
"Ehem, sebentar. Apakah hanya orang terpilih saja yang akan memiliki kekuatan sihir kehancuran berwarna hitam?" tanyaku penasaran.
Maaf kalau rasa penasaranku tidak dapat kutahan.
"Benar, tidak semua orang akan memiliki kekuatan sihir legendaris itu. Hanya orang terpilih saja yang akan memiliki sihir kehancuran itu"
"Satu satunya orang yang sudah menguasai sihir itu pertama kali adalah orang yang memiliki aura menyeramkan di dalam tubuhnya"
"Orang itu masih menjadi rahasia, sangatlah sulit jika kalian ingin mencari tahu tentang dirinya"
Selegendaris itukah dia? Kalau di pikir pikir, yang memiliki aura menyeramkan adalah Kak Carl.
Kenapa bukan Kak William? Sekarang, aku sudah memanggilnya Kak William seperti biasanya karena kebenaran yang sudah terungkap.
Alasan Kak Carl selalu memiliki sihir dan bukan Kak William adalah ….
Kak William terlahir sebagai manusia biasa, sama seperti Eliza. Ia tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali. Bedanya, Eliza memiliki sihir karena latihan keras yang ia pelajari.
Sedangkan Kak Carl? Dia terlahir sebagai manusia, namun berdarah Iblis. Itulah sebabnya kenapa semua sihir yang kukatakan bisa bersangkut pada Kak Carl.
Tapi, aku ini apa? Menurut buku novel yang kubaca, Catherine bukanlah seorang manusia ataupun Iblis.
Rahasia yang besar, aku tidak bisa mengetahuinya ….
"Jadi begitu, aku mulai paham sekarang," kataku sedikit mengerti.
"Bagus, kita lanjutkan lagi," jawab Alexander tersenyum.
Baiklah, aku akan bijak menyimak di sini, bahkan ruang ini saja tidak memiliki kursi.
Hoam~
Kapan selesainya? Mataku sudah tidak tahan untuk menutup.
"Aku mau tidur," kataku menutup mata berlahan dan tidur berbaring di lantai.
Zzz ….
"Huh, daritadi kau hanya bisa tidur saja!" kata Serlia.
Zzz ….
Bagaimana caranya aku dengar? Aku kan sedang tidur.
.
.
.
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel pulang telah berbunyi. Aku, Kak Carl, Eliza, Michelle, dan Serlia pulang dengan kereta kuda.
Dulu, suasana sangat hening ketika aku pulang bersama Kak Carl dan Eliza. Tapi, kini suasananya ramai karena Serlia yang terlalu banyak bicara.
"Kereta kudamu lumayan juga, ya. Aku jadi tertarik untuk memilikinya," kata Serlia tersenyum riang.
"Memangnya kau tidak punya kereta kuda di Istana Courtines?" tanyaku bingung.
"Aku memilikinya, tapi warnanya tidak sebagus punyamu," jawabnya menaikkan alis kirinya.
Bagus kepalamu! Warna biru bukanlah kesukaanku! Sesuai warna mataku, aku lebih menyukai warna hijau keemasan.
"Ehm, mungkin matamu salah lihat," kataku tersenyum paksa.
"Heh, soal kereta kuda saja? Punyaku lebih indah dan cantik," kata Michelle mengibaskan rambutnya.
Kalau berbicara, jangan mengibaskan rambutmu! Itu membuatku jijik!
"Ehem, bisakah Tuan Putri Michelle tidak mengibaskan rambut? Aku rasa nanti rambut indahmu berdebu," jawab Serlia menyindir Michelle.
"Berdebu? Tidak, rambutku adalah rambut yang paling terindah dan tidak pernah di tempeli debu," kata Michelle berusaha menenangkan emosi.
Dasar Serlia, setiap kali ada Michelle dan Eliza, kau tidak pernah berhenti mencari masalah.
"Benarkah? Kalau begitu, bisakah aku tambahkan sedikit debu pada rambut indahmu ini?" tanya Serlia sengaja.
"A …. apa katamu?! Sedikit debu?! Tidak, jangan lakukan itu!" jawab Michelle dengan cepat menolaknya.
Apa bagusnya rambutmu? Mau ada debu atau tidak, semuanya tetap jelek di mataku.
Lakukan saja, Serlia.
"Jangan? Maaf, katanya rambutmu ini tahan terhadap debu, tapi kau sama sekali tidak suka?" tanya Serlia sengaja.
"Ehm, kapan aku berkata begitu?" tanya Michelle sengaja memalingkan wajahnya.
Pusing, aku tidak mampu berdebat dengan mereka berdua.
Tunggu, Eliza?! Untuk apa kau menarik tanganku seperti ini?! Kita semua sedang berada di dalam kereta kuda!
Kurang ajar katamu?! Justru Penyihir pribadimu itu yang sama sekali tidak bisa menjaga tata krama di depan kami berdua!
Kalian berdua sama saja! Tidak bisakah kalian melihat orang lain bahagia walaupun hanya sedikit?
"Lepaskan! Memangnya siapa yang paling tidak sopan antara Serlia dan Penyihir sialanmu ini?!" jawabku dengan kasar.
Benar benar mengesalkan!
Plak!
Satu tamparan dari Eliza mendarat ke pipiku. Sungguh tidak tahu diri!
"Hahaha, tidak seharusnya Putri Kerajaan terbuang membentakku seperti itu," kata Eliza tertawa licik.
Terbuang katamu?! Anak Tiri sepertimu yang seharusnya menjadi anak terbuang!
Ingatlah kesalahanmu yang benar benar tidak bisa di kumaafkan lagi!
Kau telah membunuh Ayah dan Ibu, lalu mengancam Kak William, mengambil alih sebagai Putri pertama di Kerajaan Arshleyer tanpa tahu identitas aslimu.
Dan yang lebih parahnya lagi adalah, kau bahkan akan menyuruh Samson untuk membunuhku ketika usiaku sudah menginjak 15 tahun!
"Katakan sekali lagi agar aku dapat mendengarmu dengan jelas," kataku kesal.
"Kau adalah Putri Kerajaan yang terbuang," jawab Eliza tersenyum licik membisikku.
Plak!
Plak!
Plak!
3× tamparan dariku mendarat ke pipi Eliza. Maaf kalau aku curang, itu semua karenamu yang tidak bisa menjaga mulut.
"Katakan sekali lagi, maka tamparannya akan bertambah 2× lipat," kataku tersenyum licik.
Serlia terkejut melihat aksiku yang menampar Eliza tadi, begitu juga dengan Michelle.
"Cath, kau luar biasa! Inilah sifatmu yang kuinginkan," kata Serlia kagum padaku.
"Kau tidak apa apa, Eliza? Kalian berdua, aku tidak akan memaafkanmu karena sudah menyakiti Eliza!" kata Michelle marah.
Silahkan lakukan apa saja sesuka hatimu, karena aku tidak akan peduli.
"Ingin melukai Catherine? Mungkin kau masih terlalu lemah untuk melakukannya," ledek Serlia.
Kurasa, daritadi Kak Carl hanya tertidur. Apakah Kakak mencoba untuk tidak menyimak?
Sudahlah, selama kereta kuda masih berjalan, aku lanjutkan perdebatan antara persaingan kami.
"Beraninya kau meledekku seperti ini! Tunggu saja di ruang Penyihir nanti!" jawab Michelle bertambah kesal.
"Ruang Penyihir? Kedengarannya tampak bagus," kata Serlia tersenyum licik.
"Kau ….!" jawab Michelle seketika ucapannya terhenti karena mulutnya di tutup oleh Eliza.
"Diam! Kau tidak boleh banyak bicara!" bentak Eliza menutup mulut Michelle.
Bisakah kita lanjutkan perdebatan ini sebelum sampai ke Istana untuk menyambut Kak William?
"Eliza, seharusnya kau tidak perlu menutup mulut Michelle, karena ia sama sekali belum membersihkan mulutnya," ledek Serlia sengaja menatap ke arah Michelle.
"Sembarangan! Michelle adalah orang yang paling bersih di Istana Arshleyer!" bantah Eliza merasa tidak terima.
"Oh, paling bersih ya? Masuk akal sekali kalau ada kotoran yang menempel di giginya," kata Serlia sekali lagi.
"Kotoran? Menempel di gigi? Benarkah?" tanya Eliza menatap ke arah Michelle.
Rasakan ledekan dari Serlia, Michelle! Hahahahaha, aku sangat puas mendengarnya!
Michelle hanya menggelengkan kepalanya dengan mulutnya yang tertutup oleh tangan Eliza.
Bagaimana tidak? Gigimu memang tidak bersih karena kau terus membersihkannya secara rutin.
Maaf kalau aku yang mengotori gigi busukmu itu, Michelle bodoh!
"Kalau tidak percaya, cobalah untuk periksa mulut kotornya itu," kataku sengaja meyakinkan Eliza.
.
.
.
[Bersambung]
~Obrolan Author:
Halo semuanya, ini Silvia(Silvi). Maaf kalau akhir akhir ini jarang update, di karenakan ada masalah dalam proses reviewnya.
Seperti biasanya, Author akan update 2× dengan jadwal update setiap hari.
See you all ….