
"Terima kasih, Yang Mulia Putri Eliza," jawabku memberi salam pada Eliza.
Ah! Jalankan saja aktingmu sebagai Serlia!
Eh? Kenapa aku bisa lupa dengan Kak Carl? Sebaiknya aku pergi menyusulnya dulu.
"Maaf, bisakah aku permisi sebentar? Kurasa aku harus membersihkan wajahku," kataku tersenyum aneh.
Tanpa ragu, William mengangguk dan mengizinkanku untuk pergi.
Yeah, untung saja aku di izinkan untuk pergi! Kuberlari ke atas tangga dengan kecepatan yang tidak dapat kuhitung.
Bagaimana caranya kuhitung? Pelajaran Matematika saja nilaiku F!
Sungguh menjengkelkan! Daripada membahas hidupku, lebih baik aku menyusul Kak Carl dulu.
Saat aku berjalan menuju ke kamar Kak Carl, tanpa sengaja aku melihat kalau Kak Carl sedang ….
"Hah?! Kak Carl menyerahkan ciuman pertamanya pada Veronica?! Apa yang sedang terjadi?!" gumamku tidak percaya.
Kakak! Sadarlah kalau pintu kamar masih terbuka setengah lubang kecil.
Ceklek~
Sudah kututup, Kak. Selamat bersenang senang dengan calon Kakak Iparku.
Sttt!
Aku harus menyelinap masuk ke kamarku dulu.
Sepertinya William memiliki suatu rahasia, itulah kenapa dia mengkhianati kami berdua Kak Carl.
Setelah kumengetahui rahasianya, kuharap aku tidak akan membencinya lagi.
Rumit sekali masalah ini, kenapa diriku harus menjadi Penyihir Kerajaan sementara Penyihir yang lama akan di pecat~
Sudahlah, tidak perlu di pikirkan lagi. Yang penting, urus masalah William dulu.
Tiba tiba ….
"Serlia!"
"Serlia!"
"Serlia!"
Tidak, itu adalah suara Anna! Aku harus bersembunyi dulu!
Kulari ke kamarku dan menutup pintunya dengan cepat sebelum Anna datang melihatku.
Fiuh, semoga saja Anna tidak tahu kalau aku berada di bawah kasur.
Di luar kamar ….
Anna POV
Di mana Serlia? Katanya hanya sebentar saja. Lama sekali, William dan Eliza sedang membutuhkannya.
"Serlia pergi ke mana ya? Kalau tidak ketemu, maka kepalaku akan terpisah karena Eliza," kataku mencari orang yang bernama Serlia.
Yah, tidak ada suara di tempat sunyi ini, sebaiknya aku pergi saja.
Di dalam kamar ….
Saphira/Catherine POV
Anna sudah pergi? Bagus, dengan begitu aku bisa mencari barang yang di sembunyikan Catherine di sekitar sini.
Kubongkar lemari dan laci kamarku dengan terburu buru.
Saat kubuka laci ketigaku, ternyata aku menemukan sebuah surat yang berisikan sebuah ancaman.
Surat itu bertuliskan ….
>Turutilah apa yang kukatakan, kalau tidak maka gantinya adalah kepalamu!<
Surat macam apa ini? Siapa yang membuat surat ancaman yang begitu kejam ini?
Surat ini harus kusimpan sampai dapat menemukan siapa yang menulisnya.
Tulisan ini di tulis dengan darah, seperti sedang meneror saja.
Eh? Ada tanggalnya juga? Tunggu, itu artinya surat ini di tulis sejak kemarin? Itu artinya, ada seorang musuh yang sengaja ingin menjebakku!
Tidak bisa di biarkan! Sebagai Serlia, aku harus menyelidikinya!
Oh, aku baru ingat kalau aku harus menemui William. Ini adalah kesempatan yang tepat.
______________________________________________________
Sekarang, aku sudah berada di tempat William dan yang lainnya berkumpul.
Entah ada angin buruk apa yang membuat Samson terus menatapku seperti itu.
Memangnya aku adalah dinding yang bisa kau tatap terus? Tenang, ini tidak akan lama.
Seharusnya, aku hanya berdiskusi tentang masalah kebohonganku tadi, yaitu mencari Putri Catherine dan Pangeran Carl.
Siapa sangka, kami berdua Kak Carl sudah berada di Istana, hanya saja identitas kami berbeda.
"Yang harus kalian lakukan terlebih dulu adalah mencarikan buku sihir untukku," jawabku santai.
Ini adalah masalah serius yang tidak bisa kutangani dengan sembarangan.
Mengenai surat itu, aku juga akan menyelidikinya hari ini.
Mungkin, dengan buku sihir aku bisa menemukan jawabannya.
"Baik," kata William dengan tegas.
"Pengawal, ambilkan buku sihir tebal untuk Serlia!" perintah William memanggil Pengawal.
Para Pengawal itu langsung ke atas mengambilkan buku sihir untukku. Hmm, menjadi Penyihir ternyata mudah juga.
Tiba tiba saja, di depan kami ….
"Salam, Yang Mulia Raja William," kata seseorang dengan penampilan yang sama dengan identitas Kak Carl.
Tunggu, kalau tidak salah itu adalah Pangeran Michael Alexander Den Gabriel.
Di dalam novel, Alexander sangat menyukai Catherine, tapi sayangnya cintanya harus kandas karena melihat kematian Catherine.
Karena sekarang aku bereinkarnasi menjadi Catherine, bagaimana mungkin aku bisa mengambil hati Alexander begitu saja.
Apalagi alur cerita ini sudah berubah total, aku takut sifatnya akan berubah.
"Baik, kemarilah," jawab William memanggilnya ke sini.
Alexander langsung berjalan mendekati William dengan rasa hormat.
"Katakanlah apa yang Raja inginkan," kata Alexander bertekuk lutut di depan William.
"Bisakah kau menjadi Penyihir juga di sini? Aku takut jika Serlia tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik," jawab William dengan santai.
Astaga, seorang Pangeran saja kau jadikan Penyihir? Apakah kau benar benar tidak bisa mengandalkanku?
Ingatlah, posisi kami berdua Alexander itu setara, jadi kau tidak boleh mengatur seenaknya.
Dasar Raja tidak tahu diri! Hanya bisa membuat peraturan konyol saja!
"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawab Alexander dengan hormat dan berdiri kembali.
Sudah kuduga, kau pasti akan berbuat seperti itu, Alexander!
"Kebetulan, Adikku juga ingin menjadi Penyihir di sini," kata Alexander dengan tegas.
"Masuklah," jawab William dengan santai.
Tanpa pikir panjang lagi, Adik perempuannya Alexander langsung masuk ke dalam dengan rasa hormat.
Hah?! Adik perempuannya?! Gawat, hidupku pasti akan melayang lagi karena musuh baru ini.
Nama Adik perempuannya adalah Michelle Alexandra Den Gabriela, teman sekolah Eliza dan juga Kakak kelasku.
Sifatnya terkenal sangat jelek, namun tata krama yang ia miliki sangatlah terlatih.
Heh, tata krama milik Alice lebih elegan, tidak sepertimu yang memiliki hati busuk seperti Eliza!
Di dalam novel, Michelle adalah tokoh pendukung yang akan mati di tangan Eliza karena berani melawannya.
Siapapun yang menuruti Eliza, tentu hidupnya tidak akan selamat.
Sekarang, fokus saja tentang permasalahan dan tugasku.
"Yang Mulia Raja, ada hal apa yang ingin anda katakan?" tanya Alexander bertanya pada William.
Di sisi lain ….
"Eliza? Sudah lama kita tidak bertemu," kata Michelle dengan senang dapat melihat Eliza.
"Michelle? Aku tidak percaya kau bisa menjadi secantik ini," jawab Eliza juga ikut senang.
"Tidak mungkin, padahal kau adalah orang yang paling cantik di Negara ini," kata Michelle tersenyum riang.
"Biasa saja," jawab Eliza dengan wajah setengah blushing.
Senang saling memuji cantik? Di mataku, kalian berdua sangatlah jelek, seperti Raflesia Arnoldi.
Hem, sepertinya bukan sekedar Bunga Raflesia Arnoldi, tapi wajah mereka seperti lumpur.
Benar benar menjijikkan, lebih bangga dengan kecantikan sendiri daripada sifatnya sendiri.
Sama seperti Adik Tiriku yang bernama Shakira, yaitu narsistik, sombong, dan matre!
Kembali pada William dan Alexander, aku tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan?
Aneh ….
Sudahlah, aku hanya bisa mendengar basa basi dari mereka berdua saja.
.
.
.
[Bersambung]