The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 10



Mendengar permintaanku, Kak Carl menghela nafasnya pelan pelan.


Haih ….


"Baiklah, aku tidak akan memarahinya. Tapi, jika dia memarahimu lagi, maka yang akan berhadapan dengan dia adalah aku," jawab Kak Carl dengan datar.


Bo …. bola mata Kak Carl yang berwarna merah itu …. membuatku sangat takut, ya ….


"Ka ….Ka …. Kak Carl? Tolong ubahlah tatapanmu ….," gumamku tanpa sadar gemetaran.


Eliza hanya berpura pura tenang seolah ia mendengarkan kata kata dari Kak Carl.


Ehm, aku masih tidak percaya dengan sikapnya itu, pasti ada yang ia sembunyikan dari kami berdua.


Keheningan mulai memenuhi sekitar ….


Kami bertiga hanya diam saja selama perjalanan pulang tanpa mengatakan apa apa.


Crack!


Trak!


"Kita sudah sampai di Istana, Pangeran dan Putri," kata Prajurit yang menjemput kami.


Kami bertiga hanya mengangguk biasa dan masuk ke Istana dengan penuh sambutan.


"Selamat datang, Pangeran Carl"


"Selamat datang, Putri Eliza"


"Selamat datang, Putri Catherine"


Semuanya menyambut secara bersamaan.


Aku tidak peduli dengan sambutan itu, yang penting aku bisa bersantai di kamar dan tidur nyenyak!


Hoam~


Suaraku saat menguap terdengar oleh Kak Carl dan Eliza.


Malu sudah diriku, tidak seharusnya aku menguap di depan mereka.


"Kau sudah mengantuk, Catty? Mari, biar Kakak yang akan mengantarkanmu untuk masuk ke kamar," kata Kak Carl menyunggingkan senyumnya padaku.


"Hmm," jawabku sambil mengangguk.


Kak Carl pun pergi mengantarku ke kamar dan menemaniku tidur.


Sementara itu, Eliza yang kami berdua tinggalkan merasa kesal padaku karena melihatku yang terlalu di manja oleh Kak Carl.


"Sialan kau, Cath! Seharusnya, kau tidak berhak mendapatkan kasih sayang dari Carl! Aku benci padamu!" kata Eliza marah padaku tanpa kuketahui sama sekali.


Acchiu!


Perasaan apa ini? Aku kan tidak sakit ….


"Catty, apa kau baik baik saja?" tanya Kak Carl sambil memegang bahuku.


"Tidak, aku hanya bersin saja," jawabku sambil tersenyum manis.


Kak Carl hanya mengangguk pelan. Ah, aku sudah lelah, lebih baik aku berbaring saja.


"Kak, maaf karena aku tidak bisa ikut makan malam bersama kalian semua. Tolong, biarkan aku tidur, ya," kataku yang sudah berbaring di kasur.


"Baik, selamat malam, Catty," jawab Kak Carl sambil mengecup keningku sebentar dan pergi dari kamarku.


Entah mengapa, wajahku mulai Blushing lagi setelah keningku di kecup oleh Kak Carl ….


"Rasanya seperti mimpi, ya ….," lirihku berlahan menutup mataku dan tidur.


Keesokan harinya ….


Kubangun dari tempat tidurku dengan awal.


Hoam~


"Pagi hari terasa cepat, ya …., padahal aku baru saja ingin bolos sekolah ….," lirihku masih mengantuk setelah bangun tidur.


"Tuan Putri, saatnya anda harus mandi untuk pergi ke sekolah. Aku sudah menyiapkan air panas untukmu," kata seorang Pelayan dari luar.


"Baik, sebentar lagi," jawabku.


Aku pergi ke kamar mandi dengan kondisiku yang masih saja mengantuk.


Tenang saja, Saphira, ini kan hanya untuk pergi sekolah. Besok, kau juga libur kok.


Di sisi lain yang tidak kuketahui ….


Terlihat Kak Carl yang sedang merapikan seragamnya sambil termenung.


"William sudah pergi ke luar Kota, itu artinya aku bisa berlama lama bersama Catty di sini," kata Kak Carl.


Di kamar mandiku ….


Acchiu!


Sambil berendam di bathum, aku bersantai menikmati suasana indah.


Hah~


"Sudah lama aku tidak berendam di air panas. Ternyata, suasana hatiku berubah begitu cepat setelah aku berendam di air panas ini," lirihku menutup mataku dan bersandar di bathum.


Akhirnya, berendam di air panas sudah selesai. Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun putih yang sudah di siapkan saat aku sedang mandi.


Aku mulai duduk di cermin untuk menata diriku sendiri.


Uh, menata rias saat masih berusia 7 tahun sangatlah berat untukku.


Setelah selesai menata diriku sendiri, aku keluar dari kamarku dengan tangan kosong.


Yah, pergi ke sekolah membawa tangan kosong, sangat berbeda dengan sekolah yang ada di kehidupanku yang sebelumnya.


Itu semua karena sekolah sihir adalah sekolah yang tidak mencatat sama sekali. Bahkan, murid murid di sekolah pun tidak memakai buku dan pensil untuk menulis.


Kami mempelajari sihir, tanpa menggunakan alat apapun.


Tapi, apakah aku punya sihir? Di dalam novel, Catherine tidak memiliki sihir sama sekali.


Apa mungkin, dengan mengubah alur ceritanya, aku dapat memiliki sihir? Tampaknya itu mustahil.


"Sudahlah, tidak perlu kupikirkan terus," lirihku sambil mengacak acak rambutku.


Tanpa basa basi lagi, aku berjalan menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarga.


Sesampainya di ruang makan, aku melihat Ayah, Ibu, Kak Carl, dan Eliza si cabe merah.


Aneh, di mana Kak William? Kenapa aku tidak melihatnya?


"Kak Carl, Kak William di mana?" tanyaku sambil menarik baju Kak Carl yang sedang duduk di kursi meja makan.


"William sedang pergi ke luar Kota untuk menyelesaikan urusan penting," jawab Kak Carl terlihat santai saja.


"Oh, begitu ….," kataku biasa saja.


Tiba tiba, Eliza menggebrek meja makan dengan kasar sehingga membuat Ayah, Ibu, Kak Carl, bahkan aku saja sampai terkejut.


Brak!


"Astaga, Eliza, ada apa denganmu hari ini?!" tanya Ibu sambil mengerutkan alisnya.


"Tidak ada apa apa! Aku mau pergi ke sekolah dulu!" jawab Eliza dengan kasar memarahi Ibu.


Kurang ajar kau, Eliza! Ibu saja kau marahi seperti itu! Dasar anak Tiri yang tidak tahu terima kasih!


Brak!


Suara gebrekkan meja berbunyi lagi, tapi kali ini suaranya jauh lebih keras.


"Eliza! Ayah tidak pernah mengajarkanmu menjadi kurang ajar seperti ini! Cepat minta maaf pada Ibumu!" marah Ayah pada Eliza.


Parah banget, Ayah sama seramnya seperti Papa di kehidupan sebelumnya.


Keringat dingin mulai keluar bercucuran di sekujur tubuhku karena Ayah yang terlalu kasar.


"Ayah, kau ternyata seperti Monster yang sedang ingin memakan mangsanya saja!" gumamku panik.


"Ehem, sebaiknya Ayah tidak perlu sekasar itu pada Eliza. Catty menjadi ketakutan dan bersembunyi di belakangku," kata Kak Carl berbicara dengan Ayah.


Memang benar, karena aku takut dengan sikap Ayah yang begitu kasar pada Eliza, tanpa sadar aku bersembunyi di belakang Kak Carl.


"Kak, aku takut pada Ayah ….," kataku dengan mata yang berkaca kaca.


Ahh! Semakin lama tingkahku seperti anak kecil saja! Padahal, jiwaku bukanlah gadis yang berusia 7 tahun, melainkan 18 tahun.


Melihatku yang bersembunyi seperti kucing, Kak Carl langsung mengelus kepalaku dengan lembut.


"Sudah, kau tidak perlu takut begitu. Ayah hanya terbawa emosinya saat berhadapan dengan Eliza," jawab Kak Carl sambil memgelus kepalaku.


Sekali lagi, dengan kasar Eliza menggebrek meja makannya dengan keras.


Brak!


"Ayah, kenapa Ayah tidak pernah membelaku sama sekali?! Bukankah aku juga anak Kandungmu?!" tanya Eliza yang kini tampak marah besar.


Sebenarnya, Ayah memang sangat membenci Eliza karena dia terlahir dari seorang wanita yang tidak ia cintai sama sekali.


Masih saja kau melawan Ayah dengan sekasar ini, tunggu dan nantikan saja kejutanku untukmu di sekolah nanti!


.


.


.


[Bersambung]