
Brak!
Terdengar suara Eliza yang menggebrek meja ruang tamu. Huh, pasti beralasan untuk tidak ikut denganku, bukan?
"Berburu beruang? Ayah, ini tidak main main, kan? Aku tidak mau ikut dengan orang lemah seperti Catherine!" bentak Eliza dengan kasar.
Mulai lagi, kau selalu saja membentak Ayah! Seharusnya dari awal kau sudah sadar bahwa kau adalah anak Tiri di keluarga Arshleyer.
Sayangnya, aku sudah tahu kalau kau bukan anak Kandung di keluarga Arshleyer. Rahasia ini akan tetap kututup rapat hingga pada waktunya tiba.
Dan kau bilang apa tadi? Aku lemah? Kita lihat saja kemampuan memanah siapa yang paling terbaik sejagat raya!
"Ayolah, Kak, ini adalah keinginanku untuk menjadi kuat," kataku mendekatkan wajahku pada Eliza.
"Cih, ingin menjadi kuat? Mimpi saja!" jawab Eliza kasar.
Mimpi kepalamu! Kau jauh lebih lemah daripada diriku!
Sepertinya, Kak Carl sudah setuju dengan keputusan Ayah.
Hah~
"Baiklah, aku mengizinkanmu untuk pergi. Tapi, berjanjilah untuk kembali ke Istana dengan keadaan selamat," kata Kak Carl menghela nafasnya.
Bagus! Rencana akan berjalan sempurna!
"Terima kasih, Kakak. Aku berjanji kalau aku akan kembali dengan selamat," jawabku tanpa sadar berjalan ke arah Kak Carl dan mengecup pipinya sekilas.
Astaga, akhir akhir ini tingkah laku ku semakin aneh saja.
Melihatku tadi, Kak William iri dengan Kak Carl dan Eliza yang juga iri denganku.
Ada ada saja kalian ini. Sudahlah, aku harus mengajak Eliza secepat mungkin!
"Ayo, Kak, ikut denganku," kataku berusaha mengajak Eliza.
Karena aku menggerakkan tangannya, Eliza pusing melihat tingkahku dan memutuskan untuk ikut.
"Ih! Baik, aku akan ikut denganmu!" jawab Eliza kesal denganku.
Beberapa menit kemudian ….
Kami sudah pergi menuju ke hutan dengan membawa busur dan beberapa anak panah.
Eliza yang tadinya memakai gaun merah, kini berganti pakaian khusus pemanah.
Kelihatannya, dirimu tetap saja jelek dengan pakaian apapun.
Untung saja panah milikmu sudah kuberi racun dengan campuran air liur kadal jamur merah.
Cara mendapatkannya memang sulit, tapi kadal itu terus saja meludahi tanganku, makanya aku memasukkan air liurnya ke dalam toples kecil.
Anehnya, air liur kadal itu berwarna biru, sama sekali tidak menjijikkan, seperti glitter.
"Kuharap, racun itu akan bekerja saat ia menembakkan panahnya. Dengan begitu, aku dapat membalikkan serangannya," gumamku tersenyum licik.
Kami berdua menunggang kuda untuk pergi ke hutan. Daritadi, Eliza sangat kesal karena di ajak memanah olehku.
Silahkan marah padaku bagaimanapun, aku tidak peduli dengan ucapanmu.
"Ini semua karena kau yang mengajakku tadi! Aku sangat tidak suka memakai baju pelatihan jelek ini!" kata Eliza kesal.
Hanya masalah baju saja sampai ingin menyalahkanku! Lebay banget sih!
Rasanya aku bisa pingsan jika terus menerus mendengar keluhanmu.
"Sabar dulu, Kak, lagipula kita berdua hanya latihan," jawabku berpura pura manis.
Tetaplah pertahankan aktingmu, Saphira.
Selama bertahun tahun, aku sengaja berakting terus di depan keluargaku, apalagi Eliza.
Ini semua demi membalaskan dendam Catherine. Pokoknya, aku harus bisa terbebas dari dunia novel ini.
Ehm, kurasa Eliza mulai berdiam diri. Ia hanya memandang ke depan dan fokus ke arah pohon pohon yang di penuhi dengan tanda merah.
Tunggu, tanda merah?! Itu artinya, kita sudah sampai di hutan?! Sialan kau, Eliza! Bisa bisanya kau tidak memberitahuku!
"Kita berpisah saja, aku akan memburu beruang," kataku memisahkan jarakku dengan Eliza.
"Pergi saja, jangan menggangguku," jawabnya sambil mengerutkan alisnya.
Terlalu kasar, memang pantas kutinggalkan.
Kini , aku sudah berpisah jalan dengan Eliza. Kami berpencar sesuai rencana yang kubuat. Aku berburu beruang dan dia latihan memanah dengan kuda hitamnya.
Rencana di mulai ….!
Aku sudah sampai di gua beruang dekat sungai Hersia. Di sana, aku masuk ke dalam gua dan melihat ada seekor beruang besar yang sedang tidur.
Kalau di lihat baik baik, ini bukanlah beruang biasa.
Berbeda denganku yang memiliki sihir sebesar 45%. Hu~, tolong tingkatkanlah sihir milikku ini ….
Sttt!
"Beruang ini sangatlah berbahaya, sebaiknya aku diam," lirihku melangkah ke tempat beruang itu dengan pelan.
Sring!
Itu dia! Eliza hampir menembakkan panahnya ke tanda merah. Akan kubalikkan serangannya.
"Reverse," ucapku.
Di sisi lain, panah yang di tembak oleh Eliza tiba tiba berbalik ke arahnya sendiri dan menusuk ke bagian paru parunya.
Satu panah beracun telah menembus tubuh Eliza, sehingga menyebabkan Eliza kehabisan tenaga.
"I …. i …. ini …. u …. ulah …. si …. siapa ….?" tanya Eliza dengan anak panah yang menusuk ke dadanya dan pingsan terjatuh dari kuda yang di tungganginya.
Kuda Eliza tiba tiba mengamuk dan berlari pergi meninggalkannya sendiri.
Sementara itu ….
"Rasakan pembalasannya! Sekarang, kita impas!" kataku dari jauh.
Tadinya, aku memang dapat merasakan saat Eliza hampir menembakkan panahnya.
Entah ada sihir apa yang datang padaku sehingga membuatku dapat merasakan keadaan dari jarak jauh sekalipun.
Kembali pada cerita, aku sudah berada tepat di dekat beruang itu.
Tampaknya, beruang itu tidur dengan nyenyak, tubuhnya bahkan lebih besar daripada raksasa.
Apakah beruang ini kuburu saja? Memang sangat beruntung saat memburu beruang sebesar ini.
Dengan membawa pulang beruang besar ini, semua keluargaku pasti akan terkejut melihatku.
Hehe, menjadi Putri di dalam novel dengan jiwa yang berbeda memang sangat menyenangkan.
"Sudahlah, kuburu saja beruang ini! Lagipula, apa untungnya jika aku menjinakkannya?" lirihku sambil menggosok kedua telapak tanganku.
Kuambil busur dan anak panahku dan kutembakkan ke kepala beruang itu.
Tiba tiba ….
Groar!!!
Auman beruang itu sangat besar, seperti auman singa.
Untuk apa aku takut? Hanya beruang saja kan?
"Wahai Leopard Bear, izinkan aku memburumu!" teriakku mengarahkan pandanganku pada beruangnya.
Groar!!!
Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.
Kutembak lagi anak panahku ke arah beruang itu sehingga menyebabkannya terus mengamuk.
Groar!!!
Bahaya sekali, bahkan beberapa anak panah saja tidak cukup untuk melawannya.
"Kau kuat sekali, Leopard Bear! Tapi aku tidak akan menyerah!" teriakku dengan bersemangat.
Dengan kasar, aku membuang panahku ke sembarangan arah dan naik ke punggung beruang itu.
Lalu, kucekik leher beruangnya sekuat tenaga sehingga membuatnya mati dengan cepat.
Fiuh, aksi yang sangat melelahkan.
"Untung saja kau sudah mati karena tenagaku, kalau tidak maka harga diriku sebagai Putri akan di rendahkan oleh Eliza sialan itu!" teriakku dengan angkuh.
Angkuh? Tidak, aku tidak mungkin bersifat seperti itu. Aku hanya tidak mau di remehkan oleh Eliza dan mencoba membuktikan kalau aku adalah yang terkuat.
Ngomong ngomong, aku sudah menjalankan rencanaku. Tinggal kubawa Eliza pulang ke Istana dan beruang itu kusuruh Para Prajurit untuk membawanya.
Hehe, rencana kedua berhasil!
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Sungai Hersia dan Leopard Bear hanyalah hasil imajinasi dari Author, hehe.