
Kuhampiri Eliza ke pintu gerbang sekolah dengan wajahku yang bermaksud mengejek.
"Sayang sekali ya kalau kuda indah milikmu itu keracunan, kasihan," kataku sengaja mengejeknya.
"Apa kau tidak tahu kalau ini adalah kuda termahal yang kumiliki ini?!" tanya Eliza kasar.
"Maaf, aku tidak peduli kudanya mahal atau tidak, yang jelas aku tidak melakukan apapun," jawabku langsung pergi meninggalkannya.
Biarkan saja, aku malas mengurusimu!
Kumasuk ke sekolah dan memeriksa lemari yang ada di koridor. Aneh, ini adalah zaman Kerajaan, tapi bentuk dan interior sekolahnya sangat mewah.
Sudahlah, tidak perlu di pikirkan. Kuperiksa saja lemariku.
Kubuka pintu lemariku dan lihat kalau isi lemariku berisikan botol racun yang menyengat.
Di tambah lagi dengan mayat tikus yang sudah menjadi bangkai membuatku mual.
*Menutup mulut*
"Sialan, siapa yang berani membuat lemariku kotor begini?! Bau sekali!" kataku menutup mulutku dan segera berlari menuju kamar mandi.
Aku benar benar tidak tahan lagi!
Sesampainya di kamar mandi, kumuntahkan semua sisa makananku dan wajahku berubah pucat.
Jelas ini terlihat di cermin, bagaimana bisa aku menjadi sakit begini? Terlebih lagi, lukaku belum sembuh ….
"Memangnya apa yang membuat lemariku penuh dengan sampah menjijikkan? Aneh ….," gumamku mengerutkan alisku.
Tidak mungkin Eliza yang memasukkannya, pasti ada orang lain yang berbuat hal bodoh semacam itu.
Kalau di pikir pikir, Eliza menyuruh seseorang untuk memasukkan sampah itu ke dalam.
Satu satunya orang yang paling dekat dengan Eliza adalah Michelle, Penyihir pribadinya.
Kejadian yang janggal ….
Sebaiknya aku kembali ke kelas dulu untuk kembali mengisi waktu tidur siangku!
Kutinggalkan kamar mandi dan berjalan menuju ke kelas. Saat berada di tengah jalan belokan yang luas dan memiliki air mancur, langkahku tiba tiba terhenti karena di halangi oleh seorang laki laki.
Alexander? Untuk apa dia menghalangi langkahku?
"Catherine, ada apa denganmu? Wajahmu kelihatan pucat," kata Alexander menatapku dengan serius.
Sudah kuduga, siapapun bisa melihat wajahku yang sedang pucat ini.
"Tadi, aku baru keluar dari kamar mandi karena ada sedikit masalah kecil," jawabku serius.
"Oh, baiklah, maukah aku mengantarmu ke dalam kelas?" tanya Alexander mengulurkan tangan kanannya padaku.
*Blushing*
Kau gila ya?! Kelas 1-♪ Menengah cukup dekat dari sini! Tidak, aku tidak mau di antar!
"Maaf, kurasa tidak perlu. Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini," jawabku tersenyum paksa.
"Hah? Kenapa kau menolak niat baikku? Padahal, aku sudah bersusah payah merencanakannya," kata Alexander memasang wajah sedih.
Ekspresi wajah itu, mungkinkah dia sedang menipuku?! Aku harus berhati hati!
"Tapi, aku sungguh tidak ingin di antar! Sampai jumpa, Alex!" kataku langsung kabur.
Huh! Jelas sekali wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang merencanakan sesuatu! Aku benar benar harus berhati hati!
Ingat, alur cerita novelnya berubah!
Kenapa aku mengira kalau Alexander akan menipuku? Hal ini sering sekali terjadi padaku di kehidupanku yang sebelumnya!
Dulu, aku bodoh karena telah menolong orang yang mengambil tasku!
Dan yang lebih parah lagi, sahabatku meninggalkanku karena aku menolongnya.
Semua wajah itu menunjukkan kemunafikan! Aku benci!
Pokoknya aku harus berhati hati dengan Alexander, siapa tahu dia adalah karakter antagonis laki laki.
Setelah sampai di kelas, seperti yang kukatakan tadi, aku mau tidur.
Kubaringkan kepalaku di atas meja belajar dan berlahan lahan memejamkan mataku lalu tidur.
Zzz ….
Beberapa menit kemudian ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel masuk telah berbunyi. Sial, tidurku terganggu karena bunyinya!
"Kenapa tidurku selalu saja terganggu?!" kataku kesal.
Yah, datanglah Serlia ke tempat dudukku dan menggebrek mejanya.
Brak!
"Jangan mengantuk! Aku tidak suka melihatmu tidur di dalam kelas!" kata Serlia bersemangat.
"Memangnya kenapa?" tanyaku bingung.
"Baru saja Samson menintaku untuk memberitahumu kalau kau harus bertemu dengannya di pintu semak hijau," jawab Serlia kelihatan serius.
Jangan bilang dia sedang merencanakan sesuatu yang kotor. Tidak! Bagaimana dia merencanakan hal kotor untuk membuatku terjatuh!
Aku hanya tidak mau bersamanya, bukan artinya aku takut pada Eliza. Secara umum, aku takut diriku kehilangan nyawa.
Kedua, aku sama sekali belum pernah menjalin hubungan kekasih dengan laki laki manapun.
Yang terakhir, demi keluar dari novel, tugasku adalah menghindarinya!
Inilah alasannya aku tidak suka pada Samson. Cobalah untuk membayangkan betapa mengerikannya dia saat menusuk leher Catherine di episode terakhir novel.
Kejam …., makanya sangat berbahaya untuk mendekatinya ….
"Baiklah, terima kasih telah memberitahuku," kataku tersenyum.
"Apakah aku boleh ikut denganmu?" tanya Serlia dengan mata berbinar binar.
Ikut? Astaga, orang ini sungguh tidak ada kerjaan! Terpaksa sekali aku menyihirnya lagi!
Oh, aku baru ingat kalau Serlia bisa mematahkan sihirku dengan sendirinya.
Aku menyerah ….!
"Terserah kau saja," jawabku kesal.
"Ayolah, kalau mau menjawabku, jangan tidak sopan seperti itu," kata Serlia kesal.
Memangnya bagaimana yang kau inginkan? Harus terlalu sopan layaknya Tuan Putri terbaik? Tidak, aku tidak terbiasa menjawab orang orang dengan sopan.
Mungkin sedikit kasar juga tidak masalah.
"Yah, kau boleh ikut," jawabku sedikit kasar.
"Nah, begitu yang aku mau. Ternyata kau mengerti seleraku juga," kata Serlia tersenyum jahil.
Mengerti kepalamu! Aku sudah bersusah payah sopan tapi kau suka yang kasar! Dasar perempuan pemilih!
.
.
.
Beberapa menit kemudian ….
Ding!
Dong!
Ding!
Dong!
Bel istirahat telah berbunyi. Aku dan Serlia sedang pergi berjalan menemui Samson. Daritadi Serlia tidak bisa diam memainkan sihirnya itu.
Bunga Lily di buatnya menjadi Bunga Bangkai. Pohon apel saja di robohkannya dan apelnya dia makan.
Benar benar perempuan menyebalkan, untung saja aku tidak di ganggu olehnya.
"Apakah kau mau apelnya?" tanya Serlia sambil mengunyah apel yang di makan olehnya.
Banyak sekali apel di keranjangnya! Apa aku tidak salah lihat kalau Serlia tidak membawa keranjang sejak tadi?! Parah, bisa bisanya dia mempermainkan mataku.
Sudahlah, hanya satu apel saja sudah cukup bagiku.
"Aku ingin satu," jawabku singkat.
Dengan cepat, Serlia mengambilkan satu apel untukku dan memberikannya padaku.
Apel ini merah sekali, pasti enak untuk di makan!
*Memakan*
*Mengunyah*
Hmm, rasanya manis, seperti permen! Ini adalah pertama kalinya aku memakan apel manis secara langsung.
Biasanya, aku hanya memakan apel hijau dan busuk pemberian Adik Tiriku.
Tapi, dengan memakan apel ini, aku baru merasakan apa yang namanya rasa manis ….!
"Aku suka apelnya, manis sekali," kataku sambil mengunyah.
Tanpa kusadari, aku menabrak seseorang yang ada di depanku.
Apelku terjatuh dari tanganku, membuatku sangat marah pada orang itu.
Kubangun dari tubuhnya dan memarahinya tanpa melihat wajahnya.
"Kalau kau sedang berada di sini, tolong berhati hatilah! Apelku terjatuh karenamu!" kataku marah.
"Ternyata kau menyukai apel ya? Kebetulan kita juga sama," jawab orang itu yang suaranya persis seperti Samson.
.
.
.
[Bersambung]
~Keterangan:
Ini adalah visual Serlia saat berubah menjadi Iblis ya, maaf kalau kurang bagus, soalnya itulah penggambarannya menurut Author: