The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 103



"Apa kau tidak mau membeli buah yang lain selain dua jenis buah ini?" tanya Kak William mengerutkan alisnya sambil menatapku.


"Tidak mau, dua buah ini sudah cukup untukku," jawabku santai.


"Apa kau benar benar menyukainya?" tanya Kak William lagi.


"Benar, aku menyukai buahnya," jawabku tersenyum.


Tidak perlu banyak bertanya, aku memang sengaja membeli buah buah ini untuk kumakan sendiri.


"Ini buahnya, harga buah yang kau beli berjumlah 25 koin emas dan 15 koin perak," katanya menyerahkan buah itu kepadaku.


Tanpa pikir panjang lagi, kukeluarkan sisa sisa koin uang kumiliki.


"Ini, aku harap semua koin ini cukup," jawabku memberikan kepingan koinnya padanya.


"Terima kasih, jangan lupa datang lagi," katanya tersenyum.


"Kalau begitu, aku pergi dulu," jawabku membalas senyumannya dan pergi bersama Kakakku dan Serlia.


Banyak sekali buahnya, wajar saja kalau harganya sedikit mahal.


Buku yang kupegang ini akan kusimpan di kamarku dan buah ini akan kusuruh Sarah untuk menyimpannya di lemari.


Kuharap buahnya tidak akan busuk ketika menaruhnya di lemari, karena di zaman kuno begini belum memiliki kulkas.


Sudahlah, lupakan saja kata katamu tadi, sebaiknya aku cari tempat untuk duduk dulu.


*Celingak celinguk*


Eliza? Tunggu, dia bersama Samuel? Astaga, sejak kapan si mata buta bisa berjalan jalan di tempat yang dingin ini?


Gawat, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kalau sampai Eliza tahu aku juga di sini.


Langkah mereka berdua semakin dekat ….!


"William, bersama siapa kau ke sini?" tanya Samuel menyapa Kak William.


"Oh, aku datang ke sini bersama kedua Adikku dan teman dari Adik perempuanku," jawab Kak Williak tersenyum.


Lagi lagi, aku tidak bisa bebas dari cengkraman Eliza yang menyakitkan itu.


Sialan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Tenanglah, menghindar dari masalah di sebut dengan pengecut, bukan?


Jadi, lebih baik aku bersikap layaknya orang biasa.


"Eliza, kau juga datang?" tanyaku tersenyum paksa.


"Catherine? Kaukah itu? Untuk apa kau datang ke sini bersama Kakakmu dan Serlia?" tanya Eliza penasaran.


"Aku ke sini untuk membeli beberapa barang berguna yang ingin kubeli saja," jawabku masih memaksakan senyumku.


"Baiklah, aku ke sini untuk berkencan dengan Samuel," katanya tersenyum.


Berkencan? Apakah otakmu sedang tidak beres? Eliza yang kukenal adalah seorang jala*g kecil yang sangat menyukai Samson.


Tapi, sejak kapan Eliza yang kulihat ibi tiba tiba berkencan dengan tunangannya?


Apa benar otaknya telah rusak?


"Ngomong ngomong, di mana Pangeran Carl? Kenapa dia tidak bersama kalian?" tanya Samuel memperhatikan sekeliling.


Yang itu …. rasanya sangat sulit untuk di katakan, jadi aku ragu mengatakannya.


"Dia sedang berkencan bersama seseorang, jadi hanya kami bertiga yang berada di sini," jawab Kak William santai.


Sudahlah, aku hanya bisa diam saja di sini, jadi jangan membuatku mengganggu hari menyenangkan kalian berdua.


Di mana Michelle? Aneh sekali jika dia tidak ikut dengan kalian berdua.


Aku baru ingat kalau ini adalah hari kencan palsu kalian berdua.


"Eliza, kenapa Michelle tidak ikut dengan kalian berdua?" tanyaku sengaja.


"Aku tidak ingin dia merusak hari baikku bersama Samuel, jadi kuputuskan untuk tidak membawanya," jawab Eliza tersenyum.


Lama kelamaan aku bisa pingsan melihat senyuman mematikan milikmu!


Dan kau tidak lupa melanjutkan sandiwaramu di depanku? Lihatlah sandiwaraku yang akan kutunjukkan padamu.


Jangan salah menilaiku hanya karena tubuh fisikku sedikit lebih kecil, tapi nilailah diriku dari sifat yang kumiliki.


Jiwaku adalah gadis yang berusia 32 tahun karena sebelumnya jiwaku berumur 19 tahun dan umurku yang sekarang adalah 13 tahun.


Aneh, bagaimana jiwaku bisa setua itu? Apakah aku sudah terlalu lama berada di sini?


Benar juga, aku tinggal di dalam tubuh fisik Catherine dan jiwaku tetaplah Saphira.


"Apa kau yakin kalau kau sudah jatuh cinta pada Samuel?" tanyaku sengaja.


"Aku memang belum jatuh cinta padanya, tapi aku akan membangun hubungan yang baik dengannya," jawab Eliza.


Cih, bisanya hanya berbohong, seandainya kau jujur pada Samuel kalau kau sebenarnya menyukai Samson, pasti Samuel tak segan untuk meninggalkanmu.


Akan kubuat hidupmu berantakan seperti kau membuatku hidup seperti ini.


Aku akan menyimpan rahasia ini dengan rapat. Tapi, kalau Arsula mengetahui rahasiamu tanpa harus kuberitahu, hinaan dan kekerasan pasti akan ia lampiaskan padamu.


Tenang saja, hanya tunggu waktu yang tepat saja untuk memberitahunya.


Jika rahasiamu terbongkar dan sudah di ketahui Arsula, jangan salahkan aku atas semua kesalahanmu.


"Begitu ya? Meskipun kau belum menyukai Samuel, apakah kau sedang menyukai seseorang?" tanyaku sambil menggulung rambutku menggunakan jari telunjukku.


Mendengar apa yang kukatakan, tiba tiba Eliza terjatuh dengan posisi berlutut dan tanpa sadar mengeluarkan air mata di balik matanya yang tertutupi kain putih.


Apa lagi sandiwaramu yang selanjutnya? Apa kau mencari perhatian di depan Samuel?


Astaga, aku sudah lelah menghadapi orang sepertimu, Eliza!


"Hiks …. apa kau meragukanku ….? Hiks …. padahal aku sudah berusaha memperbaiki …. hubungan kami …. hiks ….," jawab Eliza menangis tersedu sedu.


Pintar juga kau bersandiwara sambil menangis, siapa yang mengajarimu?


Jangan bilang kalau dia mencuri kemampuan aktingku, dasar peniru!


"Sudahlah, aku hanya bertanya padamu saja, maafkan aku karena telah menyakitimu," kataku mengelus kepalanya.


Ah! Tanganku jadi kotor karena menyentuh rambut merah milikmu, sungguh menjengkelkan!


Dengan cepat kusingkirkan tanganku kembali dari rambutnya.


"Maaf, kurasa ada hal penting yang harus kuurus bersama Serlia," kataku sedikit gugup.


"Hal penting? Apa kau bercanda?!" tanya Serlia kesal.


"Tentu, aku hanya lupa memberitahumu," jawabku tersenyum palsu.


"Daripada berbicara dengannya terus terusan, sebaiknya aku mengajak Serlia pergi dulu!" gumamku dalam hati.


Dengan paksa, kutarik tangan Serlia dan membawanya pergi ke sembarang tempat.


Untunglah aku tahu jalan di kota ini berkat perjalananku di umur 8 tahun bersama keluarga.


Lupakan Eliza, aku sedang tidak mampu memikirkannya.


"Kenapa kau membawaku ke ….," kata Serlia yang belum selesai bicara.


Sttt!


Kututup mulutnya menggunakan telapak tangan kananku karena tidak ingin ia berbicara terlalu keras.


"Jangan berisik, kau tahu? Ingatlah, kita berdua harus menghadapi kelicikan dari Eliza sekarang," bisikku menatapnya.


Kulepaskan saja mulutnya dan membiarkannya bicara, aku lelah mendengar basa basi darinya.


"Maksudmu?" tanya Serlia berbisik.


"Apa kau tidak lihat kalau Eliza bersandiwara di depan kita tadi? kita harus mencari cara untuk mengatasinya," jawabku juga berbisik.


Pikirkanlah caranya, Saphira, pikirkan! Tunjukkanlah kemampuanmu kalau kau pintar dalam menyusun strategi!


Aku jadi heran dengan Eliza akhir akhir ini. Apakah matanya sudah sembuh dari kebutaan?


Aku tidak yakin jika dia bilang belum sembuh, karena sandiwara yang di ciptakan olehnya tersusun dengan sempurna!


Tenanglah, tetap berpikir ….


"Serlia, apakah di kota Heigthfoon memiliki tempat yang menarik?" tanyaku menatap Serlia.


Yah, aku hampir lupa memberitahu kalian semua kalau nama kota yang kami tempati sekarang adalah Heigthfoon, kota yang berada di sebelah timur dari Ibukota Arshleyer.


.


.


.


[Bersambung]


~Keterangan:


Kota Heigthfoon adalah hasil imajinasi Author.