The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 102



"Aku hanya mau mencari beberapa buku dongeng di sini, apakah kau memilikinya?" tanyaku pada pemilik toko buku itu.


"Tentu saja, tapi sebelumnya siapa nama Nona dan orang yang di sebelahmu?" jawab orang itu sekaligus bertanya padaku.


Nama samaran apa yang harus kupakai? Parah sekali, aku sama sekali tidak bisa memikirkannya.


Sudahlah, katakan saja nama samaran yang ingin kau katakan!


"Ehm, namaku adalah Gloveny dan dia adalah Kakakku, Julia," jawabku tersenyum.


Sudahlah, daripada aku menunjukkan identitas asliku sebagai Putri Raja, bisa bisa aku di jauhi olehnya.


Dan aku juga telah menipunya dan bilang kalau Serlia adalah Kakak perempuanku.


Haha, yang penting nikmatilah rasa nyamanmu di toko buku ini, jangan lupa cari beberapa buku yang mau kau beli, Saphira.


"Baiklah, buku dongeng ada di rak tengah," katanya menunjuk ke arah rak buku bagian tengah.


"Terima kasih telah menberitahuku," jawabku tersenyum dan pergi ke arah sana.


Yah, lumayan juga daftar buku buku yang ada di sini, bermacam macam buku dongeng yang belum kuketahui sama sekali.


Benar juga, buku dongeng apa yang akan kubeli? Kenapa semuanya terasa sangat asing?


Tidak apa apa, setidaknya aku dapat ke sini dan melihat beberapa buku yang tersusun rapi.


Kuarahkan jariku pada buku bukunya dan tak sengaja tertuju pada buku dongeng yang bertuliskan judul "Nasib Malang Sang Ratu Bermata Hijau."


Hmm, sebaiknya kulihat lihat dulu isi bukunya, siapa tahu ada hal yang menarik.


*Membuka buku*


...Berawal dari kisah seorang Ratu pemimpin Bangsa Thrynira yang bernama Lynlia....


...Dia adalah gadis yang terkenal akan kebaikannya. Rambut Golden Blonde miliknya yang mencolok dan mata hijau Emerald miliknya sangat indah bagaikan bidadari....


...Semua orang sangat menghargainya dan menghormatinya seperti menganggapnya sebagai orang tuanya....


...Dia memiliki sahabat yang bernama Hera, Freora, dan Arlia, satu satunya sahabat terdekatnya yang sangat ia percaya....


Arlia dan Ibuku juga ada di dalam cerita ini? Aku tidak tahu bagaimana imajinasi mereka berkembang saat menuliskan buku dongeng ini.


Lanjutkan saja!


...Meskipun persahabatan mereka berjalan selama 10 tahun, tapi semuanya tidaklah seperti yang mereka pikirkan....


...Arlia tega mengkhianati Lynlia hanya demi menikahi Arsula, yang merupakan penguasa Kerajaan Srylpharuna saat itu....


...Mengetahui pernikahan itu berlangsung, hati Lynlia sangat tersakiti bagaikan di sayat pisau karena melihat sahabatnya menikahi orang yang serakah....


...Sifat Arlia yang dulunya ceria dan periang, kini sudah berubah menjadi dingin dan haus akan kekuasaan....


...Tapi, hal yang membuat Arlia senang saat itu adalah saat Lynlia yang terbunuh di tangannya....


...Sedikit demi sedikit, darah bercucuran di kepala Lynlia yang tertancap oleh pedang Arlia....


...Tak lupa juga, Arlia membisikkan sebuah kalimat terakhir pada Lynlia, yaitu …....


Huh, rumit sekali halaman halaman di buku dongeng ini, aku jadi terganggu saat ingin membacanya.


*Berpindah halaman*


..."Akulah sang penguasa di dunia ini dan kau hanyalah seorang makhluk tak berguna yang bisa mempercayai kebaikanku"...


..."Sebenarnya, aku sengaja berteman denganmu dan kedua orang tidak berguna itu hanya karena sebuah kekuasaanmu"...


..."Mulai sekarang, bangsa Thrynira telah tidak memiliki seorang memimpin!"...


..."Selamat tinggal, Lynlia," kata Arlia sambil memperdalam tusukan pedangnya hingga membuat Lynlia kehabisan nafas dan mati …....


...THE END~...


Bruk!


Tak sengaja kujatuhkan buku dongengnya karena ceritanya yang begitu tragis serta membuat jantungku hampir copot.


Kisah dongeng macam apa ini?! Kenapa isinya sangat menyebalkan dan tidak masuk akal?


Lynlia, namanya terasa familiar. Aku baru tahu kalau Arlia bagaikan seorang pembunuh.


Bisa di bilang kalau keserakahan Arlia sudah melewati batasnya hingga membuatnya menjadi gila.


Aku tidak percaya kalau dia adalah Ibu Kandung Eliza, sungguh menjengkelkan!


Apakah sebaiknya aku ambil saja?


Sudahlah, akan kubawa saja bukunya dan membacanya di Istana nanti.


Tanpa pikir panjang lagi, kuambil kembali buku yang terjatuh itu dan membawanya ke meja kasir.


"Maaf, berapakah harga buku ini?" tanyaku meletakkan bukunya ke meja kasir.


"12 koin perak," jawabnya sambil melihat lihat buku dongeng yang kubeli.


Kuambil koin perak yang ada di kantong kecilku dan memberikannya sebanyak 12 keping koin perak.


"Terima kasih, jangan lupa datang lagi jika Nona ingin membeli buku di sini," katanya tersenyum.


"Sama sama, kalau begitu, aku pergi dulu," jawabku membalasnya dengan senyuman dan pergi di ikuti oleh Serlia.


Ceklek~


Kututup kembali pintunya dan kembali lagi ke kota.


Tiba tiba ….


"Catherine, kau ke mana saja? Aku lelah setelah mencarimu ke mana mana," kata Kak William yang tampak lelah.


Mencariku? Tenanglah, aku bersama Serlia daritadi. Hmm, aku rasa ada yang kurang di antara kita semua.


"Kakak, di mana Kak Carl? Kenapa dia tidak bersamamu?" tanyaku mengerutkan alisku.


Yah, aku hanya merasa aneh saja ketika melihat Kak Carl yang sudah tidak berada di sini bersama Kak William.


"Oh, Carl sedang bermesraan di rumah makan bersama Veronica," jawabnya santai.


Bermesraan dengan Veronica? Apakah itu adalah salah satu tujuanmu?


Baiklah, kali ini aku tidak akan mengataimu maupun protes terhadap dirimu, Kak.


Semoga harimu menyenangkan~


"Apakah kita akan pulang meninggalkan Kak Carl bersama Veronica?" tanyaku menatap Kak William.


"Sepertinya kita tidak akan pulang dulu sebelum ada yang menjemput kita," jawab Kak William celingukan.


Jangan bilang kalau Prajuritnya telah meninggalkan kita karena udara yang dingin ini, menyebalkan!


"Baiklah, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku kali ini memandang ke arah lain.


"Apa kau tidak ingin membeli apel yang ada di sana?" tanya Kak William seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah toko buah itu.


Akhirnya ada yang jual buah apel juga di sini, dan jangan lupakan nanas.


Sebaiknya aku membelinya untuk membuat "Sauce Fruity Jam" yang banyak.


"Baiklah, ayo kita ke sana," jawabku dengan mata yang berbinar binar.


Kutarik tangan Kak William dan Serlia secara bersamaan dan pergi ke arah toko buah berada.


Udara masih saja terasa dingin, aku tidak bisa menahan rasa dingin yang luar biasa begini.


Terlebih lagi, aku sama sekali tidak bisa berlari karena lantai kota yang sudah membeku menjadi es ini.


Dasar musim dingin, entah kata kata kotor apa lagi yang harus kukatakan padamu!


Akhirnya, kami bertiga sampai juga di toko buah.


Buah apel dan nanas adalah buah favoritku sekarang, sebaiknya kubeli saja untuk kubuat "Sauce Fruity Jam" di Istana nanti.


"Apakah anda adalah Tuan Putri Catherine dan Yang Mulia Raja William? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang Nyonya penjual buah itu.


"Ah, ambilkan aku beberapa buah apel segar dan nanas berukuran sedang, masing masing aku membelinya sebanyak 15 buah," jawabku sopan.


"Dengan senang hati, Tuan Putri," katanya segera mengambil kantong dan menyimpan buahnya ke dalam kantong tersebut.


Hehe, dengan begini, aku tidak perlu khawatir lagi dengan kehidupanku.


.


.


.


[Bersambung]