
Tak lama setelah jam pelajaran selesai, bel istirahat berbunyi seperti suara lonceng.
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Semua murid keluar dari kelas dengan terburu buru menuju kantin. Aku juga sudah keluar dari kelas, hanya saja aku harus mencari Kak Carl.
Aduh, Kak Carl di mana sih?! Katanya tadi ia akan mengajakku.
Tanpa kusadari, ada yang menutup mataku dari belakang secara tiba tiba.
Apa apaan ini?! Apakah di sekolah sedang mati lampu?! Seluruh ruangan terlihat gelap menghitam!
"Ada apa ini? Apa sekolah sedang mati lampu? Kalau begitu, tolong di nyalakan," kataku berpura pura tidak tahu.
Sttt!
"Sebentar lagi, aku akan menyalakannya," jawabnya masih menutup mataku.
Su …. suara itu? Rasanya sangat familiar di telingaku, tapi di mana ya?
"Aku hitung ya," lanjutnya.
1
2
3
"Catty, ayo kita makan bersama," katanya membuka mataku.
Eh? Jadi Kak Carl yang menutup mataku? Duh, aku jadi malu ….
"Ba …. baiklah, Kak, aku pikir tadi lampunya mati," jawabku sambil mengangguk gugup.
Kak Carl pun terkekeh melihat sikapku.
Kami terus saja berjalan lurus menuju ke kantin.
Sesampainya di kantin sekolah, kami berdua mengambil makanan dan duduk di meja nomor 2 dengan kursinya yang berjumlah 4 buah.
"Wah, kantinnya indah sekali, Kak! Aku sangat suka melihatnya," kataku dengan mata yang berbintang.
"Kau suka ya, Catty? Tidak sia sia aku membawamu ke sini untuk makan siang," jawab Carl tersenyum.
"Oh, aku baru ingat. Apakah Kakak bisa berbicara dengan sihir liar yang ada di sekolah ini?" tanyaku penasaran.
Kak Carl mendekatkan dirinya di telingaku dan membisiknya dengan pelan.
"Tolong rahasiakan ini dari semua orang di sekolah ….," jawab Kak Carl membisik telingaku.
Astaga, Aku merasa malu jika seperti ini! Kak, tolong jangan begitu padaku!
Aku hanya mengangguk dengan wajahku yang memerah atau Blushing.
Untung saja, Kak Carl lega melihatku mengangguk. Karena mendengar pertanyaanku tadi, Kak Carl juga bertanya balik padaku dengan kata kata yang sama.
"Memangnya kau bisa berbicara dengan sihir liar?" tanya Kak Carl sambil melipat tangannya di meja makan.
"Benar, karena sebelum masuk kelas tadi, aku bertemu dengan Makhluk aneh yang bernama Vern"
"Ia bilang kalau keluarga Kerajaan Arshleyer bisa berbicara dengannya"
"Apakah itu artinya Ayah, Ibu, dan Kak William juga bisa berbicara dengannya?" kataku mengatakan semua rahasiaku.
Catherine, kau hanya bisa membuatku tambah penasaran seperti ini.
"Hahaha, tentu saja semua keluarga Kerajaan Arshleyer dapat berbicara dengannya, terkecuali Eliza," jawab Kak Carl terkekeh dengan perkataanku tadi.
Sangat menyenangkan bisa makan siang bersama Kakak keduaku di sekolah yang sama.
Dan …., entah kenapa tiba tiba aku merasakan firasat buruk.
"Cih! Lihat saja kau nanti, Catherine! Kau tidak boleh merebut Carl dariku!" kata seorang gadis yang berdiri di belakangku, tepat pada pintu masuk kantin ini.
Aku tidak mendengarnya sama sekali karena aku berbicara dengan Kak Carl.
Jam makan siang sudah selesai.
Aku dan Kak Carl berpisah jalan untuk kembali ke ruang kelas.
Tanpa kusadari, tiba tiba aku di siram menggunakan air. Ah, bukan, ini adalah sihir air.
"Rasakanlah air dinginku ini, dasar perempuan kecil murahan!" kata gadis itu dengan perkataan yang amat kasar.
Gadis itu tak lain adalah Anna, gadis sombong yang suka mempermainkan perasaan laki laki.
Tunggu, dia bilang aku murahan? Hei, cobalah untuk berpikir lagi! Bukankah kau orang yang paling murahan di sekolah ini?!
Ahh! Lebih baik aku jalankan saja aktingku!
"Ma …. maaf, kenapa Kak Anna menyiramku ….?" tanyaku berakting.
Basah sudah pakaianku! Semuanya basah!
Sebentar, katamu karena aku mendekati Kak Carl? Apakah kau suka pada Kak Carl?
Bodoh, wajar saja kalau aku dekat dengan Kak Carl, karena ia adalah Kakak Kandung Catherine dan sekarang aku sudah menjadi Catherine.
Atau jangan jangan, Kak Carl menyembunyikan identitasnya di sekolah?! Tolong, ini terasa sangat aneh untukku.
Tenanglah, Saphira, kau cukup pura pura tidak tahu saja. Lanjutkan aktingmu.
"Mendekati Kak Carl? Ah, maafkan aku, Kak Anna …., aku sungguh tidak tahu ….," kataku berakting.
Entah ada perasaan membara apa yang membuat Anna menarik rambut panjangku dan menjambaknya dengan kasar.
"Cukup dengan kata katamu itu, Cath! Kau tidak pantas untuk mendekati Carl selain aku!" jawab Anna menjambak rambutku.
Hiks ….
Aku sangat kesakitan, tapi dengan berpura pura polos, ini akan membuat rencanaku berhasil.
"Hiks …., apakah Kak Anna tidak tahu kalau gaun Kak Anna juga basah?" tanyaku sambil melihat gaunnya.
Tentu saja, sejak tadi gaunnya memang basah karena menyiramku.
Ia yang melihatnya langsung melepaskan tangannya dari rambut panjangku yang indah.
Sial, rambut Golden Blonde ku sudah rusak karena tarikanmu, Anna sialan!
Arrrrggghhh!!!
"Tunggu saja kau, Catherine, besok kau akan mendapatkan balasan yang lebih sakit lagi!" kata Anna memarahiku dan pergi membersihkan gaun indahnya(huh, indah kepalamu!).
Hihihi, ternyata kau juga bisa malu ya, Anna.
Sudahlah, aku masuk ke kelas dulu.
Waktu terus berganti ….
Kini, sekolah telah kosong karena murid dan guru guru telah pulang.
Aku, Eliza, dan Kak Carl pulang bersama dengan menaiki kereta kuda.
Saat kami bertiga berada di dalam kereta kuda, entah ada angin buruk apa yang membuat Eliza terus menatapku dengan tidak senang.
He …. Hei, ada apa denganmu, Bawang Merah?! Kenapa kau daritadi menatapku dengan seperti ini?!
Bawang Merah?! Jelas saja aku memanggilnya seperti itu.
Rambut merahnya yang terlalu mencolok itu sehingga membuatnya tampak seperti Bawang Merah.
Bukan hanya Bawang Merah, Cabe Merah, Tomat Merah, kau juga akan kujuluki dengan nama seperti itu.
Karena suasana sedang canggung sekarang, lebih baik aku berakting saja.
"Ehm, Kak Eliza …., kenapa Kakak terus menatapku seperti ini?" tanyaku dengan suara lembut.
Masih saja, tatapan Eliza begitu tajam.
"Tidak ada apa apa!" jawabnya to the point.
"Kalau begitu, coba kita bermain saja, apakah Kakak mau?" tanyaku sekali lagi.
"Bermain katamu?! Cobalah untuk ingat umurmu sendiri, kau sudah dewasa, Cath!" jawab Eliza membentakku.
Hiks ….
Lagi lagi aku pura pura menangis dan tiba tiba Kak Carl menjadi marah pada Eliza.
"Eliza, sebaiknya kau bermain saja dengan Catty sebelum kau kubuang dari keluarga Arshleyer!" marah Kak Carl pada Eliza.
Bagus, Kak, buang saja Eliza dari Istana Kerajaan milik kita!
Tunggu, apa yang sedang kubicarakan? Kalau Eliza di buang, balas dendamku akan menjadi sia sia!
"Tidak apa apa, Kak, jangan memarahi Kak Eliza. Mungkin tunggu Kak Eliza ingin saja," kataku menenangkan amarah Kak Carl.
Bisa bahaya jika Kak Carl sudah marah. Ternyata, perbedaan Kak William dan Kak Carl sangat jauh berbeda!
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Maaf ya kalo kalian merasa ada yang aneh dengan Visual Eliza, soalnya penggambaran Eliza menurut Author, rambutnya berwarna merah.
Oh iya, bagi kalian yang ingin tahu Visual Saphira/Catherine, Visualnya ada di bawah ini ya: