
Jonathan Samuel Las Gorthvius:
Eh? Ada apa dengan Veronica? Kenapa kulitnya terlihat pucat?
Apakah ini karena efek dari air panas? Tapi, kenapa aku tidak merasakan sakit atau pucat sekalipun.
Benar juga, di novel ini menjelaskan bahwa Catherine bukanlah seorang manusia.
Kalau begitu, siapa Catherine sebenarnya?
Novel ini terlalu banyak misteri yang tersembunyi, sangat sulit di pecahkan.
Berawal dari nama orang tua Kandung Eliza hingga pada kemunculan misterius Serlia dan Samuel.
Rumit sekali, kepalaku jadi berputar putar.
Jangan banyak berpikir lagi, sekarang lihatlah apa yang sedang terjadi pada Veronica.
"Carl, sepertinya aku sangat membutuhkan darah, karena di danau ini sangatlah panas ….," kata Veronica pelan.
Wajahnya terlalu pucat, ingin sekali aku pergi menolongnya, tapi aku takut Kak Carl mengetahui kemunculanku~
"Darah? Tunggu, kenapa kau tidak bilang kalau kau ….," jawab Kak Carl belum selesai berbicara.
"VERONICA!" lanjut Kak Carl berteriak memanggil Veronica.
Kenapa Kakak baru sadar kalau Veronica tidak tahan dengan air danau ini?
Melihat Veronica yang baru saja pingsan, Kak Carl langsung memeluknya dan membawanya ke permukaan.
Karena Samson sedang berada di bawah untuk melihat lihat keindahan lilin, kuberenang ke atas hingga sampai ke permukaan.
Setelah sampai di permukaan, aku hanya keluar dari air tanpa harus menginjak ke daratan.
Kusengaja menampakkan setengah dari kepalaku saja agar Kak Carl tidak curiga akan kedatanganku.
Kulihat saja apa yang akan Kakak lakukan pada Veronica.
"Veronica, kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau tidak tahan pada air panas?" tanya Kak Carl pada Veronica yang belum sadarkan diri.
Astaga, bagaimana Veronica akan menjawabmu kalau dia tidak sadarkan diri? Dia kehilangan banyak darah segarnya sehingga membuatnya tidak sadar begini.
"Kalau begitu, aku harus memberikan sebagian darahku padamu," kata Kak Carl tiba tiba memegang sebuah kepingan kaca.
Tunggu, darimana Kak Carl mendapatkan kepingan kaca itu? Perasaanku, Kak Carl adalah orang tidak pernah membawa benda tajam ke manapun.
Clack!
Kulihat Kak Carl yang menggoreskan bagian bawah telapak tangannya dengan luka besar.
Darah segar bercucuran di tangannya dan menetes ke bibir Veronica.
Kakak, apa kau sungguh senekat ini?
Tes~
Setetes demi setetes, darahnya terus mengalir hingga menetes ke bibir Veronica.
Entah seberapa banyak yang Kak Carl berikan padanya, darah itu terus menetes hingga membuat Veronica sadar dengan wajah yang tidak pucat lagi.
"Ugh, apa yang terjadi?" tanya Veronica baru tersadar.
Syukurlah kalau Veronica tidak apa apa, aku senang melihatnya sadar kembali.
"Veronica? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Kak Carl menatap Veronica.
"Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih, Carl," jawab Veronica tersenyum.
Apakah kau tidak sadar kalau tangan Kak Carl sedang terluka?
"Tunggu, Carl, kenapa tanganmu terluka begini?!" tanya Veronica panik bercampur khawatir.
"Oh, aku menggoresnya sedikit untuk memberikan sebagian darahku padamu," jawab Kak Carl santai.
"Sedikit katamu? Ini bahkan lebih banyak daripada yang kulihat!" kata Veronica semakin khawatir karena darahnya terus menetes.
Crack!
Kenapa gaun bagus milikmu itu di sobek olehmu?! Apa kau benar benar lupa membawa sapu tangan atau kain semacamnya?!
Tapi, kalau demi keselamatan Kak Carl, aku tidak masalah denganmu.
Diperbannya luka Kak Carl oleh Veronica secara pelan pelan.
Setelah selesai mengikatnya, Veronica mengikat kainnya sekuat mungkin agar tidak lepas.
Untunglah pendarahan Kak Carl sudah sedikit menghilang, kalau tidak maka akan sulit menanganinya jika Kak Carl sudah kehilangan banyak darah.
Lebih baik nikmati pemandangan indah yang ada di depanmu, Cath.
"Sudah, jangan lepaskan perbannya sebelum lukamu sembuh, mengerti?" tanya Veronica.
Satu kecupan manis dari Kak Carl mendarat ke pipi Veronica.
"Terima kasih, Veronica~" jawab Kak Carl senang setelah mengecup pipi Veronica walaupun hanya sekilas.
Baiklah, memang tidak harusnya aku melihat kemesraan mereka berdua. Sebaiknya aku kembali saja ke bawah danau.
Tiba tiba ….
Byur!
Tunggu, siapa yang menarik kakiku hingga aku masuk ke dalam danau?!
Huh, untung saja aku bisa berenang, kalau tidak maka aku akan mati tenggelam.
"Siapa yang berani mendorongku masuk ke dalam air?!" tanyaku kesal.
"Aku, kenapa?" jawab orang yang bernama Samson.
Hah? Kenapa saat aku bertanya, yang selalu muncul secara tiba tiba adalah kau?
Aku pikir siapa yang menarik kakiku, syukurlah kalau itu adalah kau.
"Kenapa kau menarik kakiku?" tanyaku.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau berada di atas permukaan sedangkan aku di bawah sendirian di tinggalkan olehmu?" kata Samson bertanya balik.
Sialan, bagaimana caranya aku menjawab kata katanya? Semuanya terdengar sangat menekan.
"Ehm, itu karena aku ingin mencari sebagian udara segar yang ada di atas," jawabku tersenyum.
"Kalau aku bilang ingin mencari oksigen lebih, dia akan tidak mengerti dengan perkataanku," gumamku sedikit kesal.
"Begitu ya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini," kata Samson biasa saja.
Huh, selamat. Aku baru tahu kalau orang ini tidak suka sendirian. Pantas saja dia datang ke Istanaku terus menerus tanpa sepengetahuanku.
Sama sepertiku, tidak suka sendirian.
"Ngomong ngomong, aku melihat sebuah Mutiara di bawah sini, apa kau mau lihat?" tanya Samson mengajakku.
Mutiara? Itu adalah permata kesukaanku.
"Baiklah, aku ikut. Mutiara adalah permata kesukaanku yang sudah lama tidak kulihat," jawabku senang.
Ia langsung menggeggam tanganku dan membawaku ke bawah sana. Mungkin danaunya sangat luas sehingga ada dasar danau di bawahnya.
Kuterus berenang bersamanya dan melihat banyak perkumpulan ubur ubur menari dengan tubuhnya yang bercahaya.
Indah sekali, aku suka ubur ubur yang bercahaya. Baru pertama kali aku lihat ubur ubur semacam itu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Samson menggenggam tanganku sambil berenang.
"Aku melihat ubur ubur yang sedang menari itu. Indah sekali warnanya," jawabku mengikutinya.
"Kau suka tarian ubur ubur Angel?" tanya Samson.
Namanya adalah ubur ubur Angel? Terdengar sangat asing di telingaku.
"Yah, tariannya sangat indah," jawabku tersenyum.
Tanpa kusadari, ternyata kami berdua sudah sampai di dasar danau yang terang. Aku baru tahu kalau dasar danau lebih terang daripada dasar laut dalam.
"Kita sudah sampai, lihatlah Mutiara Mutiara yang berbaris di mulut kerang itu," kata Samson memandang ke atas dan bawah.
Wah! Ini terlalu terang dan indah. Mutiara ada di mana mana, aku sangat senang melihatnya.
Beginikah bentuk dari Mutiara asli? Seumur hidupku, yang kulihat adalah Mutiara tiruan dari orang orang di kehidupanku yang sebelumnya.
Kini, aku melihat Mutiara asli yang kecil, namun memancarkan cahaya yang dapat menerangi air.
*Tersenyum*
"Terima kasih telah membawaku ke tempat yang indah dan terang ini, Samson. Jujur, aku sangat menyukai Mutiara," kataku memandang sekeliling.
"Selama kau menyukainya, maka aku akan membuatmu melihatnya," jawab Samson lembut.
Sekarang, ini adalah kehidupan yang tidak akan kutinggalkan lagi. Sampai jumpa, kehidupanku yang lama.
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Nama ubur ubur Angel adalah hasil imajinasi Author. Btw, panelnya udah cukup ya, soalnya khusus tokoh figuran, Author memang tidak mencari panelnya.