The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 24



Kulihat Ayah dan Ibu yang berlumuran darah di tubuhnya dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Kenapa? Kenapa aku harus memasuki mimpi buruk ini?!


"Ayah! Ibu! Bangunlah!" teriakku.


"Sayang sekali, mereka berdua tidak akan bangun lagi," jawab seseorang yang berada di belakangku.


Suasana ini, sepertinya familiar. Istana yang terbakar, melihat orang tuaku yang tidak sadarkan diri, dan ….


Jangan jangan, mimpi itu ….


"Eliza! Atas dasar apa kau terus menghantuiku?!" tanyaku dengan serius.


Sayangnya, Eliza sama sekali tidak menjawabku. Ia langsung mengayunkan pedangnya dan menusuknya ke kepalaku.


Clak!


Aaaarrrgggghhh!!!


Hah~


Mimpi tadi, kenapa aku merasakan firasat buruk ya? Mungkin itu hanya perasaanku saja ….


"Hanya perasaan saja ….," lirihku mengatur nafasku.


Di perjalanan menuju kantin ….


Aku tampak lelah terus berjalan jalan di sekitar, lebih baik aku ke kantin saja.


Hah? Itu kan Veronica dan Kak Carl. Tunggu, Kak Carl sudah sadar? Parah sekali!


Sebaiknya aku ikuti saja mereka berdua, hanya untuk berjaga jaga saja.


Anna POV


Sekarang, aku sedang ingin berjalan menuju ke kantin.


Sudah lama sekali aku ingin mencicipi makanan manis di sana.


Ngomong ngomong, aku juga mau memberikan surat ini pada Carl. Bagaimana perasaannya nanti jika dia membaca suratku?


Ah! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya! Rasanya seperti mimpi saja!


"Semoga saja Carl mau menerima surat dari Putri cantik sepertiku," kataku dengan percaya diri.


Tiba tiba, aku melihat ….


"Carl, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Veronica menatap Carl dengan penuh kekhawatiran.


"Aku baik baik saja. Ehm, apakah kau …. mau ikut ke kantin bersamaku?" tanya Carl mengajak Veronica pergi bersamanya.


Wajah Veronica memerah dan hanya mengangguk mengikuti Carl berjalan.


Suasana mencekam apa ini?! Perasaanku ….


Veronica dan Carl tampak bermesraan? Lalu, Veronica menganggapku apa?


Melihat sahabatku menyukai orang yang kusukai membuatku sakit, sakit sekali! Sakit seperti di tusuk seribu jarum!


Benar benar tidak bisa di percaya lagi, Veronica, cepat atau lambat Carl adalah milikku!


"Lihat saja kau, Veronica! Carl bukanlah milikmu, melainkan milikku! Persahabatan kita sudah berakhir!" gumamku tersenyum licik.


Aku langsung pergi menjauh tidak melihat Veronica, sahabatku yang menyukai Carl!


Jangan sampai kau merebut posisiku sebagai Ratu Arshleyer.


Saphira/Catherine POV


Daritadi, aku terus mengikuti Veronica dan Kak Carl secara diam diam.


Untuk apa? Tentu saja untuk melihat kemesraan mereka berdua yang sangat menusuk jiwa jombloku.


Ya ampun, kapan aku akan memiliki seorang kekasih?


Daripada terus berkhayal, lebih baik aku terus mengikuti mereka berdua.


Hehe, koleksi buku harianku akan bertambah.


Kuterus berjalan mengikuti langkah mereka dari balik dinding.


Yah, mereka akhirnya sampai di kantin sekolah yang menurutku sangat indah.


Kulihat mereka berdua duduk di meja yang sama, dengan posisi duduk yang berlawanan.


Veronica terus menatap Carl yang menatap keluar jendela. Astaga, di saat saat begini saja kau tetaplah tampan, Kak!


"Ehm, Carl, bisakah aura bersinarmu itu di hilangkan dulu? Aku tidak mau kalau ada ya ….," kata Veronica seketika ucapannya terhenti.


"Hmm? Karena apa?" tanya Kak Carl bingung.


Veronica, tolong lebih percaya diri sedikit ….!


Wajah Veronica berubah menjadi blushing setelah mendengar pertanyaan dari Kak Carl dan memalingkan wajahnya ke arah kiri.


"I …. itu, tetap saja tidak boleh. Hanya akulah yang boleh melihat aura bersinar darimu," jawab Veronica ragu.


Payah, payah, payah, payah, payah!


Jawaban macam apa itu?! Kata kata romantis yang kutunggu darimu sama sekali tidak keluar!


Sekarang giliranmu, Kak Carl! Lihatlah Veronica yang cantik begini sedang memandangmu daritadi!


Kuharap kalian berdua adalah pasangan yang serasi!


Oh, aku baru ingat kalau Anna juga menyukai Kak Carl.


Pertama, singkirkan si pengganggu hidup, yaitu Eliza Sang Kakak Tiri yang tidak tahu diri.


Kedua, harus mempererat hubungan Kak Carl dan Veronica dan menyingkirkan si jala*g Anna!


Rencana balas dendam yang sangat sempurna, Saphira.


Mari lihat aksi mereka berdua!


"Ini, minuman kalian berdua sudah siap," kata salah satu Pelayan yang mengantarkan minuman pada Veronica dan Kak Carl.


"Terima kasih," jawab mereka berdua bersamaan.


Menarik, menjawab kata Pelayan secara bersamaan. Itu baru namanya jodoh.


Wajah mereka berdua menjadi merah padam seperti sedang demam saja.


"Ehm, mungkin ini hanya kebetulan," kata Veronica gugup.


Kebetulan kepalamu! Tentu saja karena kalian saling menyukai, bukan? Hanya saja kalian belum mau mengungkapkannya!


Hei, apa yang sedang kupikirkan? Mana mungkin mereka berdua saling menyimpan perasaan.


Lihat saja kalian berdua, aku pasti akan mempersatukan cinta kalian!


"Oh, bagaimana kalau kita bertukar minuman saja?" tanya Veronica dengan gugup menundukan kepalanya.


Bagus, teruskan!


"Bertukar minuman? Maaf, aku lebih suka minum minumanku sendiri," jawab Kak Carl menolak dengan santai.


"Situasi seperti apa ini? Veronica, tolong jangan membuatku pingsan lagi," gumam Kak Carl dengan wajah memerah.


Kakak! Kenapa kau menolaknya?! Adegan romantis kalian berdua jadi hilang untuk jadi tontonanku!


Tak lama kemudian ….


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


Sial, aku bahkan belum memakan makanan manis favoritku, yaitu susu stroberi!


Karena sudah jam masuk kelas, aku pergi begitu saja dengan terburu buru menuju ke kelas.


Beberapa jam kemudian ….


Sudah waktunya kami pulang ke Istana. Aku lihat Kak Carl daritadi hanya senyum senyum sendiri memandang keluar.


Jangan jangan karena dapat bersenang senang dengan Veronica.


"Kak, kenapa senyum senyum sendiri?" tanyaku berpura pura tidak tahu.


Kak Carl terkejut mendengarnya dan langsung menatapku dengan serius.


"Ehem, maaf, Kakak hanya sedang menikmati udara segar saja," jawab Kak Carl berdehem.


Jangan berbohong, Kak. Aku tahu Kakak sedang memikirkan apa.


Aku hanya mengangguk singkat saja seolah aku mengerti dengan apa yang Kak Carl katakan.


_______________________________________________________


Beberapa menit kemudian ….


Kami sudah sampai di Istana.


Tapi, yang kulihat bukanlah kabar baik, melainkan Istanaku yang terbakar secara keseluruhan.


Api menjalar ke mana mana. Warna merah yang sangat silau membuatku ingin masuk ke dalam untuk melihatnya.


"Kakak, a …. apa …. i …. ini ….?" tanyaku terkejut melihat kebakaran Istanaku.


"I …. I …. Istananya …. te …. te …. terbakar ….?" kata Kak Carl juga terkejut melihatnya.


Sudah cukup, aku tidak tahan lagi untuk masuk ke dalam!


Kulepas sepatu kacaku dan berlari masuk ke dalam Istana dengan terburu buru.


Catty!!!


Kak Carl berteriak padaku dari luar dengan penuh rasa kekhawatiran.


Ia juga masuk ke Istana mengikutiku dari belakang.


Setelah aku berada di dalam, kulihat Ayah dan Ibu yang berlumuran darah tepat di tempat dinding ruang tamu yang di penuhi api dan pecahan kaca.


"Ayah! Ibu!" teriakku berlari ke arah mereka berdua.


Ayah, Ibu, bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang melakukan hal seperti ini pada kalian berdua?


Terlihat di situ ada Eliza dengan wajah cacatnya sedang memegang pedang yang sama seperti di mimpiku.


Pedang itu mengeluarkan banyak darah, mengalir dengan begitu banyak sehingga membuatku ingin marah padanya.


.


.


.


[Bersambung]