
Saphira/Catherine POV
Di mana ini? Tempat yang putih dan kosong.
Apakah aku di alam bawah sadarku sendiri? Mungkinkah aku mati? Tidak, aku tidak mau mati dulu!
Bagaimana caranya keluar? Tempat yang tidak kukenal ini terlihat asing.
Seingatku, tadi aku di tembak dengan anak panah lalu pingsan. Jangan lupa, aku juga berbicara aneh sejak tadi.
Serlia memanggilku Yang Mulia, tapi aku tidak tahu siapa diriku.
Aneh ….
Tiba tiba saja, muncul seorang perempuan di depanku yang sangat mirip dengan Eliza.
Senyuman liciknya terlihat dari jauh, membuatku ingin mencabiknya!
"Catherine, akhirnya kita bertemu di sini. Aku mencarimu ke mana mana," kata Eliza tersenyum licik.
"Eliza?! Bagaimana kau bisa ada di sini?!" tanyaku bingung.
"Pertanyaan yang lucu! Aku sudah tahu semuanya! Raja Arsula adalah Ayahku dan Ratu Arlia adalah Ibuku!"
"Kau menipuku dan membuatku malu menerima posisiku menjadi Putri pertama Arshleyer tanpa rasa bersalah sedikitpun!"
"Sekarang juga, aku akan membunuhmu menggunakan pedangku sendiri!"
"Selamat tinggal, Catherine~"
Suaranya terdengar nyata, bahkan persis seperti suara aslinya yang sedang berteriak! Tidak seperti tadi yang terdengar seperti mimpi.
Tunggu, kau sudah tahu semuanya?! Lalu, kenapa kau mau membunuhku?! Jangan, aku tidak mau mati!
Dengan satu tancapan, Eliza langsung menancapkannya hingga membuatku tersadar.
Argh!!!
Hosh~
Hosh~
Hosh~
Tolong jangan membuatku frustasi begini!
"Catherine, akhirnya kau sadar juga!" kata Serlia dengan penuh rasa kekhawatiran.
Hmm? Serlia? Itu artinya, aku sudah berada di Istana? Lalu, kenapa tubuhku di perban?! Apa yang salah dengan diriku?
"Catty, tadi kau di tembak dengan anak panah beracun milik musuh"
"Untunglah sekarang kau sudah merasa lebih baik," kata Kak Carl juga mengkhawatirkanku.
"Dasar musuh sialan! Berani membuatmu terluka lagi maka kepalanya akan kutebas dan kujadikan pajangan di tiang Kerajaan!" kata Serlia marah soal Pengawal Srylpharuna yang menyerangku.
Sudahlah, aku baik baik saja sekarang. Eh? Perang sudah berakhir? Terus, bagaimana dengan si jala*g kecil Eliza?
"Bukankah perang sudah berakhir? Kenapa Eliza tidak terlihat di sini?" tanyaku heran.
"Ehm, aku mendapat kabar dari Michelle kalau Eliza di culik oleh Raja Arsula," jawab Serlia.
Di culik? Oleh Raja Arsula? Itu artinya, dia akan menguasai Kerajaan Srylpharuna.
Bagaimana dengan Samson? Sangat sulit kalau mengatakan hal tentangnya.
Tak lama kemudian, pintu kamarku terbuka dan masuklah Samson dengan sangat panik.
Brak!
Astaga, apa lagi yang dia inginkan? Jangan bilang dia merindukanku.
"Catherine, apa kau baik baik saja?" tanya Samson khawatir.
"Aku baik baik saja, terima kasih," jawabku tersenyum paksa.
Apa apaan orang ini? Aku tidak suka di tanya oleh orang macam dirimu meskipun kau adalah Pangeran tertampan selain Kak Carl.
Yah, bagiku lebih tampan Kak William di Istana ini.
"Tidak mungkin Catherine baik baik saja setelah terkena racun," kata Serlia sengaja.
Hei! Kau keterlaluan, Serlia! Jelas aku ini baik baik saja!
"Racun katamu? Tidak bisa di biarkan! Aku harus mengobatinya," jawab Samson bertambah panik.
Semakin besar masalahnya karenamu.
"Tenanglah, Catty, Samson bukanlah orang jahat," kata Kak Carl menggenggam kedua telapak tanganku.
Maaf kalau aku benci mengakuinya, Kakak.
Melihat tangan Kak Carl yang menggenggam kedua telapak tanganku, entah kenapa tangannya di tepis oleh Samson secara sengaja.
"Bisakah kau menjauhkan tanganmu dari Catherine, Carl?" tanya Samson datar.
Apa yang salah dengan pikiranmu? Kak Carl sudah memiliki gadis yang di sukainya, jadi kau tidak perlu melarangnya.
"Kau gila ya? Catherine adalah Adikku," jawabnya melawan.
"Meskipun Kakak beradik, tapi lawan jenis," kata Samson tidak ingin kalah.
"Maksudmu, kau mengejekku?" tanya Kak Carl sedikit kesal.
"Tentu saja, laki laki manapun tidak boleh menyentuh Catherine selain aku, termasuk Kakak laki lakinya," jawab Samson tersenyum percaya diri.
Kau pikir aku menyukaimu? Mimpi saja! Ternyata kebodohanmu bisa melebihi langit.
"Ayolah, apa sejari pun aku tidak boleh menyentuh Adik kesayanganku?" tanya Kak Carl sengaja memancing Samson.
"Sudah kubilang tadi kalau laki laki manapun tidak boleh menyentuh Catherine. Mau sejari atau sehelai batang rambut pun aku tidak mengizinkannya," jawab Samson sedikit emosi.
Perdebatan yang mengundang keramaian. Aku pusing mendengarnya.
"Kau tidak berhak melawan Pangeran sepertiku," kata Kak Carl terus melawan.
"Aku berhak karena aku juga Pangeran," jawab Samson.
Dan pada akhirnya, semua di akhiri dengan tatapan bermusuhan. Bagiku, memang biasa kalau Kakak laki laki mau menyentuh Adik perempuannya.
Samson, kau orang aneh!
"Sudah, jangan bertengkar lagi! Kepalaku pusing mendengarnya!" kataku menghentikan mereka.
Dengan cepat, Samson menggenggam tanganku seperti Kak Carl tadi.
"Cath, apa kau mendengarku?" tanya Samson lembut.
"Tentu saja aku mendengarnya dan jangan pernah melarang Kakakku," jawabku sedikit kasar.
"Apa kau dengar? Jangan melarangku," kata Kak Carl mengejek Samson.
Bagus sekali, kuharap kau tenang dengan ejekan Kak Carl yang terdengar menusuk itu.
"Cih! Bisanya hanya mengejek saja," jawab Samson kesal.
Dan lagi lagi, entah apa yang membuat Samson menemaniku di kamar.
"Cath, biarkan aku menemanimu sampai kau sembuh, apa kau mau?" tanya Samson.
Tolong aku~
Brak!
Pintu terbuka lagi dengan kedatangan Alexander. Aneh, kenapa Michelle tidak ikut? Biasanya, dia bersama Alexander.
"Katanya Catherine sedang sakit, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Alexander panik.
"Aku baik baik saja," jawabku to the point.
Masalah semakin rumit, aku tidur saja!
Kukembali tidur dan memejamkan mataku dengan rapat. Melihatku yang sudah memejamkan mata, Kak Carl, Serlia, dan Alexander pergi meninggalkan kamarku, terkecuali Samson.
Baru beberapa menit saja Alexander sudah pergi meninggalkan kamarku. Sedangkan Samson, dia hanya menjagaku tanpa sedikit keluhan pun.
Kubuka mataku sedikit dan melihat kepala Samson yang berbaring di kasurku, bukan artinya aku tidur dengannya.
Sungguh? Dia rela menjagaku semalaman tanpa pulang ke Istana Arlensix? Alur novelnya benar benar berubah.
Tapi, maaf kalau aku tidak bisa menerimanya karena masih teringat dengan alur terakhir dari novel Catherine, I Hate You!
"Apakah Samson benar benar berubah? Aku tidak percaya sama sekali. Akan kuikuti permainanmu dan lihat seberapa tulusnya dirimu padaku," lirihku pelan dan memejamkan mataku berlahan lahan.
Keesokan harinya ….
Lukaku sudah agak membaik, tapi masih di perban meskipun aku memakai gaun merahku.
Tenang saja, kata tabib sebentar lagi lukanya akan sembuh dalam 5 hari.
Suasana Istana sedikit sepi ya. Eliza menghilang sejak kemarin dan Michelle kabur dari Istana karena ketidaknyamanannya.
Sekarang, hanya tersisa Aku, Kak William, Kak Carl, dan Serlia saja yang tinggal di Istana Arshleyer. Tanpa adanya Eliza, bagaimana aku harus menghilangkan stress?
Terlebih lagi, tunangannya malah menemaniku semalaman di dalam kamarku!
Menyebalkan!
.
.
.
[Bersambung]
Kisah cinta Saphira/Catherine bersama Samson telah di mulai ….