
William Alfa De Arshleyer:
Saphira/Catherine POV
Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa suaranya tidak terdengar dari sini?
Huh, pembohong. Aku sendiri bahkan ingin mendengar suara kalian berdua.
"Kapan mereka melakukannya?" tanyaku pada diriku sendiri.
Bodoh! Jangan pikirkan yang tidak tidak, Saphira! Pokoknya tugasku hanyalah mencegah kedatangan Anna.
Anna, kenapa kau harus membuat hubungan mereka berdua memburuk?! Kuakui kau sangatlah cantik, tapi sifatmu bagaikan Ratu Iblis!
Yah, betapa bencinya aku melihat wajahmu, ingin sekali kugores menggunakan pisau.
"Kedatanganmu akan kucegah, Anna," lirihku.
Tak lama kemudian ….
"Carl! Kenapa kau memilih perempuan sampah itu sedangkan aku tidak di pilih?! Padahal dia adalah perempuan yang paling tidak berguna di Kerajaan Belstreyd!" kata seseorang dari jauh yang bernama Anna.
Itu dia! Malam ini, tidak boleh ada serangga yang mengganggu kencan Kak Carl dan Veronica!
Lagi lagi, ia berbicara sendiri, untung saja belum masuk ke dalam kamar Kakak.
"Astaga, rupanya yang datang ke sini adalah jala*g ya? Aku pikir kau siapa," kataku muncul di depan Anna secara tiba tiba sehingga membuatnya kaget.
"Catherine?! Untuk apa kau datang ke sini?! Bukankah ini bukan Istanamu?! Oh, aku ingat kalau kau menyukai Carl, kan?" tanya Anna heran dengan kemunculanku.
Menyukainya? Benar, tapi hanya sebagai Kakak keduaku saja. Dan atas dasar apa kau menanyakan aku datang ke sini?! Lalu kau bilang kalau ini bukan Istanaku?! Benar benar cari mati!
"Apakah ada seorang Putri yang bodoh di sini? Apakah kau sungguh tidak tahu kalau ini adalah Istanaku?"
"Dan kau juga tidak tahu kalau Kak Carl adalah Kakak keduaku? Kami berdua adalah saudara Kandung yang sedarah," jawabku menatap Anna dengan serius sekaligus sengaja mengejeknya.
Mendengar penjelasanku, Anna terkejut karena baru tahu posisiku adalah seorang Putri Kerajaan Arshleyer.
"Ja …. ja …. jadi, kau adalah seorang Putri Kerajaan Arshleyer?! Kenapa kau dan Carl tidak pernah bilang padaku?!" tanya Anna tidak percaya.
"Dasar orang bodoh, aku memang sengaja tidak memberitahunya padamu," jawabku angkuh.
"Aku tidak peduli kau adalah Adiknya, sekarang aku harus mencari Carl dan menyuruhnya menjauhi Veronica!" kata Anna menyingkirkan tubuhku.
Dengan cepat, kucekik lehernya sebelum ia pergi.
*Mencengkram*
"Ugh …. sakit …. sekali ….!" kata Anna sesak.
"Inilah yang kau terima jika kau berani mengganggu Kak Carl dan Veronica!" jawabku memperkuat cengkramanku.
Hmph! Kau tahu? Aku tak segan membunuh orang jika mereka sudah keterlaluan terhadapku.
Ingatlah Anna, kau hanyalah tokoh antagonis kedua yang akan mati di tangan Eliza ketika kau sudah menginjak usia 15 tahun.
Heh, jadi kau bukanlah orang yang akan mendapatkan cinta selamanya.
Seandainya saja hidupku akan panjang di kehidupan novel ini, maka aku bebas melampiaskan semua amarahku pada Eliza, termasuk dirimu juga, Anna!
"Lepas …. kan …. a …. ku ….," kata Anna sesak dan hampir pingsan.
Kulepaskan cengkraman tanganku dan membiarkannya kesakitan. Lemah, apa kau pikir dirimu yang paling cantik dan kuat?
Bangunlah dari mimpimu!
"Pergi atau gantinya adalah kepalamu," kataku datar.
Melihat tatapanku, Anna bergidik takut dan pergi meninggalkanku.
"Akan kubuktikan kalau Carl pantas menjadi milikku, bukan milik perempuan sialan seperti Veronica!" kata Anna marah dan pergi meninggalkanku.
Selamat tinggal dan jangan pernah datang kembali!
Fiuh~
Sekarang kalian berdua aman, jadi nikmatilah malam kalian berdua sesuka hati.
Hmm, aku curiga dengan Serlia. Katanya ia sedang mengambil barang, tapi kapan datangnya?
Benar benar lama.
Ceklek~
Kudengar suara terbukanya pintu dan melihat Kak Carl bersama Veronica yang keluar secara bersamaan.
Gawat, aku harus bersembunyi dulu!
*Bersembunyi di balik tiang*
"Aku akan mengajakmu pergi ke halaman belakang untuk melihat malam bulan purnama. Apa kau mau?" tanya Kak Carl.
"Aku akan menurutimu," jawab Veronica.
Veronica, kau harus ingat kalau wajahmu pasti bersinar di malam bulan purnama!
Baiklah, karena mereka berdua sudah menjauh, sebaiknya kuikuti saja.
Kuikuti langkah mereka berdua dari belakang secara diam diam.
Sesampainya di halaman belakang ….
"Carl, apakah ini adalah malam yang kau maksud? Berdiri di tengah bulan purnama dengan rambutku yang bersinar terang begini?" tanya Veronica menatap Kak Carl.
"Kau tahu, bulan purnama sangat menyukaimu, seperti halnya aku menyukaimu," jawab Kak Carl membalas tatapan Veronica.
Kakak, kata katamu terdengar sangat manis di telingaku.
"Kau ini, selalu saja membuat jantungku berdegup kencang," kata Veronica malu.
Baru saja ingin melangkah, Veronica tiba tiba terjatuh bersama Kak Carl.
Kulihat posisi tubuh Veronica yang berada di atas tubuh Kak Carl.
"Ma …. maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja," kata Veronica dengan wajah memerah.
*Memeluk*
"Aku tidak tahu kalau kejadian ini akan terjadi," jawab Kak Carl sambil memeluk tubuh Veronica meski dalam posisi berbaring.
Dan yang kulihat sekarang adalah ….
*Mencium bibir*
"Emm ….," kata Veronica tidak dapat berbicara.
Hei! Aku tidak tahan melihat yang seperti ini! Ciumannya terlalu ….
Glek~
Terlalu bergairah ….
Ciuman yang semakin dalam ini, sungguh membuat mataku rabun dan tidak dapat melihatnya dengan jelas.
*Melepaskan ciuman*
"Jadilah milikku selamanya, Veronica. Aku mencintaimu," kata Kak Carl memeluk Veronica dengan erat.
Veronica hanya membalasnya dengan senyuman dan memeluknya juga.
"Aku juga mencintaimu, Carl," jawab Veronica tersenyum.
Benar benar masa muda yang sangat indah, aku pikir hanya duniaku saja yang melakukan hak seperti ini.
Tiba tiba ….
"Cath, sedang apa kau di sini?" tanya seseorang dari belakang yang ternyata adalah Serlia.
Sttt!
"Diam, jangan sampai Kakak tahu kalau aku mengintipnya dari sini," jawabku menyuruh Serlia untuk tidak berisik.
"Apakah kau sudah menyingkirkan Anna?" tanya Serlia.
"Menyingkirkannya terlalu mudah, seperti membuang debu saja," jawabku santai.
"Baik, aku mengerti apa maksudmu. Aku datang ke sini hanya ingin meminta bantuanmu," kata Serlia menatapku dengan serius.
Bantuan apa? Perasaanku, kau tidak pernah meminta bantuan apapun dariku.
"Bantuan apa yang kau inginkan?" tanyaku mulai serius.
"Apakah kau ada resep racun? Aku menginginkannya untuk memulihkan darahku kembali," jawab Serlia.
"Memangnya tidak ada cara lain selain membuat racun?" tanyaku bingung.
"Satu satunya untuk memulihkan darahku adalah meminum racun mematikan, apakah kau ada resepnya?" jawab Serlia sekaligus bertanya padaku.
Kalau soal buku resep, aku punya banyak di kamarku.
"Ehm, aku hanya punya buku resepnya, kau boleh ambil ke kamarku," jawabku dengan cepat.
"Sungguh? Terima kasih, Cath," kata Serlia senang dan langsung pergi ke kamarku.
Pantas saja kau lama, ternyata yang kau cari adalah buku resep berisikan cara pembuatan racun.
Aku baru tahu di dunia ini ada orang yang tahan terhadap racun sepertimu, Serlia.
Baiklah, semuanya selesai, sebaiknya aku kembali ke kamar dan membiarkan mereka berdua bersenang senang hingga jam 12:00 malam.
Sampai jumpa, kalian berdua.
Dengan pelan, kuberjalan ke dalam Istana dan pergi ke kamar untuk tidur.
Untunglah pintunya di tutup oleh Serlia, memang kebiasaan yang sangat baik.
Kubuka pintu kamarku dan melihat kamarku yang terang dan tertata rapi. Kurebahkan diriku di kasur dan memeluk gulingku.
Rasanya seperti kembali ke kehidupanku yang sebelumnya.
berlahan lahan kututup mataku dan mengucapkan kata singkat.
"Selamat malam," kataku pelan lalu tidur.
.
.
.
[Bersambung]