
Bangsa Drastiria adalah bangsa yang terkenal sangat kejam.
Dengan rambut hitam dan mata merah, mereka bisa saja menghabisi siapapun yang membuatnya marah.
Pangeran Carl dan Kak Serlia adalah salah satunya dari bangsa Drastiria.
Jika sudah mengeluarkan aura gelap di tubuhnya, maka tatapan mata mereka bisa menjadi sangat menyeramkan.
Itulah sebabnya aku tidak berani menatap Kak Serlia saat dia sedang marah.
"Eliza, waktunya aku beraksi," kata Kak Serlia mengeluarkan wajah menyeramkannya.
______________________________________________________
Di Istana Kerajaan Arshleyer ….
Saphira/Catherine POV
Siang kini berganti malam, aku sudah berada di ruang Penyihir dengan berbaring di kasurku yang indah ini.
Akhirnya, kasur indah ini menjadi milikku juga. Selamat tinggal, para Penyihir yang telah di pecat.
Fiuh, aku tidak tahu sekarang harus berbuat apa.
Tiba tiba, ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam ruanganku, tepat di jendela.
Siapa itu?! Apakah itu pemyusup?! Tidak, aku harus mengusirnya!
"Pergi kau, penyusup!" kataku marah dengan kasar.
Tunggu, kenapa orang itu membuka topengnya? Siapa dia sebenarnya?
Setelah kulihat lihat, orang itu sangat mirip dengan penampilanku yang sekarang. Tunggu, penampilan yang mirip?
Apakah penampilan ini adalah hasil dari orang yang ada di depanku?
"Ardlesya," ucapnya.
Sihir itu …., jangan jangan ….
Tidak, penyamaranku akan terbongkar!
"Catherine? Untuk apa kau menyamar menjadi diriku?" tanya orang itu menatapku.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu namaku?" kataku bertanya balik padanya.
Yah, aku benar benar tidak mengenalinya. Di dalam novel, tidak ada tokoh gadis dengan penampilan seperti ini.
"Kau tidak tahu namaku? Baiklah, namaku adalah Serlia Arthera Ve Courtines, Kakak perempuan Ruth dan anak angkat dari Raja dan Ratu Courtines"
"Aku datang ke sini untuk mengajakmu kerja sama, yaitu membuat hidup Eliza menderita"
Kakak perempuan Ruth? anak angkat? Sebentar, dia mengajakku bekerja sama untuk membalas Eliza? Apa aku tidak salah dengar?
Siapapun, tolong bangunkan aku dari mimpi ini.
"Bekerja sama katamu? Ini tidak bohong, kan?" tanyaku serius.
Ah, jangan sia siakan kesempatan ini, Saphira! Bekerja samalah dengan orang yang ada di depanmu ini!
Tunggu, apa katanya tadi? Namanya adalah Serlia Arthera? Tidak mungkin, ternyata aku menggunakan nama milik orang itu!
Apakah dia adalah kembaran Kak Carl? Perasaanku, Kak Carl tidak memiliki saudari Kandung lainnya selain aku.
"Ehm, apakah kau dan Kak Carl adalah saudara?" tanyaku bingung.
Ta …. tatapan itu, persis sekali seperti Kak Carl. Apa benar mereka berdua bersaudara?
"Kami berdua Carl bukan saudara, melainkan sebangsa. Ayahmu adalah orang dari bangsa Dristiria yang sangat kuat dalam melawan peperangan"
"Sedangkan Ibuku adalah Ratu dari bangsa Dristiria, pemimpin di antara segalanya"
"Bisa di katakan kalau Ayahmu dan Ibuku adalah teman seperjuang sejak dulu"
"Dan kami berdua Carl bukanlah saudara, mengerti?"
Semua di jelaskan oleh Serlia. Aku mulai mengerti bagaimana asal usul dari bangsa Dristiria.
Sungguh menakutkan ….
"Baiklah, aku sudah mengerti. Jadi, kau dan Kak Carl saling kenal?" tanyaku sekali lagi.
"Tentu saja, tapi saat berumur 5 tahun sebelum kelahiran Eliza," jawabnya dengan santai.
Aku hampir lupa satu hal. Apa tujuannya mengajakku bekerja sama dengannya untuk melenyapkan Eliza? Ini tidak menyangkut soal Kerajaan Srylpharuna bukan?
"Bagaimana? Mau bekerja sama denganku untuk melenyapkan si Iblis Adik Tirimu? Demi membalaskan dendam Raja Lordsorius dan Ratu Hera, aku mengajakmu kerja sama," kata Serlia dengan santai.
*Tersenyum licik*
"Aku terima," jawabku dengan tegas.
Kami berdua langsung saling berjabat tangan sambil tersenyum.
Aku masih tidak yakin kalau Serlia ingin membantuku. Tetap tenang, Saphira, berpikirlah positif.
"Ngomong ngomong, untuk apa kau menjadi Penyihir? Bukankah itu adalah posisi paling rendah daripada Putri?" tanya Serlia menaikkan alisnya.
Mau bagaimana menjelaskan semuanya? Ini semua karena William yang mengkhianatiku!
Untung saja dengan penampilan ini, aku dapat menjadi Penyihir Kerajaan.
"Ini karena masalah pribadi kami. Eliza membunuh Ayah dan Ibuku, William menuduhku sebagai seorang pembunuh, dan aku lebih memilih untuk kabur dari Istana"
"Saat itu, tidak ada yang peduli padaku selain Kak Carl, makanya aku hanya bisa menyamar untuk menjatuhkan mereka berdua!" jelasku pada Serlia.
Setelah mendengar penjelasanku, entah mengapa Serlia menjadi emosional.
Mata merahnya bersinar begitu terang seperti permata Ruby, menandakan bahwa ia sangat marah.
Sekarang apa lagi yang dia pikirkan? Apakah aku yang akan di marahi? Kumohon selamatkanlah nyawaku ….
"Eliza keterlaluan! Membunuh teman seperjuang dari Ibuku dan membuat keluarga kalian hancur?! Sudah kuduga, Ruth tidak akan berbohong padaku," lirih Serlia menatap diriku dengan tatapan tajam.
Ruth memberitahunya? Aduh, kau benar benar menjengkelkan!
Tak lama kemudian, Kak Carl masuk ke ruang Penyihir dan menyambutku.
"Catty, aku kembali," kata Kak Carl dengan riang.
Tanpa sengaja, ia melihat Serlia yang menatapku dengan serius. Reuni apa lagi ini?
"Serlia, sudah lama tidak bertemu," kata Kak Carl datar.
Serlia menoleh ke belakang dan melihat Kak Carl dengan penampilan yang sungguh berbeda.
"Carl? Kenapa kau juga berpenampilan seperti itu? Bukankah kita berdua adalah orang yang sama?" tanya Serlia bingung.
"Penampilanku? Catherine menyuruhku untuk menyamar agar aku dapat masuk ke dalam Istana," jawabnya dengan santai.
Kakak! Jangan bawa bawa namaku!
"Jadi begitu? Pantas saja kalian berdua sangat berbeda di mataku," kata Serlia memutar bola matanya.
Astaga, Serlia benar benar menjengkelkan.
"Dengan tujuan apa kau datang ke sini? Apakah orang tua angkatmu tidak tahu?" tanya Kak Carl mengerutkan alisnya.
"Orang tuaku tidak tahu kalau aku pergi dari Istana. Tujuanku datang ke sini adalah untuk mengajak Catherine bekerja sama dalam melenyapkan Eliza," jawabnya.
"Kerja sama? Melenyapkan Eliza? Apa kau serius? Biasanya, kau sangat dingin pada orang orang," kata Kak Carl mengejeknya.
"Heh, kalau pada Catherine, aku sangat siap membantunya," jawab Serlia.
Mereka berdua terlihat akrab ya, tidak seperti aku dan Ruth.
"Ngomong ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Veronica? Lancar? Tidak ada gangguan, bukan?" tanya Serlia tersenyum jahil pada Kak Carl.
Tanpa sadar, wajah Kak Carl memerah mendengar apa yang di katakan oleh Serlia.
Sebenarnya, Kak Carl baru saja mencium bibir Veronica tadi pagi di kamarnya sendiri.
"Ehem, pertanyaan ini sangat sulit untuk kujawab. Sejauh ini, kami belum menjadi sepasang kekasih," jawab Kak Carl berdehem.
Memang belum menjadi sepasang kekasih, tapi di suatu hari nanti.
Wahai Kakakku yang kaku, ternyata kau juga bisa mengerti tentang cinta, ya.
"Hahaha, semoga hubungan kalian berdua lancar, ya," kata Serlia menepuk bahu Kak Carl.
Sudah saatnya aku tampil.
"Maaf, apakah kalian berdua sudah selesai bicara?" tanyaku sengaja mengejek mereka berdua.
.
.
.
[Bersambung]