
"Eliza adalah Kakak Tiri dari Catherine? Pantas saja sifatnya seperti itu! Tidak akan kubiarkan kau menghancurkan reputasiku sebagai Putri dan mengambil alih Kerajaan!" gumamku sambil mengerutkan alis.
Kalau Eliza adalah anak Tiri di keluarga Arshleyer, lalu siapa anak Kandung yang sesungguhnya?
"Jadi, siapa Adik Kandung Kakak William dan Kakak Carl? Apakah aku bukan Adik Kandung Kakak?" tanyaku bingung.
Gawat, apakah pertanyaanku terlalu berlebihan?
Tapi, Mereka berdua hanya tersenyum melihatku.
"Adik Kandung kami berdua adalah kau, Catty," jawab Kak Carl tersenyum melihatku.
Kenapa aku sangat senang setelah mendengarnya? Inikah perasaan antara Kakak Beradik?
Yah, di kehidupanku yang sebelumnya, aku tidak pernah memiliki Kakak maupun Adik Kandung.
Yang kumiliki adalah Mama Serigala dan Adik Rubah! Sifat mereka berdua begitu sama, sangat serakah!
Entah kenapa, di dunia ini aku merasa senang bisa memiliki seorang dua Kakak Kandung dari Catherine meskipun aku hanya sekedar jiwa yang menempati tubuhnya.
Aku hanya mengangguk tersenyum manis karena aku adalah anak terakhir yang satu satunya sedarah dengan keluargaku.
Oh, aku hampir lupa. Di novel yang kubaca, Catherine akan masuk ke sekolah yang sama dengan Eliza atas permintaan dari Raja Lordsorius.
Kali ini, aku akan mengikuti alur novel ini demi membalaskan dendam Catherine.
Aku akan meminta pada Kak William untuk mendaftarkanku di sekolah yang sama dengan Eliza, yaitu Spiral Clains Academy.
Dengan begitu, aku dapat membalas Eliza berkali kali lipat daripada apa yang di rasakan oleh Catherine.
"Kak William, bisakah Kakak mendaftarkan aku untuk masuk ke sekolah?" tanyaku dengan manja.
"Kakak akan mendaftarkannya, tapi kau ingin sekolah di mana?" jawab Kak William dan juga bertanya padaku.
"Aku ingin masuk ke sekolah yang sama dengan Kak Eliza," jawabku.
Kak William terkejut mendengar jawabanku.
Karena tidak ingin aku di tindas oleh Eliza, Kak William menolaknya dengan penuh perintah.
"Tidak! Kau tidak boleh bersekolah di tempat yang sama dengan Eliza! Kakak hanya tidak mau kau di tindas olehnya!" tolak Kak William dengan penuh perintah.
Ternyata Kak William adalah orang yang kaku ya, cara marahnya begitu aneh.
Tapi, aku hanya bisa menggunakan satu teknik yang bisa membuat Kak William tidak menolak jawabanku.
"Ayolah, Kak, biarkan aku bersekolah di tempat yang sama dengan Kak Eliza. Apakah Kakak mau melihatku menangis terus?" jawabku memasang mata berkaca kaca.
Siapa yang akan menolak dengan ekspresi wajah seperti itu?
Kuharap, Kak William menyetujui keputusanku.
"A …. aku paling tidak tahan dengan wajah yang seperti ini," gumam Kak William mengerutkan alisnya.
"Ehem, baiklah, Kakak akan mengizinkanmu. Kalau ada masalah denganmu, kau bisa panggil Carl untuk membelamu," kata Kak William menyetujui permintaanku.
Akhirnya, aku di terima untuk bersekolah di tempat yang sama demgan Eliza.
Kata Kak William, aku bisa memanggil Kak Carl untuk membelaku. Apakah Kak Carl juga sekolah di tempat yang sama dengan Eliza?
"Tunggu sebentar, Apakah Kak Carl juga bersekolah di sana?" tanyaku bingung lagi.
Ia mengangguk dan menjawabku.
"Tentu saja aku bersekolah di sana. Kalau ada sesuatu yang terjadi padamu, kau bisa bilang padaku," jawab Kak Carl tersenyum menyilangkan tangan kanannya di dadanya.
Hehe, aku bisa bertemu dengan Kak Carl setiap hari.
Dan satu lagi, aku juga ingin belajar sihir di sekolah itu.
Sementara itu, Eliza yang baru masuk ke dalam Istana ….
Ia tampak begitu kesal dengan perkataanku yang tadi. Seperti yang telah kukatakan, aku sengaja mengerjainya.
"Catherine, semua ini salahmu karena telah membuat acara penobatan ini hancur! Padahal, sedikit lagi aku akan mendapatkan gelar sebagai Putri pertama!" teriak Eliza begitu kencang hingga dapat di dengar olehku.
Di sisi lain, yaitu di perpustakaan ….
Kak William dan Kak Carl terkejut mendengar suara teriakan Eliza dan langsung menghampirinya.
Aku juga ikut dengan mereka berdua, karena rasa penasaranku yang tidak bisa kukendalikan.
Ternyata, Eliza berada di ruang tamu. Ia duduk di sofa yang sangat empuk dengan raut wajah yang sedang cemberut.
Melihat aku duduk bersama Eliza, perasaan Kak William menjadi tidak enak.
Aku mengerti apa yang di maksud oleh Kak William, tapi ini adalah tujuanku satu satunya untuk membalaskan dendam Catherine.
"Kak, bisakah kau bersikap dewasa sedikit seperti Kak Carl? Ini terlalu berlebihan," gumamku menggigit bibirku.
"Kak Eliza, ada apa denganmu?" tanyaku berpura pura tidak tahu
"Ternyata kau masih bisa bertanya padaku ya! Apakah kau sadar bahwa kau telah menghancurkan acara istimewaku?!" jawabnya dengan kasar.
"Tapi Kak, semua yang kukatakan memang benar," kataku masih berakting.
Tampaknya, Eliza muak dengan perkataanku.
Tiba tiba, ia ….
Brak!
Ia mendorongku begitu keras hingga jatuh ke lantai.
Ha~, aku bisa memanfaatkan sutuasi ini berbalik padanya.
"Hiks …., Kak Eliza, tolong jangan salahkan aku atas semua perkataanmu …. hiks ….," kataku berpura pura menangis.
Tentu saja Kak Carl tidak terima melihatku terjatuh di lantai.
Dengan emosinya, Kak Carl menyihir Eliza menjadi tidak dapat berkata kata dan menampar pipinya dengan sihirnya.
Nama sihir yang di gunakan oleh Kak Carl adalah Lockmouth.
Sihir itu dapat membuat orang tidak bisa berbicara dan menindas orang secara tiba tiba.
Di novel yang kubaca, sihir itu hanya di kuasai oleh Kak Carl dan tidak ada seorang pun yang bisa menguasainya lagi.
Sihirmu itu terlalu sadis, Kak ….
Tatapan Kak Carl begitu dingin melihat Eliza yang mendorongku tanpa rasa bersalah.
Hei, Kak, mata merahmu dapat membuatku takut ….
Plak!
"Ka …. kau menamparku? Carl, apakah aku terlihat buruk di matamu?" tanya Eliza sambil memegang pipinya.
Tatapan Kak Carl semakin menyeramkan. Tanpa sadar, Eliza gemetaran ketakutan.
"Jangan membuat Adikku menjadi menangis begini, aku tidak pernah menganggapmu Adikku," jawab Kak Carl menatap Eliza dengan begitu dingin.
"Kak, aku menjadi takut untuk menatapmu …., lebih baik aku membuang muka saja," gumamku tanpa sadar juga ketakutan.
"Ca …. Ca …. Ca …. Carl? Bi …. Bi …. Bi …. Bisakah ka …. ka ….kau tenang?" kata Eliza berbicara terpotong potong.
Aku memang takut dengan tatapan Kak Carl, tapi aku berbeda denganmu.
Rasa takut itu membuatmu sampai gemetaran, sungguh memalukan.
Apakah lebih baik aku mencegahnya? Kalau aku tidak mencegahnya, maka sifatku pasti akan di curigai.
"Hentikan, Kak Carl, Kak Eliza bisa saja terluka!" kataku mencegah Kak Carl.
Sambil mengatur nafasnya, Kak Carl melepaskan sihirnya.
Hah ….
"Remove Magic," ucap Kak Carl.
Sihir itu menghilang dan Eliza terjatuh ke lantai karena tadi ia terangkat.
Ouch!
Sebenarnya, efek dari sihir itu tidak terlalu besar, makanya Eliza masih bisa berbicara sejak tadi.
.
.
.
[Bersambung]