
Namaku Saphira Kanaya, biasanya di panggil dengan nama Saphira.
Pagi ini, aku habis bertengkar dengan Mama Tiriku dan berhasil kabur dari rumah.
Mama Tiriku adalah wanita yang serakah, matre, serta murahan. Hobinya adalah berselingkuh dengan pria tua berusia 50 tahun, padahal umurnya baru 25 tahun.
Aku juga memiliki Adik Tiri yang sifatnya juga tidak berbeda dari Mama Tiriku.
Dia suka meminta uang denganku, terkadang bisa mencapai 3.00$ Dollar.
Semua uangku di pakai untuk berfoya foya, terutama untuk pergi ke klub bersama teman temannya.
Papaku tidak tahu dengan kelakuan Mama dan Adik Tiriku, karena selama ini Papa terus bekerja lembur.
Untung saja, pagi ini Papa mengizinkanku untuk kabur dari rumah, karena aku telah berhasil membongkar kelakuan busuk Mama dan Adik Tiriku.
"Sekarang aku harus ke mana lagi?! Uangku kini hanya tertinggal 80.000$ Dollar!" kataku sambil berjalan membawa koperku.
Akhirnya, aku tiba juga di jalan raya, tempat di mana aku bisa mencari tempat tinggal.
Aku mulai menyeberang selangkah demi selangkah.
Tiba tiba, saat aku baru sampai di tengah tengah jalan raya ….
Wush!
Bruak!
Aku tertabrak mobil yang begitu besar, sehingga menyebabkan aku harus mati dengan sia sia.
Tetapi, entah kenapa tubuhku bisa di gerakkan secara tiba tiba.
Tunggu, tubuhku bisa di gerakkan? Ini bukan mimpi kan?
Aku langsung membuka mataku dan menyadari bahwa aku berada di kamar yang di kelilingi oleh 5 orang wanita paruh baya yang memakai pakaian Pelayan.
"Akhirnya Tuan Putri bangun juga"
"Maafkan kelalaian kami yang tiba tiba menjatuhkan es sehingga membuat Putri terpeleset hingga pingsan begini"
Tu …. Tuan Putri katanya? Apa aku tidak salah dengar? Ini adalah pertama kalinya aku di panggil dengan nama "Tuan Putri."
"Ma …. maaf, kalian semua ini siapa?" tanyaku dengan rasa bingung.
Mendengar pertanyaanku, kelima Pelayan itu menatapku dengan tatapan yang heran.
"Astaga, Tuan Putri, apakah anda sedang sakit?" tanya salah satu Pelayan yang tinggi badannya melebihi Pelayan lain.
"Ehm, aku hanya ingin bertanya pada kalian saja," jawabku memasang ekspresi wajah yang aneh.
"Namaku Sarah, Pelayan pribadi Tuan Putri"
"Ini adalah Celia, Pelayan yang biasanya membereskan kamar Tuan Putri"
"Ini adalah Felia, Pelayan yang memasak untuk Tuan Putri"
"Ini adalah Lorra, Pelayan yang mengantarkan makanan untuk Tuan Putri"
"Dan yang terakhir adalah Cazhi, Pelayan yang mengabari kabar untuk Tuan Putri"
"Demikian hanya itu yang dapat aku katakan, Putri"
Hanya itulah yang ia jelaskan padaku, semua nama Pelayannya di sebut olehnya.
Sepertinya, nama itu sangat familiar di telingaku, tapi di mana ya?
Karena aku sedang ingin sendirian, aku hanya bisa menyuruh kelima Pelayan itu pergi.
"Bisakah kalian pergi dulu? Aku sedang ingin sendirian," pintaku pada kelima Pelayan itu.
"Baik, Putri, kami permisi dulu," jawab mereka dengan bersamaan dan langsung pergi menutup pintu kamar.
Untunglah, aku sudah sendirian di kamar ini, entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dari diriku ini.
"Perasaanku tidak enak, lebih baik aku bercermin dulu," lirihku bangun dari kasur.
Aku mulai berjalan ke arah cermin terletak.
Saat aku menatap cermin, alangkah terkejutnya diriku karena tubuh yang kumiliki bukanlah tubuhku, melainkan tubuh milik tokoh utama novel yang pernah aku baca.
"I …. i …. i …. ini adalah …., Catherine Alveria De Arshleyer?!" kataku terkejut saat tahu aku menempati tubuhnya.
Catherine Alveria De Arshleyer, adalah tokoh utama di novel yang aku baca, yaitu "Catherine, i hate you!"
Novel itu menceritakan tentang nasib Catherine yang sangat malang.
Setiap hari, ia harus mendapatkan perlakuan buruk dari Kakak ketiganya, Eliza Alveria De Arshleyer.
Ia di ejek, di siksa, di pukul, di tampar, dan yang lebih buruk lagi adalah, ia di juluki dengan panggilan "Putri Tidak Berguna."
Yah, itulah panggilan untuknya karena sifatnya yang begitu polos, baik, ceroboh, cengeng, dan lemah.
Meskipun begitu, Catherine masih terus di lindungi oleh Kakak pertama dan Kakak keduanya, yaitu William Alfa De Arshleyer dan Carl Alfa De Arshleyer.
Mereka berdua adalah Kakak yang begitu dingin dan menyeramkan, namun tidak pada Adiknya.
Tapi, jangan salah. Novel yang aku baca itu memiliki ending yang begitu tragis.
Ending ceritanya adalah di mana Catherine yang ingin membatalkan pertunangan Eliza dan Samson di depan publik.
Eliza merasa tidak terima jika pertunangannya di batalkan dan menyuruh Samson untuk membunuhku. Dari situlah kejahatan Eliza terlihat dan ia di asingkan dari Istana seumur hidupnya.
Sungguh ending cerita yang begitu tragis! Kenapa aku harus menempati tubuhnya?!
Ini benar benar di luar dugaanku, seharusnya aku tidak perlu membaca novel itu dari awal!
"Huu~, kalau saja aku tidak membaca novel itu maka aku tidak akan mati di tubuh Catherine bodoh ini ….," kataku dengan mata yang berkaca kaca.
Oh iya, aku baru ingat episode novel di mana Catherine pingsan karena terpeleset es.
Di episode itu juga ada mengatakan bahwa hari ini adalah hari penobatan Eliza untuk menjadi Putri pertama.
Seingatku, di acara itu, Catherine tidak menghadirinya sama sekali, jadi hari ini akulah yang akan hadir.
"Haha, dasar serigala licik, ternyata kau berinisiatif menjadi Putri pertama ya! Tenang saja, aku pasti akan tetap hadir di acaramu," kataku sambil menunjukkan senyum licikku.
Tapi, saat ini aku belum memiliki pakaian yang bagus. Sarah juga tidak menyiapkannya untukku.
Apakah ini adalah kesempatanku untuk membongkar lemari diam diam? Ahh! Tidak perlu di pikirkan!
"Untuk acara penobatan ini, aku harus memakai gaun apa? Apakah di lemari ada gaun yang indah untukku?" tanyaku pada diriku sendiri.
Tanpa basa basi lagi, aku langsung berjalan di mana tempat lemari di letakkan.
Setelah aku berdiri di depan lemari itu, aku langsung membukanya dengan kedua tanganku.
Ternyata, di dalam lemariku terdapat banyak sekali gaun gaun yang di gantung dan pakaian tidur yang di lipat dengan rapi.
Hanya saja, aku tidak tahu gaun apa yang harus kupakai hari ini.
"Banyak sekali gaun gaun ini, tapi gaun mana yang paling bagus?" tanyaku merasa bingung.
Semua gaun gaun itu terlihat sangat kuno di mataku, tidak seperti gaun dan pakaian yang ada di dunia modern.
Apakah zaman Eropa kuno memang seperti itu? Lebih baik aku pilih sendiri saja.
"Kalau begitu, aku akan coba memakai gaun hitam ini, tampaknya ini akan cocok dengan penampilanku," kataku sambil mengambil gaun hitamnya.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melepaskan gaun yang kupakai dan pakai gaun hitam itu.
Ternyata, gaun hitam yang kupakai ini memiliki daya tarik yang bagus ya, ini pasti akan menjadi kejutan untuk Eliza.
.
.
.
[Bersambung]
Mohon maaf bila ada kesalahan kata, penulisan, maupun narasinya.