
Akhirnya kau bangun juga, aku sudah menunggumu daritadi.
"Kenapa Kakak bangun agak terlambat? Biasanya Kakak selalu bangun tepat waktu," kataku menatap bola mata Kak Carl.
"Kakak masih harus menyelesaikan mimpi indah yang ada di kepala Kakak," jawabnya.
Mimpi indah? Jangan bilang kalau Kak Carl sedang ….
*Tersenyum*
"Mungkin ada seseorang yang sedang mencari Kakak di sini. Kalau tidak salah, danau angsa adalah tempat kesukaannya," kataku sengaja memancing Kak Carl.
Mendengar perkataanku, Kak Carl memutuskan untuk berhenti tidur dan pergi bersiap siap ke danau angsa.
"Baiklah, kau boleh keluar dari kamarku. Aku harus bersiap siap dulu," jawab Kak Carl terburu buru.
Sudahlah, aku akan keluar dari kamarmu.
Ceklek~
Kukeluar dari kamar Kak Carl dan menutup pintunya berlahan.
Hehe, mimpi indah Kak Carl ternyata berhubungan dengan Veronica, ya. Coba saja kau belum mengenal siapa Veronica, pasti yang kau perhatikan sekarang adalah aku.
Sudahlah, biarkan Kakak bahagia, lagipula memiliki pasangan bukanlah kemauanku.
Ngomong ngomong, bagaimana kabar baik Eliza? Aku penasaran sekali.
_____________________________________________
Di Istana Kerajaan Srylpharuna ….
Eliza POV
Ugh, badanku sakit sekali ….
Kenapa terasa sangat sulit untuk bangun? Lagi lagi, kepalaku sangat pusing.
*Membuka mata*
Aku ada di kamar? Bukan, ini bukanlah kamarku. Kalau di sini bukan kamarku, lalu ini kamar siapa?
Hah? Kenapa aku rasa tubuhku hanya di selimuti dengan selimut ini? Perasaanku, kemarin aku ada memakai gaun.
*Membuka selimut dan melihat ke dalam*
Eh? Aku tidak memakai apa apa?! Jangan bilang kalau aku ….
*Menoleh ke samping*
Samuel?! Jadi, semalaman kami berdua?!
Aaaaaarrrrrggggghhhh!!!!
Hah~
Hah~
Hah~
Untunglah kamar ini besar, jadi suara teriakanku tidak terdengar dari manapun.
"Sejak kapan aku melakukan hal yang tidak pantas begini? Umurku kan masih berumur 14 tahun," kataku sedikit terkejut.
Tiba tiba ….
Hoam~
"Siapa yang berteriak pagi pagi? Menggangguku saja," kata Samuel bangun dari tidurnya.
Plak!
Satu tamparan kudaratkan ke pipi Samuel dengan keras.
"Eliza? Kenapa kau menamparku?" tanya Samuel bingung.
"Bisakah kau jelaskan tentang perbuatanmu semalam?" tanyaku sedikit kasar.
Bagaimana tidak? Aku tidak memiliki sesuatu yang berharga lagi. Tubuhku telah ….
"Jelaskan? Apa aku tidak salah dengar? Siapa orang yang sengaja memelukku dan memanggilku dengan nama seorang laki laki asing?"
"Dan siapa yang memberikan ciumannya padaku dan memelukku seenaknya?" tanya Samuel panjang lebar.
Hah? Maksudnya, aku yang melakukan semuanya? Tidak, apa yang sedang kupikirkan?
Semalam, yang ada di pikiran dan mataku hanyalah Samson. Dan …., aku sama sekali tidak ingat apa apa lagi.
Baiklah, aku akan memutuskan untuk merahasiakannya dari Ayah maupun Kakakku.
Kalau mereka tahu, Ayah dan Kak Louis pasti akan marah dan mengusirku!
"Aku mengaku aku salah, tapi sungguh, aku tidak ingat apa apa"
"Bisakah kau membantuku merahasiakannya?" tanyaku memohon.
"Baiklah, aku akan membantumu untuk merahasiakannya, tapi dengan satu hal," jawabnya.
Satu hal? Apa yang dia lakukan? Demi rahasiaku, sebaiknya kuturuti saja.
"Apapun, apa yang kau inginkan?" tanyaku bingung.
*Tersenyum licik*
"Nanti ikut denganku pergi ke sungai Hersia. Ada hal yang ingin kukatakan lagi di sana," jawabnya tersenyum licik.
Sudahlah, kuturuti saja kemauannya demi keamanan rahasiaku.
_____________________________________________
Di Istana Kerajaan Arshleyer ….
Saphira/Catherine POV
Hari ini, aku sedang berada di taman belakang Istana bersama Kak William, Kak Carl, dan Serlia.
Tang!
Sring!
Tang!
"Kemampuanmu masih di bawahku, Carl," kata Kak William mengayunkan pedangnya.
Tang!
"Yah, semua gara gara Catty yang menipuku tadi pagi," jawab Kak Carl melakukan hal yang sama dengan Kak William.
Benar, hukumanku di tambah lagi karena aku telah menipunya.
Baru saja ingin pergi ke danau angsa, aku ketahuan menipunya karena aku tertawa diam diam.
Sialan, hukumanku yang keempat adalah tidak boleh keluar dari Istana hingga Kak Carl yang memutuskan.
Ah! Aku terjebak di Istana karena Kakak keduaku yang menyeramkan ini!
Tidak masalah, yang penting aku masih punya teman, yaitu Serlia.
Tang!
"Kasihan sekali ya, kau selalu di tipu karena Veronica milikmu," ejek Kak William.
Tang!
"Mungkin kau benar, cintaku pada Veronica terlalu berlebihan," jawab Kak Carl membuang muka.
Terserah kalian berdua ingin mengatakan apa, yang penting anggap saja aku angin lewat.
Syuuh~
"Cath, kau sungguh sial ya," ejek Serlia sengaja.
"Sial kepalamu! Ini semua karena kau yang menjawab Kakak dengan lancang!" jawabku kesal.
"Oh, maaf soal itu, tapi semua juga salahmu karena mengajakku untuk pulang malam. Hasilnya, kau di cari oleh Carl hingga di hukum," kata Serlia memutar bola matanya.
"Tutup mulutmu!" jawabku semakin kesal.
Tolong jangan salahkan aku dalam hal apapun meski benar itu semua adalah salahku.
Tang!
Sring!
Pedang Kak William melayang ke sembarang arah dan mengarahkan pedangnya pada leher Kak William.
"Kali ini, aku menang melawanmu, Will," kata Kak Carl tersenyum miring.
Menakjubkan, aku suka melihat aksi berpedang! Rasanya aku ingin mencobanya juga.
"Kakak, bolehkah aku mencoba berpedang juga? Aku dan Serlia pernah melakukannya, tapi kali ini aku ingin bersama Kak William," kataku meminta pada Kak Carl.
Karena melihat wajah polos yang kubuat buat, Kak Carl hanya bisa pasrah dan menyerahkan pedang miliknya kepadaku.
Hah~
"Baiklah, tapi jangan sampai terluka, mengerti?" tanya Kak Carl hanya meyakinkanku.
"Aku mengerti," jawabku tersenyum dan menerima pedangnya.
Wah, nama Kak Carl ternyata terukir di pedangnya. Apakah Kak Carl benar benar menyukai pedangnya?
Mungkin aku harus meminta Kakak untuk mencarikanku sebuah pedang dan mengukir namaku di atasnya.
Tanpa basa basi lagi, aku mengajak Kak William untuk memulainya.
"Ayo kita mulai, Kak," kataku mengarahkan pedangku ke arah Kak William.
Sring!
"Dengan senang hati, Adikku," jawab Kak William siap.
Tang!
Tang!
Tang!
Serangannya agak cepat dan kuat. gerakannya hampir tidak bisa kubaca.
Tang!
"Kakak hebat juga dalam berpedang. Apakah Kakak pernah belajar bersama guru berpedang Kakak?" tanyaku sambil mengayunkan pedangku.
Tang!
"Aku tidak memiliki guru berpedang. Aku belajar bersama Carl tanpa bantuan dari seorang guru," jawabnya melakukan hal yang sama denganku.
Tang!
"Begitu ya, kebetulan aku juga belajar bersama Serlia. Saat aku belajar sendiri, hasilnya malah melukai tanganku," kataku serius.
Tang!
"Sejak kapan kau belajar berpedang bersama Serlia? Aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu," tanya Kak William bingung.
Tang!
"Sejak perang akan di mulai. Kemudian, aku di culik oleh sekumpulan Prajurit Srylpharuna," jawabku serius.
Sialan, aku keceplosan!
"Di culik? Kenapa kau tidak memberitahuku soal itu?" tanya Kak William sedikit terkejut setelah mendengar kata kataku.
Sudahlah, nanti saja kujelaskan padamu, Kak.
.
.
.
[Bersambung]