di keringkan, dan badanku di selimuti menggunakan selimutku.
Siapa yang menyelamatkanku? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Huh, pikiranku sedang berantakan.
Hmm? Samson? Kenapa dia membaringkan kepalanya di kasurku? Apa dia yang menyelamatkanku?
Kalau benar maka ….
*Tersenyum*
Kuelus kepalanya yang sedang tidur, kelihatannya dia tidak seperti yang ada di dalam novel.
Perbedaannya, dia perhatian sekali padaku dan rela bertaruh nyawa demi menolongku.
Di tambah lagi, dia menjagaku tanpa mendengarnya mengeluh sedikitpun.
"Terima kasih, Samson," lirihku mengelus kepalanya.
Tak lama kemudian ….
*Bangun*
Gawat, sebaiknya kusingkirkan tanganku dari kepalanya dulu!
Hoam~
"Catherine, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Samson sedikit khawatir.
"Sudah, aku tidak apa apa," jawabku tersenyum.
Ia bangun dan menghampiriku lebih dekat. Tunggu, ini bahkan lebih dekat daripada bunga yang menempel di bibir.
Apa yang mau kau lakukan?
"Seharusnya kau tahu kalau kau sudah berada di dalam air selama beberapa jam," kata Samson menatapku.
Benarkah? Selama itukah aku? Pantas saja aku terasa dingin saat berada di dalam.
Maafkan aku, mungkin latihan kali ini aku benar benar gagal.
"Aku minta maaf soal itu. Jujur, aku tidak tahan terhadap kedinginan," jawabku jujur padanya.
Setelan aku mengatakannya, entah kenapa hati Samson sedikit tenang, begitu juga denganku.
Coba saja kukatakan yang sebenarnya padanya, pasti aku bebas dari kolam bodoh itu!
"Ternyata kau tidak tahan terhadap dingin ya? Kenapa kau berbohong padaku?" tanya Samson serius.
Bagaimana cara menjelaskannya? Pertanyaan darimu adalah sebuah jarum bagiku.
"Ehm, itu karena aku ingin memperoleh kekuatanku," jawabku tersenyum.
"Baiklah, tidurlah, besok tidak ada latihan, mengerti?" kata Samson memperhatikanku.
Tidak ada latihan? Itu artinya, aku bebas dari cengkeramanmu? Terima kasih, akhirnya aku bisa merasakan ketenangan walaupun hanya satu hari!
Syuuh~
Eh? Menghilang? Apakah Samson sudah pulang? Biarkan saja, lebih baik aku pergi menemui Serlia dulu.
____________________________________________
Setelah sampai di ruang Penyihir, kumasuk ke kamar Serlia dan menghampirinya.
Ceklek~
"Serlia, kenapa kau jarang sekali keluar dari ruangmu?" tanyaku bingung.
Tentu saja, akhir akhir ini Serlia sangat jarang keluar dari ruang Penyihir. Apa yang sebenarnya dia lakukan?
"Beberapa hari ini, aku sedang membuat racun mematikan untuk kupakai"
"Seperti yang di katakan oleh ramalan mata merahku, Eliza akan mengincarmu besok karena melihatmu yang di selamatkan oleh Samson saat tenggelam tadi"
"Heh, dia juga tidak lupa membawa Michelle untuk mencegah aksiku. Sungguh menyebalkan! Padahal mereka berdua sama sama sampah!" jawab Serlia serius.
Tampaknya, dia sedang marah. Apa lagi yang akan Eliza lakukan?
.
.
.
[Bersambung]