
Tanpa basa basi lagi, Eliza segera menyingkirkan tangannya dari mulut Michelle.
Ia membuka mulut Michelle dengan tangannya sendiri dan melihat kalau giginya sangatlah kotor seperti tidak di sikat selama 10 tahun.
"Michelle! Sudah berapa lama kau tidak menyikat gigimu?! Kotor sekali!" kata Eliza menyingkir dari Michelle.
Yah, aku senang melihat perdebatan.
"Bodoh! Padahal gigiku sudah kusikat secara rutin dan setiap hari! Lihat baik baik!" jawab Michelle kasar.
*Berdehem*
"Maaf, apakah perdebatannya sudah selesai? Kalau sudah, aku akan membersihkan gigi si Penyihir k*p*r*t ini," kata Serlia menggosok telapak tangannya.
"Penyihir k*p*r*t katamu?! Serlia, aku adalah Penyihir terhormat, bukan Penyihir k*p*r*t seperti yang kau bilang!" jawab Michelle emosi.
"Kalau bukan bagaimana gigimu bisa kotor di penuhi dengan makanan sisa?" tanya Serlia sengaja meledek Michelle.
"Hah? Bukankah tadi pagi sudah kubersihkan?" tanya Michelle pada dirinya sendiri.
Bodoh! Ternyata kau sama sekali tidak bisa merasakan kotornya gigimu! Padahal, sudah terlihat jelas bahwa gigimu di penuhi dengan makanan sisa.
Serlia, kau memang jenius!
"Lihat saja sendiri," jawab Serlia memutar bola matanya.
Michelle langsung mengeluarkan cermin kecilnya dari saku miliknya.
Setelah mengambilnya, Michelle memandang ke cermin menunjukkan gigi kotornya.
Kemudian ….
"Astaga, kotor sekali! Serlia, apa kau belum puas membuatku membeku?! Bahkan sekarang saja kau menjahiliku!" teriak Michelle emosi melihat gigi kotornya.
Oh, aku baru ingat kalau Serlia membuatmu membeku saat tadi di sekolah.
•Flashback•
Saat istirahat yang kedua kalinya, aku sudah berada di kantin.
Entah ada sesuatu apa yang membuat Michelle kembali normal secara tiba tiba.
Aneh, siapa yang melelehkan es nya?
"Michelle, lain kali kau tidak perlu menjebak gadis sialan itu! Aku tidak mau melihatmu kedinginan seperti ini," kata Eliza menasehati Michelle.
Hmph!
Aku tahu kata kata penasehat darimu itu hanyalah sebuah kata kata bagaikan Bunga Bakung dalam lumpur!
Eh? Benar juga, badan Michelle berubah membiru karena membeku tadi.
Sulit sekali menebak sihir Serlia, sebenarnya seberapa besarnya kekuatan sihir es miliknya?
Grrr!
"A …. aku …. tidak …. mam …. pu," jawab Michelle kedinginan.
"Itu semua adalah salahmu karena menculik si bodoh itu!" kata Eliza marah.
Bisa saja kau marah seperti itu! Lihatlah penampilanmu yang sudah hancur karena seranggaku!
Hahaha, Eliza, dramamu sangat tidak efektif untuk diriku ini.
Untung saja ada Serlia yang menemaniku di sini, kalau tidak maka beraksi sendirian pun aku sudah lelah!
*Berdehem*
"Ehem, bisakah kau tunjukkan belas kasihanmu pada Michelle? Aku rasa, dia tidak suka di marahi," kataku sengaja menyindir Eliza dari jauh.
"Apa katamu tadi?! Aku tidak akan tunjukkan belas kasihku pada Michelle!" bantah Eliza.
"Benar, lagipula aku tidak butuh belas kasih!" jawab Michelle dengan kasar.
Begitu ya, apa sebaiknya aku pancing saja emosi mereka berdua?
Tidak, itu sudah sering kulakukan sejak dulu.
Sekarang, yang bisa kuharapkan untuk membantuku adalah Serlia.
*Mengedipkan mata kanan*
Kedipanku hanya di balas oleh Serlia dengan hal yang sama.
"Siapa tadi yang tidak suka belas kasih? Mari kutunjukkan apa itu yang namanya belas kasih," kata Serlia sengaja.
Ia mengambil air lemon yang ada di meja dan menyiramnya ke mata Michelle.
Byur!
Tunggu, bukankah lemon itu sangat asam?! Bisa gawat kalau matanya rusak!
Maaf, aku hanya tidak mau harga diriku di rendahkan oleh Eliza dan keluarga Gabriel.
Aaaarrrrggggghhhhh!!!
"Sakit sekali!!! Air apa yang kau tumpahkan padaku?!" teriak Michelle kesakitan.
"Air lemon milikku. Inilah yang namanya belas kasih," jawab Serlia tersenyum licik.
"Healing Miracle," ucapnya.
Berlahan lahan, mata Michelle sudah sembuh dan tidak sakit lagi seperti tadi.
Baguslah kalau kau menyadari kesalahanmu!
"Menurutmu? Apa kau pikir kalau aku tidak akan menyembuhkanmu lagi? Demi harga diriku, pasti aku akan melakukan apapun," jawab Serlia dengan nada bicara yang angkuh.
Huh, aku kan sudah bilang kalau harga dirimu lebih penting daripada perbuatanmu.
•Flashback off•
Begitulah ceritanya, itulah kenapa Michelle bisa kembali normal seperti ini.
Padahal, lebih bagus kalau dia membeku, tapi aku tidak mau menghancurkan reputasiku sebagai Putri.
Tak lama kemudian ….
Track!
"Kita sudah sampai, Pangeran dan Tuan Putri," kata Prajurit yang membawa kami.
"Ehm, baik," jawabku tersenyum.
Untunglah, Kak Carl sudah bangun dari tidurnya.
"Kita turun, semuanya," kata Kak Carl turun dari kereta kuda.
Kami berempat hanya turun mengikuti langkah Kak Carl dari belakang.
Setelah sampai di dalam Istana ….
"Salam, Yang Mulia Pangeran dan Tuan Putri"
Seperti biasanya, para Pelayan menyapa kami dengan sopan. Rasanya aku tidak ingin pulang ke kehidupanku lagi.
Cukup hidup di novel saja sudah membuatku senang daripada harus melayani Mama dan Adik Tiriku yang tidak berguna!
Eh? Kak William duduk membaca buku di sofa? Tidak biasanya dia berbuat seperti itu.
Oh, aku lupa kalau sekarang Kak William adalah Raja Kerajaan Arshleyer.
"William, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Eliza memasang wajah polosnya.
"Eliza? Kau sudah pulang? Aku sudah lelah menunggumu daritadi," jawab Kak William mengelus kepalanya Eliza.
Deg!
Entah kenapa setiap aku melihat kedekatan Kak William dengan Eliza, hatiku rasanya seperti di tusuk seribu anak panah!
Sakit, sakit sekali ….! Aku harus menenangkan diriku di kamar!
Tanpa kusadari, Kak Carl merangkul bahuku.
"Tenanglah, Catty. Kau tidak perlu melihat mereka berdua terus," kata Kak Carl menenangkanku.
Maaf, Kakak, ketenanganku bahkan tidak pernah ada sama sekali ….!
Tes~
Setetes demi setetes, air mataku terjatuh tanpa di sadari olehku.
Kenapa? Kenapa tenang itu sangat sulit? Bahkan aku yang berhati kecil ini saja tidak mengenal apa artinya ketenangan.
"Tidak apa apa, aku ke kamar sebentar," jawabku dengan terburu buru langsung ke kamar.
Setelah sampai ke dalam kamar, kututup pintuku dengan keras sehingga suaranya terdengar dari bawah.
Gubrak!
Kurebahkan diriku di kasur sambil memegang gulingku. Terus saja menangis, Saphira, kau bahkan tidak berpikir kalau tangisanmu adalah hal terburuk sedunia.
Kak William, maafkan Adikmu yang mudah sakit hati ini.
Entah kenapa akhir akhir ini diriku terlihat sangat lemah, seperti tidak dapat mengendalikan emosi!
"Untuk apa aku terlahir kembali? Diriku sama sekali tidak bisa merasakan cinta walaupun hanya sejari," batinku terus menangis.
Hiks~
Lalu, ada orang yang datang mengetuk pintuku dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
Siapa yang datang ke kamarku tanpa memberitahuku dulu?
*Menghapus air mata*
Sebaiknya kubuka saja pintuku.
Ceklek~
"Catherine, ada apa dengan matamu?! Kenapa kelihatan merah?!" tanya Serlia khawatir padaku.
Gawat, aku lupa kalau mataku masih memerah meskipun air mataku sudah kuhapus!
"Ehm, tidak ada apa apa. Mataku hanya kemasukan debu saja," jawabku menyunggingkan senyumku.
.
.
.
[Bersambung]