
"Pokoknya aku harus berhasil membuat Raja Arsula menerimanya sehingga rencana yang kususun akan berjalan dengan lancar!" gumamku mengerutkan alis.
"Apakah anda serius ingin bekerja sama dengan kami?" tanyaku tersenyum paksa.
Melihatmu berjabat tangan dengan Kakakku membuatku pusing.
"Aku serius," jawabnya datar.
Bagus, aku akan memanggil Serlia sekarang.
"Serlia, masuklah!" perintahku.
*Masuk*
"Tidak perlu kau katakan lagi," jawab Serlia masuk ke dalam.
"Dan Kakak, masuklah," kataku memanggil Kak Carl.
"Maaf kalau aku terlambat," jawab Kak Carl masuk ke dalam.
Baiklah, permasalahan sangat mudah di selesaikan, aku akan meminta tolong pada Serlia.
Sepertinya Serlia mengerti apa yang kukatakan.
"Serlia, bisakah kau jelaskan bagaimana cara menyembuhkan penyakit itu?" tanyaku.
"Penyakit kebusukan kulit sangat sulit untuk di sembuhkan, biasanya membutuhkan sesuatu yang besar"
"Seingatku, sesuatu yang bisa menyembuhkan penyakit kebusukan kulit adalah mandi di sungai Hersia"
"Tapi, yang harus mandi di sana bukanlah yang terkena penyakitnya, melainkan orang yang memberikan tehnya pada orang yang terkena penyakitnya"
"Maaf kalau semua informasiku tidak berguna dan tidak dapat di percaya oleh Yang Mulia," jelas Serlia panjang lebar.
Ternyata kau sangat mengerti dengan perkataanku, aku senang sekali bisa mengangkatmu sebagai Penyihir pribadiku.
Jangan lupa kalau Serlia juga temanku yang sangat berharga di dunia ini.
"Semuanya sudah jelas, apakah ada yang bisa kubantu lagi?" tanyaku menatap Raja Arsula.
"Sangat jelas dan masuk akal. Louis, apakah kau tahu siapa yang memberikan teh itu kepada Pelayan?" tanya Raja Arsula mengalihkan tatapannya pada Louis.
"Yang kulihat kemarin adalah Eliza dan Michelle yang memberikan teh itu kepada para Pelayan Istana," jawab Louis mengatakan yang sebenarnya.
Nah, bagaimana denganmu, Eliza? Apa kau akan bersembunyi dari kebenaran?
Rencanaku harus berjalan lancar, aku harus bisa memutarbalikkan faktanya dan menuduh Eliza atas semua kesalahanku.
Yah, karena aku yang meletakkan racun itu kemarin, tapi racunnya hanya untuk Eliza, bukan untuk para Pelayan.
Bisa di bilang kalau Eliza dan Michelle yang telah bersalah dan harus bertanggung jawab.
Maaf, aku sama sekali tidak ingin menolong kalian berdua.
"Kalau begitu, hanya satu orang saja yang bisa mandi di sungai Hersia tanpa harus di temani oleh orang lain"
"Hmm, bisakah aku memilih Eliza?" jelasku sekaligus bertanya.
Eliza? Tentu saja aku memilihnya karena ingin menjebaknya. Satu satunya yang bisa kujebak di sini adalah kau, Eliza.
"Kenapa harus aku?" tanya Eliza bingung.
Sudahlah, tidak perlu bersandiwaraku di depanku. Kau hampir saja meracuniku kemarin, untunglah aku tidak meminumnya.
Padahal, banyak yang percaya bahwa sifatmu sudah berubah, tapi tidak dengan keluarga Arshleyer dan Courtines yang sangat tahu akan kejahatanmu.
"Benar, apakah kau bersedia menolong para Pelayan Istanamu?" tanyaku meyakinkan Eliza.
"Dengan keberanian dan ketulusan hatiku, aku siap melakukannya demi menyelamatkan nyawa Pelayan Istana," jawab Eliza yakin dan berdiri kembali.
Haha, karena kita akan pergi sekarang, maka bersiap siaplah untuk menerima akibatnya, Eliza.
Oh, aku baru ingat sesuatu. Cara menyembuhkan penyakit kebusukan kulit adalah mengorbankan sang pelaku dan membiarkan kakinya di gigit ular.
Tadinya, aku sempat membaca buku di kamarku sebelum pergi ke Istana Srylpharuna setelah selesai mandi, makanya kubuat rencana seperti ini untuk mencelakai Eliza.
Kejutan akan segera datang, bersiap siaplah, Eliza.
"Yang Mulia Raja Arsula, kita berangkat ke sana hari ini, sebaiknya anda bersiap siap dulu untuk ke sana," kataku meminta Raja bersiap siap.
"Dengan senang hati, Tuan Putri Catherine," jawab Raja Arsula memberi hormat padaku.
Aku baru tahu kalau sang Raja Kerajaan bisa hormat kepada Tuan Putri sepertiku, aneh.
.
.
.
Semuanya sudah berada di kereta kuda masing masing.
Seperti tadi, aku tetap berada di kereta kuda milik keluarga Arshleyer.
Apakah rencanaku akan berhasil? Perasaanku, sungai Hersia adalah tempat yang indah, tapi di penuhi dengan binatang liar di dalamnya.
Entah apa yang sedang kupikirkan saat ini, pokoknya rencanaku harus berjalan lancar!
"Serlia, menurutmu apakah akan berhasil jika kita pergi ke sungai Hersia?" tanyaku ragu.
"Tenanglah, aku mengetahui rencanamu dari awal. Kau sungguh ingin menyembuhkan Pelayannya, bukan?" jawab Serlia menatapku.
"Benar, aku tidak mau melibatkan semuanya kepada Pelayan Istana, jadi kuputuskan untuk menggunakan cara nekat ini. Lagipula, aku juga sedang ingin mencelakai Eliza," kataku serius.
"Begitulah orang yang kusuka, berani dan percaya diri," jawab Serlia tersenyum.
Senyuman Eliza, kalau di lihat lihat ternyata sangat indah, tidak seperti biasanya yang agak sedikit kasar dan bagaikan seorang Iblis licik.
Jujur, senyum ceria milik Serlia lebih bagus bagaikan sinar matahari yang terbit di pagi hari.
"Serlia, aku suka senyumanmu," kataku tanpa sadar juga tersenyum.
Mendengar perkataanku, Serlia kembali menunjukkan wajah datarnya dan menatapku.
"Tidak, aku tidak tersenyum sama sekali," jawab Serlia kembali datar.
Haha, kau pasti malu untuk tersenyum, bukan? Tenang saja, tidak ada yang tahu senyum tulusmu selain diriku.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Kak Carl yang duduk di samping Kak William, tepatnya di depanku dan Serlia.
"Tidak ada, kami hanya sedang bercanda saja," jawabku tersenyum.
"Oh, aku pikir kalian membicarakanku," kata Kak Carl.
Siapa yang membicarakanmu? Kau urus saja urusanmu sendiri.
"Menurutmu, apakah Veronica dapat menerima kenyataannya setelah dia mengetahui kalau aku adalah ….," kata Kak Carl belum selesai berbicara.
"Percayalah, Carl, Veronica menyukaimu dan kau juga menyukainya, kan? Tunggu dia menyelesaikan sekolahnya, kau bisa melamarnya dan menikahinya," jawab Serlia.
"Maksudmu?" tanya Kak Carl tidak mengerti.
"Suatu hari, nikahilah Veronica secara langsung tanpa harus di umumkan pada semua orang. Aku tidak mau jika Anna sampai mengetahui semuanya," jawab Veronica serius.
Sialan, apakah hanya aku sendiri yang telah kehilangan topik pembicaraan? Kenapa Kak Carl dan Serlia harus membahas hal yang tidak kuketahui sama sekali.
Padahal aku sudah tahu kalau Kak Carl menikahi Veronica secara tak langsung, tapi aku tidak tahu lagi harus berbicara apa.
Untunglah Samson dan aku belum pernah melewati batas nafsu seperti Samuel dan Eliza, kalau tidak maka hancurlah reputasiku sebagai seorang Putri Kerajaan.
"Apakah kalian melupakanku ketika berbicara hal dewasa yang sudah kuketahui?" tanyaku sengaja.
"Maaf, aku sama sekali tidak tahu kalau kau ada di sini, Catty," jawab Kak Carl lupa dengan diriku.
Huh, aku jadi tidak bisa membicarakan sesuatu dengan kalian, pasti semuanya tidak terdengar menarik.
Sebaiknya aku tidur saja sambil menunggu.
Tiba tiba ….
Trak!
*Suara kuda*
Sudah sampai? Cepat sekali! Sejak kapan kita sampai ke sungai Hersia begitu cepat? Bukankah harus melewati hutan dulu?
"Yang Mulia Raja, kita sudah sampai, silahkan turun," kata Prajurit yang membawa kami.
"Terima kasih, tunggulah di sini dan jangan pergi ke mana mana," jawab Kak William tegas.
"Baik, Yang Mulia."
Tanpa pikir panjang lagi, kami turun dari kereta kuda dan menginjak rumput.
Akhirnya, aku dapat menikmati udara bebas di sini.
.
.
.
[Bersambung]