
Eliza Carlina Sean Srylpharuna:
...
Di kamar ….
Bugh~
Kurebahkan diriku di kasur dengan posisi telentang.
Masih berpikiran tentang masalah tadi pagi, aku harus lebih hati hati lagi dengan si ular Eliza itu.
Bisa bisanya dia minta maaf padaku, padahal aku baru saja ingin menyerangnya.
Biarkan saja, aku akan memikirkan berbagai cara untuk menjatuhkan Eliza.
Huh~
Membosankan! Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa!
Seandainya aku dapat bermain dengam bola bola salju yang ada di luar bersama kedua Kakakku, pasti suasana hatiku membaik.
Sayangnya, mereka berdua sudah dewasa dan mengurus hidupnya masing masing.
Aku masih berumur 13 tahun, tapi sudah kesepian saat bermain sendirian.
Sudahlah, sebaiknya aku tetap fokus pada pembalasan dendamku.
Eliza datang dan meminta maaf, sedangkan aku berpura pura menerimanya karena berpikir itu adalah sebuah sandiwaranya.
Dia pasti tahu semua kegiatanku di Istana maupun di luar Istana, karena ada Michelle yang diam diam mengawasiku dan memberitahunya.
Eliza tidak akan berbuat hal sekonyol itu kecuali ….
Samson! Itu pasti jawabannya! Karena aku sering bersamanya, Michelle terus mengawasiku dan memberitahukan semuanya pada Eliza.
Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja aku pernah melihatnya saat berburu bersama Samson.
Diam diam dia mengintip di balik gua melihat aku yang menemani Samson meminum darah hewan.
Michelle, trik licikmu lumayan juga. Kau sendiri tidak mau kalah terhadap kemampuan Serlia.
Tenanglah, cepat atau lambat, kau akan tahu kalau sebenarnya Eliza hanya memanfaatkanmu.
"Haha, mudah sekali kau menipuku, tapi kau tidak pernah tahu sifat licik dari sahabat gilamu itu!" kataku tersenyum licik.
Sebaiknya aku membaca buku yang ada di sekitar kamarku saja, siapa tahu ada buku yang menarik untuk kubaca.
Kubangun dari kasurku dan pergi ke arah rak buku yang ada di depanku, lalu mengambil bukunya.
Setelah bukunya kuambil, kukembali ke kasur dan duduk.
Fiuh~
Bukunya berdebu, kusingkirkan semua debu debunya dengan cara meniupnya.
*Membuka buku*
Isinya terlalu kuno, banyak sekali sobekan kertas kuning. Apakah zaman ini sungguh zaman eropa kuno yang pertama kali kuketahui?
Aku, Saphira Kanaya, berasal dari negara Prancis. Tentu saja, semua zaman eropa kuno hanya ada di Inggris, jadi aku hanya tahu sedikit tentang legendanya.
Tapi, karena aku bereinkarnasi ke dalam novel bertema fantasi Kerajaan eropa, tidak ada salahnya jika aku mengetahui sedikit tentang kisah kuno di dalam bukunya.
"Kisah sang Ratu berambut merah"
Ratu berambut merah? Siapa? Sebaiknya kubaca dulu agar mengerti alur ceritanya.
...Mengisahkan tentang seorang Putri yang memiliki 3 orang sahabat, yaitu Hera, Freora, dan Lynlia....
...Dia begitu setia pada ketiga sahabatnya sehingga ia rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan nyawa ketiga sahabatnya saat sedang kesulitan....
...Suatu hari, tepat pada hari pernikahannya, dia tega meninggalkan sahabatnya dan menikahi seorang Raja yang serakah....
...Hampir semua sahabatnya di bunuh olehnya, tapi ada satu yang selamat, yaitu Hera....
Hmm, cerita yang rumit, aku baru tahu ada kisah yang serumit ini.
Eh? Ada halaman yang lain? Kubuka saja halamannya.
Srekk~
I …. i ….ini, sebuah foto dan nama yang tertulis di bawah. Arlia Srylpharuna?! Jadi, dia tega membunuh sahabatnya demi pernikahannya?!
Kejam! Dasar orang yang tidak tahu balas budi!
Bukankah aku pernah membaca buku ini? Astaga, aku selalu saja lupa tentang legenda.
Ah! Aku jadi pusing!
.
.
.
Hari sudah gelap dan malam, aku daritadi hanya membaca buku di kamar hingga berserakan.
Hoam~
Aku mengantuk, lebih baik aku mandi dulu untuk menyegarkan badanku.
"Sarah! Siapkanlah air mandi untukku!" kataku memanggil Sarah dari dalam kamar.
Ceklek~
"Baik, Tuan Putri, saya akan segera menyiapkannya," jawab Sarah pergi menuju kamar mandiku.
Huft~
Melelahkan~
Setelah berada di kamar mandi, kurendamkan tubuhku di dalam air dan menyandarkan kepalaku ke dinding.
Rasanya hangat, pikiranku jadi tenang setelah berendam di bathum air panas.
Yah, biasanya aku mandi di kolam air panas yang ada di depanku ini, tapi entah kenapa aku lebih suka tempat bathum saat pikiranku tidak tenang.
Eliza, hanya kaulah orang yang selalu tertanam di pikiranku! Ingin kubunuh dirimu agar jalan cerita novel ini jadi membaik, sayangnya kau bukanlah orang yang mudah di bunuh.
Jadi, kuputuskan untuk membunuhmu perlahan lahan secara halus meskipun semua caraku terbilang kasar dan dapat melukai diriku sendiri.
"Memang Eliza yang licik, bahkan saat kau buta saja kau masih ingin mencari masalah denganku"
"Tenanglah, kejutan dan hadiah dariku selalu kupersiapkan untukmu, Eliza," kataku tersenyum licik.
Karena aku sudah selesai mandi, kubangun dari bathum dan mengenakan pakaian yang di sediakan oleh Sarah.
Setelah selesai, kukeluar dari kamar mandi dan duduk kembali di kasur sambil mengelap rambutku menggunakan handuk.
Hah~
"Sudah saatnya aku makan malam bersama kedua Kakakku dan Serlia," kataku keluar dari kamarku.
Kututup pintu kamarku dan pergi menuju ke arah ruang makan.
Selangkah demi selangkah kuberjalan, akhirnya aku sampai juga di ruang makan dan melihat kedua Kakakku dan Serlia yang sudah berkumpul.
Kududuk di kursi yang berada di sebelah Serlia dan makan makanan yang ada di meja.
Huap~
Nyam~
Enak seperti biasanya, koki di Istana ini sangat pandai memasak ya.
"Enak," kataku menikmati makanannya.
"Sungguh? Biasanya kau jarang berkata itu pada kami," jawab Kak William sambil menikmati makanannya.
"Hehe, aku memang jarang berkata begitu," kataku tetap menikmati makanannya.
Yah, ini adalah makan malam terbaik yanh pernah kunikmati dengan baik.
"Ngomong ngomong, besok aku ada kencan malam bersama Veronica di Istans ini. Bisakah aku memintamu untuk mengawasi kedatangan Anna?" tanya Kak Carl menatapku.
Anna? Apakah dia belum puas mengganggu Veronica? Benar benar gila, aku akan tetap membuat kencan kalian berhasil.
"Memangnya ada apa dengan Anna?" tanyaku pura pura tidak tahu.
"Kemarin, Anna datang menyerang Veronica karena tidak sengaja melihat kami berdua makan bersama"
"Karena besok adalah kencan istimewa kami berdua, aku memintamu untuk mengawasi kedatangan Anna"
"Dia selalu membuat pikiranku terganggu," jawab Kak Carl serius.
Apa?! Si jala*g itu menyerang Veronica?! Tidak bisa di biarkan!
"Tenanglah, selama ada aku, kencan malam kalian berdua pasti akan lebih istimewa," kataku dengan wajah penuh semangat.
"Bagus, aku percaya padamu, Catty," jawab Kak Carl.
Haha, aku pasti akan mengawasinya.
"Oh, ternyata kau sangat menyukai Veronica, Cath. Kenapa kau tidak meminta Carl untuk menikahinya saja?" tanya Serlia sengaja.
Mendengar kata kata Serlia, Kak Carl tiba tiba saja tersedak dan meminum air untuk menenangkan pikirannya.
"Ehem, biarkan sekolah selesai dulu. Aku akan melamarnya jika dia sudah menyelesaikan sekolahnya," jawab Kak Carl dengan wajah blushing.
Benar juga apa yang Kakak katakan, umur Veronica sangat berbeda jauh dengan umurnya.
Karena sebentar lagi Kakak akan lulus, maka tinggal tunggu saja Veronica menyelesaikannya bersama Eliza.
.
.
.
[Bersambung]