The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 52



Ugh!


Aku ingin bebas secepatnya! Michelle, kau akan kubalas karena telah meninggalkanku sendirian!


Di dalam kamar ….


Saphira/Catherine POV


Bagaimana rasanya setelah di ikat? Sakit? Rasakanlah penderitaanmu!


Aku harus bersiap siap dulu dan memberitahu Kak William bersama yang lainnya.


Beberapa menit kemudian ….


Aku sudah selesai mandi. Sekarang, aku berada di ruang tamu bersama Kak William, Kak Carl, dan lainnya.


"Yang Mulia Raja, ada yang ingin kubicarakan dengan serius," kataku biasa saja.


"Katakanlah selama aku bisa mendengarnya," jawab Kak William to the point.


"Ini menyangkut masalah perang, Yang Mulia"


"Hari ini, tepat pada jam 12:00 siang nanti, Kerajaan Srylpharuna akan datang menyerang"


"Mereka akan menyerang dengan membagi arah dan wilayah"


"Wilayah A, itu adalah tempat di mana Kerajaan Griseliyd berdiri"


"Wilayah B, itu adalah tempat kita sekarang"


"Wilayah C, tempat Istana Belstreyd berada"


"Wilayah D, tempat Istana Grovield berada"


"Saat ini, pasukan mereka berjumlah 100.000 orang, dan Kerajaan yang di serang mereka bukanlah Kerajaan biasa, melainkan yang memiliki kekayaan berlimpah"


"Jadi, kita juga membutuhkan pasukan yang sama banyak dengan mereka dan membentuk wilayah penyerangan"


"Aku, Kak Carl, dan Serlia yang akan menempati wilayah A"


"Eliza, Michelle, dan Alexander yang akan menempati wilayah B"


"Anna, Samson, Veronica, dan Alice yang akan menempati wilayah C"


"Sedangkan Yang Mulia akan menempati wilayah D"


"Apakah kalian setuju dengan keputusanku? Pembagian wilayah hanya dapat kulakukan karena pikiranku sedang kacau"


Bagaimana? Sudah kujelaskan secara panjang lebar begini, apanya yang tidak bagus?


Dengan menempati wilayah A, aku dapat menjatuhkan 3 kembar yang menangkapku kemarin.


Sudah kupastikan, mereka pasti akan menyerang melalui wilayah A.


Karena di ruang tamu tidak terlihat kehadiran Eliza, Kak Carl menatapku heran dan bertanya padaku.


"Di mana Eliza? Bukankah persiapan kita harus sempurna sesuai rapat?" tanya Kak Carl heran.


"Eliza sudah kuikat di luar. Perang nanti, jangan lepaskan dia," jawabku santai.


"Oh, aku mengerti," kata Kak Carl sedikit mengerti.


Hah~


Akhirnya aku punya Kak Carl juga yang bisa mengerti keadaan daripada Kak William yang sekarang sangat bodoh. Bahkan dia juga takut pada Eliza, dasar lemah!


Rencana kita berdua benar benar bagus, Serlia.


*Mengedipkan mata kiri*


Yang kudapat dari Serlia juga kedipan mata darinya.


"Nanti, tolong bantu aku dan Kak Carl dalam menghadapi para penjahat yang mendekatiku," gumamku tersenyum licik.


"Tenang saja, serahkan semuanya padaku," jawab Serlia bergumam juga.


Hehe, ayo kita mulai membagi wilayahnya.


"Jangan buang buang waktu, mari kita bagi wilayah," kataku dengan tegas.


"Baiklah," jawab semuanya kecuali Anna dan Michelle.


Biarkan saja, mereka berdua kan orang bodoh.


Di luar Istana ….


Aku sudah selesai membagi wilayahnya dengan pasukan sebanyak 25.000.


Masing masing, mereka akan mengepung musuh dari wilayah yang sudan kuatur dengan sempurna.


Semoga saja aman, jangan sampai Raja Arsula si serakah itu merebut semuanya.


"Seluruhnya sudah kusiapkan, Eliza tetap kuikat di situ dan jangan biarkan lepas," kataku serius.


"Di mengerti, Tuan Putri!" jawab para Pengawal bersamaan.


Untung saja aku sudah mempersiapkan diri. Dengan baju zirah besi ini, aku yakin semua masalahnya cepat selesai.


Sebentar lagi jam 12:00, musuh akan datang! Sebaiknya kembali ke posisi masing masing.


"Semuanya, berbaris!" seruku.


Mereka langsung berbaris dengan rapi. Dan jam kami sekarang sudah menuju ….


12:00.


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


*Suara kaki kuda*


Berlahan lahan para Pengawal Srylpharuna datang menghampiri Istana Griseliyd dengan cepat.


Terlihat di situ ada 3 kembar yang memimpin peperangan di wilayah A.


"Itu mereka bertiga! Louis, Hans, dan dan Helson! Ketiga orang itu tidaklah bodoh, sebaiknya kau berhati hati, Serlia!" kataku memandang ke depan.


"Aku pasti akan mendengarkanmu, Cath!" jawab Serlia tampak bersemangat.


"Berikan pedangku," kataku mengulurkan tanganku pada Kak Carl.


"Ini," jawabnya sembari memberikan pedangnya padaku.


Lihatlah bagaimana denganmu nanti, Eliza!


Tang!


Baru saja aku ingin menyerang, tiba tiba pedangku di tangkis oleh Louis. Sialan, kapan kalian akan bertemu dengan Adik kalian kalau menyerangku?!


Sudahlah, fokus saja pada Louis!


"Kau mengajakku berkelahi?" tanyaku tersenyum licik.


"Tergantung kau saja," jawabnya santai dan mengayunkan pedangnya ke arahku.


Tang!


Tang!


Sreng!


Sulit sekali menghindari serangannya! Dia terlalu kuat! Serlia, uruslah yang lain bersama Kak Carl!


Terlihat Serlia yang sedang berduel pedang dengan Hans di samping kananku. Kelihatannya, Serlia benar benar kesal hari ini.


Tang!


"Setelah perang ini selesai, kau baru bisa melihat saudari perempuanmu yang licik itu!" kata Serlia berusaha menangkis serangannya.


Tang!


"Terserah kau saja ingin berkata apa, yang penting aku tidak punya saudari perempuan!" jawab Hans melakukan hal yang sama dengan Serlia.


Tang!


"Kalau tidak percaya, kau bisa menemui Raja Arsula b*j*ng*n itu setelah melawanku!" kata Serlia masih tetap melakukannya.


Tang!


"Haha, aku tidak akan percaya padamu dan jangan panggil Ayahku dengan sebutan gila itu!" jawab Hans kasar.


Emosi Serlia sudah tidak bisa di hentikan. Dia seperti melihat sesosok perempuan di wajah Hans.


Tang!


Sreng!


"Kau harus mati, b*j*ng*n br*ngs*k Arlia!" kata Serlia membuang pedang Hans dan mengarahkan pedangnya ke lehernya.


Arlia katamu? Jadi, kau emosi karena melihat sosok Arlia? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua.


Tang!


"Kenapa kau bengong? Mari kita selesaikan perang ini!" kata Louis yang masih menangkis serangan pedangku.


Tang!


"Temanku sudah mengalahkan saudaramu, Hans! Sekarang, giliranku untuk mengalahkanmu!" jawabku menangkis pedangnya Louis.


Gawat, aku sama sekali belum melukai musuhku sendiri! Serlia, kau harus berhati hati karena mereka bertoga masih menyimpan banyak senjata lainnya untuk menyerangmu!


"Heh, kau pikir dengan menghina Ibuku, kau akan selamat? Tenang, aku masih memiliki 10 pedang lainnya," kata Hans seraya mengeluarkan 1 pedangnya.


Sring!


Pedang itu di arahkan ke leher Serlia sehingga lehernya mengalami sedikit goresan.


"Haha, terserah aku ingin menghina Ibumu atau tidak, yang penting dia sangat mirip dengan SAUDARI PEREMPUANMU!" jawab Serlia berlahan lahan berubah.


Matanya bersinar merah setengah hitam, tubuhnya di penuhi dengan simbol hitam dan muncullah kedua tanduk di kepalanya.


Perubahan ini …., mirip sekali dengan Iblis ….


Aku baru melihat wujud asli dari Serlia, sungguh mengerikan.


*Mengangkat kepala*


"Apakah kau mau bermain denganku, Hans? Dulu, Arlia selalu mempermainkan Ibuku," kata Serlia menatap sinis Hans.


Tanpa di sadari, Kak Carl yang menyerang pasukan Helson tiba tiba merasakan hal yang sama dengan Serlia.


Tunggu, bagaimana bisa Kak Carl berpengaruh dengan perubahan Serlia?! Mengerikan ….


"Ini, jangan jangan ….," kata Kak Carl seketika ucapannya terhenti.


Mata Kak Carl tiba tiba sakit dan berubah menjadi merah terang.


Tidak, Kak Carl tidak berubah seperti Serlia, melainkan hanya tatapannya yang begitu mematikan!


.


.


.


[Bersambung[