
Ayah dan Ibu saling pandang.
Sepertinya, mereka berdua menganggap bahwa Eliza tidak bisa bersikap dewasa.
Memang benar, bukan? Kau sama sekali belum bisa dewasa!
Meskipun di novel menunjukkan sikap dewasa Eliza, sesungguhnya ia adalah orang yang kekanak kanakkan.
Seperti yang kukatakan, Eliza sangat takut dengan kadal. Bukan hanya kadal saja, seluruh jenis reptil dan serangga saja ia takut.
"Eliza, kapan kau bisa dewasa?" tanya Ibu semakin heran dengan Eliza.
"Aku sudah dewasa, Bu! Lihat, aku adalah Putri yang tumbuh dengan sangat cantik di sini!" jawab Eliza membentak Ibu.
Cantik? Apa kata katamu tidak salah? Dasar narsis! Ternyata kau lebih suka memamerkan kecantikanmu!
Plak!
Satu tamparan dari Ibu mendarat ke pipi Eliza.
"Coba kau katakan sekali lagi!" teriak Ibu menampar pipi kiri Eliza.
Eliza sangat marah karena di tampar oleh Ibu. Bagaimana tidak? Tamparan keras itu hanya di dapatkan oleh Eliza terus menerus.
"Ibu?! Kau menamparku?! Apa aku selalu salah di mata kalian semua?! Kenapa kalian lebih memilih Catherine daripada diriku ini?! Aku juga anak Kandung kalian berdua!" teriak Eliza tanpa sadar meneteskan air matanya.
Siapa suruh kau terlahir di dunia ini? Ingat, kau hanyalah anak yang Ibu besarkan secara terpaksa karena Ibu telah membunuh Ibu Kandungmu, Nona Arlia!
Jadi, semua kesalahan yang Nona Arlia perbuat itu telah menurun padamu, yaitu Putri Tiri yang tidak tahu diri!
"Kami berdua tidak pernah menganggapmu sebagai Putri kami sendiri," jawab Ibu menatap datar wajah Eliza.
Hancur sudah harapan Eliza, ia hanya bisa berlari ke kamarnya sendiri sambil menangis.
Sementara itu di kamarku ….
Aku tertidur pulas daritadi, tapi kali ini aku di temani oleh Kak Carl.
"Nyenyak sekali tidurmu, Catty? Kalau begitu, aku akan menemanimu tidur di sini. Selamat malam, Adikku," Lirih Kak Carl mengecup keningku dengan lembut.
Yah, Kak Carl juga sudah tertidur.
Di dalam mimpi ….
Tiba tiba aku melihat Istana yang terbakar. Api besar yang menyala nyala membuat mataku menjadi sakit saat melihatnya.
Hei, ada apa dengan Istanaku? Mengapa bisa menjadi begini? Di mana Ayah, Ibu, Kak William, dan Kak Carl?
Tidak, mereka semua tidak boleh mati!
Aku terus berlari masuk ke dalam Istana tanpa takut dengan panasnya api yang kurasakan.
Setelah sampai, Aku melihat bahwa banyak sekali darah yang berlumuran di tubuh Ayah dan Ibu.
Sebuah pedang yang di pegang oleh seorang gadis juga berlumuran banyak darah.
Sebenarnya siapa gadis itu? Kenapa ia terasa familiar di mataku?
"Akhirnya, kau datang juga, Cath. Aku sudah lama menunggumu," kata seorang gadis itu.
Suara itu juga terdengar sangat familiar di telingaku! Rasanya, suara itu dapat membuat pikiranku hancur, hancur sekali!
Gadis itu tak lain adalah Kakak Tiriku sendiri, Eliza!
Kenapa kau membunuh Ayah dan Ibu?! Terus, di mana kedua Kakakku?!
"Atas dasar apa kau melakukan hal gila ini, Eliza?!" tanyaku dengan hati yang begitu sakit.
Eliza sama sekali tidak peduli dengan apa yang kukatakan. Yang bisa ia lakukan hanyalah tertawa jahat.
Hahahahaha!
"Kedua Kakakmu ini telah berpihak padaku, jadi kau tidak perlu lagi mengharapkan kasih sayang dari mereka berdua," jawab Eliza tersenyum licik menatapku.
Apa? Berpihak padamu? Tidak, aku tidak mau Kakakku di rebut oleh Kakak Tiriku yang tidak berguna!
Seketika mimpi itu mengejutkanku, tiba tiba saja aku terbangun sehingga membuat Kak Carl terbangun juga.
Aaaarrrgggghhhh!!!
Hah …. hah …. hah ….
"Ada apa denganmu, Catty?" tanya Kak Carl khawatir padaku.
Kuatur nafasku pelan pelan dan mengatakannya pada Kak Carl.
Sungguh, mimpi macam apa itu? Jangan jangan, itu adalah sebuah peringatan untukku ….
Karena aku ketakutan, Kak Carl memelukku menggunakan tangan kanannya saja.
Ia menyandarkan kepalaku ke dadanya agar aku bisa tenang tanpa berpikir apa apa lagi.
"Sudahlah, kau tidak perlu takut, Catty. Aku pasti akan selalu bersamamu dalam keadaan sulit sekalipun," kata Kak Carl berbicara dengan lembut.
Rasanya, aku sudah tenang setelah bersama Kak Carl …. Semoga saja mimpi itu tidak nyata ….
"Ayo kita berdua tidur, besok kita berdua harus ke sekolah," kata Kak Carl tersenyum padaku.
Aku hanya mengangguk dan berlahan menutup mataku.
Tanpa sadar, kami berdua sudah tertidur nyenyak.
Hari senin mendatang ….
Kalian semua tidak perlu tahu aktivitasku, karena aku sudah berada di sekolah sejak tadi.
Entah mengapa, mimpi semalam terasa nyata. Kuharap, hal ini tidak terjadi di kehidupan ini.
Aku tidak akan rela membiarkan keluarga yang telah menyayangiku pergi begitu saja! Rasanya sakit ….
Tapi, di mimpi semalam, kenapa Eliza memegang pedang yang berlumuran darah itu?
Apa itu artinya, aku harus bisa berhati hati dengan Eliza? Sepertinya begitu ….
Ah, tidak perlu di pikirkan! Yang penting, aku fokus berjalan ke kelas saja.
Saat aku berjalan menuju ke kelas, tepatnya aku masih berada di depan pintu kelas 2-♥, tiba tiba saja aku terpeleset dan terjatuh.
Lagi lagi, aksi pembullyan mulai lagi.
"Lihatlah, ada seorang pecundang yang terpeleset!"
"Hahaha, tidak kusangka ya ternyata lendir Nimfaku dapat membuatnya terpeleset"
"Astaga, sangat menyedihkan"
Suara suara itu tak lain adalah suara para Five Stupid Girls.
Menurutku, nama yang kuberikan pada mereka memang sangat cocok karena pembullyan yang dapat mereka lakukan hanya menggunakan sihir.
Dasar perkumpulan gadis bodoh, ternyata hanya dapat menggunakan sihir saja!
Aku harus berakting agar mereka tidak curiga padaku.
"Kakak kelas? Untuk apa kalian ke sini?" tanyaku polos.
Mereka menganggap perkataanku hanyalah seperti sampah yang sudah tidak di buang selama 1 tahun.
"Heh, tidak perlu tanya apa alasan kami ke sini! Yang penting adalah, berikan aku sedikit 7.000 Gold!" jawab Erfly sambil menarik rambutku.
7.000 Gold? Kau kira aku ini adalah orang tuamu yang dapat memberikan segalanya untukmu? Serakah sekali kau, Erfly!
"Ba …. banyak sekali ….," kataku dengan polos lagi.
"Hah? Banyak katamu? Bukankah kau adalah orang kaya? Ternyata kau bukan hanya miskin, tapi seorang pecundang sekolah yang lemah!" jawab Erfly dengan sengaja meludahiku dan pergi bersama keempat temannya, termasuk Eliza.
Lihat saja kalian berlima, akan kubalas dengan cara apapun!
Tenanglah, Saphira, tidak perlu terbawa emosi seperti itu ….
Lebih baik, aku langsung ke kelas saja.
Setelah aku sampai di depan kelas, tiba tiba ada sebuah cahaya kuning yang muncul di telapak tanganku saat aku membuka pintu kelas.
Aneh, entah kenapa pintu yang kubuka terasa ringan begitu saja.
"Ringan sekali pintu ini? Apa ini hanya perasaanku saja?" tanyaku pada diriku sendiri.
Yah, pintunya sudah terbuka. Yang kulihat di kelas sekarang adalah kekosongan.
.
.
.
[Bersambung]