
"Suasana Istana sepi ya," kataku sambil mengunyah makanan.
"Yah, tidak seperti biasanya. Kalau masih ada Eliza, maka Istana ini akan hancur seperti kapal," jawab Serlia.
"Hmm, ngomong ngomong, apakah Eliza akan sekolah seperti biasanya?" tanyaku penasaran.
"Bisa jadi, siapa tahu dia telah di angkat menjadi Putri keluarga Srylpharuna. Ini hanya kepastianku, tapi kenyataannya ada di matamu sendiri," jawab Serlia dengan wajah yang tampak yakin.
Di angkat menjadi Putri Kerajaan Srylpharuna? Jadi, arti dari mimpi buruk kemarin begitu ….
Apakah Eliza sungguh mengetahuinya? Ah! Bukan urusanku!
"Sebentar lagi akan sekolah, aku sudah selesai makan," kataku meletakkan pisau dan garpu tepat di atas meja makan.
"Aku juga selesai, ayo kita bersiap siap," jawab Serlia melakukan hal yang sama denganku.
.
.
.
Beberapa menit kemudian ….
Aku, Kak Carl, dan Serlia sudah sampai di sekolah. Sepertinya ada yang kulupakan. Samson terus mengikutiku ke manapun aku pergi.
Eh? Aku lupa menanyakannya tentang identitasnya di sekolah.
"Samson, apa identitasmu di sekolah?" tanyaku penasaran.
Bagaimana aku tidak bertanya? Setiap hari di sekolah, aku hanya melihatnya berganti identitas.
Kadang kadang sebagai guru, dan juga sebagai Penyihir.
Apa identitasnya yang sebenarnya?
"Oh, aku menjadi guru sihir kelas ♥," jawabnya tersenyum.
Lupakan, lagipula untuk apa aku bertanya.
Kami berdua Samson mulai memisah jalur dan pergi ke tempat ruang masing masing.
Hanya aku dan Serlia saja yang terlihat sekarang. Entah ada apa yang tiba tiba membuat rambutku di jambak dari belakang.
Akh!
"Siapa yang menarik rambutku?!" tanyaku tanpa menoleh ke belakang.
"Aku, memangnya kenapa?" jawab orang itu dari belakang.
Tunggu, itu suara Eliza, kan? Ternyata dia masih sekolah di sini!
Kumenoleh ke belakang dan melihat ternyata benar dia Eliza! Kelihatannya, wajahnya benar benar senang.
Apa yang membuatnya senang begini?
"Eliza? Kenapa kau senang sekali hari ini?" tanyaku.
"Heh, aku senang karena bisa hidup beruntung!" jawab Eliza melepas rambutku.
Sialan! Rambutku jadi berantakan karena kau! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!
"Dan apa yang membuatmu beruntung, jala*g?" tanya Serlia mengerutkan alisnya.
Tampaknya, Serlia benar benar serius bertanya padanya.
"Sialan kau! Aku bukan orang yang seperti kau bilang!" jawab Eliza kesal karena panggilan Serlia.
Eliza melayangkan tamparannya pada Serlia, namun berhasil di tepisnya.
"Ingin menamparku? Maka jawab dulu pertanyaanku!" kata Serlia kasar.
"Oh, baik, aku akan mengabulkan permintaanmu"
"Namaku bukanlah Eliza Alveria De Arshleyer lagi, melainkan Eliza Carlina Sean Srylpharuna!
"Ayah Kandungku bernama Arsula Srylpharuna dan Ibu Kandungku bernama Arlia Srylpharuna"
"Selama ini kau telah menipuku, bukan? Raja Lordsorius bukanlah Ayah Kandungku! Dia adalah korban tipuan dari Ibuku sendiri"
"Jadi, secara alami, aku bukan saudari Tirimu maupun Kakakmu," jawab Eliza mengalihkan tatapannya padaku.
Bagi kalian yang tidak mengerti, Eliza berbicara denganku. Mimpiku tidak berbohong padaku, tapi aku baru tahu kalau Eliza mengganti marganya.
"Satu lagi, Samson tetap tunanganku karena aku sangat menyukainya. Jadi, izinkan aku mengejarnya," lanjut Eliza.
Terserah kau saja, siapa juga yang menyukai Samson! Ingatlah, dendam kita belum selesai.
Tiba tiba, Michelle muncul di depanku dengan gayanya yang angkuh.
"Maaf karena aku kabur kemarin. Rasanya tidak nyaman ketika mendengar Eliza tidak tinggal di Istanamu lagi"
"Mulai sekarang, aku mengambil alih sebagai Penyihir Srylpharuna untuk Eliza," kata Michelle mengibaskan rambutnya.
"Sudah kubilang waktu itu, jangan mengibaskan rambutmu saat masih ada aku di depanmu!" jawab Serlia menjambak rambut Michelle dengan kasar.
Argh!
"Sakit sekali!" teriak Michelle kesakitan.
"Inilah pembalasan untuk rambutmu! Kau tahu, semua yang kau lakukan terlihat salah di mataku," jawab Serlia tersenyum licik.
Hentikan, Serlia! Kau membuat masalah semakin rumit!
Dengan kasar, Serlia mendorong Michelle hingga terbentur ke dinding.
Bruak!
Rasakan pembalasanmu! Serlia bukanlah orang bodoh seperti yang kau pikirkan!
Hah? Eliza kenapa lagi? Kau tampak aneh saja.
"Lihat saja nanti, akan kubalas perbuatanmu!" kata Eliza kasar dan langsung pergi membawa Michelle.
Huh! Menyebalkan!
Tak lama kemudian ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel masuk kelas telah berbunyi. Sudahlah, nanti saja aku ke kantin.
.
.
.
Beberapa menit kemudian ….
Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Aku dan Serlia sedang berada di kantin dan makan makanan manis.
Sulit sekali mengatakannya, aku di ajak berjalan jalan oleh Samson hari ini.
Saat di kelas tepat pelajaran sedang di mulai, aku menerima surat darinya. Entah ada angin baik apa yang membuatnya ingin mengajakku.
Kuharap Serlia tidak akan tahu rahasia ini.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Cath? Kau terlihat murung," kata Serlia menatapku serius.
"Ehm, tidak apa apa. Aku hanya bosan saja," jawabku tersadar dari lamunanku.
Apa sih yang kupikirkan?! Nanti saja jalan jalannya!
Tanpa kusadari, ada yang menepuk bahuku dari belakang.
Puk~
Hei! Siapa yang berani berbuat sembarangan pada seorang Putri Kerajaan sepertiku?! Memang cari mati ya!
"Bisakah kau melepaskanku?!" tanyaku sedikit kasar.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah," jawab seseorang yang kukenal suaranya.
Samson? Kenapa orang itu menepuk bahuku secara tiba tiba? Jangan bilang kalau ….
"Maukah kau memenuhi permintaanmu?" tanya Samson tersenyum.
Gila! Aku belum siap untuk pergi bersamamu, bodoh! Aku hampir lupa kalau Serlia masih ada di depanku.
"Baiklah, aku akan memenuhinya," jawabku tersenyum paksa.
Apa boleh buat? Turuti saja selagi masih ada Serlia yang mengawasiku di sini.
Samson menarik tanganku dengan paksa dan membawaku pergi ke tempat danau di belakang sekolah.
Tunggu, danau?! Apakah kau gila?! Itu adalah tempat kencan Kak Carl dan Veronica!
Lepaskan aku! Kita tidak boleh merebut tempat kencan Kak Carl dan Veronica!
Sudahlah, mungkin terlambat untuk mengatakannya.
Sesampainya di danau sekolah yang luas dan penuh dengan perbatasan wilayah, Samson mengajakku duduk di kursi taman.
"Duduklah, Cath," kata Samson lembut.
Kuturuti kata katanya dan duduk di sampingnya.
Lagipula, dia juga tidak akan menyakiti orang sepertiku.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku bingung.
"Hanya mengajakmu menikmati alam indah di danau ini," jawab Samson seraya menggenggam tangan kananku yang berada di kursi.
Astaga, kupikir apa yang kau lakukan! Aku tidak terbiasa jika tanganku di sentuh laki laki lain selain Kakak laki lakiku yang sangat menyayangiku.
Srekk~
Sepertinya ada yang datang. Jangan jangan, itu ….
"Veronica, apa kau merindukan tempat ini?" tanya seseorang yang suaranya persis seperti Kak Carl.
Sudah kuduga, Kak Carl pasti akan membawa Veronica ke sini karena inilah tempat mereka berdua.
"Yah, aku ingat sekali," jawab Veronica.
Aku tidak bisa melihat! Tempat ini di tutupi dengan semak semak liar sehingga membuatku dan Samson terhalang!
.
.
.
[Bersambung]