
Sekarang apa lagi yang ingin kau katakan? Meminta maaf? Mengubah peraturan baru?
Sayangnya, Kerajaan Arshleyer hanya akan mengubah aturannya setelah Raja di gantikan.
Kau pintar sekali, Kakak! Aku suka dengan kata katamu!
Mari kita lihat apa yang akan William lakukan.
"Sudahlah, sebagai Raja, aku telah menetapkan aturan ini. Jadi maaf kalau semuanya keluar dengan begitu kasar," kata William dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kekecewaan.
Semua orang yang hadir di acara pun pergi tanpa mengucapkan salam padanya.
Bagus sekali aturan yang kau buat, William. Mulai sekarang, kau dan Eliza yang bertanggung jawab untuk mengurus Kerajaan ini.
Aturan tetaplah aturan, tidak dapat kuubah tanpa izin dari Raja bodoh sepertimu!
Saat ini, yang tersisa di ruangan hanyalah Aku, William, Carl, Eliza, Alice, Veronica, Samson, dan Anna.
Aneh, aku rasa ada yang kurang di antara mereka berempat.
Biasanya Erfly selalu ikut dengan Eliza saat berada di mana mana.
Entah kenapa, kulihat Erfly tidak datang di acara hari ini.
Apakah klan Nimfa mengalami masalah? Sudahlah, tidak perlu kupikirkan!
Yang penting adalah urus semua masalah ini sampai selesai.
"William! Ada angin buruk apa yang membuatmu merubah peraturan menjadi berantakan begini?!" tanya Eliza marah pada William.
"Aku tidak tahu apa apa, Eliza! Aku hanya merasa kalau pikiranku sedang kosong!" jawab William dengan kasar.
Kau benar, William. Pikiranmu kosong karena di kendalikan oleh Kak Carl.
Rencana seperti ini sudah di pikirkan baik baik olehnya, jadi jangan coba untuk menentang kami berdua.
Ingat, ini baru permulaan, Pengkhianat!
Plak!
Satu tamparan keras mendarat ke pipi William. Eliza begitu marah dengan peraturan konyol yang di buat oleh William.
Memang peraturan konyol, sama konyolnya seperti pikiran kalian berdua.
Aku tidak lupa dengan rahasiamu, Eliza. Cepat atau lambat, aku pasti akan membongkarnya.
Pokoknya kau tunggu saja, Eliza sang Putri keturunan bunga bangkai!
"Ini adalah pelajaran untukmu karena telah mempermalukan kehormatanku! Sekali lagi kau membuatnya berantakan, maka nyawamu akan kuhabisi!" kata Eliza marah pada William.
Benar benar pertunjukkan yang menarik, menarik sekali!
Pertengkaran antara Kakak laki laki yang lebih menyayangi Adik Tirinya? Ini adalah pertunjukkan drama yang paling menarik untukku lihat.
Tiba tiba saja, Samson menarik tangan Eliza dengan genggaman yang begitu kuat.
Peduli sekali ya dengan tunangan Iblis seperti Eliza.
Memang cocok kujuluki sebagai pasangan sesama ular.
"Tolong berhenti menampar Kakakmu sendiri," kata Samson mencegah Eliza.
Tanpa pikir panjang lagi, Eliza mendorong Samson hingga tersungkur di lantai.
Semakin besar juga ya dramanya, seperti menonton bioskop saja.
Eh? Kak Carl belum kembali? Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? Sayang sekali jika dia melewatkan pertunjukkan drama ini.
Di kamar Kak Carl ….
Carl POV
Hah~
Tidak sia sia aku membuat William menyinggung semua rakyat dengan begitu kasar.
Kau tenang saja, Will, ini baru permulaan ….
Tapi, apa yang terjadi pada Veronica? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?
Untunglah, tidak ada bagian yang terluka di kepalanya, aku sungguh sangat khawatir.
Astaga, setelah kulihat lihat, sepertinya Veronica sedang tidak sehat.
"Veronica, apa kau sakit?" tanyaku menyentuh keningnya.
"Ehm, Carl? Apakah itu kau? Syukurlah kalau kau datang ….," jawab Veronica dengan keadaan tidak sadar.
Hei, apa yang terjadi padamu, Veronica? Biasanya, kau tidak pernah melakukan hal seperti itu.
"Ve …. Veronica?" tanyaku bingung.
"Carl? Ternyata benar kau! Aku sedang tidak baik hari ini," jawab Veronica masih dalam keadaan tidak sadar.
Hmm? Kondisi seperti ini ….
"Kau mabuk? Sadarlah, Veronica!" kataku menepuk pipinya dengan pelan.
Di acara pelantikan ….
Saphira/Catherine POV
Sialan, Samson berhasil membujuk Eliza dengan kedermawanannya.
Parah padahal drama tadi sangat menyenangkan. Sia sia saja aku menontonnya.
"Baiklah, aku minta maaf, Samson. Lain kali, aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Eliza polos.
Hah~
Memang sudah saatnya aku maju.
"Sepertinya mengubah aturan kembali seperti semula memang sulit"
"Setahuku, Kerajaan Arshleyer tidak dapat mengubah aturannya lagi, kecuali di hari pergantian Raja"
"Apakah kalian mau kubantu?"
Permainan di mulai, William, Eliza!
"Satu satunya cara agar dapat mengubah kembali peraturannya adalah …."
"Kembalikan Putri Catherine dan Pangeran Carl."
"Dengan begitu, maka peraturan akan kembali seutuhnya"
"Tapi, kalau Putri Catherine dan Pangeran Carl tidak di temukan, itu adalah keputusan kalian sendiri untuk minta di kutuk."
Hehe, permainan yang sangat sulit untuk kalian tebak.
Ini adalah langkah pengujian kesetiaanmu padaku dan mengetahui alasan kau mengkhianati kami berdua Kakak.
Tenang saja, permainannya tidak akan sulit jika kalian bermain dengan benar.
Kami berdua Kak Carl tidak akan membuka identitas dulu sebelum kau mengakui kesalahanmu sebagai seorang Kakak pertama.
Bagaimana tidak? Aku membuat permainan ini agar kenyataannya terungkap dengan cepat.
Di tambah dengan kejanggalan dirimu. Pokoknya aku harus tahu yang sebenarnya terjadi.
Jangan lupa kalau musuhku bertambah satu, yaitu Samson.
Aku harus menghindarinya sebelum mati seperti Catherine.
Tanpa kusadari, Samson menatap diriku dari jauh dengan tatapan yang agak senang.
Jangan bilang kalau Samson terpesona dengan kecantikanku? Sadarlah, saat inu namaku adalah Serlia Arthera.
"Nona Serlia, ada apa denganmu?" tanya Samson dengan lembut.
Sejak kapan orang licik sepertinya tiba tiba bertanya padaku? Sungguh menjijikkan!
Mendekatimu saja sudah membuatku merinding ….
"Ehm, aku hanya sedang bingung ingin tinggal di mana, karena aku datang ke sini bersama Kakakku, yaitu Leon Alexander," jawabku tersenyum paksa.
Apa lagi yang kukatakan ini?! Membuat suasana menjadi semakin buruk saja!
Sabar, Saphira, semuanya akan berlalu dengan cepat ….
"Sulit sekali mengatakannya," kata Samson mengerutkan alisnya.
Sulit apa lagi?! Kau selalu saja memanaskan suasana hatiku!
Menyebalkan ….!
"Bagaimana kalau kau tinggal di Istana ini bersama kami? Aku sangat membutuhkan bantuanmu," kata William dengan sangat bersemangat.
Rencana pertama, berhasil!
Akhirnya aku berhasil mengelabui William.
"Dengan senang hati, Yang Mulia Raja," jawabku memberi salam pada William.
Ciuh, memberi salam padamu adalah mimpi buruk bagiku.
Hem, sepertinya Eliza tidak setuju dengan kehadiranku di sini. Apakah kau ingin di permalukan sebagai Putri dengan posisi tertinggi?
"Apa apaan ini?! Membiarkan orang asing tinggal di Istana kita?! Aku tidak setuju!" kata Eliza menatapku dengan kesal.
Sebegitu kejamkah dirimu hingga orang asing saja kau tidak terima? bersiap siaplah untuk di kutuk.
"Oh, kalau tidak boleh tidak apa apa. Tapi, itu artinya kalian juga akan terkutuk."
"Kutukan yang kalian dapatkan adalah mati dalam waktu 3 hari," jawabku tersenyum licik.
Mendengar perkataanku, Eliza mematung dengan raut wajah yang buruk.
Wajahnya membiru terlihat seperti orang sakit.
"Baik, kau boleh tinggal di sini," kata Eliza menelan salivanya dengan susah payah.
Bagus, rencanaku akan berjalan mulus.
.
.
.
[Bersambung]