
Tidak bisa menangis? Separah itukah penderitaan yang kau alami? Sudahlah, berusahalah untuk tenang dan bahagia.
Seperti yang pernah di bilang oleh Gabriel padaku di kehidupanku yang sebelumnya, bahwa "Janganlah frustasi maupun jatuh ketika mengingat masa menyakitkanmu, karena kapanpun itu dapat melumpuhkan pikiranmu dan merubah kepribadianmu."
Hanya itulah yang kudengar selalu di telingaku, sakit ….
"Yah, aku tahu semua berat bagimu jika mereka meninggalkanmu, tapi setidaknya bahagialah seperti sebelumnya," kataku menatap Serlia.
Melihat tatapanku yang baginya terlihat menyakitkan, akhirnya ia tersenyum bahagia menatapku.
"Aku mengerti, terima kasih telah mewarnai hidupku," jawab Serlia tersenyum.
Nah, inilah yang ingin kulihat, sebuah senyuman manis dari temanku.
Setelah itu ….
Trap!
Trap!
Trap!
"Kejar gadis itu!" kata seseorang dari belakang.
Suara kuda dan suara orang datang?! Siapa itu?!
Gawat, mereka semakin mendekat, apa yang harus aku lakukan?
"Eh? Siapa mereka? Apa kita salah orang?" tanya seorang lelaki pada para Pengawalnya.
"Maaf, sesuai gambar di gulungan ini, dia tidak mirip dengan orang yang kau cari," jawab salah satu Pengawalnya seraya membuka dan melihat isi gulungannya.
Salah orang katanya?! Siapa yang mereka cari?! Dan laki laki itu, dia terlihat sangat tampan.
"Kalau kau salah orang, boleh aku tanya siapa namamu?" tanyaku penasaran.
*Turun dari kuda*
"Biarkan aku memperkenalkan diriku dengan sopan"
"Namaku adalah Jonathan Samuel Las Gorthvius, seorang Pangeran dari Kerajaan Gorthvius di Negeri utara, Tristophia," jawabnya dengan hormat.
Negeri Tristophia? Jauh sekali dari Negeri Craustrius ini.
Ngomong ngomong, siapa yang sedang ia cari? Aku jadi penasaran dengan isi gulungannya.
"Anda sedang mencari siapa?" tanyaku penasaran.
"Oh, aku sedang mencari Istana tunanganku, Eliza Carlina Sean Srylpharuna," jawabnya tersenyum menatapku.
Eliza ya? Ternyata si Arsula juga tidak salah memilih tunangan untuk Putrinya.
"Ngomong ngomong, siapa namamu?" tanya Samuel padaku.
"Ehm, maaf kalau aku melupakannya"
"Namaku Catherine Alveria De Arshleyer, seorang Putri dari Kerajaan Arshleyer, berasal dari Negeri ini, Craustrius," jawabku dengan hormat.
Yah, dia hanya membalasku dengan senyuman dan langsung pergi menunggang kudanya kembali.
Sebelum pergi, tak lupa ia pamit padaku baru pergi.
"Sampai bertemu di lain hari, semoga harimu beruntung," katanya menunggang kuda dan pergi bersama para Pengawalnya.
Dia sudah berjalan begitu jauh, aku hanya melambaikan tanganku dari jauh.
Pangeran yang lembut, seorang tunangan yang di pilih oleh Raja Arsula untuk Eliza.
Apa ia akan jatuh cinta pada Eliza setelah dia melihat sifat dan perbuatan asli Eliza? Aku harap, dia bisa mencintai Eliza agar Eliza tidak mengganggu hidupku lagi.
______________________________________________
Keesokan harinya ….
Aku sedang berdandan membenarkan tata rambutku yang sedikit berantakan.
Tiba tiba ….
"Tuan Putri, anda mendapatkan undangan," kata salah satu Pelayan pribadiku yang bernama Cazhi.
Undangan? Dari siapa?
Kuterima undangan itu dan membuka isinya.
"Kau boleh pergi," kataku singkat.
"Baik, Tuan Putri," jawabnya menunduk sekilas dan pergi.
*Suara menutup pintu*
Baiklah, kulihat isi surat ini sebelum Serlia mengetahuinya.
*Membuka lipatan surat*
...Catherine, bisakah kau datang nanti? Hari ini adalah hari pertunanganku yang kedua....
...Sebenarnya, aku tidak ingin mengundangmu, tapi apa boleh buat kalau itu adalah keputusan Ayah dan ketiga Kakakku....
...Jangan lupa datang ke pestaku dan jangan lupa membawa Samson datang, karena bagaimanapun aku sangat menyukainya....
...Ingatlah, kau harus datang atau gantinya adalah kepalamu....
^^^Salam manis:^^^
^^^Eliza Carlina Sean Srylpharuna.^^^
Datang ke pesta konyolmu ya? Membawa Samson katamu? Terserah saja, nanti akan kuminta dia untuk datang.
Ah, aku juga tidak lupa untuk mengajak Serlia, karena bagaimanapun dia adalah teman yang sangat kubutuhkan.
Hah~
Kukeluar dari kamarku dan pergi menuju ke ruang Penyihir.
Sesampainya di ruang Penyihir, kudorong pintunya dan melihat Serlia yang terkejut karena dia sedang berdandan.
Astaga, ternyata kau juga melakukan hal yang sama denganku? Coba bilang daritadi agar aku membuka pintu secara sopan.
_____________________________________________
Di Istana Srylpharuna ….
Eliza POV
Suratnya sudah kutulis dan kukirim pada Catherine pecundang itu.
Sialan, ternyata pecundang itu masih hidup! Sia sia saja rencanaku untuk menghancurkannya!
Terlebih lagi, kenapa aku harus bertunangan dengan Samuel? Dari situlah aku mendengar kabar kalau Catherine masih hidup.
Tunggu di pesta nanti, akan kupermalukan dia di depan semua orang, begitu juga dengan Samuel.
Pasti akan menarik ….!
"Pestanya sudah kususun dengan baik. Samuel pasti akan membenci Catherine," kataku tersenyum licik.
______________________________________________
Di Istana Arshleyer ….
Saphira/Catherine POV
Huh, aku dan Serlia sedang membuat sebuah rencana untuk mengacaukan pesta Eliza.
Tadi, mata Serlia mengatakan sesuatu kalau Eliza akan menjebakku dan mempermalukanku.
Yah, mata Serlia sangat hebat dalam membaca situasi, apalagi dari jauh.
Sesuai pemikiranku, pestanya pasti belum di mulai sepagi ini, lagipula ini baru jam 06:00.
"Apa yang akan kau rencanakan?" tanyaku penasaran.
Melihatnya mengaduk suatu cairan bening membuat pikiranku semakin penasaran.
"Rencanaku adalah memasukkan sebuah racun halusinasi untuk membuat Eliza mabuk"
"Setelah mabuk, kupastikan Eliza tidak akan sadar kalau posisinya adalah tunangan Samuel, melainkan di matanya adalah ia sedang melihat bayangan Samson," jawab Serlia sambil mengaduk racun yang ada di wadah kecil.
Halusinasi ya? Cukup menarik dan mudah.
"Aku setuju dengan pendapatmu," kataku tersenyum licik.
"Oh, bagus kalau kau suka rencanaku," jawab Serlia juga tersenyum licik.
Haha, pertunjukkan di mulai.
Tak lama setelah kami selesai membuatnya ….
Ceklek~
Suara pintu terbuka terdengar di telingaku.
Datanglah seorang Pelayan muda yang menghampiri kami berdua dan memberitahu sesuatu hal penting.
"Tuan Putri, kereta kuda sudah siap," katanya memberitahuku.
Sudah siap ya? Baik, aku dan Serlia akan pergi.
"Terima kasih telah memberitahuku, sekarang kau boleh pergi," jawabku.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," katanya menunduk dan pergi.
Ceklek~
Pintu tertutup kembali seperti tadi, hanya tersisa aku dan Serlia saja yang masih ada di sini.
"Kereta kuda sudah siap, apakah sudah saatnya kita pergi?" tanya Serlia sedikit bingung.
"Kau selesaikan dulu semuanya, baru kita pergi," jawabku biasa saja.
"Lalu, kapan pestanya di mulai?" tanya Serlia lagi.
"Mungkin sekitar jam 07:50," jawabku santai.
Ia hanya mengangguk tanpa menjawab apapun lagi.
Kau mau menjebakku dan menghancurkanku? Tunggu saja, kau bahkan lebih hancur daripada kerikil dan debu.
_______________________________________________
Beberapa saat kemudian ….
Kami sudah berada di Istana Srylpharuna, Istana terkuno yang kulihat sekarang.
Aku dan Serlia turun dari kereta kuda dam masuk ke dalam. Untunglah kedua Kakak laki lakiku tidak ikut, jadi aku bisa bertindak sesuka hatiku.
Setelah sampai di dalam, suasana yang ramai mulai membanjiri Istana. Rasanya sangat canggung ketika aku mencoba untuk tenang.
Ini semua karenamu karena mengundangku datang ke tempat kuno dan konyol ini.
Sungguh memalukan ….
.
.
.
[Bersambung]