
Tanpa pikir panjang lagi, aku pergi menyusul Eliza dengan menunggangi kudaku.
Kubiarkan dulu beruangnya, nanti akan kusuruh Prajurit untuk membawanya pulang ke Istana.
Yang paling penting adalah nyawa Eliza! Aku harus memastikan kalau ia tetap hidup.
"Kita menuju ke tengah hutan dekat pohon cemara," kataku memberitahu lokasinya.
Kaki kudaku melaju dengan cepat sehingga aku cepat sampai di tempat yang kubilang tadi.
Kulihat, Eliza sudah tergeletak di tanah dengan luka yang sangat parah. Di bagian paru paru? Kurasa itu sudah cukup.
Anak panah itu menembus tubuhnya, menyebabkan Eliza mengeluarkan begitu banyak darah.
Inilah yang kutunggu tunggu daritadi, kuharap racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Darah segar? Ini adalah pertama kalinya kau mengeluarkan darah, bukan?" tanyaku pada Eliza yang tidak sadarkan diri.
Kuangkat tangannya dan memapahnya naik ke atas kudaku.
Cih, aku baru sadar kalau tubuh Eliza sangatlah berat meskipun sebenarnya ia sangat kurus.
"Dasar, kau terlalu berat untuk kuangkat!" kataku meletakkannya di atas kuda.
Eh? Bukankah Eliza memiliki kuda? Di mana kudanya? Mungkin saja sudah kabur, biarkan saja.
Sekarang, aku akan membawamu pulang ke Istana dan segera mengobati lukamu.
Sedikit lagi, aku sudah berada di depan Istana.
"Percepatkan langkahnya!" kataku.
Kudaku melaju dengan cepat dan akhirnya aku sampai di Istana.
"Salam, Tuan Putri Catherine"
Para Prajurit dan Pelayan menyambutku dengan begitu sopan.
Aku yang masuk ke dalam Istana sambil memapah Eliza membuat Kak Carl menatapku dengan aneh.
"Kau baru pulang? Ada apa dengan Eliza?" tanya Kak Carl menatapku.
Glek!
Sambil menelan saliva, aku tidak dapat menjelaskan apapun pada Kak Carl dengan situasi aneh ini.
Apa yang harus kukatakan?
Oh, aku punya ide!
"Kak, tadi Kak Eliza sedang latihan menembak panah dan aku pergi berburu beruang di gua dekat sungai Hersia"
"Lalu, setelah aku selesai berburu beruang, aku pergi mencari Kak Eliza"
"Tapi, yang kulihat adalah Kak Eliza sudah tertusuk panah sehingga darah segar mengalir di tubuhnya"
"Bisakah Kakak membantuku?"
Aku lelah sekali berbicara panjang lebar begini, untung saja aktingku sukses di depan Kak Carl.
Kak Carl hanya mengangguk.
"Baik, sekarang bawalah Eliza ke kamarnya. Ngomong ngomong, di mana beruangmu?" tanya Kak Carl tidak melihat adanya beruang di sekelilingku.
Aku baru ingat kalau beruang itu sangat besar. Lebih baik, aku minta Kak Carl untuk mengutus beberapa Prajurit.
"Be …. beruangnya sangat besar, sekarang sedang berada di gua sungai Hersia"
"Tolong, utuslah Prajurit untuk membawa pulang beruangku," jawabku meminta tolong.
Kak Carl menatapku dengan penuh kebingungan dan hanya bisa menghela nafasnya.
Hah~
"Baiklah, Kakak akan menyuruh Prajurit untuk membawanya pulang," kata Kak Carl.
"Kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu ya," jawabku langsung masuk ke dalam sambil memapah Eliza.
Di sisi lain, Kak Carl tampak tersenyum licik setelah melihat Eliza yang sedang sekarat.
Kembali pada ceritanya, aku sudah sampai di kamar Eliza. Kubaringkan ia di kasurnya dan menutupi badannya dengan selimut.
Tinggal rencana terakhir lagi, yaitu mengoleskan racun ke bekas lukanya.
Sungguh sangat merepotkan, tapi mau bagaimana lagi jika itu adalah keputusanku sendiri?
Tapi, melihatnya terluka membuatku sedikit puas, puas sekali.
Ingin aku membunuhnya lebih cepat, tapi dengan menyiksanya sebelum membunuhnya sudah cukup bagiku.
Hmm? Aku rasa masih ada yang aneh dengan tubuhnya.
Kenapa aku tidak ingat kalau anak panahnya masih menancap di tubuhnya.
Sebaiknya kucabut saja.
Clak!
Keluarlah banyak darah di bagian paru paru Eliza.
Astaga, aku paling tidak tahan dengan bau darah!
Tapi, biarkan saja. Aku akan pergi mengambil racunku untuk mengoleskan lukanya.
Saatnya menjalankan rencanaku!
Eliza POV
Uh, tubuhku sakit sekali …. ada apa ini?
Lalu, tiba tiba ….
Akh!
Kubuka mataku dan tiba tiba tersadar bahwa aku sedang terbaring di kasurku sendiri.
Siapa yang membawaku? Lalu, di mana si bodoh itu?
Sakit ….
Saphira/Catherine POV
Di dalam kamarku ….
Untung saja racun yang kubuat sejak tadi siang tidak menghilang sama sekali! Bisa gawat kalau hilang.
"Kuharap, racun buatanku ini dapat membuat tubuh Eliza semakin melemah," lirihku tersenyum licik.
Aku keluar dari kamarku dan pergi ke kamar Eliza. Setelah sampai, aku langsung membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk terlebih dulu.
Terus, yang kulihat adalah ….
Apa?! Eliza sudah sadar?! Bagaimana aku menjalankan rencanaku dengan sempurna?!
Sudahlah, tenangkan diri dulu ….
Tetap berakting seperti biasa.
"Kak Eliza? Kau sudah sadar? Syukurlah, aku datang untuk mengoleskan obat ke lukamu," kataku polos.
Eliza menatapku dengan tatapan yang begitu kesal. Memangnya apa salahku?
Aku datang ke sini hanya ingin mengobatimu, bukan untuk mencelakaimu!
"Cepatlah, aku su ….," jawab Eliza yang ucapannya terhenti sejenak.
Argh!
"Sa …. sakit sekali ….," lirih Eliza kesakitan.
Sakit? Itu artinya, racun yang kubuat sudah mulai menyebar ke dalam tubuhnya.
Aku pikir, kau adalah orang kuat yang kebal terhadap racun, ternyata itu hanyalah imajinasiku!
"Tenanglah dulu, Kak, aku akan membantumu!" kataku membalikkan badan Eliza.
Eliza hanya mengangguk dengan kasar. Dasar tidak tahu terima kasih!
Baik, aku mulai mengoles di bagian punggungnya.
Di mulai dari olesan pelan ….
Argh!
"Pe …. pelan pelan saja olesnya, punggungku …. kesakitan karena …. panah itu," lirih Eliza mengerutkan alisnya tanpa memandang wajahku.
Ini sudah pelan, tapi kau saja yang tidak bisa merasakannya!
Semakin lama bersamamu di sini dapat membuatku kesal seharian.
Kuterus mengoles luka di punggungnya dengan tenang. Daritadi, Eliza tidak bersuara dan tidak menatapku.
Nantikan saja hasilnya, pasti akan membuatmu sembuh.
"Kau mendorongku dan aku meracunimu, sungguh menyenangkan bisa bermain bersamamu, Wahai Nona licik!" gumamku memutar bola mataku.
Selesai, lukanya sudah kuoles semuanya. Eliza, sebaiknya kau beristirahat saja agar badanmu membaik.
"Sudah, Kak, istirahatlah agar tenagamu tidak lemah," kataku menatap Eliza.
"Sudah selesai? Kalau begitu, pergi dari kamarku," jawabnya dengan kesal.
Terus saja menjawabku dengan nada bicara seperti itu agar hadiahmu kuberikan 2× lipat.
"Aku permisi dulu."
Aku pun pergi meninggalkan Eliza di kamarnya sendiri.
Karena aku sudah tidak punya kerjaan, lebih baik aku ke kamar saja.
Eliza POV
Seperti yang kalian tahu, aku berada di kamarku dengan posisi berbaring di kasur.
Entah ada apa yang membuat lukaku menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, padahal si bodoh itu sudah mengoleskan obat pada lukaku.
Argh ….
"Tubuhku masih saja kesakitan ….," lirihku menahan lukaku.
Sudahlah, sebaiknya aku tidur dulu untuk memulihkan tenagaku.
Berlahan lahan, kututup mataku dan akhirnya aku sudah tertidur.
Saphira/Catherine POV
Kurasa, Eliza sudah tidur, akan kutunggu hasilnya nanti malam.
Hehe, rencana terakhir selesai!
.
.
.
[Bersambung]