The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 75



Malam hari di Istana Arshleyer ….


Tepat pada jam 18:00, untung saja aku sudah makan malam bersama keluarga tadinya.


Sekarang, aku dan Serlia berada di ruang bawah tanah rahasia kami.


Tempat yang sangat gelap dan penuh dengan banyak serangga menjijikkan. Haha, pasti Eliza akan ketakutan ketika tidur di sini.


"Bagaimana menurutmu? Apakah ruang bawah tanah ini sama bagusnya seperti biasa?" tanyaku menatap Serlia dengan senyum biasa.


"Kurang sarang laba laba dan buaya, aku sangat tidak suka," jawab Serlia santai sambil memperhatikan interiornya.


Bahkan buaya saja kau ingin kutambahkan ke kamar ini?! Sungguh, kau tidak gils, bukan?


Meskipun kita berdua sama sama tidak takut pada semua hewan, tapi aku merasa terganggu jika ada reptil besar tinggal di dalam sini.


Lagipula, isi dari ruang bawah tanah hanyalah 15 kasur tahanan. Yah, ini berdebu tapi tidak berpengaruh sama sekali.


Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir, yang penting tunggulah kedatangan 2 orang yang kusebut pecundang itu.


Benar juga, nantinya Eliza akan tidur di sebelahku dalam kasur masing masing.


Eliza, tidak kusangka kau sangat bodoh dalam bertindak, jangan lupa kalau di sini banyak serangga yang kau takuti.


Hehe, sepertinya menarik.


"Serlia, apakah kau ada seekor laba laba hitam bermata 12?" tanyaku meminta pada Serlia.


"Tentu saja aku punya, tapi kau ingin menggunakannya untuk apa?" tanya Serlia bingung sambil mengelus bulu laba laba hitam bermata 12.


Aku memiliki rencana lebih kejam lagi untuk menghancurkannya. Karena laba laba hitam yang kau pegang itu memiliki ukuran yang besar, aku akan menggunakannya untuk menyambut kedatangan Eliza.


"Aku mau menyambut kedatangan Eliza dengan memberikannya laba laba milikmu. Kelemahan Eliza satu satunya adalah serangga," jawabku tersenyum miring.


Aku baru ingat kalau Eliza takut pada Serangga maupun reptil.


Bagus, kau sudah menyusun rencanamu dengan baik, Saphira. Aku suka daya pikirku.


Tak lama kemudian ….


*Pintu ruang bawah tanah terbuka*


Hosh~


Hosh~


Hosh~


Mereka berdua datang!


*Masuk*


"Lihatlah laba laba indah ini!" kataku mengagetkannya.


Aaarrrrgggghhh!!!


Eliza dan Michelle terkejut melihatnya sehingga berteriak.


Bodoh! Aku takut ada yang mendengarnya!


Sttt!


Kututup mulut mereka berdua dengan rapat agar mereka tidak bicara.


"Diam atau kubunuh," kataku datar.


Mereka berdua hanya mengangguk patuh dan kulepaskan mulut mereka berdua.


Bwah!


"Kau yakin kita akan berpesta di tempat kotor ini?" tanya Eliza yang sudah datang.


Kotor katamu? Bukankah itu adalah pilihanmu sendiri demi menghindari pembocoran rahasianya?


Yah, kita memang tidur di tempat kotor begini, tapi bukan artinya tempat ini benar benar kotor sepenuhnya.


Kumohon jangan merusak rencana kami berdua.


"Kalau mau kuanggap Putri yang sopan, bisakah untuk tidak mengatakan tempat ini kotor?" tanyaku tersenyum paksa.


Mendengar perkataanku, Eliza emosi dan ingin menamparku.


"Dasar gadis bermulut ular!" kata Eliza siap melayangkan tamparannya.


Sayangnya, sebagai Tuan Putri terhormat, aku berhasil menahannya dan menghempas tangannya kembali.


"Ingin menamparku agar rahasiamu terbongkar di depan Ayah dan Kakakmu? Baiklah, silahkan," jawabku datar.


Mata Emeraldku bersinar tanpa sadar sehingga membuat Serlia ketakutan saat menatapku.


*Bergidik takut*


"Tolong …. jangan …. menatapku …. seperti …. itu ….," kata Eliza ketakutan.


Nah, begitu baru yang namanya patuh, aku baru senang.


Eh? Suasana ini? Serlia dan Michelle kenapa? Memang benar, persaingan mereka berdua belum berakhir.


"Oh, jadi kau adalah seorang Putri yang bermartabat dan suka mengejek ya? Kau jelek sekali hari ini," kata Serlia sengaja.


"Kau bilang aku apa? Jelek?! Bukankah kau sadar kalau penampilanmu jauh lebih jelek?" balas Michelle emosi.


"Kau ….!" kata Michelle seketika ucapannya terhenti.


"Kenapa? Kau sadar kalau dirimu jelek?" tanya Serlia kali ini dengan nada bicara yang angkuh.


Sungguh suasana yang berbahaya. Aku tidak akan ikut campur.


"Heh! Jangan sombong dulu, Serlia sialan! Kau tidak tahu kemampuanku yang begitu istimewa, yaitu mencabut bola mataku," kata Michelle merendahkan.


"Sangat buruk, bahkan lebih buruk daripada mayat hidup sekalipun. Aku punya kemampuan bola mata yang bisa meramal nasib," jawab Serlia tidak mau kalah.


"Yah, kuanggap semua kemampuanmu itu sangat payah," kata Michelle masih merendahkannya.


Puk~


Kutepuk wajahku dengan telapak tanganku karena melihat tingkah laku Serlia dan Michelle.


Benar benar kekanak kanakkan.


"Yah, pertengkaran yang sangat menantang. Persaingan antara mereka berdua mirip seperti anjing dan kucing," kataku memperhatikan pertengkaran antara Serlia dan Michelle.


"Sekalipun kau menganggap Michelle adalah hewan, maka nyawamu adalah gantinya," jawab Eliza dingin.


Eliza kenapa seperti terkena beban hidup? Rasanya aneh sekali ….


Biasanya dia langsung menindasku, tapi sekarang ia hanya menatapku dengan ekspresi dingin.


Apa yang di katakan oleh Serlia masuk akal, Eliza pasti menyiapkan rencana untuk membuatku terjatuh.


"Huh, aku tidak peduli," kataku kasar.


...


Setelah pertengkaran selesai ….


"Cukup, duduklah yang tenang di sini dan jangan saling mengganggu," kataku memarahi mereka berdua.


"Baik, aku akan diam dan minum teh buatanmu," jawab Serlia kasar.


Sudahlah, minum saja teh yang kubuat untukmu! Ingatlah rencana kita.


"Kau pintar juga dalam membuat teh Mawar kesukaanku," kata Eliza meminum teh buatanku.


"Percuma saja kau memujinya kalau dia tidaklah cantik dan pintar," jawab Michelle.


Tidak cantik kepalamu! Percuma kau menjadi Penyihir karena rupa burukmu.


Kau sangat mirip dengan Alexander, tapi warna matamu terlalu mencolok sehingga membuatku ingin membutakan matamu!


Siapa suruh mulut busukmu menghinaku terus terusan? Aku baru ingat kalau racun buatan Serlia akan kuteteskan pada matamu.


Bukan, melainkan mata Eliza yang akan ku butakan hingga ia tidak dapat melihat dunia sekalipun!


Untung aku tidak lupa menaruh obat tidur di dalam gelas Eliza dan Michelle, dengan begitu maka rencanaku akan berjalan lancar.


Tak lama kemudian, Eliza dan Michelle menutup matanya berlahan lahan dan tidur.


Haha, saatnya memulai rencananya!


"Serlia, berikan aku racunmu," kataku mengulurkan tanganku.


”Ini," jawabnya memberikanku racunnya.


Kuterima racun dari tangannya. Sebelum aku menumpahkan racunnya, kupastikan kalau Eliza dan Michelle sudah tidur.


Zzz ….


Bagus, kubuka matanya dan meneteskannya di bola mata birunya yang indah. Setelah kutuangkan satu tetes, dia tetap saja tidak bangun. Apa ini karena efek obat yang kuberikan tadi?


Hehe, racunnya tidak mempengaruhimu secara langsung, tapi besok, lihatlah hasil dari penglihatanmu!


*Tersenyum licik*


"Besok, bukalah matamu dan lihat apa yang terjadi, Eliza," kataku tersenyum licik.


"Pintar, kau berkembang begitu cepat, Cath," kata Serlia dari jauh.


Huh, kau meragukanku? Dari dulu, aku memang sudah pintar. Terus, bagaimana cara membawa Eliza dan Michelle pulang?


Yang lebih parah lagi, aku belum pernah menguasai sihir pemindahan barang ke tempat lain.


"Bagaimana cara membawa mereka berdua? Apa kau tahu cara menguasai sihir pemindahan barang, Serlia? Aku membutuhkanmu untuk memindahkan Eliza dan Michelle pulang ke Istana Srylpharuna," kataku panik.


"Akan kulakukan," jawabnya to the point.


"Erfillia Trysiulus," ucapnya


Secara tiba tiba, Eliza dan Michelle menghilang dari hadapanku.


Sungguh luar biasa, ternyata orang sehebat dirimu juga bisa menguasai sihir yang tak bisa kukendalikan.


.


.


.


[Bersambung]