
Meskipun Alice adalah Putri yang terkenal dengan sifat bermuka dua, tapi dia masih sanggup menolongku.
Di Kerajaan Grovield, keluarga Lilithia adalah keluarga yang terkenal dengan tata krama dan kemurahan hatinya.
Alice adalah satu satunya anak Tunggal yang terdidik dengan baik, hanya saja sifatnya adalah bermuka dua.
Setahuku, Alice juga orang yang sangat suka menindas Catherine.
Tapi, kenapa dia tidak pernah menindasku selama di sekolah? Yang ada, Alice selalu membelaku di hadapan Eliza.
Apa yang sedang dia sembunyikan? Apakah dia sengaja? Atau sifatnya berubah berdasarkan alur ceritanya yang juga berbeda?
Otakku terus bertanya pada hati kecilku!
"Tidak apa apa, mungkin Putri Eliza tidak sengaja," jawabku tersenyum.
Alice merasa tidak tahan melihat orang seperti diriku tersiksa seperti ini. Apa lagi yang akan ia lakukan kalau bukan menampar pipi kanan Eliza.
Plak!
"Ini adalah satu tamparan untukmu karena menindas orang lemah! Keluarga Lilithia selalu menegakkan keadilan pada orang yang tidak tahu sopan santun!" kata Alice menatap tajam mata Eliza.
Entah ada angin apa yang membuat tubuh Eliza gemetaran secara tiba tiba.
"A …. A …. Alice, bisakah kau …. berhenti menatap …. ku ….?" tanya Eliza menggigit bibirnya.
Wajahnya tampak membiru, seperti orang yang sedang demam saja.
Melihatnya saja sudah membuatku tidak tahan!
"Baiklah, tapi jangan mengganggu Serlia seperti tadi!" jawab Alice.
"Aku permisi dulu," kataku pamit pada Eliza dan Alice.
"Pergilah," jawab Alice tersenyum lembut.
Tanpa basa basi lagi, aku langsung pergi tanpa menatap mereka bertiga.
Aneh, kenapa Veronica tidak mau berbicara padaku? Benar juga, sepertinya itu tidak penting.
Fokus, Saphira, fokus ….
Kali ini, kau sedang menjalankan rencana balas dendam, bukan meminta untuk di tindas.
Huh, penampilan ini berguna juga, ya!
Dari jauh, William menatapku dengan heran.
Memangnya ada apa dengan penampilanku? Jelek? Terserah kau saja!
Ia menghampiriku dengan cepat, membuatku ingin membunuhnya.
Siapa suruh kau mengkhianatiku, ini semua salahmu yang membuatku terjebak dalam kebencian seperti ini.
"Siapa namamu? Apakah aku ada mengundangmu?" tanya William to the point.
Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang penting aku dapat hadir di acara ini dengan identitasku yang berbeda.
"Serlia Arthera datang ke sini dengan rasa hormat, Yang Mulia," jawabku memberi salam pada William.
"Oh, kau kuizinkan untuk duduk di kursi sambil menunggu kedatangan Pangeran Carl dan Putri Catherine," katanya dengan tersenyum.
Menunggu aku dan Kak Carl datang? Orang yang berada di depanmu sekarang adalah Adik bungsumu!
Masih menunggu kedatangan kami? Maaf, anda sudah tidak kuanggap lagi.
Yah, aku menurutinya saja untuk duduk di kursi empuk ini. Lagipula, aku juga mau bersandar.
Bagaimana rencana Kak Carl? Semoga saja berhasil.
Carl POV
Seperti yang kalian ketahui, aku sedang berada di belakang kursi Raja tanpa di ketahui oleh William.
Tujuanku adalah menyihir pikirannya dengan menggunakan sihir terlarangku, yaitu Wrettys Relleon.
Sihir itu dapat mengendalikan pikiran orang hanya dengan mulutku ini.
Jika aku berbicara, maka William akan mengikutinya.
Sesuai kecerdasanku, beberapa kata sindiran sudah kususun dengan begitu rapi.
Lihat saja pertunjukkannya nanti.
"Tunggu saja, William! Aku akan mempermalukanmu! Kau masih bisa menjadi Raja, tapi karena sindiran yang kuciptakan, rakyat rakyat pasti akan menghinamu," gunamku tersenyum puas.
Untung saja, Catty dapat memilih identitas dan nama yang bagus untukku.
Leon Alexander, itulah identitasku sekarang ….
Saphira/Catherine POV
Hem, kapan acaranya di mulai? Aku sudah tidak sabar untuk bermain.
Eliza, reputasimu sebagai Putri tidaklah berlaku di Kerajaan ini, karena aku masih setengah berkuasa di Kerajaan Arshleyer.
Hmm, apakah Kak Carl sudah menyusun rencananya dengan sempurna?
Aku khawatir kalau nanti rencananya gagal.
Sebentar, apa apaan mereka ini?! Anna dan Veronica duduk bersama?! Pasti ada yang tidak beres!
"Veronica, apakah kau begitu menyukai Carl?" tanya Anna menatap Veronica.
"I …. i …. i …. itu masih sangat sulit untuk kujelaskan. Saat ini, kami hanya berteman biasa," jawab Veronica tersenyum lembut.
Veronica, betapa bodohnya dirimu ini! Sadarlah kalau Anna sedang mengujimu!
Ini adalah jebakan berbahaya dari Anna!
"Kalau begitu, kenapa hubungan kalian sangat dekat?" tanya Anna lagi.
"Sedekat apapun hubungan kami berdua, percayalah kalau kami hanya teman," jawab Veronica menggenggam kedua tangan Veronica.
Bodoh sekali kau, Veronica! Apakah kau masih pertahankan persahabatanmu dengan jala*g pelac*r seperti Anna?!
Sadarlah dari tidurmu, Veronica!
"Baik, aku percaya padamu. Minumlah Wine ini," kata Anna memberikan segelas Wine yang bersoda.
Tanpa pikir panjang lagi, Anna langsung meminumnya.
Gulp
Gulp
Gulp
Veronica meminum Winenya hingga habis tanpa tersisa.
Tanpa ia sadari, Anna mengeluarkan senyum liciknya secara diam diam menatap Veronica.
Ada yang tidak beres ….
Tak lama kemudian, Veronica tiba tiba saja pingsan tergeletak di lantai.
Semua orang tentunya terkejut, termasuk Carl yang sedang bersembunyi di belakang kursi William.
"Astaga, kenapa Putri Veronica bisa pingsan?"
"Mungkin dia hanya tertidur"
"Ingin sekali aku menolongnya"
Begitulsh, semua orang terkejut melihat Veronica yang terjatuh pingsan di lantai begitu saja.
Melihat kejadian itu membuat Anna tertawa puas dari dalam hatinya.
Hahahahaha!
"Rasakanlah pembalasanku ini, Veronica! Aku tidak akan tinggal diam karena aku tahu kau menyukai Carl!" gumam Anna tertawa puas.
Licik, sangat licik! Bahkan Drama Queenku saja tidak bisa mengalahkannya!
Kakak, cepatlah tolong Veronica!
Tiba tiba, Kak Carl keluar dari belakang kursi William dengan begitu panik.
Terlihat kekhawatiran yang menyelimuti dirinya setelah melihat Veronica yang terjatuh ke lantai dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Kak, ini semua adalah ulah dari Anna, orang yang akan menghancurkan masa depan kalian berdua Veronica!
Kak Carl berlahan berjalan menghampiri Veronica yang sedang pingsan.
Ia mengangkat tubuhnya seperti sedang mengangkat Putri yang tertidur.
Anna merasa bingung dengan situasi. Yang membuat Veronica pingsan adalah dirinya, tapi yang menolongnya bukanlah Kak Carl, melainkan orang yang tidak ia kenal sama sekali.
"Siapa kau?" tanya Anna menatapnya bingung.
"Leon Alexander," jawab Kak Carl dengan santai sambil menggendong Veronica.
Dengan cepat, Kak Carl berjalan menuju ke arah kamarnya terletak.
Sungguh kekhawatiran yang begitu kuat.
Lalu, siapa yang akan mengurus William nantinya? Apakah kau sudah menyusun rencananya?
Sudahlah, aku menjadi bingung dengan tingkah lakumu, Kak.
Kulihat Anna menjadi kebingungan karena kejadian yang tadi.
Apakah Anna berharap kalau Kak Carl akan datang? Sayang sekali, kenyataannya tidak seperti yang kau bayangkan!
•Seperti yang di katakan oleh Author•
•Realita tidak sesuai dengan ekspetasi•
"Kenapa di saat Veronica pingsan, yang menolongnya adalah orang lain? Itu artinya, Carl tidak hadir di acara ini? Parah sekali, padahal aku ingin bersenang senang dengannya tanpa Veronica," lirih Anna mengerutkan alisnya.
Sebenarnya Kak Carl hadir bersamaku, tapi kami menyamar untuk membalas dendam pada Eliza dan William.
.
.
.
[Bersambung]