The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 92



"Yang kau katakan itu benar. Veronica hampir kehabisan darah karena terlalu lama berenang bersamaku saat berada di danau angsa," jawab Kak Carl serius.


"Hmm, apa kau tidak tahu maksudnya apa jika bangsa Iblis memberikan darahnya pada manusia? Terutama laki laki yang berasal dari ras Iblis memberikan darahnya pada perempuan ras manusia," jelas Serlia menatap Kak Carl.


Mendengar apa yang di katakan oleh Serlia, wajah Kak Carl berubah menjadi merah karena ia tahu maksudnya.


"Ehm, aku baru sadar kalau itu terjadi begitu cepat. Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal terlarang itu padanya," jawab Kak Carl tegas.


Sebenarnya apa yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengerti.


"Apa yang kalian katakan? Aku sama sekali tidak mengerti," kataku menatap ke arah Kak Carl dan Serlia.


"Catty, ini adalah sebuah rahasia yang tidak harus kau ketahui, kira kira berhubungan dengan kata cinta," jawab Kak Carl tidak mau memberitahuku.


"Kau tenang saja, Cath, aku akan memberitahumu setelah selesai makan nanti," kata Serlia tersenyum menatapku.


"Baiklah, kutunggu jawaban darimu," jawabku tersenyum girang.


"Hei! ini bersifat rahasia!" kata Kak Carl masih terlihat malu.


Hehe, aku harus tahu rahasiamu, Kakak~


...


Setelah selesai makan ….


Aku dan Serlia berada di ruang Penyihir untuk membahas tentang hal tadi.


Aneh, bukankah seorang laki laki memberikan darahnya pada perempuan adalah hal yang wajar? Kenapa Kak Carl merasa malu setelah mengetahuinya?


Apa artinya?


"Serlia, memangnya apa artinya jika seorang laki laki memberikan darahnya kepada seorang perempuan?" tanyaku bingung.


"Menurut hukum bagi bangsa Dristiria, seorang laki laki yang berdarah Iblis memberikan darahnya kepada seorang perempuan berdarah manusia biasa, itu di sebut dengan menikah secara tak langsung"


"Hubungan mereka berdua akan terikat begitu erat karena efek darah manusia dan darah Iblis yang telah tercampur"


"Bisa di bilang kalau Carl terikat pernikahan dengan Veronica, tetapi secara tidak langsung," jelas Serlia panjang lebar.


Tunggu, arti konyol macam apa ini?! Kenapa Kak Carl baru sadar akan hal itu?!


Parah, ternyata memiliki arti yang sangat rumit meskipun terlihat wajar.


"Yah, aku sekarang mengerti karena aku sudah melihat Kak Carl memberikan darahnya pada Veronica"


"Veronica telah meminum darah Kak Carl dengan kondisi tidak sadar. Apakah itu di sebut dengan darah yang tercampur?" tanyaku bingung.


"Apa katamu? Veronica minum darah Carl dengan kondisi tidak sadarkan diri?"


"Seperti yang pernah kuketahui selama bertahun tahun. Jika seorang perempuan ras manusia telah meminum darah seorang laki laki ras Iblis, itu artinya Veronica sudah resmi menjadi Istri Carl"


"Terdengar sangat konyol di telingamu, bukan? Tapi, ini adalah suatu tradisi yang telah di buat oleh Ibuku"


"Jadi, secara tak langsung, hubungan Suami Istri telah terikat pada Carl dan Veronica," jawab Serlia panjang lebar.


Astaga, aku baru tahu kalau Dristiria semengerikan itu. Kak Carl sudah menikah dengan Veronica secara tak langsung.


Itu artinya, Kak Carl sudah melakukan yang seharusnya bersama Veronica~


Tunggu, aku baru ingat kalau Veronica harus melanjutkan masa sekolahnya.


Sudahlah, untuk apa aku banyak berpikir? Sebaiknya aku pergi ke kamar dulu dan tidur.


"Terima kasih telah menjelaskan semuanya padaku," kataku.


.


.


.


Keesokan harinya ….


Tang!


Aku sedang latihan berpedang bersama Serlia di halaman belakang Istana.


Tang!


Rasanya pedang ini sudah agak berat setelah terakhir kalinya aku menggunakan pedang untuk latihan bersama Kak William.


Sungguh, aku sudah tidak terbiasa memegang pedang seperti dulu.


Pedang ini, terasa sedikit berat ….!


Tang!


"Haha, kemampuanmu menurun, Cath!" kata Serlia mengayunkan pedangnya.


Tang!


"Pedang ini sedikit berat bagiku, tapi aku tidak berpikir kalau kemampuanku memang menurun!" jawabku melakukan hal yang sama dengan Serlia.


Tang!


"Haha, terserah kau saja ingin mengatakan apa!" jawabku tersenyum licik juga.


Tang!


Sring!


Pedangku berhasil di singkirkan oleh Serlia sehingga melayang ke sembarangan arah.


Yah, kau menang, Serlia sialan.


"Sudahlah, mari kita beristirahat," kata Serlia membuang pedangnya ke sembarang arah dan mengajakku beristirahat di balik pohon.


Mau tidak mau, kuturuti saja permintaannya dan beristirahat.


Hah~


Kubersandar di pohon itu sambil merenungkan sesuatu yang tidak kuketahui sama sekali.


Yang membuatku semakin pusing adalah, kenapa aku tidak bisa melupakan bayangan Samson?!


Semuanya berada di dalam otakku sendiri dan dia terus saja menghantui pikiranku.


Samson, sejak kapan aku jadi sering memikirkannya?


"Serlia, menurutmu, apa yang menyebabkan kita suka pada seorang laki laki?" tanyaku penasaran.


"Kenapa kau menanyakan hal konyol itu padaku?" tanya Serlia terkejut.


Bagaimana aku menjelaskannya? Ini terlalu memalukan.


Sudahlah, akan kuberitahu!


"Akhir akhir ini, aku merasa aneh pada diriku sendiri karena kemunculan bayangan Samson di pikiranku"


"Awalnya, aku tidak mengerti dengan apa yang di katakan olehnya, terus jantungku akan berdegup kencang ketika aku mendekatinya"


"Terlebih lagi, orang yang di sukainya adalah aku. Apa itu maksudnya?" jelasku pada Serlia.


Apakah penjelasanku tidak dapat di mengerti?


"Itu artinya, kau sudah mulai menyukainya, tapi belum waktunya kau mengatakan perasaanmu padanya," jawab Serlia berterus terang.


Apa katamu?! Aku menyukainya?! Bagaimana hal ini bisa terjadi?


Anehnya, hatiku tidak mau mengakuinya.


Huh~


"Apa menurutmu Samson benar benar menyukaiku?" tanyaku menatap Serlia.


"Kurasa begitu," jawab Serlia singkat.


Yang selalu kudapatkan saat bertanya adalah jawaban yang singkat, sungguh menyedihkan.


Tiba tiba ….


"Catherine, Serlia, sedang apa kalian berdua duduk di bawah pohon apel?" tanya seseorang yang ternyata adalah Michelle.


Eliza lagi, Eliza lagi! Aku sangat tidak suka melihat orang berwajah gajah ini!


Menyebalkan!


"Kami baru selesai latihan berpedang, kenapa kalian berdua datang tanpa memberitahu kami berdua terlebih dulu?" jawab Serlia bersikap layaknya Putri yang sopan.


"Ini adalah keinginanku mengajak Michelle datang ke sini. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Catherine," kata Eliza biasa saja.


Bersikap layaknya seorang Putri yang tidak bersalah, aktingmu lumayan keren juga.


Kau harus tahu kalau aku tidak percaya dengan kata maafmu. Pasti kalian berdua memiliki rencana licik lainnya untuk menipu kami berdua Serlia.


Sayangnya, kami berdua tidaklah mudah untuk di tipu oleh orang lemah seperti kalian berdua.


"Eliza, ada kabar baik apa yang membuatmu menemuiku?" tanyaku ramah.


"Aku ingin mengundangmu ke pesta minum teh besok siang. Hanya kita berdua saja yang ada di Istana, kau mau?" tanya Eliza tersenyum.


Pesta minum teh? Hanya kami berdua? Jangan jangan, Eliza dan Michelle telah merencanakan sesuatu dengan hati hati.


Dengan kepintaran yang di miliki oleh Michelle itulah yang selalu membantumu dalam hal apapun.


"Baiklah, aku akan ke sana besok," jawabku tersenyum.


"Terima kasih telah menerima undanganku. Bisakah sekarang kita semua duduk di kursi? Aku sangat lelah berdiri terus," kata Eliza.


Terlalu banyak alasan dan telah menyusun sebuah taktik rubah. Eliza, kuakui kau benar benar hebat hari ini!


.


.


.


[Bersambung]