The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 62



Kuulurkan tanganku pada Veronica dan kubantu ia bangun.


*Bangun*


Sekarang, aku sudah harus ke kantin bersama Serlia. Apakah sebaiknya kuajak saja dia?


"Veronica, apa kau mau ikut ke kantin bersama kami?" tanyaku.


"Ehm, maaf, aku ada janji pertemuan dengan seseorang, sampai jumpa," tolaknya dengan terburu buru langsung pergi.


Hah? Janji pertemuan? Apakah Kak Carl sama sekali tidak puas saat kau tidak ada?


Semoga bersenang senang, calon Kakak Ipar.


Hihi, ayo kita pergi ke kantin.


"Menurutmu, apa Samson akan datang mencariku?" tanyaku pada Serlia dengan bingung.


"Kurasa dia akan mencarimu. Aku takut itu mengganggu waktu makan siangku," jawab Serlia cemberut.


"Yah, kuharap dia tidak bertemu denganku, sudah lama aku ingin makan siang di sini seperti sebelumnya," kataku tersenyum girang.


Kami sudah sampai di kantin. Seperti biasa, kami duduk di meja nomor 2 dengan jumlah kursi sebanyak 5 buah.


Hah~


*Bersandar*


Sudah lama aku tidak bersandar di kursi indahku. Gara gara Samson yang suka mengajakku pergi dengannya, aku seperti orang asing di kantin ini.


"Ternyata tempatnya tidak berubah, ya. Aku senang berada di kantin," kataku melihat sekeliling.


"Memang tidak berubah, kau seperti orang asing saja," jawab Serlia menatapku dengan serius.


Aku tahu, semua ini gara gara Samson yang selalu membuatku kehilangan waktuku.


"Yah, kau benar. Kau ingin beli apa?" tanyaku sedikit kesal.


"Aku mau jus lemon manis dan Honey Strawberry," jawab Serlia tersenyum bahagia.


Baiklah, ekspresimu itu tidak bisa menipuku.


"Pelayan, 2 jus lemon manis dan 2 Honey Strawberry," perintahku.


"Akan aku siapkan, Tuan Putri," jawabnya menunduk dan pergi membuatkan makanannya.


Setidaknya aku masih bisa mencicipi makanan manis yang ada di kantin, segala sayuran saja aku tidak suka.


"Ini makanannya, selamat menikmati," kata Pelayan itu menyerahkan makanan dan minumannya di meja kami.


"Terima kasih," jawabku singkat.


Wah, potongan Stroberi dengan celupan madu di dalam mangkuk? Mungkin ini akan menambah selera makanku.


*Memakan*


*Mengunyah*


Mmm! Rasanya manis, seperti pergi ke taman Stroberi.


Tanpa kusadari, tiba tiba ….


"Kenapa Erfly sudah tidak bergabung di kelompok kita?" tanya seseorang yang berasal dari meja nomor 4.


Five Stupid Girls? Eliza masih membuat kelompok bodoh itu? Tunggu, kudengar masalah ini menyangkut dengan Erfly.


Benar, sejak aku kelas 5-♪, Erfly sudah tidak berada di sekolah lagi. Kira kira, apa yang terjadi padanya.


Kumenguping pembicaraan mereka saja.


"Aneh, padahal kita sedang membutuhkannya. Apakah dia sudah mati?" tanya Alice.


"Bisa jadi, karena beberapa hari yang lalu, rawa Nimphy penuh dengan kehancuran," jawab Anna hanya memberitahu teorinya.


"Rawa Nimphy hancur? Ulah siapa itu?!" tanya Eliza terkejut.


"Aku tidak tahu, mungkin sebaiknya kita periksa nanti," jawab Anna.


Pergi ke rawa Nimphy? Rawa yang terkenal berbahaya itu?! Kalau begitu, aku akan pergi bersama Serlia!


"Serlia, apa kau siap untuk membuat dirimu senekat mungkin?" tanyaku tersenyum melirik Serlia.


"Hah? Memangnya kita berdua mau ke mana?" tanya Serlia menatapku dengan kebingungan.


"Setelah menguping pembicaraan mereka berempat tadi, Eliza mengajak mereka untukk pergi ke rawa Nimphy," kataku serius.


"Rawa Nimphy ya? Terdengar menarik," jawab Serlia.


"Bagaimana, apa kau mau ikut?" tanyaku sekali lagi.


"Baiklah, kapanpun kau pergi, aku ikut denganmu!" jawab Serlia tampak bersemangat.


Kenapa hanya mereka berempat? Aku baru ingat kalau Veronica ada janji dengan Kakak kedua.


Sudahlah, tidak perlu di pikirkan terus! Yang penting ikuti saja mereka berempat.


________________________________________________


Arah jalan mereka berempat yang kami ikuti secara diam diam semuanya terlihat sama.


Apakah ini hutan ilusi? Kepalaku pusing~


"Serlia, menurutmu jalan di hutan ini bagaimana?" tanyaku dengan kepalaku yang terasa berputar putar.


"Terlalu mengerikan~" jawab Serlia yang sudah tidak mampu berdiri lagi.


Eh? Selelah itukah kau? Padahal mereka berempat sudah agak jauh.


Dari jauh ….


"Apa?! Inikah yang namanya Istana Nimphy?! Aku terkejut setelah melihatnya!" kata Alice terkejut.


Istana Nimphy?! Tempat tinggal para kaum Nimfa? Jadi, rawa mengerikan ini juga punya Istana ya, keren ….


"Benar, tapi Istana ini bukanlah tempat tinggal Erfly, melainkan seorang penguasa Nimfa yang terkenal kejam," jawab Eliza mengerutkan alisnya.


Kejam ya, mungkin dia bukan hanya penguasa, tapi juga pemakan daging.


Astaga, apa yang sedang kupikirkan?! Imajinasiku terlalu aneh saat berpikir.


"Serlia, kita sudah sampai," bisikku di telinga Serlia.


*Bangun*


"Benarkah?! Kau tidak berbohong padaku, kan?!" tanya Serlia memastikan.


Untuk apa aku berbohong pada orang licik sepertimu? Melihat wajahmu saja sudah membuatku bergidik.


"Ayo kita ke sana, mereka sudah masuk," ajakku menarik tangan Serlia dan pergi.


Setelah sampai tanpa ketahuan oleh Eliza dan yang lainnya, yang kulihat adalah perbuatan kejam yang tidak bermanusuawi.


Para pria dan wanita yang di siksa dan di ikat dengan bola rantai.


Mereka di beri minum darah tanpa harus melepaskan rantai di tangan/kaki mereka.


Terlebih lagi, kulihat kepala mereka yang di penggal dengan menggunakan pedang.


Crack!


Astaga! Terlalu sadis dan kejam! Laki laki maupun perempuan pasti di siksa.


Yang lebih parah lagi, kepala mereka di makan oleh sang penguasa mereka, yaitu Raja dan Ratu Nimphy.


Kanibalisme ternyata ada di dunia kuno ini! Mengerikan, rasanya aku ingin berlari dari tempat ini.


Istana yang penuh dengan ruang gelap dan lilin lilin kecil menyala ini terlalu banyak mengalirkan darah ….!


Sumpah, bau darah segar membuat nafasku menjadi sesak.


Sebentar, bukankah itu Erfly?! Kenapa dia memakai pakaian jelek dan busuk itu?! Kasihan sekali nasibmu!


"Kumohon Yang Mulia yang teragung dan terhormat, aku masih ingin hidup ….," kata Erfly bersujud.


Sekejam itukah penguasa kalian? Ingatlah, kau tidak boleh percaya pada siapapun yang menyiksa rakyatmu!


*Menendang perut*


Argh!


"Kau boleh memanggilku dengan sebutan itu memang sangat bagus, tapi tolong hormatilah orang yang telah memeliharamu bagaikan hewan liar yang terlantar," jawab Ratu penguasa rakyat Nimphy.


Kau pikir kau bisa seenaknya membuat hal konyol semacam itu?! Hei, ingin sekali kumenyerangmu karena aku juga seorang pemimpin Kerajaan!


"Hamba minta maaf atas kesalahan hamba," kata Erfly bergidik takut.


"Baiklah, permintaanku selanjutnya adalah tolong ambilkan aku mayat sahabatmu," jawab Ratu tersenyum licik.


Dengan berat hati, Erfly mengambilnya dan menyerahkannya pada Ratu penguasa.


"Ini yang anda minta, Yang Mulia," kata Erfly gemetaran.


Ckckck


Ratu yang tidak memiliki hati nurani! Kekejamanmu sudah melewati batas! Sebaiknya aku bertindak saja!


"Benar benar kejam, tanganku tidak tahan untuk menyerangnya!" kataku yang telah di banjiri emosi.


Tapi, tanganku di tahan oleh Serlia dan ia hanya bisa menggeleng saja.


Aku mengerti maksudmu, tapi tindakan yang ada di depan mataku sangat kejam seperti hukuman mati!


Berbeda dengan Kerajaan Arshleyer yang di penuhi dengan keadilan, tapi keadilan hilang setelah Kak William membuat peraturan baru.


.


.


.


[Bersambung]