The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 82



Catherine Alveria De Arshleyer:



Sungguh, aku tidak tahan dengan perlakuannya meskipun itu hanyalah niat baiknya.


Astaga, bagaimana caranya aku menghindar? Tidak, kakiku sedang sakit dan aku tidak bisa lari.


Piuh!


"Lumayan juga, kau memiliki darah segar yang bisa kunikmati," kata Samson sambil membersihkan bibirnya.


"Ehem, apakah kau sudah selesai membersihkannya?" tanyaku berdehem.


"Karena aku adalah Pangeran yang suka minum darah segar, maka tak segan darahmu akan kuminum sedikit," jawab Samson tersenyum.


"Tidak, aku masih ingin memiliki darahku," kataku dengan wajah memerah.


"Aku hanya bercanda, mana mungkin aku meminum darah segar. Kau tahu, aku hanya bisa meminum darah hewan demi bertahan hidup selain memakan makanan biasa," jelas Samson serius.


Darah hewan? Kau serius? Kalau di lihat dari matamu, kau memang tidak berbohong padaku.


"Memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.


"Karena aku adalah Pangeran haus darah," jawabnya serius.


Haus darah? Apa kau adalah vampir? Bukan, aku baru ingat kalau kau tahan terhadap cahaya matahari.


"Dulu, aku pernah terkena kutukan mata biru, mata biruku yang bersinar ini"


"Ayahku bilang aku harus minum darah hewan/manusia agar bisa bertahan hidup dari kutukan yang kualami"


"Satu satunya yang bisa mematahkan kutukan milikku adalah orang yang kucintai," jelas Samson.


Orang yang kau cintai? Itukah caranya kau menghilangkan kutukanmu? Siapa cinta sejatimu?


"Anehnya, setiap aku bersamamu, entah kenapa kutukanku pelan pelan akan menghilang," lanjutnya sambil membuat perban di kakiku.


"Oh, aku mengerti," jawabku tersenyum tipis.


Meskipun aku tidak terlalu mengerti, aku masih berpikiran tentang orang yang di sukai Samson.


Sebenarnya siapa?


Ia pun berdiri kembali dan menembakkan anak panahnya ke arah mata singanya.


Setelah itu ….


Groar!!!


Anak panah itu mengenai mata singanya sehingga menyebabkan singanya mati tidak bernyawa.


Caramu membunuh singa cepat sekali, aku bahkan tidak berpikir hingga sampai ke sini.


___________________________________________


Di Istana Arshleyer ….


Serlia POV


Hah~


Akhirnya tahap pemulihan darah Iblis selesai juga.


Karena aku berasal dari bangsa Dristiria yang di sebut Iblis hitam, satu satunya cara memulihkan darahku adalah meminum racun.


Sudah 15 botol racun buatan yang kuminum, aku merasa lega.


Sayang sekali, bangsa Dristiria tidak boleh minum penawar karena bayarannya adalah kematian.


Itulah kenapa aku selalu membuat racun dan meminumnya.


Hmm, aku khawatir akan nasib Catherine yang terus di tindas oleh Eliza.


Ada rencana apa lagi dia? Apakah dia akan menyuruh Michelle untuk mencelakai Catherine hanya karena dia sendiri buta?


Ternyata masih belum selesai permainanmu, aku kagum terhadap semua kemampuanmu.


Sayang sekali kau selalu kalah di permainan yang kubuat, makanya aku selalu ingin menindasmu.


Terlebih lagi, kau adalah anak dari Arlia br*ngs*k itu, yang membuatku ingin sekali membunuhmu.


"Cara licikmu pasti akan kuingat, karena ada mata peramal nasib yang akan membantuku," kataku tersenyum licik.


Heh, saatnya aku membaca buku sejarah dulu.


Kuberjalan mendekati rak buku yang ada di dekat meja pembuatanku dan mengambilnya.


Sebelum mengambilnya, kupastikan kalau itu benar buku yang kucari.


"Buku sejarah, ini dia," kataku mengambilnya dan duduk di kasur.


*Membuka buku*


Ternyata ini urutan bangsa dan Kerajaan terkuno di dunia.


Di mulai dari Kerajaan Arthasiana menurun pada bangsa Thrynira, yaitu bangsa yang terdiri dari ras Malaikat.


Satu satunya orang terakhir yang masih bertahan dari bangsa Thrynira adalah Hera Alveria.


Apa?! Catherine adalah satu satunya keturunan terakhir di bangsa Thrynira?! Apakah banyak yang tidak menyadarinya kalau bangsa Thrynira adalah keturunan ras Malaikat?


Berbeda denganku keturunan bangsa Iblis hitam.


Selanjutnya Kerajaan Arthasiana juga menurun pada 2 bangsa ras Iblis.


Pertama adalah bangsa Dristiria, yaitu bangsa ras Iblis hitam. Satu satunya keturunan terakhir di bangsa Dristiria adalah aku, Carl, dan Lordsorius.


Ciri ciri bangsa Dristiria adalah berambut hitam dan bermata merah Ruby.


Kedua adalah bangsa Lilithia, yaitu bangsa keturunan ras Iblis putih. Satu satunya keturunan terakhir di bangsa Lilithia adalah Raja Darius Grovield.


Yah, dia memiliki Putri yang bernama Alice Lilithia Groviela, keturunan terakhir bangsa Lilithia.


Ciri ciri bangsa Lilithia adalah berambut putih perak dan bermata hitam Charcoal.


Dan yang seterusnya tidak bisa kubacakan, karena masih banyak keturunan lainnya.


Puk~


Kututup bukunya dan meletakkannya di sampingku.


Benar benar rumit, aku tidak menyangka kalau Catherine memang terlahir dari keturunan yang sama dengan Ratu Hera.


Pantas saja Catherine sangat berbeda dengan yang lainnya. Setelah kucaritahu baik baik, tubuh Catherine memiliki kekuatan sihir penuh.


Sama seperti diriku ….


"Semakin banyak rahasia yang menyelimutimu, Cath. Pelan pelan, kau akan tahu semuanya," kataku.


Heh, Eliza bukanlah apa apa. Setelah kubaca, ternyata Kerajaan Srylpharuna adalah Kerajaan yang paling tidak berguna dan tidak memiliki apapun.


Terlahir sebagai keluarga Bangsawan serakah sehingga membuat mereka merebut takhta dan kekuasaan milik Kerajaan tertinggi.


Eliza Carlina Sean Srylpharuna, marga baru Eliza yang pertama kali kudengar dari ucapannya sendiri.


Tidak terlalu bagus, banyak rahasia yang harus kucari kebenarannya.


"Posisimu sangatlah rendah, Eliza. Kau bukanlah apa apa di bandingkan Catherine yang memiliki keturunan ras Malaikat," kataku tersenyum licik.


___________________________________________


Di hutan ….


Saphira/Catherine POV


Hari sudah mulai gelap, aku dan Samson telah selesai berburu dan memanggil Prajurit untuk membawanya.


Sudah sore, untung saja belum terlalu gelap. Kami berdua berjalan menunggangi kuda di ikuti oleh para Prajurit dari belakang.


Seperti tadi, aku duduk di depannya dan dia duduk di belakangku.


Soal kejadian tadi, aku masih tidak bisa melupakannya. Ternyata Samson memiliki kutukan mata biru. Bukankah kutukan itu sangat langka? Bahkan dia meminum darah singa setelah selesai berburu tadi.


*Menelan saliva*


Glek~


Mengerikan sekali ….


"Catherine, ada apa denganmu?" tanya Samson bingung.


"Tidak, aku hanya kepikiran tentang kutukanmu saja," jawabku menoleh ke belakang.


"Tunggu, ada apa dengan wajahmu? Apakah kau setakut itu hingga wajahmu pucat?" tanya Samson.


Apa katamu? Wajahku pucat? Astaga, kenapa aku tidak menyadarinya?


Aku adalah penderita Hemophobia, yang artinya takut terhadap darah. Memang tidak takut ketika melihatnya, tapi aku tidak tahan terhadap aroma darah hingga aku mau pingsan.


Karena tadi aku melihat Samson minum darah hewan yang aroma darahnya sangat menyengat maupun tidak enak, wajahku berubah pucat tanpa kusadari.


"Yah, aku tidak takut melihat darah tapi tidak tahan mencium aromanya," jawabku serius.


"Begitu ya, aku baru tahu ada seorang Tuan Putri yang tidak tahan dengan bau darah," kata Samson terkekeh.


Aku tidak bercanda, dasar bodoh! Aku hampir saja pingsan karena mencium mulutmu yang masih tersisa sedikit bau darah.


...


Tak lama kemudian ….


Aku sudah sampai di Istana Arshleyer dan turun dari kudaku.


Karena ingin pulang ke Istana Arshleyer, Samson mengembalikan kudaku dan busur milikku.


"Kukembalikan kudamu dan busurmu, sudah saatnya aku kembali," kata Samson.


.


.


.


[Bersambung]