The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 78



Aku ingat kalau aku tidak lupa mengundang Samuel untuk datang ke pestaku.


Huh, kenapa ia belum terlihat sama sekali.


Apakah dia tidak membaca suratnya? Sulit sekali mengatakannya.


Samuel seharusnya datang ke sini meskipun Negerinya agak sedikit jauh dari Istana Arshleyer.


Sialan, kalau begitu rencana yang kususun bisa hancur berantakan.


Pokoknya tidak boleh, sesuatu yang sudah kususun harus tetap berjalan sesuai rencana.


Cepatlah datang ke sini, Samuel, kau adalah tunangannya! Akan kutunggu kedatanganmu hingga pesta sa di mulai.


Tanpa kusadari ….


"Hidup Pangeran Samuel!"


Suara sorakan? Pangeran Samuel? Apakah dia benar benar sudah datang? Kenapa baru sekarang? Aku sudah menunggumu di sini terlalu lama!


Sabar, Saphira, daritadi amarahmu sama sekali tidak bisa kau kendalikan.


"Itu dia, akhirnya yang kutunggu tunggu datang juga," kataku menatap Samuel dari jauh.


___________________________________________


Di balkon Istana Arshleyer ….


Veronica POV


Aku melewati pestanya dengan cepat, karena seseorang sedang ingin mengajakku ke suatu tempat.


Siapa lagi kalau bukan Carl, seorang Pangeran sekaligus orang yang kusukai.


Aku baru sadar kalau mataku di ikat dengan sesuatu. Tempatnya gelap, aku tidak bisa melihat apa apa.


"Carl, kenapa mataku di tutup?" tanyaku pada Carl.


"Akan kubuka sebentar lagi," jawab Carl singkat.


Huh, melihat ekspresinya saja tidak bisa, bagaimana cara menjelaskannya?


Mataku tertutup dengan sebuah kain, entah ada rencana apa yang akan di buat oleh Carl.


Tanpa kusadari ….


"Baiklah, matamu sudah kubuka. Lihatlah ke depan," kata Carl telah melepaskan ikatannya.


Eh? Ke depan?


*Menoleh*


*Bunyi kembang api*


Astaga, indah sekali! Mataku jadi bersinar setelah melihatnya!


"Kembang api? Indah sekali!" kataku memandangi kembang api dari balkon.


"Kau menyukainya?" tanya Carl menatapku dengan senyuman.


"Tentu, aku sangat menyukainya," jawabku tanpa sadar tersenyum.


Di tambah lagi, hari ini adalah malam bulan purnama. Senyumanku berubah indah bercahaya sehingga membuat Carl ….


*Berdehem*


"Ehem, Veronica, ada hal yang ingin kukatakan padamu," kata Carl dengan wajah merahnya.


Apa senyumanku seindah itu? Aku benar benar tidak menyangka.


Kulihat Carl menggenggam tangan kananku dengan pelan dan bertekuk lutut, lalu mengecup tanganku sekilas.


Cup~


"Aku menyukaimu," kata Carl singkat dan tegas.


Serius?! Apa telingaku tidak salah dengar? Selama ini, orang yang kusukai ternyata juga menyukaiku?


Perasaan apa ini? Jantungku berdegup kencang, seakan merasakan sebuah kebahagiaan.


Yang kutunggu hingga bertahun tahun sudah terlihat dari mataku sendiri.


Kukatakan juga isi hatiku ….


"Aku juga menyukaimu, Carl," jawabku tanpa sadar tersenyum.


Mendengarku menjawabnya dengan ucapan yang sama, Carl bangun dan berdiri kembali.


"Jadi, apa kau siap bersamaku selamanya?" tanya Carl.


"Kapanpun, aku akan bersamamu selamanya," jawabku tersenyum.


Carl mengarahkan wajahku ke arah wajahnya berada. Tanpa sadar, bibir kami berdua menyatu untuk ketiga kalinya.


Baru kurasakan semuanya, ini terasa nyata. Aku bahagia sekali dapat menyatakan perasaanku tanpa di ketahui orang lain selain dia.


Setelah beberapa menit, kami melepaskan bibir kami dan kembali berdiri saling menatap.


Hah? Kenapa Anna bisa ada di sini? Apakah ia sungguh melihat semuanya?


Tunggu, Anna mau pergi ke mana?! Hah, biarkan saja, aku tidak ada rasa peduli sedikitpun terhadap dia.


Sudahlah, fokus saja pada acara nanti malam.


"Carl, apakah tidak apa apa jika kita melewatkan pesta yang di buat oleh Adikmu?" tanyaku menatap mata merah Carl.


Kepalaku langsung di elus olehnya setelah mendengar kata kataku.


"Siapa bilang kita melewatkannya? Nanti malam, kita berdansa bersama," jawab Carl mengelus kepalaku.


Berdansa bersama ya? Baiklah, aku menerimanya.


___________________________________________


Anna POV


Mereka …., berciuman? Jadi benar, Carl suka pada Veronica?


Sialan kau! Dasar perebut hidup! Seharusnya kau tidak berada di pesta ini! Ingin sekali kubunuh kau dan beri makan para Nimfa!


Ah! Semuanya salahmu, Veronica! Pokoknya kau harus hancur hingga menjadi abu sekalipun!


Kau adalah perebut kebahagiaanku, pembawa sial bagiku! Dari dulu, aku memang tidak pernah menyukaimu karena kecantikanmu melebihi diriku.


Dan sekarang kau bahkan menjalin hubungan dengan orang yang kusukai? Tunggu saja, aku akan mencelakaimu dengan cara apapun asalkan kau menyerah!


Benar benar keturunan Belstreyd yang menyebalkan, aku benci padamu!


"Veronica, tunggu saja pembalasanku!" kataku marah dan kembali ke ruang penyambutan.


___________________________________________


Di ruang penyambutan ….


Saphira/Catherine POV


Hah~


Yang kulihat daritadi adalah persahabatan Kak William dengan Samuel.


Sungguh, mereka mengobrol hingga 1 jam.


Ayolah, Kakak selalu membuang buang waktu.


"Bagaimana dengan kabar Kerajaanmu, kawan?" tanya Kak William merangkul bahu Samuel.


"Semuanya sangat baik seperti biasanya," jawab Samuel melakukan hal yang sama dengan Kak William.


Wajar saja mereka bercanda dan mengobrol agak lama, karena dari dulu Samuel dan Kak William adalah teman sekolah.


Benar benar teman sekolah yang sulit berpisah, aku kagum pada kalian berdua.


Ada ada saja ….


"Apakah kau sudah memiliki kekasih?" tanya Kak William menatap Samuel.


"Aku tidak memiliki kekasih, tapi aku memiliki tunangan yang kucintai," jawab Samuel tersenyum tipis.


"Kalau begitu, katakanlah siapa tunanganmu," kata Kak William penasaran.


"Nama tunanganku adalah Eliza Carlina Sean Srylpharuna. Meskipun dia tidak menyukaiku dan memiliki sifat yang tidak baik, aku akan tetap mencintainya," jawab Samuel tersenyum menandang ke atas.


Aku tahu hati tulusmu, tapi Eliza tidak pernah menyukaimu.


Kau harus tahu kalau Eliza telah melanggar sumpah.


"Eliza ya? Dulu, dia pernah mengancamku untuk menjauhi Adikku karena aku mengetahui apa yang telah ia lakukan"


"Mungkin aku tidak bisa mengatakannya padamu karena sedikit bermasalah"


"Simpanlah rasa sukamu padanya di dalam hatimu sendiri. Aku mendukungmu," kata Kak William menepuk bahu Samuel.


"Baiklah, terima kasih telah membuatku kembali bersemangat," jawab Samuel tersenyum.


Cukup sudah, aku pusing sekali melihat kedekatan kalian berdua. Sudah saatnya pesta dansa di mulai.


Kuhampiri Kak William dan Samuel dengan berani dan memberitahunya kalau pesta dansa akan di mulai.


Di tambah lagi dengan kepergian Kak Carl dan Veronica. Apakah kencannya sudah selesai?!


Bukankan Kakak akan menyatakan perasaannya pada Veronica di malam natal? Kenapa harus sekarang?


Jangan bilang kalau Kakak dan Veronica sedang ….


*Tersenyum*


Baiklah, terserah saja mau berdansa atau tidak, yang penting lanjutkanlah hubungan asmara kalian.


"Kak, pesta dansa sudah di mulai, bersiaplah," kataku serius.


Kak William terkejut melihat kemunculanku dan hanya mengangguk.


Saatnya mengumumkan.


"Baik, semuanya, saatnya berdansa! Para pemusik, mainkan piano dan biolanya!" kataku tegas.


Mereka semua menurutinya dan mulai berdansa.


Bunyi not biola dan pianonya menambahkan kenyamanan hatiku dalam menikmatinya.


Tiba tiba saja ….


"Catherinre, maukah kau berdansa bersamaku?" tanya Samson mengulurkan tangan kanannya padaku.


Berdansa denganmu? Serius? Mau tidak mau, kuterima tangannya dan hanya menjawab singkat.


"Dengan senang hati," jawabku sedikit elegan.


Kami berdua pun mulai berdansa layaknya pasangan serasi.


Sulit juga berdansa, kakiku saja sulit untuk bergerak.


.


.


.


[Bersambung]