
Tetap tenang, Saphira, ini hanya dansa. Kau tidak perlu gugup ketika bersama Samson.
Genggaman tangannya begitu kuat, seolah olah ia tidak ingin melepaskanku.
Aku hanya mengikuti gerakan kaki Samson secara berlawanan.
Betapa sulitnya berdansa, bisa di bilang kalau aku memang tidak pandai dalam berdansa.
Tak!
Ups, kakiku tidak sengaja menginjak kaki Samson sehingga membuatnya harus menahan sakit.
"Maaf," lirihku pelan.
"Tidak apa apa jika kau berhati hati," jawabnya berbisik.
Kami melanjutkan dansanya lagi.
Eh? Kak Carl dan Veronica berdansa bersama? Tunggu, gerakan Veronica terlihat lebih elegan di mata semua orang.
Dan juga gerakan tangan dan kaki Kak Carl yang cepat membuat semua orang tampak menikmati dansanya.
Sialan, ternyata Kakak keduaku sangat berpengalaman dalam segala hal.
Bahkan sekarang ia menjalin hubungan bersama Veronica. Jujur, aku tampak kagum melihat pasangan serasi seperti mereka berdua.
Dari jauh ….
"Apa kau tahu, Tuan Putri Veronica? Gerakan dansamu membuatku semakin jatuh cinta padamu," kata Kak Carl sengaja.
"Dansaku memang seperti ini, Pangeran Carl. Gerakanmu hampir tidak bisa kubaca," jawab Veronica juga sama seperti Kak Carl.
"Kau tahu apa yang terakhir?" tanya Kak Carl.
"Apa?" jawab Veronica bertanya singkat.
Kulihat Kak Carl yang mengangkat tubuh Veronica dan mengecup bibirnya sekilas sehingga mengundang perhatian para orang.
Ehem, rasanya aku tidak sanggup melihat semuanya, sepasang kekasih yang menampilkan kemesraannya di depan umum.
Kapan aku bisa memiliki kekasih?
Hah? Wajah Anna terlihat tidak beres. Apa itu karena kemesraan Kakak dan Veronica?
"Bloddy Flora," ucapnya.
Berlahan lahan tanaman rambat berduri muncul di bawah kaki Veronica.
Aku lupa kalau Anna adalah pengendali sihir tumbuhan dan alam perairan!
Takkan kubiarkan Veronica terluka!
"Cutting Magic," ucapku.
Sihir tanaman rambat milik Anna berhasil kupatahkan. Untunglah Veronica tidak sadar dengan apa yang terjadi.
Hmm, aku rasa Veronica sedang terbawa suasana.
Pada akhirnya, Veronica membalas kecupan dari Kak Carl, tapi hanya di pipinya.
Cup~
"Kau membuatku semakin berani, Carl," kata Veronica dengan nada bicara yang elegan.
Mau bagaimanapun, kulihat kau tetaplah cantik di mata Kak Carl. Rambut dan mata warna birumu membuat bulan purnama bersinar terang.
Mata Emeraldku sulit membedakan warna biru dengan hijau, makanya kugosok dulu baru melihatnya.
Eh? Aku lupa kalau aku sedang berdansa dengan Samson.
Tangannya begitu hangat, tidak sedingin tangan Kak William.
Mau bagaimana lagi? Satu satunya yang tidak memiliki sihir adalah Kak William yang terlahir sebagai manusia biasa.
Huh, menjalani hidup di sini semakin rumit saja.
"Kenapa kau tidak fokus pada langkah dansamu?" tanya Samson.
"Maaf, aku hanya sedikit gugup," jawabku gugup.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan," kata Samson biasa saja.
Huh, kita lanjutkan saja dansanya.
Kuikuti langkah kaki Samson seperti tadi, yaitu berlawanan.
Berkali kaki kumencoba, tapi tetap saja gagal karena aku menginjak kakinya tanpa sengaja.
Yah, kurasa dia marah.
*Menghela nafas*
"Kita berhenti saja, kakiku sakit karena injakkan sepatumu," kata Samson berusaha sabar.
"Baiklah, aku minta maaf," jawabku merasa bersalah karena telah menginjak kakinya.
Yah, rencanaku harus tetap berjalan.
Kulihat Samuel yang berusaha mengajarkan Eliza berdansa. Karena Eliza buta dan tidak bisa melihat, aku sudah mematahkan penahan sepatu heelsnya.
Trak!
Eliza terjatuh akibat patahnya penahan sepatu heelsnya.
Argh!
Bruk!
"Sakit sekali …., siapa yang membuatku terjatuh begini?!" tanya Eliza kesakitan.
Salahmu sendiri karena tidak berhati hati, maka rasakanlah yang lebih sakit lagi.
"Kau tidak apa apa, Eliza?" tanya Samuel khawatir.
"Samuel? Kaukah itu? Bisakah kau bantu aku berdiri?" tanya Eliza meminta Samuel membantunya.
Tanpa pikir panjang, Samuel membantunya berdiri dan menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Benar benar seorang laki laki yang perhatian. Ingatlah, aku akan memutar balikkan faktanya dan melampiaskannya pada Michelle.
"Kurasa Michelle yang mendorongmu jatuh," kataku menatap Eliza.
"Tidak, Michelle tidak mungkin melakukannya," jawab Eliza menolak.
"Baiklah kalau kau tidak percaya. Sekarang kau buta dan tidak bisa melihat apa apa"
"Tanya saja semuanya pada Samuel," kataku santai.
"Tanya pada Samuel? Apakah memang benar kalau Michelle yang berbuat begini padaku?" tanya Eliza kepada Samuel.
Kukedipkan sebelah mataku menatap Samuel yang menandakan bahwa ia tidak boleh jujur.
*Mengedipkan mata*
Yah, Samuel hanya menurutinya secara terpaksa.
*Menghela nafas*
"Benar, Michelle telah membuatmu jatuh begini," jawab Samuel terpaksa berbohong.
Merasa tidak terima di tuduh dan di fitnah olehku, suasana Michelle berubah berantakan dan mendorongku hingga jatuh.
Bruk!
Argh!
Kau gila ya?! Mendorongku di depan umum begini?! Apa kau tidak tahu kalau aku adalah Putri terhormat?!
"Jangan sembarangan menuduhku! Mana mungkin aku akan menyakiti Eliza! Kau tahu, hubungan persahabatan kami sudah lama bertahan, jadi aku memang tidak melakukannya!" bentak Michelle.
Heh! Kau pikir semua orang akan percaya hanya dengan mendengar semua perkataanmu tadi?
Biar kutunjukkan kemampuanku.
*Mode akting*
"Kau …. hiks …. menuduhku? Tidakkah kau tahu kalau itu adalah perbuatan kejam?" tanyaku berpura pura menangis.
Karena tangisanku terlalu dramatis, semua orang menatap Michelle dengan tatapan membunuh.
Haha, jangan pernah meragukan kemampuan Drama Queen milikku! Rasakan pembalasanku karena kau telah membantu Eliza!
"Kasihan sekali Tuan Putri, padahal dia tidak bersalah"
"Benar, kenapa Putri Michelle bisa sekejam itu padanya?"
"Dia sendiri bahkan tidak tahu kalau posisinya sebagai Penyihir sangatlah rendah"
Dengarlah, aku tidak peduli lagi mau bagaimana kau berusaha.
*Bangun*
Kudekatkan bibirku ke telinga Michelle dan membisikkan sesuatu padanya.
"Kau tidak tahu kemampuanku yang satu ini, bukan? Ini adalah kelebihanku, berbohong," bisikku.
Kutinggalkan Michelle sendirian dan membiarkannya sendirian bersama Eliza dan Samuel.
Malam ini, semuanya belum memuaskanku, harus ada yang membantuku untuk menyelesaikannya.
Untuk saat ini, pesta berakhir di sini dulu.
Kutunggu hari berikutnya untuk membalas kalian lagi.
____________________________________________
Jam 12:00 di lorong.
Pesta sudah berakhir, aku sedang berjalan di lorong dengan kepalaku yang pusing.
Ugh, pasti karena efek Wine buatanku yang terlalu banyak kucampurkan buah persik, makanya kepalaku jadi pusing.
"Di mana kamarku? Aku tidak mampu berjalan~" kataku sambil mencengkram kepalaku.
Pusing sekali~
Hei! Ada apa dengan tubuhku?! Rasanya seperti di terpa angin badai!
Hampir saja aku tumbang, tiba tiba tubuhku di tahan oleh seseorang yang sulit kukenal.
"Catherine? Ada apa denganmu? Kenapa tubuhmu terasa panas?" tanya seseorang yang suaranya terdengar seperti ….
"Samson? Sejak kapan kau datang? Bisakah kau bawa aku ke kamar sebentar? Aku ingin tidur ….," jawabku berlahan lahan menutup mataku dan tidur.
Meskipun tidur, tapi aku masih sadar akan keadaan yang ada di luar.
"Baiklah, aku akan membawamu ke kamar," kata Samson mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar.
Setelah sampai, kubuka mataku dan melihat Samson yang duduk di kasurku.
Hmm?
Kenapa dia menjagaku? Padahal, aku hanya memintanya membantuku saja.
Sudah tidur ya? Baiklah, aku akan membiarkanmu di sini sebentar lagi.
Cup~
Tanpa sadar kukecup keningnya sebagai tanda ucapan selamat malam.
"Selamat malam, Samson," kataku berlahan lahan menutup mataku dan tidur.
.
.
.
[Bersambung]
Maaf ya kalo masih ada kesalahan kata, kalimat, maupun narasi yang kurang nyambung.