The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 7



"Tenang saja, tidak perlu takut padaku. Namaku adalah Vern, sihir liar yang tahu segalanya," jawab Makhluk itu padaku.


Vern? Nama macam apa itu? Di novel, tidak ada sihir yang bernama Vern.


Tapi, kenapa sihir itu terus saja melihatku seperti ia melihat penjahat? Apakah aku akan memakanmu?! Pemikiranmu gila juga!


"Siapa namamu?" tanya Vern to the point.


"Catherine Alveria De Arshleyer," jawabku hanya memberitahu nama.


Sekali lagi, Vern menatapku seolah olah ia tidak percaya padaku.


"Kutanya sekali lagi, siapa namamu?" tanya Vern padaku lagi.


"Jelas jelas sudah kukatakan padamu!" jawabku kesal pada Vern.


Mulai lagi, Vern pasti tidak percaya padaku. Apakah harus kukatakan identitas asliku?


"Baiklah, akan kuberitahu. Namaku adalah Saphira Kanaya yang bereinkarnasi menjadi Catherine," kataku memberitahu namaku yang sebenarnya.


Ahh! Betapa bodohnya diriku mengatakan identitasku! Kuharap bahwa ia bisa menjaga rahasia.


"Saphira ya, baiklah, akan kujaga rahasiamu. Apa tujuanmu untuk masuk ke sekolah ini?" tanya Vern menatapku dengan serius.


Astaga, tatapanmu itu sudah seperti melihat musuh saja. Apa kau pikir aku akan berbohong padamu? Asalkan kau bisa menjaga rahasia, maka aku akan jujur padamu.


"Tujuanku adalah membalaskan dendam Catherine dengan menghancurkan Eliza yang telah lama menindasnya!" jawabku dengan tegas.


Vern hanya mengangguk biasa mendengar perkataanku.


Meskipun ia adalah sihir liar, kenapa aku dapat berkomunikasi dengannya?


"Vern? Kenapa aku bisa berbicara denganmu? Bukankah kau adalah sihir liar?" tanyaku bingung.


Vern tertawa mendengar apa yang kubicarakan. Kau pikir semua ini lucu?! Hei, aku ini sedang serius!


"Tentu saja kau bisa berbicara denganku, karena kau adalah keluarga Arshleyer. William dan Carl juga bisa berbicara denganku, terkecuali Eliza," jawab Vern tertawa kecil.


Hah? Kak William dan Kak Carl bisa berbicara dengan Vern? Kenapa Eliza tidak bisa?


Oh, aku baru ingat kalau Eliza adalah Kakak Tiri Catherine, jadi wajar saja Eliza tidak bisa berbicara dengan Vern.


Tunggu sebentar, itu artinya Ayah dan Ibu juga bisa berbicara dengan Vern!


"Sebenarnya kau ini Makhluk apa?! Kenapa kau bisa tahu tentangku?!" tanyaku dengan kasar.


"Aku adalah sihir liar yang tahu segalanya, Vern! Untuk apa kau juga mencurigaiku?!" jawab Vern hampir saja berteriak.


Apa kau gila?! Berbicara saja sudah hampir berteriak.


Bisa gawat kalau ketahuan Para murid yang masih berada di sini!


Sttt!


"Tolong jangan bicara keras keras! Aku tidak mau ada orang yang mendengarnya!" bisikku menyuruh Vern untuk berbicara pelan.


"Baik, baik, aku akan menurutimu," jawab Vern.


"Sekarang aku minta padamu, tunjukkanlah wujud aslimu," kataku tidak yakin dengan Vern.


Memangnya kenapa? Karena, sifat yang di miliki oleh Vern itu seperti sifat orang yang kukenal.


"Sudah kukatakan bahwa inilah wujud asliku," jawab Vern.


"Aku tidak percaya!" kataku dengan tatapan tajam.


"Kalau kau tidak mau, aku akan terus memaksamu!" lanjutku menyuruh Vern.


Yah, begitulah, aku ingin Vern mengatakan yang sebenarnya.


Tiba tiba, di depanku ada cahaya kuning yang menyilaukan mataku. Cahaya itu berlahan lahan berubah wujud menjadi sesosok gadis cantik yang usianya tampak seperti 15 tahun.


Aku melihat rambut kuning yang berkilauan, mata hijau yang tampak seperti kristal Emerald. Gadis itu seperti ….


"Ka …. ka …. kau adalah ….," kataku menghentikan perkataanku sebentar karena orang yang kulihat di mataku adalah ….


"Kau sudah melihatnya, kan? Aku adalah Catherine, orang lemah yang telah kehilangan jiwanya sendiri," jawabnya dengan suara lembut.


Sudah kuduga, Vern adalah Catherine yang aku kenal. Kenapa?! Kenapa kau harus mati dan memberikan tubuhmu padaku?!


"Catherine, sebenarnya apa tujuanmu menyamar menjadi Vern? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dari William dan Carl?! Bahkan, Raja dan Ratu juga! Kenapa harus aku yang menggantikanmu?!" kataku yang hampir saja menangis.


Setetes demi setetes, air mataku keluar dengan sendirinya tanpa kusadari.


Melihatku yang seperti ini, Catherine langsung memelukku selembut mungkin.


Entah kenapa, suasana hatiku begitu tenang saat di peluk oleh Catherine meskipun ia tidak memiliki tubuh fisik.


"Sudahlah, jangan menangis seperti ini. Kau tahu, ini adalah keputusan takdir," jawab Catherine sambil memelukku.


"Jangan pernah sia siakan kehidupanmu yang sudah tenang seperti ini. Seharusnya kau bersyukur masih bisa hidup di tubuhku, daripada kau mati dengan sia sia seperti diriku ini," lanjutnya masih memelukku.


Aku masih saja menangis di pelukan Catherine. Rasanya begitu hangat bagaikan Matahari.


Tak dapat di bayangkan ternyata hidupku di dunia novel sebagai Catherine penuh dengan kasih sayang dari orang tua daripada di kehidupanku yang sebelumnya.


"Apakah aku memang pantas menerima semuanya?!" tanyaku masih saja menangis.


"Tentu saja kau pantas, tapi kuingin meminta dua hal padamu," jawab Catherine dan juga ingin meminta padaku.


"Meminta? Dua hal? Apa yang kau inginkan?" tanyaku bingung sambil mengusap air mataku.


Catherine mulai melepaskanku dari pelukannya dan mengatakan apa yang ia inginkan.


"Balaskan dendamku, itu yang kuminta," jawab Catherine to the point.


Balaskan dendammu? Aku sekarang sedang ingin melakukannya.


"Aku sedang menjalankan tugasku untuk membalaskan dendammu. Yang kuketahui selama ini adalah Eliza bukanlah Kakak Kandungmu, melainkan Kakak Tirimu," kataku menjelaskannya.


"Eliza adalah Kakak Tiriku?! Siapa yang bilang padamu?" tanya Catherine tidak tahu dengan terkejut.


"Carl yang memberitahuku. Ia menceritakan semua itu sejak aku dan William berada di perpustakaan," jawabku dengan biasa saja.


Aneh, bagaimana Catherine bisa tidak tahu? Apakah selama ini Kak Carl selalu menyembunyikannya?


"Memangnya Carl tidak pernah memberitahumu tentang semua itu?" tanyaku penasaran.


Catherine mulai memasang wajah sedihnya setelah mendengar pertanyaanku.


Benar juga, di novel menceritakan bahwa Kak Carl tidak pernah memberitahu semuanya pada Catherine.


"Catherine, aku mengerti perasaanmu. Kak Carl memang tidak pernah memberitahu semuanya padamu, bukan?" gumamku dengan raut wajah yang sedih.


"Memang benar, Kakak tidak pernah memberitahuku. Sepertinya, Kakak takut kalau nantinya aku tak dapat menerima kenyataan," jawab Catherine dengan suara yang kecil.


Menurutku, Kak Carl tidak pernah memberitahumu karena tidak ingin melihat kau tertekan.


Kak Carl juga selalu tahu selama ini kau terus di siksa oleh Eliza. Jika kau tahu kebenarannya, maka nantinya kau akan membunuh Eliza.


Semua itu terpaksa di rahasiakan oleh Kak Carl, karena Ratu pernah membunuh Ibu Kandung Eliza, yaitu Nona Arlia.


"Yah, sepertinya begitu. Kebenaran yang sesungguhnya adalah Eliza itu anak dari seorang wanita bernama Arlia," kataku membongkar kebenarannya.


Sebaiknya kubongkar saja! Daripada harus merahasiakannya pada Catherine, aku takut ia akan sedih dan terus menyayangi Eliza yang tidak berguna padanya.


"Arlia?! I …. i …. itu artinya, Eliza berasal dari Kerajaan Srylpharuna?!" tanya Catherine terkejut mengetahui kebenarannya.


"Kerajaan Srylpharuna?! Kerajaan macam apa itu?!" jawabku yang juga terkejut.


Wajar saja aku terkejut, karena di novel, nama Kerajaan itu tidak tertulis sama sekali!


.


.


.


[Bersambung]


~Keterangan:


Halo semua, Author mau kasih tahu sama kalian semua alasan kenapa Saphira suka berganti panggilan, seperti ia memanggil Carl dengan sebutan "Kak Carl"


Soalnya, Saphira sendiri juga kagum pada kedua Kakak dari sang pemilik tubuh, yaitu Catherine.


Jadi, jangan heran ya sama alur dan ceritanya.


Oh iya, satu ucapan lagi yang ingin Author ucapkan.


SELAMAT HARI HALLOWEEN SEMUANYA🎃🎃🎃