The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 105



"Dingin ….," lirihku.


"Catherine, kau baik baik saja?" tanya Eliza yang masih berdiri di dekat air mancur.


Baik baik saja? Kau hampir membunuhku dengan menjatuhkanku ke dalam air mancur ini!


Dingin …., aku jadi tidak bisa berbuat apa apa karena dinginnya air yang menusuk ke dalam kulitku ….!


"Tidak masalah, tolong bantu aku bangun ….," jawabku mengulurkan tanganku ke arah Eliza.


"Ta …. tapi, aku tidak bisa sama sekali …. mataku tidak bisa melihat apapun ….," kata Eliza gemetaran.


Oh, ternyata kau memainkan peran Cinderella ya? Maaf, aku tidak sebaik Cinderella.


Berpura puralah menjadi orang yang tersakiti, Saphira, kau bisa melakukannya!


"Benarkah? Apa kau tega melihatku celaka begini?"


"Hiks, aku sangat kedinginan …., sama sekali tidak merasakan panas sekalipun"


Grrr!


"Kau kejam, Eliza, kau sama sekali tidak berubah …. hiks ….," jawabku berpura pura menangis.


Hehe, kita lihat aksimu, Eliza, apakah kau benar benar berubah atau hanya sekedar sandiwara.


"Maafkan aku yang tidak bisa menolongmu, tapi aku benar benar tidak bisa melihat," kata Eliza tampak gemetaran.


Grrr!


Sialan! Apakah kau akan membiarkanku membeku di sini?! Dasar, kau memang tidak bisa di percaya!


Semakin lama, airnya semakin dingin …., aku tidak bisa menahannya lagi ….!


Tiba tiba ….


Byur!


Tubuhku terangkat secara tiba tiba. Samson?! Sejak kapan kau datang ke sini?!


"Untunglah aku datang tepat waktu sebelum kau membeku di sini," kata Samson keluar dari kolam air mancur sambil menggendongku.


"Sudahlah, aku ingin meminjam jubahku, punyaku sudah basah kuyup dan aku kedinginan ….," jawabku menatap Samson.


"Baiklah, aku akan memberikannya padamu nanti," kata Samson memutar bola matanya dengan malas.


Apakah suasana hatimu sedang tidak baik? Kenapa ekspresi wajahmu terlihat menjengkelkan?


"Samson, untunglah kau datang. Catherine tidak sengaja terjatuh saat ia membantuku jalan," kata Eliza dengan pipinya yang sedikit memerah.


Pencari perhatian, aku sama sekali tidak mengenalmu!


"Maaf, apakah kau yang mendorong Catherine hingga terjatuh seperti ini?" tanya Samson menatap sinis Eliza.


Tatapan menyeramkan macam apa ini?! Bahkan mata biru milikmu saja bisa semengerikan ini?!


Astaga, kau membuatku ketakutan ….


"Tidak, aku sama sekali tidak mendorongnya. Sungguh, aku bahkan tidak menyentuh apapun karena mataku yang tidak bisa melihat," jawab Eliza ketakutan.


"Jangan berbohong padaku," kata Samson to the point.


Menghadapimu bukanlah hal yang mudah, aku jadi ketakutan ketika melihat matamu.


Benar benar menyebalkan!


"Benar, aku sama sekali tidak mendorongnya," jawab Eliza tetap meyakinkannya.


Apakah kau benar benar bisa meyakinkannya? Setahuku, Samson adalah orang yang sangat sulit di bujuk.


Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Seperti yang kalian tahu, Samson akan tenang jika hanya aku yang membujuknya.


Entah apa yang ada di kepalanya sehingga membuatnya ingin menolongku terus menerus.


Apakah benar kalau dia menyukaiku? Tidak, jangan berpikir terlalu berlebihan dulu.


Tapi, bagaimana dengan rencanaku? Apakah tidak ada waktu lagi untuk membalas semuanya?!


Tunggu, kenapa pikiranku berkata lain? Bukankah aku bisa memutarbalikkan faktanya untuk membuat Eliza menangis?


Tidak di sini, bisa bisa dia curiga padaku nantinya.


Sebaiknya kubisikkan semuanya kepada Samson.


Kuarahkan wajahku ke telinganya dan membisikkan sesuatu pada Samson.


"Jangan mempercayainya, dia sudah gila"


"Dia tidak mau mengakui kesalahannya dan berpura pura baik demi mencari perhatianmu"


"Apa kau tahu, dia telah mendorongku ke dalam air mancur yang dingin itu hingga tubuhku hampir membeku," bisikku tersenyum licik.


*Menelan saliva*


Glek~


Tatapanmu hampir seperti punya Kakak dan Serlia, aku jadi tidak ingin memandangmu.


"Menjauhlah, aku tidak mau menyerang orang lemah sepertimu, Eliza," kata Samson dingin.


"Bagaimana caranya aku berjalan? Melihat saja aku sudah tidak bisa," jawab Eliza sedikit gemetaran.


Tak lama kemudian ….


"Catherine, Eliza, apa yang sedang terjadi kepada kalian berdua?!" teriak seseorang dari jauh yang ternyata adalah Kak William dan Samuel yang sedang menghampiri kami.


Kalian datang tepat waktu, aku mau Eliza di singkirkan dari hadapanku karena telah berani membuatku kedinginan begini.


Kak William langsung menghampiriku yang masih di gendong oleh Samson dan terkejut melihat tubuhku yang basah dan dingin.


"Catherine, ada apa dengan tubuhmu? Kenapa semuanya bisa basah kuyup begini?" tanya Kak William.


"Dan, sejak kapan kau di gendong oleh Samson? Apakah kalian berdua sudah menjalin hubungan kekasih?" lanjut Kak William menatap Samson dengan kesal.


Ehm, suasana gila apa lagi ini? Apakah Kak William akan menginjak atau memukul kepala Samson?


"Maaf, tapi Adikmu hampir membeku karena air mancur yang dingin ini," jawab Samson serius.


"Apakah yang di katakan oleh Samson itu benar?" tanya Kak William menatapku.


"Tubuhku sangat dingin, Kak …., tolong berikan sesuatu padaku untuk menghangatkan tubuhku ….," jawabku gemetar karena kedinginan.


Srekk~


"Pakailah punyaku, tapi turunlah dulu dari tangan Samson," kata Kak William melemparkan jubahnya ke wajahku.


Samson menurunkanku dari tangannya dan aku kembali berdiri lagi.


Kupakai jubah milik Kak William karena sudah kedinginan, bahkan kakiku hampir saja membeku.


Grrr!


"Apakah Kakak tidak memiliki kaus kaki?" tanyaku gemetaran.


"Maaf, Kakak tidak membawa kaus kaki untuk di pakai," jawab Kak William memandang ke arah lain.


Bagaimana ini? Hanya Kak Carl saja yang membawa kaus kaki jika musim dingin tiba, sayangnya dia sedang berkencan dengan Veronica.


Sialan, kakiku sangat dingin ….


Sudahlah, tidak perlu memikirkan tentang kaus kaki, yang terpenting adalah jauhkan Eliza dari pandanganku!


"Eliza, bisakah kita pulang?" tanya Samuel mengulurkan tangannya ke arah Eliza.


"Tentu, kebetulan aku sudah mengantuk," jawab Eliza gugup.


"Bolehkah aku tidur di kamarmu juga?" tanya Samuel menatap Eliza.


Tidur di kamar Eliza? Apakah kau mau mengulangi perbuatanmu yang dulu? Astaga, aku pikir kau bisa menahan nafsumu ketika mendekati Eliza, tapi ternyata itu hanya imajinasiku saja.


"Terserah kau saja, aku ingin kau menjagaku saat aku tidur nanti," jawab Eliza tersenyum menundukkan kepalanya sedikit.


Sudah kuduga, sifat jalangmu akan kambuh ketika ada Samson di depanmu.


Sayang sekali, kau hanya bisa mendengarnya, tapi tidak bisa melihatnya.


"Bawalah dia pulang, aku tidak mau ada lalat pengganggu di sekitar sini," kata Samson memegang bahuku dari belakang.


Lalat pengganggu? Kau pikir kita berdua sedang berkencan? Tidak, aku tidak mau berkencan dengannya meskipun dia mengajakku


"Baiklah, kalau begitu kami berdua pulang dulu," kata Samuel sambil menggenggam tangan Eliza.


Tanpa pikir panjang lagi, kulihat Samuel yang pergi sambil menggenggam tangan Eliza.


Sedangkan Samson? Jangan di katakan lagi, dia tidak akan pergi sebelum menghabiskan waktu bersamaku.


Memang sulit menghadapi Samson si rubah licik itu.


"Samson, kapan kau pulang ke Istana Arlensix?" tanyaku menatap Samson.


"Aku tidak akan pulang sebelum kau membuatku senang," jawab Samson tersenyum.


Haruskah aku memukul kepalanya karena sengaja menggodaku?


.


.


.


[Bersambung]