The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 46



"Kemasukan debu darimana? Kamarmu bahkan tidak terlihat kotor," kata Serlia mengerutkan alisnya.


*Menelan saliva*


Glek~


Mungkin Serlia tidak begitu percaya dengan perkataanku. Apa aku harus menjelaskan yang sebenarnya ya?


Ini bahkan lebih sulit daripada yang kupikirkan.


"Sebenarnya, aku masih tidak sanggup melihat kedekatan antara Kak William dengan Eliza"


"Meskipun aku tahu kebenaran yang sesungguhnya, tetap saja Kakak begitu bodoh!"


"Untuk apa dia mempercayai Eliza begitu saja?! Orang yang tidak tahu terima kasih seperti dia tidak perlu di takuti begitu saja!"


"Demi menyelamatkanku, dia mencoba untuk mengikuti syarat dari si jala*g Eliza sialan itu?!"


"Lebih baik bunuh saja dia, aku tidak tahan kalau melihat Kakak terus seperti ini," jawabku dengan air mata yang terus mengalir.


Dari belakang, entah kenapa aku merasa kalau Serlia sedang memelukku.


"Kau harus kuat, Cath! Kau tidak boleh lemah seperti William! Ingat, kau telah di jaga, di selamatkan, bahkan sampai di hargai oleh mereka!"


"Itu artinya, dirimu masih berguna dan masih bisa bersemangat walaupun sebenarnya itu sakit untukmu!"


"Tolong percayalah, kau …. harus kuat," kata Serlia mencoba menyemangatiku.


Benar, memang seharusnya aku kuat, jangan seperti Kak William yang hanya bisa mempercayai kata kata Eliza.


__________________________________________________


Keesokan harinya di sekolah ….


Aku dan Serlia sudah berada di kelas dan sedang duduk di kursi masing masing.


Untung saja mataku sudah tidak merah seperti kemarin, kalau iya maka habislah aku ….!


"Cath, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Serlia bingung.


"Ehm, tidak apa apa," jawabku dengan cepat.


Apa yang sedang kupikirkan?! Padahal daritadi aku hanya melamun saja!


Tiba tiba saja ….


Tok!


Tok!


Tok!


Siapa itu? Dan buket Bunga Mawar itu untuk siapa?


Hosh~


Hosh~


"Apakah Catherine ada di sini?" tanya pria asing yang tidak kukenal.


Bodoh! Ini aku, Catherine!


"Itu aku, memangnya kenapa?" tanyaku bingung.


Dengan terburu buru, pria itu langsung menyerahkan Bunga itu padaku dengan sopan.


Ini Bunga dari siapa ya?


"Tolong terima ini dari Yang Mulia Pangeran, Putri," jawabnya dengan sopan dan langsung pergi.


Pangeran? Siapa lagi? Bahkan bertanya padanya saja aku sudah tidak sempat.


"Cath, Bunga ini dari siapa?" tanya Serlia penasaran.


"Coba kulihat dulu," jawabku melihat lihat Bunga yang kupegang.


Huh, untung saja ada yang meninggalkan kertas lipat di Bunga ini.


Kira kira, apa isinya?


Ah! Lebih baik kubuka saja!


...Catherine, tolong terimalah Bunga Mawar merah yang cantik ini dariku. Jangan lupa temui aku di taman sekolah sekarang....


^^^Dari Pangeran Samson.^^^


Sialan! Kenapa harus dia yang memberikannya padaku?! Lagi lagi, aku di suruh untuk menemuinya di taman sekolah.


Sebaiknya aku ke sana saja sendirian.


"Serlia, aku pergi ke taman dulu, si Br*ngs*k Samson itu memanggilku lewat surat ini," kataku pamit pada Serlia dan pergi.


"Tunggu dulu, aku ikut denganmu!" jawab Serlia dengan cepat menyusulku dari belakang.


Dasar, kenapa aku harus di ikuti oleh Serlia dari belakang?! Padahal aku sedang terburu buru!


.


.


.


Beberapa menit kemudian ….


Aku sudah berada di taman sekolah sendirian. Sepertinya tidak sendiri, masih ada Serlia yang mengikutiku dari belakang.


Hah~


Hah~


Hah~


"Bisakah kau tidak berlari seperti ini?! Aku lelah mengejarmu!" kata Serlia kelelahan.


Benar juga, untuk apa aku berlari? Sebenarnya, bagiku surat itu sangatlah tidak penting.


Tapi, apa boleh buat kalau ada sesuatu yang ingin kuketahui tentang Samson meskipun hanya sedikit yang berjalan di otakku.


Srekk!


Yah, Serlia adalah pembuat masalah yang paling licik di dunia novel ini.


"Serlia, ayo sembunyi!" kataku menutup mulut Serlia dan bersembunyi di balik semak semak.


"Mmm!!!" jawab Serlia kesulitan berbicara.


Bletak!


Diamlah atau kupukul lagi kepalamu!


Kumengintip dari balik semak semak dan melihat kalau ternyata orang itu adalah Samson.


Kupikir tadi itu siapa, rupanya si b*j*ng*n Samson itu yang datang.


"Catherine ada di mana? Sepertinya, dia tidak membaca surat yang kutuliskan untuknya.


Tidak baca kepalamu! Aku sedang bersembunyi untuk mencegah mulut ular Serlia ini!


"Lockmouth," ucapku berbisik.


Mulut Serlia sudah tertutup rapat karena sihirku yang kulatih ini.


Maaf kalau aku baru menggunakannya. Sekarang, aku pergi dulu, jangan bergerak maupun berbicara!


Kukeluar dari semak semak dan menghampiri Samson dengan keberanian tinggi.


Tenanglah, Saphira, padahal ini hanya Samson, bukan Eliza. Kurasa, tidak akan berbahaya jika aku mendekatinya.


Aku hanya tidak mau di bunuh~


"Samson? Ada apa kau mencariku?" tanyaku penasaran.


Pertanyaan yang cukup sulit.


"Ehm, kau datang? Apakah kau menyukai Bunga Mawar yang kuberikan?" kata Samson bertanya balik.


"Cukup bagus, aku sangat menyukainya," jawabku tersenyum paksa.


Beraktinglah sebisa mungkin, Saphira.


"Ngomong ngomong, kenapa kau tidak bersama Eliza?" tanyaku merasa janggal.


"Eliza sedang berkumpul bersama para murid yang tidak masuk akal itu, jadi aku memanggilmu ke sini untuk menemaniku," jawab Samson menggaruk kepalanya dengan jari telunjuk.


Berkumpul dengan Five Stupid Girls ya? Menyebalkan.


Tidak bisakah kau menemani Samson di taman ini walaupun hanya sebentar? Aku tidak suka kalau di panggil olehnya.


Apalagi dia adalah orang yang akan membunuhku suatu hari nanti, maka itu akan membuatku menelan salivaku berkali kali.


"Begitu ya? Pantas saja," kataku memasang wajah biasa.


Sungguh, aku ingin menjauh dari Samson sekarang! Tolong, selamatkan aku!


Oh, aku baru ingat kalau Serlia sedang kusembunyikan di balik semak semak.


"Apakah kau mau berjalan jalan denganku?" tanya Samson sambil mengulurkan tangan kanannya.


Jalan jalan? Tidak, aku tidak tertarik sama sekali dengan jalan jalan!


Bisakah aku menolak? Tapi, itu pasti akan membuatnya sedih.


Sebaiknya kuterima saja.


Berlahan lahan kuterima tangan kanannya dengan lembut, tiba tiba saja ….


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


Bel masuk telah berbunyi dengan begitu cepat.


Akhirnya, aku selamat juga dari si br*ngs*k ini.


"Maaf, mungkin lain waktu saja jalan jalannya," kataku dengan cepat langsung pergi ke semak semak.


Srekk!


Eh? Serlia ke mana? Perasaanku dia tadi di sini.


Jangan jangan, Serlia telah mematahkan sihirnya dan kabur secara diam diam tanpa sepengetahuanku?!


Kucari dulu si gila Serlia itu! Bisa bisanya dia kabur tanpa memberitahuku!


Kuberlari menuju ke dalam kelas dan melihat Serlia dan murid murid yang sudah berada di dalam kelas.


Sial, kau mempermainkanku ya?! Memang pantas untuk di beri pelajaran!


Kumasuk ke dalam kelas dan duduk di tempat dudukku dengan perasaan kesal.


Brak!


Kugebrek mejaku dengan keras, membuat Serlia menertawaiku dari sebelah.


Hehe~


"Mungkin hanya kau saja yang tidak tahu kelebihanku, yaitu mematahkan sihirmu," kata Serlia menyindirku dengan sengaja.


Kau benar benar membuatku kesal!


.


.


.


[Bersambung]


~Pemberitahuan:


Untuk visualnya, Author rasa lain waktu saja ya, soalnya belum ada yang cocok untuk para tokoh figuran baru. Di tunggu ya visualnya.